Playboy in Love

Playboy in Love
Murid baru



Pagi ini penampilan Gara terlihat lebih tampan dari biasanya dengan menggunakan hoodie berwarna navy. Kulitnya yang putih itu nampak sangat cocok saat dipadukan dengan warna hoodie nya. Jangan tanyakan reaksi para ciwi ciwi yang sudah teriak kegirangan melihat pangeran tampan pagi ini.


Dengan usilnya, Gara tersenyum sambil mengedipkan matanya menggoda beberapa cewek yang berpapasan dengannya, hal itu mengundang teriak para cewek dan tentunya kedua pacarnya itu, siapa lagi kalau bukan Maura dan Laura.


Maura sudah berlari menghampiri Gara sambil sesekali berteriak, disusul Laura dibelakangnya. Tangannya langsung memeluk lengan Gara manja, bergelayut membuat cowok itu agak risih.


Gara menatap keduanya jengah, "ngapain sih kalian?" tanya Gara pada keduanya.


Maura sudah memanyunkan bibirnya yang penuh gincu itu, sedangkan Laura sudah memasang tampang memelas sambil mencebikan bibirnya.


Jujur saja, Gara agak jijik. Dia juga sudah bosan dengan keduanya, padahal hubungan keduanya baru berjalan masing masing 1 bulan.


"Aduh sayang kamu jahat ih usir aku kayak gitu." Kata Laura lebay.


Maura yang tak terima langsung menendang kaki Laura hingga ia terjungkal.


Laura meringis, "awshhh sakit!" kata Laura sambil memegangi kakinya.


Maura tertawa terbahak, "rasain lo, dasar pepacor!" kata Maura.


Gara hanya melihat sekilas tanpa berniat membantu Laura, ia menghempaskan tangan Maura dan berlalu begitu saja meninggalkan keduanya.


"GARA!!! kamu tega ninggalin aku HUAAAAA, aku sakit Gara!" teriak Laura yang masih dengan posisinya.


Maura menghentakkan kakinya beberapa kali, melihat Gara yang berjalan begitu saja meninggalkannya.


"Ishhh! Untung sayang!" kata Maura.


Sedangkan disisi lain, Gara sudah jengkel dengan sikap keduanya dan dia butuh seseorang lagi yang dapat menghiburnya. Dia jadi teringat dengan insiden adik kelasnya yang pingsan gara gara disapa olehnya.


Muncul ide tengil dalam pikiran Gara, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan melewati kooridor kelas 10 untuk melihat adik kelasnya itu, Rara.


Mata semua siswi kelas 10 langsung tertuju padanya, semuanya berteriak histeris melihat wajah tampan Gara. Dasar para ciwi ciwi.


Rara yang mendengar teriakan dari teman temannya langsung mendongak, mengedarkan pandangannya. Saat ia memandang sekeliling, tak sengaja tatapan matanya bertubrukan dengan mata tajam mempesona milik Gara.


Jantung gadis itu berdetak tak karuan, dilihatnya wajah itu teliti yang sedang menatapnya. Rara menggeleng, ia sulit untuk menelan salivanya, kepalanya berdenyut pusing. Jangan sampai gue pingsan lagi, bisa malu maluin didepan cogan. Batin Rara.


Gara mendekat, tangannya dimasukan kedalam saku celana. Jangan tanyakan jantung Rara yang sedang berdisko didalam sana, mata tajam itu masih menatap intens gadis polos ini.


Beberapa orang yang menyaksikan berteriak histeris melihat adegan keduanya seperti adegan drama Korea .


"Hai, Ra." Kata Gara sambil tersenyum dan menaikan sebelah alisnya.


Semuanya terdiam menunggu balasan gadis itu, takut takut ia akan pingsan lagi.


Gadis itu memutus kontak pandangannya, ia menunduk sambil memilin ujung roknya.


Jantungnya berdegup tak karuan, oh shit!!! Tampannya ciptaanmu. Batin Rara saat ia mendongak menatap intens makhluk tampan dihadapannya.


"Hai, kak." Kata Rara gugup.


Gara tersenyum tengil, para ciwi ciwi disekitar Rara langsung menggerubung melihat kejadian langka itu.


Gara masih dengan tampang cool nya itu langsung menggenggam tangan Rara, membuat gadis itu cengo menatap tangannya sendiri.


Cewek ini polos juga ternyata. Batin Gara.


"Eh maaf, Ra." Kata Gara.


Rara mengangguk, kemudian tersenyum. "Emm, iya gak papa." Kata Rara.


"Ra, minta ID line lo dong." Kata Gara.


Deg!


Demi kudanil yang sedang berhibernasi di Antartika, seorang Gara minta ID line pada Rara. Eh btw, kapan kudanil bisa hibernasi? Aku ah, lupakan semuanya.


Para siswi langsung melotot menatap mereka tajam, ada yang berharap posisi Rara digantikan oleh mereka, ada yang menatap iri, ada yang sedang berghibah ria, ada yang hanya diam diam memperhatikan namun dalam hati mengerutuk.


