Playboy in Love

Playboy in Love
Tantangan



"Naya!" panggil Rayna membuat Naya bangun dari mimpinya yang indah. Ia mengucek matanya beberapa kali dan mengerjapkanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui indera penglihatannya.


"Apa sih ma?" keluh Naya saat melihat Rayna sudah dihadapannya.


"Kamu gak sekolah? Liat udah jam berapa tuh." Kata Rayna sambil berkacak pinggang.


Naya menoleh menatap jam yang bertengger di nakas. "Masih jam 7 juga." Kata Naya tidak menyadari apa yang dia katakan.


Saat ia menyadari apa yang dia katakan, ia langsung terlonjak dan melompat dari kasurnya bagai kebakaran jenggot.


"Omo! Gue telat nih." Teriak Naya sambil berlari menuju kamar mandi.


Rayna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang putri.


Naya keluar kamar mandi setelah selesai memakai seragamnya.


Rayna yang melihatnya keheranan, begitu cepat sekali gadis itu mandi.


"Kok cepet banget mandinya?" tanya Rayna.


Naya menatap sang mama, "siapa bilang aku mandi ma?"


Rayna menatap tajam sang putri, dia sangat terkejut bukan main, "jadi kamu gak mandi Nay?"


Naya mengangguk, ia langsung menyalami Rayna. "Naya berangkat! Tenang aja, Naya udah pake parfum banyak banget hahaha." Kata Naya sambil berlari menuju parkiran rumahnya.



Sesampainya disekolah, Naya melihat gerbang sudah tertutup rapat. Ia mendengus pelan dan menghela nafasnya yang terengah engah.


Ia tersenyum kepada Pak Karto—bapak penjaga gerbang sekaligus penjaga sekolah.


"Hai pak," sapa Naya sambil mengembangkan senyumnya.


"Boleh saya masuk pak?" tanya Naya sambil mengerjapkan matanya memohon.


Pak Karto hanya menggeleng pelan, "gak bisa. Oh ya nama kamu siapa?" tanya Pak Karto.


"Perkenalkan nama saya Annayara Alexandria, anak emak. Lahir di ranjang dari rahim emak." Kata Naya sambil memperkenalkan dirinya.


Pak Karto melongo mendengar penjelasan Naya, "maaf Naya, kamu gak bisa masuk." Kata Pak Karto.


Naya menatap pak Karto dengan wajah memelasnya, ia memasang tatapan penuh harap dengan puppy eyes nya.


"Ayolah pak, sekali ini aja buka. Naya gak bakal telat lagi pak, tadinya Naya habis mimpi ketemu Oppa Sehun, jadi saya telat pak."


"Tetep gak bisa, Naya." Kata Pak Karto.


"Pak, ibarat nih Naya itu putri bapak, gimana reaksi bapak? Masa bapak tega biarin Naya kayak gini sih?" kata Naya dengan mata berkaca-kaca.


Pak Karto yang tak tega langsung membuka gerbangnya, "yaudah, jangan nangis ya." Kata Pak Karto sambil mengusap punggung Naya pelan.


Naya tersenyum manis sambil menyalami Pak Karto, "makasih pak, bapak yang terbaik. Aku tak akan melupakan bapak pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidup Naya ini." Kata Naya sambil berlari menuju kelasnya.


Sesampainnya dikelas, ia mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat.


"Assalamualaikum,"


Pintu itu terbuka menampilkan wajah Bu Merlin yang sangat garang.


"wa'alaikum salam, kenapa kamu telat!" bentak bu Merlin dengan suara naik beberapa oktaf.


Naya mengerjapkan matanya saking terkejutnya dengan suara bu Merlin yang menggelegar.


Refleks, gadis itu menundukkan kepalanya enggan dan takut menatap guru dihadapannya ini.


"Maaf bu," lirih Naya.


"Yasudah masuk sana! Tapi nanti jam kedua kamu berdiri sambil hormat sampe jam istirahat." Kata bu Merlin.


Naya memasang wajah murungnya, "yah, kok gitu sih bu." Keluh Naya.


"Sudah! Jangan banyak bacot! Duduk sana." Kata bu Merlin.


Naya menggerutu dalam hati, yah si ibu kok ngegas. Batin Naya.


Naya berjalan menuju bangkunya, tak sengaja tatapan matanya bertubrukan dengan tatapan mata cowok tengil itu, siapa lagi kalau bukan Gara. Ia tersenyum mengejek menatap Naya yang hari ini terlambat.


Ia langsung duduk tanpa memperdulikan tatapan menjijikan dari Gara yang ada dihadapannya.


"Makannya sayang, kalo disuruh tidur itu ya tidur, jangan mikirin gue mulu." Kata Gara sambil memerhatikan bu Merlin, Naya sadar itu adalah sindiran untuknya.


"Biarin lah, pede banget! Emang gue mikirin lo. Nggak kali," acuh Naya sambil membuka bukunya.


Anin yang ada disampingnya mengernyit heran, "Naya lo kenapa?"


Naya menggeleng, "eh enggak, Nin." Kata Naya.


Gara terkekeh kecil, "padahal gue ngomong bukan nyindir dia. Tapi geer juga ternyata." Kata Gara.


Naya merutuki Gara dalam hati, ia sangat kesal pada cowok yang duduk dihadapannya ini. Najis banget gue geer sama lo Garila!


