
Mengherankan adalah hal yang pertama Keiichi rasakan ketika dia terbangun. Penuh campur aduk hatinya dalam rasa nostalgia, sedih dan bahagia. Seakan-akan sesuatu yang ia dambakan kembali, begitu juga rasa kehilangan yang ikut bersamanya.
Dalam peluknya ke pada sang kakak barusan, apa yang ia ucapkan seakan adalah sesuatu yang telah ia lafalkan berkali-kali, dalam suatu perasaan penuh penantian yang akhirnya terbayarkan.
Tapi ia tak memiliki satupun ingatan tentang mengapa dirinya memiliki perasaan tersebut. Baru saja ini dia meninggal, setidaknya itu yang dijelaskan selama dirinya kini tengah duduk di depan dokter yang kini sedang memeriksanya.
“Ya, hmm… Matanya dibuka lebar nak, hmmm...”
Dokter bernama Dr. Hojo yang diketahuinya dari pin di jasnya kini mencoba melihat parameter-parameter kesehatan yang menyatakan Keiichi benar-benar hidup. Beberapa kali dia mengelap dahinya, dan tak lama dia telah duduk bersama sanak keluarga Keiichi yang kini berkumpul di ruangan dokter dengan suara yang begitu lirih dan ekspresi tidak percaya: “Keiichi, tidak ada yang aneh. Bekas lukapun tidak ada…”
“Yakin kau? Bukannya pak dokter yang bilang keponakanku ini sudah mati? Kau pula yang urus sertifikat kematiannya.”
“Benar, dan ini pertama kalinya saya lihat keajaiban seperti ini.”
“Hampir kau buat aku membunuh keponakanku ini! Mau kutuntut kau!”
“Paman!”
Pertengkaran hampir terjadi namun kemudian Maria juga nenek menenangkan sang paman yang galak itu.
Tidak ada yang salah sebenarnya dari reaksi sang dokter. Jelas-jelas telah mereka lihat Keiichi yang sudah memucat badannya, dengan jahitan di sekujur tubuhnya, dan organ-organnya barangkali sudah dibuang oleh pengurus pemakaman agar tidak cepat membusuk. Sungguh benar bahwa kata-kata yang tepat untuk dilontarkan sang dokter adalah keajaiban, karena jelas kini Keiichi berada di hadapan mereka, utuh, bernapas, tanpa suatu cacat sedikitpun.
Tak lama mereka sudah berada di rumah, dan hari itu bukan hari yang damai untuk keluarga Keiichi untuk mengekspresikan kebahagiaan bahwa anggota keluarga mereka telah kembali, melainkan hari yang paling aneh dalam sejarah keluarga mereka: Dari mengadakan upacara pemakaman, ke tempat kremasi, lalu ke rumah sakit, dan kini di rumah yang tengah dikerumuni tetangga.
Maria berteriak di antara kerumunan tersebut yang juga di antaranya adalah wartawan lokal tempat desa mereka berada, “Keiichi harus beristirahat! Kalian semua pulang ke rumah kalian masing-masing! Tolong yah!” yang malah semakin membuat mereka terheran-heran.
Di dalam ruang tamu yang telah terpampang foto, dupa dan tugu Keiichi.
Keiichi mengingat saat-saat ini seperti kematian ibunya. Rumahnya dipenuhi dengan orang-orang berpakaian hitam dan bagaimana tugu kematian dengan dupa terpampang di ruang tamu. Begitu lucu bahwa mereka tidak segera menyingkirkan tugu dengan fotonya yang dibuat untuk mengenangnya.
Saat itu sang paman langsung melakukan dogeza ke arah Keiichi ketika baru saja mereka sampai, enggan mengangkat kepalanya walau sudah disuruh untuk menyudahi persoalan ini. Sang paman kini merasa begitu bersalah karena hampir membuat Keiichi terbunuh di dalam peti tersebut.
“Maafkan pamanmu ini nak!”
Keiichi yang berada di sebelahnya termenung terdiam mendengar permintaan maaf tersebut.
Tak ada yang salah menurutnya untuk sang paman mengiranya sudah mati. Ia bahkan tak memiliki rasa takut sedikitpun ketika terbangun dalam ruang sempit tersebut, yang asap perlahan memasuki peti gelap membuatnya sesak hingga kesusahan bernapas, karena entah mengapa, ia percaya sang kakak akan menolongnya.
“Paman, cukup, paman tidak salah sama sekali... Aku bahkan tidak percaya bisa hidup setelah mendengar penjelasan kalian semua...”
Pada momen tersebut terlintas ingatan Keiichi, seorang anak gadis berambut pirang dengan perban di kepala, dilihatnya di sisi lain jalan. Ingatannya buyar untuk mendeskripsikan momen tersebut, tapi ia yakin di momen terakhirnya ia mendorong anak gadis tersebut.
“Ah, paman, selain aku, apakah anak gadis yang kudorong baik-baik saja?”
“Anak gadis? Kau ditemukan sendirian Keiichi...”
Tiba-tiba terdengar bisik keluarga soal gadis yang Keiichi sebutkan, bagaimana seorang bernama Takeshi, berkata bahwa Keiichi mencoba menyelamatkan sosok yang tidak nyata.
Belum juga Keiichi mengkonfirmasi bisikan tersebut, lorong menuju ruang tamu sudah penuh dengan tetangga-tetangga yang berhasil masuk menyelinap dari badan Maria yang berusaha menahan mereka dan kemudian melihat sedikit penampakan Keiichi. “Benar, hidup itu anak!” teriak salah satu ibu-ibu yang kemudian membuat dorongan semakin kuat di belakangnya.