"Gimana, Ra? Boleh?" tanya Gara sambil menepuk bahu Rara membuatnya tersentak.


"Eh, ehm iya kak." Kata Rara.


"Sini hp lo." Kata Gara.


Tangan Rara terukur memberikan handphonenya pada Gara, cowok itu langsung mengambilnya dan menyalin id line milik Rara.


"Oke, makasih Ra. Jangan mikirin gue terus ya, nanti cinta loh." Kata Gara.


Semuanya cengo menatap Gara.


Rara mengangguk, "iya kak."


"Dah, babe." Kata Gara sambil melangkah pergi.



Gara cekikikan sambil menatap layar ponselnya, satu target sudah ia genggam. Namun, ia belum meresmikan hubungan keduanya. Ia cukup penasaran dengan gadis itu yang terlihat sangat polos dan menggemaskan, rasanya ia ingin mengantonginya supaya bisa dibawa kemana mana.


Semua temannya yang melihat Gara hanya diam, mereka tak berani menanggapi Gara. Takut, cowok itu akan mengeluarkan watak aslinya yang menyeramkan.


"Woy lo pada gamau nanya kenapa gue cekikikan begini apa?" tanya Gara pada semua teman dikelasnya.


"Kagak, gue takut singa betina keluar." Kata Fandi menanggapi ucapan Gara.


Gara mendengus, ia menoyor kepala Fandi, "ettdah pala lo. Kalem Ar, gue disekolah bukan cuma jadi ketua kalian, tapi gue juga temen kalian wajar dong kalian kepo sama gue kecuali privasi gue, baru kalian kagak boleh tau semua. Jangan anggap cuma karena gue ketua Redrigaz kalian jadi canggung ama gue." Kata Gara.


Ini yang mereka suka dari Gara, rendah hati ya walaupun kadang kadang meninggi, dia humble banget sama banyak orang. Ya tapi gitu, darah playboy nya sudah mendarah daging.


"Wee, bos kita the best lah pokonya. Gak salah kita milih lo jadi ketua kita kita, yoi gak?" kata Dalvin.


Mereka semua mengangguk, "yoi bro." Kata mereka.


"Oh ya btw, tadi lo kenapa cekikikan kayak orang sinting baru waras." Kata Olis.


Fandi menoyor kepalanya, "kebalik ogeb!" kata Fandi.


"Yemaap!"


"Jadi, gue dapet target baru coy! Si Rara anak kelas 10 yang waktu itu pingsan, dan sekarang gue dapet ID line nya." Kata Gara riang.


"Wah, bos emang the best."


"Anjirrr! Gercep."


"Wagelaseh, kayak si Olis nih gercep sama bu Merlin." Kata Fandi yang tak menyadari kehadiran Bu Marlin.


Sontak semuanya terdiam mendengar Fandi berkata seperti itu, ia yang tak menyadari pun aneh dengan gelagat para temannya.


"Lah, lo pada ngapa diem bae? Biasanya juga ghibahin Bu Merlin!" Kata Fandi.


"OHH! JADI BEGITU YA FANDI? KAMU SUKA GHIBAHIN SAYA?" kata Bu Marlin yang sedang memasang muka marah.


Fandi langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Bu Merlin sambil nyengir, "piss bu." Katanya sambil terkekeh, mengundang tawa satu kelas.


"Awas kamu mengulanginya lagi! Untung sekarang ada murid baru, jadi ibu gak mau repot urusin anak gak jelas kayak kamu!" kata Bu Merlin ketus.


"Ayo, kamu silahkan masuk, dan perkenalkan diri kamu." Kata Bu Merlin mempersilahkan.


Gadis itu mengangguk.


"Annyeong semua, nama gue Annayara Alexandria. Panggil gue Naya, gue lahir dikasur dari rahim emak gue. Oke, sekian dari anak emak. Makasih." Kata Naya.


Semua melongo menatap gadis ajaib yang memperkenalkan dirinya tanpa malu sedikitpun. Wajahnya memang cantik, tapi otaknya rada gesrek kayaknya.


"Naya, kamu duduk dibelakang Gara ya." Kata bu Merlin.


Naya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju bangku tersebut, ia melirik sekilas cowok yang bernama Gara itu yang masih menunduk, saat ia mendongak tatapannya bertemu.


Ternyata cowok rese itu, ide jahil terbesit dibenaknya.


"Hai, tetangga. Persiapkan diri, selamat bermain main." Kata Naya sambil tersenyum jahil.


"Cewek sinting." Desis Gara.


"Gak papa gue sinting, yang penting idup!" Kata Naya sambil duduk dibangkunya. Ia menatap teman sebangkunya yang sedang melongo.


"Hai, nama lo siapa?" tanya Naya.


Gadis itu tersenyum kikuk, "eh nama gue Nindya, panggil Anin aja." Katanya.


"Oke, salken ya. Gue, anak emak." Kata Naya.


Anin nampak tersenyum kikuk, gadis ajaib. Batinnya.



vote+commentnya:)