Re; Sekai

Re; Sekai
Episode 2



"Kring! Kringg!"


Maria terbangun dalam kantuk yang teramat dan kerinduan untuk meneruskan mimpinya, entah ia bermimpi apa, tapi ia begitu merasa damai dalam mimpi tersebut.


Maka ia memutuskan untuk mematikan weker tersebut dan baru satu menit berselang bunyi keras memenuhi ruangan lagi, "Kringg!! kringg!!!" dan weker itu diletakannya jauh dari kasurnya, maka Maria harus merayap ke bawah lantai menjauhi kasurnya dan dalam proses mematikan weker tersebut, perlahan nyawa Maria kembali. Weker kedua selalu menjadi penyelamatan bagi Maria untuk bisa terjaga di pagi hari.


Maria yang telah bangun dengan wajah suntuk kemudian segera pergi mencuci wajahnya dan menyiapkan bekal dan makan pagi. Pengalamannya mengatakan bahwa menyiapkan keduanya tidak mungkin sempat jika tidak dilakukan seawal ini. Ia kadang berpikir ketika melihat bekal kawan-kawannya yang telah tersusun rapih dengan berbagai sayuran dan lauk pauknya, betapa sayangnya ibu mereka terhadap kawan-kawannya tersebut.


Tak lama, Maria telah merasa puas ketika telah terpampang dan tercium bau wewangian nasi dari dua mangkuk nasi di depan meja, ikan yang terpanggang, juga sup miso hangat di depan meja. Dua bekal telah terikat rapih, yang di dalamnya telah tersusun dengan sangat rapih proporsi nasi dan lauk.


Lalu Maria mandi setelah menyetrika pakaian dirinya beserta Keiichi yang kini telah telipat siap di depan kamar mandi.


Maria lalu mengetuk pintu Keiichi. Jika tidak bangun, biasanya Maria akan masuk tanpa izin, menarik selimut itu, berteriak sekencang mungkin hingga terlihat Keiichi yang terbangun dengan wajah yang sungguh menyebalkan, seorang adik yang tidak tahu diuntung, pikir Maria.


"Keiichi! Bangun!! Kau ada latihan klub baseball mu bukan?!!"


Tidak ada jawaban saat itu.


Perlahan Maria memegang gagang pintu, dan tiba-tiba tangannya berkeringat. Ludah tertelan. Sesuatu mulai runtuh dalam pikiran Maria.


Ketika pintu itu dibuka, telah kosong dan hampa ruangan Keiichi. Masih berantakan seperti kemarin pagi, tidak terdapat tanda-tanda Keiichi pulang ke kamarnya.


Pakaian yang ia kenakan kini adalah pakaian hitam, pun pakaian yang disetrika itu pula adalah pakaian kemeja hitam milik Keiichi. Maria lupa hari ini adalah hari upacara kematian Keiichi. Bagaimana dia bisa melupakan itu semua? Pikirnya dengan dadanya yang kini terasa begitu penuh sesak.


***


"Maria!"


Suara teriakan Nenek membangunkan Maria dari lamunannya. Nenek menepuk punggung Maria yang masih terlihat melamun di depan meja penyambutan tamu, di hadapannya terdapat tetangga yang menyerahkan amplop amal untuk kemudian dimasukan ke kotak sumbangan di depannya. Mereka berdua langsung membungkukkan badan, berterima kasih sebelum mempersilahkan tamu duduk untuk berdoa di depan jasad Keiichi.


Maria hari itu telah mati rasa. Matanya telah menghitam bengkak, telah berkali-kali ia pingsan dan terbangun untuk sekedar memahami bahwa semua ini bukanlah mimpi. Tidak mampu bibirnya itu tersenyum dalam ucapan terima kasihnya, ucapannya terbata-bata, dan orang-orang yang memandangi air mukanya sudah cukup paham betapa berduka Maria terhadap kematian sang adik.


Tak jauh dari tempat Maria kini berdiri adalah papan kayu terukir bertuliskan Keiichi Ishizawa, dengan tubuh sang adik yang tergeletak di dalam peti bersama bunga-bunga yang memperindah kematiannya. Wajahnya sudah jauh lebih baik setelah dirias oleh jasa rumah duka, berbalut kimono putih yang menutupi sekujur luka tubuhnya, dengan wajah yang telah dibedaki sedemikian rupa hingga tidak lagi terlihat pucatnya kematian.


Para peserta upacara mulai berdoa, diikuti Sūtra yang dibacakan pendeta biksu mengalun mengisi seisi ruangan rumah kecil Maria. Orang-orang mulai berdatangan, tetangga, perwakilan sekolah, teman klub, juga kerabat dekat, memberi amplop diikuti dengan Maria dan neneknya yang membungkuk berterima kasih.