Setelah bu Merlin keluar dari kelas, Naya diharuskan menyelesaikan hukumannya berjemur di tengah lapangan sambil memberi hormat. Ia mendengus pasrah menerima hukuman ini, toh semuanya adalah salahnya.


Saat Naya melangkahkan kakinya keluar kelas, Gara meneriakinya.


"Naya!" panggil Gara.


"Semangat, sayang!" kata Gara sambil terkekeh kecil dan menarik turunkan alisnya menggoda Naya.


Tanpa pikir panjang Naya langsung melangkahkan kakinya untuk melaksanakan hukumannya.


Ia berdiri ditengah lapangan sambil memberi hormat pada tiang bendera, cuaca kali ini sangat panas, apalagi tadi pagi ia tak sempat mandi dan sekarang ia banjir keringat. Walaupun ia memakai parfum banyak, tapi tetap saja badannya bau saat ini.


"Haduh, panas banget sih." Kalung Naya.


Tiba tiba sebuah benda dingin menyentuh pipinya, ia menoleh mendapati satu botol air mineral menempel di pipinya dengan seorang cowok yang tersenyum kearahnya.


Naya mengernyit menatap orang tersebut, "lo siapa?" tanya Naya.


Cowok itu tersenyum manis, wajahnya sangat tampan.


"Kenalin, nama gue Alvaro Keano Bagaskara." Katanya sambil mengulurkan tangannya didepan Naya.


"Nama gue Annayara Alexandria, panggil aja Naya." Katanya sambil menyambut uluran tangan Alva.


Cowok itu tersenyum kearahnya, "gue gak pernah liat lo sebelumnya, lo murid baru ya?" tanya Alva.


Naya mengangguk, "baru beberapa hari ini gue pindah kesini." Kata Naya.


"Yaudah, nih minum." Kata Alva sambil menyerahkan sebotol air mineral ditangannya.


Ia menerimanya dan meneguknya hingga air itu tinggal setengahnya. "Thanks ya, emm Alva." Kata Naya.


Alva mengangguk, "No prob." Katanya.


"Oh ya, lo ngapain disini?" tanya Naya yang heran dengan kehadiran Alva disana.


"Nemenin lo." Katanya, membuat pipi Naya bersemu merah.


"Ma-maksud lo?"


Naya merutuki dirinya yang terlihat sangat gugup, sial!


"Hahaha, lo lucu ya kalau lagi gugup gitu." Kata Alva sambil tertawa.


Naya merutuki Alva yang tertawa itu, wajahnya jauh terlihat dua kali lebih tampan saat tertawa seperti ini.


"Gue lagi pelajaran olahraga, terus gue lihat lo lagi kepanasan disini. Gue jadi beliin lo air mineral, kasian banget liat lo kepanasan kayak gitu." Kata Alva.


Pipi Naya bersemu merah, bagaimana tidak? Cowok yang tidak mengenalnya sama sekali, apalagi Alva cowok tampan ini memberikannya perhatian lebih, ya care lah bagaimana jika kalian diposisi Naya, baper nggak?


Alva melihat keringat menetes dari dahi gadis itu, refleks tangannya mengeluarkan tisu dan mengusap pelan dahi gadis itu yang berkeringat. Membuat Naya menahan nafasnya karena perlakuan Alva. Matanya tak sengaja bertatapan dengan mata cowok itu, membuat jantungnya maraton.


"Eh, so-sorry gue udah lancang." Kata Alva.


Naya mengangguk, "iya gak papa."


BUGH.


Naya terlonjak kaget saat Alva sudah tersungkur, ia menatap siapa yang telah membuat Alva tersungkur.


Dia, Gara.


"Ngapain lo ngedeketin cewek gue!" kata Gara sambil menunjuk wajah Alva.


Naya bersedia, lalu membantu Alva bangun.


"Gara! Lo apa apaan sih." Ketus Naya.


"Dia yang ngapa ngapain, pake ngelap keringet lo segala lagi." Kata Gara.


Naya menatap tajam Gara, "lalu, apa urusannya sama lo!" bentak Gara.


"Lo cewek gue!" putusnya.


Naya tertawa samar, "kapan sih gue pacaran sama cowok brengsek kayak lo?" katanya sambil tersenyum sinis.


"Ayo Alva," kata Naya sambil menarik tangan Alva.


"Berhenti ganggu hidup gue!" ketus Naya pada Gara.


"Ada perjanjian, gimana?" kata Gara menantang.


"Apa perjanjiannya?" tantang Naya.


"Lo harus jadi pacar gue, kalo gue yang mutusin duluan lo berarti gue kalah dan gak bakal ganggu lo lagi gimana?"


"Oke, tapi diantara kita gak boleh ngurusin hidup masing masing. Mau itu deket sama siapa aja gak boleh komplain, gimana?"


"Gak bisa gitu dong!" keluh Gara.


"Oke, yang minta putus duluan dia kalah. Gimana?" kata Gara.


"Oke, siapa takut!" kata Naya.


Gadis itu menarik tangan Alva agar menjauh dari Gara.


"Inget, mulai sekarang lo pacar gue!" kata Gara mengingatkan.


"BACOT!" bentak Naya sambil berlalu pergi bersama Alva.