Playboy in Love

Playboy in Love
Segelintir Memori



Sesampainnya dirumah, Gara menghempaskan tubuhnya begitu saja. Ia sangat kesal sekaligus malu karena ulah gadis itu, gadis yang dengan beraninya menghinanya seolah ia tak memiliki harga diri sedikitpun.


Cowok itu menahan amarahnya, tangannya terkepal kuat. Rahangnya menegas, giginya bergemelatuk.


"Sialan!" umpat Gara.


Ia menghela nafasnya panjang, bayangan kejadian tadi membuatnya sangat malu. Ia benci pada gadis itu, rencananya untuk mempermalukan gadis itu malah berbalik. Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?


Matanya mengeliling menatap ruangan bernuansa monokrom itu. Tatapannya terhenti pada sebuah foto yang bertengger disana, foto dirinya bersama seorang gadis kecil. Di foto itu, dirinya masih berumur 7 tahun, sama dengan gadis itu.


Dulu, ia sering menyebut gadis kecil itu dengan sebutan 'Al.


Gara memejamkan matanya, bayang bayang itu kembali, saat Gara pergi karena pertengkaran kedua orang tuanya.


Gara melarikan diri ke sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya, rasanya sangat tenang disini. Walau ia hanya seorang diri tanpa teman, setidaknya disini jauh lebih tenang dari pada suasana rumah yang mencekam.


Disisi lain, seorang gadis kecil tengah mengamati seorang anak laki laki seumurannya sedang terduduk sambil menitikkan air mata, membuat gadis itu tergerak untuk mendekati anak laki laki tersebut.


Gara mendongak saat ada tangan kecil yang menyerahkan sebuah lolipop dan sapu tangan kehadapannya.


"Hai, nih buat kamu." Kata gadis kecil itu.


Gara masih diam, dia baru tau bahwa ada yang peduli padanya. Dari sejak kecil, Gara sudah diajarkan untuk tidak peduli pada siapapun oleh keadaan, namun gadis kecil ini terlihat sangat tulus padanya.


Gadis kecil itu tersenyum sambil duduk disampingnya, namun pemberiannya masih belum Gara terima.


"Kamu gak mau ya hadiah dari aku, kata mama gak baik kita nangis." Kata gadis kecil itu.


Gara mengulas senyum tipis, setidaknya gadis itu sedikit menghiburnya.


Tangan Gara menerima lolipop itu beserta sapu tangan itu dari gadis kecil yang ia tak tau siapa namanya.


"Makasih." Kata Gara kecil.


Gadis itu mengangguk, "nama aku Al, orang orang menyebut aku dengan nama itu."


"Nama aku Ano, orang orang terdekat aku biasa panggil aku dengan sebutan itu." Kata Gara.


Gadis itu mengangguk kemudian tersenyum, "apa kita teman?" tanyanya.


Gara tersentak, gadis ini sangat unik. Baru pertama ketemu, apa dia tak takut berteman dengan orang baru kenal.


"Aku gak pernah punya teman, aku takut berteman." Kata Gara.


Gadis yang bernama Al itu mengulas senyum, "makanya, ayo kita berteman! Kamu bakal bahagia dengan berteman. Kata kamu gak pernah punya teman kan? Jadi, aku akan jadi orang pertama yang jadi temen kamu." Kata Al.


Gara tersenyum kemudian mengangguk, "iya, kita teman." Kata Gara.


Gara membuka matanya, saat sekelebat memori membuatnya mengulas senyum tipis. Ia bangun dari tidurnya dan membuka laci nakas, disana terdapat sapu tangan Al yang masih ia simpan hingga saat ini.


Ia melihat sapu tangan itu, sudah lama ia tak bertemu dengan sang pemilik sapu tangan ini. Sang pemilik yang mengajarkan bagaimana caranya bahagia walau dengan hal sederhana, orang pertama yang bersedia menjadi temannya, orang pertama yang membuat hidupnya lebih berwarna, orang yang selalu peduli, walaupun umurnya yang terbilang masih kecil, tapi gadis itu mampu membuat pikiran Gara jauh lebih dewasa dalam menghadapi masalah.