Tak lama cahaya flash begitu menyilaukan membuat seisi lorong tersebut buta sesaat, seorang wartawan berhasil mengambil gambar Keiichi sebelum seorang ibu-ibu menendang kaki wartawan tersebut karena dianggapnya kurang ajar.
Nenek segera inisiatif membawa Keiichi yang terlihat bengong dan tak banyak bicara, takut keramaian membuat keadaan Keiichi memburuk.
“Nak, sudah, kau pasti lelah. Badanmu juga bau asap, barangkali banyak sisa abu orang menempel di bajumu. Bagaimana jika kau setelah ini mandi dan tidur? Kita semua di sini sampai malam menemani kalian.”
Nenek mendorong Keiichi ke lantai dua kamar Keiichi dan menyuruhnya berendam di air hangat yang telah disiapkannya.
***
Sudah pukul 10 malam dan sanak keluarga mulai berpulangan. Rumah kecil itu kini menjadi sepi kembali dan Maria berusaha membereskan segala jenis jamuan yang tersisa sebelum nenek menghentikan Maria yang sudah terlihat lebih riang dari sebelumnya.
“Ah nenek, aku tak ingin bikin nenek repot. Ah, aku juga harus antar nenek pulang.”
“Bah, kau pikir sudah berapa lama aku di kota kecil ini? Kau juga kan besok sekolah! Sudah, jangan beralasan lagi.”
Maria masih merasa enggan, tapi sang nenek mendorongnya ke atas tangga dan akhirnya Maria merelakan pekerjaannya diambil oleh sang nenek.
“...”
Berjalan kini Maria ke arah kamarnya secara perlahan yang berada di sebelah ruangan Keiichi. Hati Maria kini berdegup kencang. Dia merasa semua ini seperti mimpi yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, sebagaimana dia bermimpi tadi pagi bahwa Keiichi masih hidup dan dia menyediakan makanan untuknya hanya untuk tahu dia tidak pernah ada di ruangannya hari itu.
Pintu menakutkan itu kini berada di hadapannya, pintu berwarna coklat dengan beberapa stiker ksatria baja hitam dan sebuah plang dengan nama Keiichi di depannya yang memberi peringatan untuk mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk. Maria lalu mengetuk pintu tersebut sambil menelan ludahnya, dan tidak ada jawaban.
“Keiichi?”
Perlahan tangan Maria mengarah pada gagang pintu kamar adiknya. Berdoa bahwa semua ini bukan mimpi, bukan khayalannya. Berharap apa yang dilihatnya nanti bukanlah sebuah kamar kosong seperti pagi lalu.
“Tuhan… kumohon…”
Dan Maria membuka pintu tersebut, lalu betapa kaki Maria begitu merasa lemas setelah apa yang dilihatnya. Kasur Keiichi kosong. Tangis Maria keluar, sebelum sentuhan tangan memegang pundaknya.
“Kakak?”
“Keiichi!”
Maria membalikan badannya dan telah terdapat Keiichi dengan baju tidurnya. Mata Keiichi terlihat khawatir melihat wajah Maria yang penuh dengan ketakutan.
“Ada apa kakak? Kakak lihat sesuatu?!”
Reaksi pertama Keiichi langsung memeriksa kamarnya dan lorong di depan kamarnya, dan Keiichi tidak merasakan sesuatu keberadaan yang berbahaya. Di situ, Keiichi keheranan mengapa ia bereaksi dengan spontan seperti itu.
Demikian, suara Maria keluar dengan lirih sambil menatap dengan berkaca-kaca pada Keiichi.
“Kakak… kakak kira kau tidak di kamar…”
“Aku baru dari kamar mandi.”
“Aku takut bahwa semua ini hanya mimpi belaka…”
Maria berkata begitu sambil segera memeluk adiknya, mendekap adiknya di dadanya sambil mencium rambutnya.
“Kau tahu, pagi ini aku bermimpi bahwa kau masih hidup. Aku siapkan kau makan pagi, aku bangunkan kau sampai kusadar kamar kosong yang ada di hadapanku. Aku takut… Keiichi, bahwa hal itu terjadi lagi…”
Keiichi membalas peluk kakaknya yang terasa hangat air matanya mengenangi kepala Keiichi.
“Maafkan aku kakak… Kalau saja aku lebih hati-hati…”
“Tidak, aku yang meninggalkanmu! Jika saja aku di situ, menunggu di pagar seperti biasanya, semua ini takkan terjadi.
“Kakak, aku yang membuatmu kesal hari itu, aku seharusnya yang minta maaf--”
“Keiichi, aku janji takkan meninggalkanmu. Tapi tolong, jangan tinggalkan kakak seperti kemarin… Kakak begitu takut... Ayah meninggalkan kakak, Ibu juga... jangan sampai Keiichi juga... Kakak takut, takut sendiri di sini tanpa kau, Keiichi... Jangan tinggalkan kakak sendirian...”
Keiichi terdiam mendengar ucapan kakaknya tersebut, tapi perasaan lega memenuhi batinnya.
Telah lama ia ingin memeluk erat kakaknya seperti ini, begitu lama, betapa bercampur rasa sedihnya ia dalam penantian, bagaimana ia melanggar janjinya ketika semasih kecil untuk menjaga kakaknya. Ia hampir saja meninggalkannya mati, membuat kakaknya sendiri dalam kesedihan teramat, dan tentu, betapa absurdnya perasaan ini mengingat tidak ada dua hari dia meninggalkan kakaknya.
Tapi jelas, pikir Keiichi, bahwa dia berjanji untuk tidak melukai hati kakaknya lagi.