"Osh!!" Teriak hormat kawan-kawan Keiichi yang mengenakan baju baseball. Pelatih mereka juga berada di sana, memberi hormat, dan memberikan foto Keiichi bersama kawan-kawan baseballnya. Maria ingat musim panas lalu, dirinya bersama nenek bersama-sama menonton pertandingan di mana Keiichi menjadi cleanup hitter andalan klubnya.


Ketika sang pelatih memberi amplop, dia mencoba berkata dengan nada-nada yang enggan, "Mohon maaf kakak Keiichi, mungkin ini tak pantas untuk saya mengatakan ini sekarang..."


Dan lalu sang pelatih menjelaskan bagaimana pada tahun ke-3, saat-saat tahun-tahun akhir Keiichi bisa ikut dalam pertandingan, Keiichi tidak pernah lagi hadir dalam latihan. Sedangkan Maria selalu ingat bagaimana setiap hari Keiichi selalu pergi pagi sekali mengenakan pakaian seragam baseballnya lengkap dengan kasti dan sarung tangannya.


"Maafkan Keiichi telah merepotkan anda..." Ucap Maria membungkuk, dengan nadanya yang masih serak.


"Tidak, tidak, tapi Keiichi anak yang cemerlang dan pekerja keras. Saya dan kawan-kawan akan selalu mengenangnya."


Lalu tak lama setelah sekumpulan tim baseball itu meminta izin untuk melanjutkan kegiatan mereka, muncul perwakilan kelas. Seorang gadis yang mengenakan baju sekolah dengan kacamata tebalnya itu membawa sebuah kertas poster, sebuah memoriam, berisikan kata-kata tentang bagaimana kawan-kawan Keiichi begitu menyayangi dan merindukan Keiichi. Gadis ini memberikan tulisan ini sambil terisak tangis, "Nama saya Fujioka Kasumi. Saya sebagai perwakilan kelas... begitu menyesalkan kejadian ini..."


Tak lama Kasumi menangis, dan berkata tersendat-sendat, "Saya mohon maaf karena tidak bisa melakukan apa-apa selama ini terhadap Keiichi..."


Kasumi langsung membungkukkan badan dan meminta izin untuk melanjutkan ke sekolah. Melihat apa yang dikatakan Kasumi dan sang Pelatih, Maria merasa ada sesuatu yang ia tidak pahami dalam kehidupan Keiichi. Apa selama ini, sebagai seorang kakak, Maria sesungguhnya tidak memahami adiknya dengan benar-benar? Bagaimana dia tidak mampu merasakan kegundahan adiknya selama ini? Apakah dia selama ini tengah mencampakannya? Bukankah begitu, ketika ia memutuskan untuk pergi bersama teman-temannya sedangkan Keiichi menunggu sendirian di depan pagar sekolahnya, hingga... hingga...


Perasaan kacau mengisi hati Maria, sampai terakhir muncul di hadapannya seorang pria besar, rambutnya diwarnai, masih menggunakan baju seragam sekolah hitamnya dia kemari. Dia ditemani kedua orang tuanya, seorang pemilik pasar ikan, yang saling menundukan kedua wajahnya dan mengambil jarak dengan anaknya. Wajah pria tersebut kini pucat berkeringat, dan tubuhnya dibungkukkan begitu dalam seakan ingin meminta maaf.


"Ishizawa-san!" teriak pria besar tersebut mengaggetkan Maria dalam lamunnya.


Teriaknya menjadi pusat perhatian khalayak yang hadir di prosesi pemakaman Keiichi. Nenek dan sanak keluarga merasai perasaan tidak enak terhadap tamu di hadapan mereka kali ini.


"Nama saya Takeshi Yukichi, dan saya ingin meminta maaf-"


"Meminta maaf untuk apa?"


Ucap nenek yang duduk bersebelahan dengan Maria. Wajah Nenek terlihat marah seakan tahu apa yang akan didengarkannya, sedangkan Maria semakin pucat pasi.


"Saya... Kecelakaan Keiichi mungkin dikarenakan ulah saya..."


***


Takeshi begitu kesal sore kemarin. Kawan-kawan satu gengnya datang dengan babak belur, bahkan salah satunya dikatakan sedang dalam perawatan di rumah sakit. Mereka mengeluh tentang bocah sekelasnya yang dikenal tidak tahu diri, tengil dan sering melawan jika disuruh. Di cerita itu juga, seseorang bernama Keiichi itu telah berlaku licik dan menggunakan senjata dalam melukai ke tiga kawan Takeshi.