Gara termenung sambil memandangi sapu tangan tersebut, senyum simpul tercetak di wajah tampannya.


"Lo kemana, Al? Gue kangen sama lo." Kata Gara bermonolog.


Tiba tiba pikirannya tertuju pada gadis angkuh dan jutek yang baru baru ini membuatnya malu. Membuatnya menderita, siapa lagi kalau bukan Annayara Alexandria.


Gara tersenyum sinis ketika mengingat Naya. Dia tahu persis bagaimana wajah gadis itu, dia tahu persis bagaimana kelakuan gadis itu. Gadis yang dengan beraninya menolak dia, mencaci maki dia dihadapan orang lain.


Jika gadis lain yang ada diposisi Naya, maka dia akan teriak teriak sambil menganggumi wajah tampan Gara. Namun, berbeda hal dengan gadis ini. Dia sama sekali tak tertarik dengan Gara membuat cowok itu semakin penasaran dengan tipe cowok yang diidamkan Naya sebenarnya.


Ia tersenyum jahil saat mengingat kejadian waktu itu. Bagaimana wajah kesal gadis itu saat ia perlakukan layaknya seorang kekasih, bagaimana wajah kesal gadis itu saat ia sebut dengan sebutan 'pacar'. Gara sangat mengingatnya.


Namun, Gara menahan amarahnya karena kejadian tadi disekolah. Naya sudah membuatnya marah, kesal, namun entah kenapa ada rasa aneh saat mengingat gadis itu.


Gadis yang menurutnya langka, gadis unik yang membuat hari harinya cukup menderita.


Ia mengacak rambutnya frustasi, kenapa sih gue harus mikirin tuh si cewek sialan! Batin Gara.


Tiba tiba muncul ide dalam benaknya, ia melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menemui Naya yang notabenenya adalah tetangga Gara.


Ia mengetuk pintu rumah Naya, hingga pintu itu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum padanya.


"Selamat sore tante, saya Gara tetangga sebelah temennya Naya dan pacar Naya sekaligus." Kata Gara memperkenalkan diri sambil menyalami Rayna yang masih melongo mendengar penjelasan Gara.


"Eh, emm iya. Owh Gara pacarnya Naya toh, yaudah masuk. Tante panggilan Naya dulu ya bentar." Katanya.


"Iya, makasih tante." Katanya sambil duduk di sofa ruang tamu.


Rayna mengetuk pintu kamar Naya pelan, gadis itu langsung membukakan pintu kamarnya yang menampilkan sosok sang mama, ia tersenyum jahil kearah Naya membuat gadis itu sedikit heran.


"Ada apa ma?" tanya Naya yang masih bingung dengan raut wajah mamanya.


Rayna terkekeh kecil melihat anak gadisnya ini, "itu ada pacar kamu loh. Anak mama udah gede ya sekarang, udah pacaran aja. Sama tetangga sebelah lagi." Kata Rayna.


Naya melongo menatap mamanya, pacaran? Dengan tetangga sebelah? Apa gak salah. Sejak kapan ia pacaran dengan tetangga sebelah.


"Naya gak pacaran ma!" kata Naya mengelak.


"Itu dibawah cowok yang nungguin kamu siapa? Katanya pacar kamu, tetangga sebelah kita." Kata Rayna sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang putri.


Wajah Naya langsung berubah drastis, tatapannya datar. Pasti ulah cowok tengil itu, siapa lagi kalau bukan Sagara Vallecano Jonathan sang Playboy nomor satu disekolah.


Dengan langkah cepat ia menuruni tangga menuju ruang tamu, saat ia melihat Gara tengah melamun muncul ide tak kasat mata dalam benaknya, ia tersenyum miring.


"SAGARA!"