"Kenapa kalian bisa kalah, bertiga seperti itu?"


"Gak kalah, tapi sama babak belurnya. Ketika kita kira sudah bikin dia babak belur, dia serang kita dari belakang dengan balok kayu. Kami gak nyangka Keiichi senekat itu. "


"***! Sini, tunjuki aku di mana bocah Keiichi itu!"


"Tapi Yukichi-san, guru sudah memberi tahu kami untuk tidak buat gara-gara-"


"Kau mau aku balas atau tidak? Kini kau jelaskan, patah tidak tangan bocah itu?"


"Tidak..."


"Maka akan kupatahkan, sekaligus tangan lainnya juga!"


Takeshi bergerombol mencari Keiichi, sedangkan anak-anak yang terluka itu dengan takut mengikuti dari belakang dengan jarak yang agak jauh, takut dikira bersekongkol karena mereka sudah kena peringatan dari guru. Dari apa yang mereka dengar, Keiichi sering menunggu kakaknya di depan gerbang. Di situ telah siap Takeshi dengan pemukul kastinya untuk menjadi algojo bagi kawan-kawannya.


Dan ditemuinya Keiichi di depan gerbang, wajahnya terlihat pucat khawatir.


"Woi, Keiichi!"


Keiichi melihat ke arah Takeshi sekilas sebelum berbalik lagi, seakan pandangnya tertarik pada pemandangan di seberang jalan.


"Mau lari kamu hah, kau kira bisa lari dariku hah?"


Lampu saat itu hijau, dengan mobil yang melesat kencang walau berada di pinggir jalanan sekolah. Keadaan itu membuat Takeshi tahu bahwa Keiichi takkan bisa melarikan diri, kecuali dirinya ingin tertabrak mobil. Melihat Keiichi yang linglung, Takeshi segera mempercepat jalannya sambil mengayunkan pemukul kasti besinya, namun ternyata malah balasan yang tidak disangkanya keluar dari mulut Keiichi:


"Tunggu! Kau lihat bocah di seberang jalan itu?"


Takeshi tak melihat apapun di seberang jalan, mengiggau apa anak ini? Pikir Takeshi.


"Jangan mengada-ngada kamu! WOI!!"


Takeshi masih mencoba meminta perhatian Keiichi, akan tetapi sekali lagi, pandang Keiichi bukan menghadap pada dirinya, melainkan seberang jalan yang kosong.


"Kau melihat ke mana haaaahhh!!!"


Takeshi saat itu marah segera ingin mementungnya, dan pemukul kasti itu diangkatnya sambil berlari ke arah Keiichi dan orang yang dikejarnya itu berlari ke tengah jalan yang ramai dengan kendaraan. Entah, apa Keiichi melakukan itu karena takut pada Takeshi atau perihal lainnya.


Di antara kendaraan yang mengebut tanpa tanda mencoba menghentikan kendaraannya, Keiichi meloncat dengan tangan di depannya seakan tengah mendorong sesuatu.


Takeshi tidak memahami apa yang terjadi, apa yang dilihatnya terlalu brutal untuk dijelaskan dengan kata-kata. Namun jelas suara itu memasuki telinganya, suara rem, suara hantaman, dan remuk tulang.


Lalu yang tersisa adalah jasad Keiichi yang berguling di depan tubuh Takeshi.


Ketiga bocah yang di belakang Takeshi melarikan diri takut disalahkan, sedangkan siswa lain yang berada di kejauhan mulai bergerombol ingin mengetahui apa yang terjadi. Heboh, penuh dengan pandang ketakutan tapi juga rasa ingin tahu, dengan sembunyi-sembunyi handphone yang keluar dari kantung celana mereka untuk segera mengabadikan momen langka ini.


Apa Keiichi berusaha lari darinya? Pikir Takeshi keras. "Tidak! Dia baru saja bilang ada anak kecil... tapi di mana anak kecil tersebut? Ya, dia gila, dia bahkan melompat seakan ingin mati begitu. Ini bukan salahku. Ini bukan salahku." Takeshi dalam sepersekian detik berpikir begitu cepat memahami kondisinya kini, sebagai penyebab ataupun hanya sebagai saksi.


Pada saat itu darah mengalir dari hidung Keiichi, napasnya masih ada dengan suara yang serak, dia tidak mati seketika pada momen tersebut. Matanya yang merah masih mengedip menatap mata Takeshi, dan seakan pandang terakhir dari napas hidupnya yang terakhir itu benar-benar mengutuk Takeshi.


Pandang itu menghantuinya. Takeshi akhirnya menyimpulkan dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini semua bukan salahnya. "Keiichi, ya, Keiichi bocah goblok itu meloncat dengan sendirinya..."


***


"Ya, ada sesuatu di sisi jalan lain itu, karenanya dia meloncat..." Takeshi masih mencoba menjelaskan kisahnya ke Maria, dan matanya melihat ke kiri dan ke kanan tidak berani menatap Maria secara langsung.


"Tapi... tapi... pandang itu yang jelas penuh dengan rasa benci terhadapku. Dan semalaman aku tersiksa, aku tidak bisa membohongi diriku lagi. Aku... ini jelas salahku... Ishizawa-san mohon maafkan saya..."


Takeshi beserta keluarga memohon meminta maaf.


"Tahik, goblok! Tak sekalian kau laporkan dirimu sendiri ke polisi!" Teriak salah satu keluarga Maria.


"Maafkan kami..."


Dan Maria dengan tatapnya yang terbuka lebar, berjalan ke arah Takeshi. Takeshi berharap dirinya mendapatkan tamparan, pukulan, ataupun segala jenis hukuman fisik yang ia ketahui dan familiar sebagai seorang berandal. Biar babak belur, sehingga dengan seperti itu ia mampu mendapatkan sedikit perasaan lega. Akan tetapi Maria hanya menatapnya dengan pandangan kosong, dan tangan gemetarnya memegang kerah Takeshi.


"Pembunuh!!"


Maria berteriak ke arah Takeshi, dan Takeshi menangis sejadi-jadinya. Pertama kali Takeshi berhadapan dengan perasaan bersalah seperti ini.


"Dasar Pembunuh!! Ahh... ah..."


Maria pingsan saat itu juga dan Takeshi menangkap badan Maria yang sudah lemas tersebut. Keluarga juga tetangga mulai memisahkan mereka, beberapa dari keluarga bahkan menendang Takeshi yang masih berupaya menopang tubuh Maria. Mereka kemudian mengusir Takeshi dari prosesi makam.


"Ambil sumbanganmu ini, mana, mana, ah ini! Kita tidak butuh sumbanganmu!" Seorang dari keluarga melempar amplop yang kemudian diambil oleh orang tua Takeshi.


Takeshi pergi masih menangis dengan perasaan begitu bersalah, dan dia ingin dirinya pergi melaporkan dirinya sendiri ke polisi, tetapi keluarganya menolak. Takeshi jelas tidak menyentuh Keiichi sedikitpun, begitu pula penjelasan kawan-kawan yang melihatnya. Tapi Takeshi tak mampu membendung perasaan bersalah ini, perasaan bahwa dia telah merengut nyawa seseorang yang dikasihi.


***


Peti jenasah Keiichi kini ditutup dengan menggunakan paku. Sebelum itu Maria yang sudah terbangun dari pingsannya mengecup dahi Keiichi, menempelkan wajahnya ke wajah adiknya yang telah dingin sebelum akhirnya membiarkan keluarga yang lain melihat penampakan Keiichi untuk terakhir kalinya.


Maria masih membawa foto Keiichi lalu melihat perlahan Peti tersebut lama kelamaan masuk ke dalam tungku api.


Maria menyenderkan kepalanya ke bahu Maya kawannya yang kini turut menemani temannya, tak lama Maria berbisik, "Kadang aku berpikir soal kematian, betapa absurdnya berpikir tentang merasai kematian, demikian juga betapa nyatanya keberadaannya tersebut ketika melihat Ibu dulu."


"Maria..." Maya memeluk kepala Maria yang mulai menangisi bahunya.


"Jika mati seperti rasanya tidur, syukurlah, aku suka tidur. Ketika tidur aku tidak merasakan takut, aku lupa akan masalahku, seakan semuanya lenyap kecuali kenyamanan yang begitu aneh itu, begitu tenangnya hingga ketika bangun aku begitu merindukannya."


"Tapi Maya, kemudian aku mulai berpikir batas-batas ingatanku. Tentu aku tidak mampu berpikir lebih jauh dari masa-masa ketika masih balita, itu pun penuh dengan samar-samar. Tapi dalam samar-samar itu juga aku merasakannya, kehampaan ingatan yang jauh dan jauh dari ingatan yang pernah ada dariku, merasai diriku tidak ada. Kehampaan itu dan kehilangan rasa tentang diri, bahwa tidak ada aku, kenihilan diriku. Dan aku merasa mulai gila memikirkannya hingga rasanya aku selalu mencoba menjauh dari pikiran tentang itu, berpikir bahwa aku tidak pernah akan mati untuk bisa menikmati hidup."


"Lalu memikirkan Keiichi dalam kondisi tersebut, ketika Keiichi perlahan kehilangan dirinya dalam kehampaan itu... Aku begitu ketakutan, seakan aku merasakannya sendiri, dan perlahan aku ingin mengabaikan fakta bahwa dia telah mati..."


"Dan Keiichi selamanya akan menghilang, dia akan menjadi debu yang tak mampu aku kenali lagi." tutup Maria dalam ucapannya. Dan seketika Maria berucap itu, ia merasakan sesuatu yang aneh, suara ketukan.


Pada saat yang sama seorang operator bertanya apakah sudah boleh tungku api dinyalakan ke pada keluarga Maria.


"Tunggu." Ucap Maria, "Kalian tidak dengar itu?"


"Maria?"


"Kalian tidak dengar suara ketuk itu? Suara ketuk di peti Keiichi?"


"Maria..."


Maria mencoba mendekat ke arah tungku api, akan tetapi keluarga berusaha menahannya.


"Keiichi sudah pergi Maria." Teriak Maya ikut mencoba menariknya, merasakan dari bisik Maria sebelumnya bahwa Maria mulai terselip dari kenyataan menuju halusinasinya.


"Tidak, apa benar kalian tidak mendengar?"


"Maria!"


Paman mendekat ke arah Maria, seorang yang asing bagi Maria, tapi wajah galaknya itu familiar bagi Maria.


"Kau seperti kakakku, ibumu itu! Kau harus bisa menerima kenyataan! Jangan ganggu kepergian adikmu, relakan nak!"


"Tapi... Tapi..."


"Maria, tolong relakan adikmu..." Bahkan Maya temannya juga ikut meyakinkan Maria sembari menangis-nangis.


Tiba-tiba terdengar suara dipikiran Maria, suara yang familiar itu, suara Keiichi!


"Kakak tolong! Kakak!"


"Keiichi!"


Maria berteriak, dan dia terlihat begitu senang sambil memandang saudara-saudaranya.


"Kalian benar-benar tidak mendengarnya? Keiichi meminta tolong!"


"Tolong petugas, nyalakan tungku apinya!" Teriak sang paman.


"Jangan!!!"


Maria menjatuhkan foto Keiichi dan memukul-mukul badan pamannya yang besar sambil menangis, sampai tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras di dalam tungku perapian.


Suara peti yang bergoncang begitu keras, dan kini bergetar mengguncang membuat bunyi keras pada dinding tungku. Dan seketika ruangan ramai tersebut membisu, begitu pula sang petugas penekan tombol yang kini jarinya tertahan. Suara tersebut terdengar jelas, dan mereka sedang tidak berhalusinasi.


Terdapat sesuatu yang hidup di dalam peti tersebut.


"Cepat buka! Jangan-jangan terselip anjing di dalamnya!!" Teriak Sang Paman, sambil sedikit melirik ke Maria yang terlihat penuh dengan pandang berharap.


"Tidak mungkin pak, tempat kremasi steril dari binatang peliharaan..." Ucap petugas kremasi sambil mengusap keringat sembari kembali melepas paku-paku di peti.


"Lah terus apa? Kau mau bilang keponakanku ini masih hidup?"


"Keiichi memang masih hidup!"


Teriak Maria mendengar ucapan paman yang seketika membuat semua terdiam sepi, memutuskan untuk melihat apa yang tengah terjadi sebelum memutuskan apa yang tengah terjadi di dalam peti tersebut. Dan tak lama, sang paman dan petugas kremasi mengangkat penutup peti yang rapat dan berat tersebut, lalu tiba-tiba mereka yang berhadapan di tengah peti terdiam membuat keluarga yang di belakang bertanya-tanya tentang apa yang dilihatnya.


"Amitabha..." Ucap sang nenek, dan diikuti teriakan sang kakak: "Keiiiichi!!!"


Terlihat Keiichi yang terduduk di petinya dengan wajah kosong, sebelum Maria meloncat ke arahnya, memeluknya erat-erat.


Keiichi kebingungan melihat sekitarnya, wajah pamannya yang telah lama tidak ia lihat terbengong di hadapannya, lalu terdapat nenek di kejauhan yang menangis sambil mengucap-ngucap doa memuji sang buddha. Dan Maria, yang tangannya mengalunginya, mencium pipinya sembari membasahi wajahnya dengan tangisan.


Lalu entah bagaimana, walau dia tidak memahami kondisinya, ucapan terbesit di pikiran Keiichi yang kemudian langsung diucapkannya: "Kakak... aku pulang." Sambil memeluk balik kakaknya yang enggan melepasnya.