
Pulang sekolah, semuanya sudah berkumpul dengan motor masing masing. Rencananya mereka akan menyerang markas Genzdarges.
Rencana sudah disiapkan matang matang, dan semuanya hanya tinggal mempersiapkan diri untuk tugas masing masing.
"Oke, seperti rencana ya. Semuanya selesaikan tugas masing masing. Gue yang bakal urusin arah depan, kalian harus siap, dan gue juga bakal jadi orang pertama yang berhadapan dengan Marvel." Kata Gara.
Marvel adalah ketua geng dari Genzdarges, pesonanya sama dengan Gara, hanya saja Gara jauh lebih segalanya jika dibandingkan dengan Marvel.
Mereka semua sudah dengan posisiasing masing, kini Gara tengah mempersiapkan dirinya. Sesekali ia terkekeh meremehkan melihat beberapa anak Genzdarges yang sudah siap berjaga.
"Punya nyali juga lo." Kata Gara sambil menantang salah satu anak Genzdarges.
Mereka semua nampak ketakutan dengan Gara, apalagi tatapannya yang membunuh itu. Ingat, Gara mampu membunuh jika dia ingin, catat baik baik.
"Mana Marvel?" tanya Gara menantang.
Semuanya nampak diam, tak bersuara.
"Lo cari gue?" tanya Marvel dari arah dalam markas sambil tersenyum sinis.
Gara menggeram, tangannya terkepal kuat. Sangat benci melihat wajah Marvel ini, ingin sekali ia membunuh cowok itu sekarang juga.
Gara mengerlingkan matanya pada teman temannya yang sudah bersiap. Mereka yang sadar akan kode dari Gara langsung memulai aksinya.
Dari arah kanan, Dalvin memimpin disusul beberapa anak yang membantunya. Diarahkan kiri, Fandi memimpin, dan dari arah belakang Fano memimpin membuat kedudukan Genzdarges semakin terdesak. Mereka dikepung dari berbagai sisi.
"******* lo! Main keroyokan, gak bisa lo main sportif?" kata Marvel menantang.
Gara terkekeh kecil, "main sportif Lo bilang? Terus apa jadinya lo yang mau nyerang base camp gue diam diam?" Kata Gara tenang, namun nada bicaranya nampak dingin dan menusuk.
BUGH.
Bibir Marvel sedikit sobek dengan darah yang mengucur membuatnya sedikit meringis.
"Shhh, dasar lo brengsek!" kata Marvel sambil menarik kerah seragam Gara, namun tak ada rasa takut sedikitpun dalam tatapannya.
"ABANG!" teriak seseorang diseberang sana, membuat atensi mereka tertuju pada seorang gadis yang sedang menatap mereka.
Gadis polos yang menjadi incaran Gara selama ini, dia Rara. Tapi kenapa Rara berbicara padanya dengan sebutan 'abang?'
Marvel langsung menghampiri Rara yang sedang menatap dengan tatapan takut.
"Abang hiks, Abang pulang ya, hiks Rara takut disini." Kata Rara sambil terisak. Dadanya bergetar hebat.
Marvel mengusap punggung gadis itu pelan, kemudian mendekapnya.
"Iya, Ra. Ayo kita pulang." Kata Marvel.
Tatapannya beradu dengan tatapan tajam milik Gara, "gue gak mau bikin adek gue takut. Mau lo katain gue pecundang atau apapun, terserah. Yang penting adek gue bisa tenang. Terserah lo mau cap gue apa." Kata Marvel sambil menunjuk Gara.
"Ohhh, jadi Rara itu adek lo?" tanya Gara sambil menyeringai
Marvel menatap tajam Gara, "kalo iya? Mau ngapain lo?!" kata Marvel sambil menarik kerah baju milik Gara membuat Rara memekik.
Tangan gadis itu menarik tangan kekar yang menarik kerah baju Gara, hingga membuat pemilik tangan itu menoleh tajam, "bang, Ra-ra t-takut." Kata Rara sambil menunduk.
"Ayo pulang! Gak usah ngurusin pecundang kayak mereka." Kata Marvel sambil menarik tangan Rara agar menjauh dari anak Geng Redrigaz.
Baru beberapa langkah saja, suara Gara membuat langkah mereka terhenti.
"Jadi lo mau jadi pengecut?" kata Gara sambil tersenyum meremehkan.
Marvel menoleh menatap mereka tajam, "terserah! Hanya gue gak mau lebih pecundang ngebiarin adek gue ketakutan disini! Kalo kalian ngerasa ********, lanjutin aja." Kata Marvel acuh.
"Tenang, Gar. Ada benernya juga yang Marvel bilang." Kata Dalvin.
"Kita main cantik aja." Bisik Olis.
"Gimana caranya?" tanya Gara.
Olis menatap remeh mereka berdua, muncul ide buruk dalam pikirannya. "Lo tenang aja, gue ada caranya. Sekarang mending kita cabut, beresin anak Genzdarges yang lain." Kata Olis.
"Tumben otak lo encer." Cibir Gara.
Marvel sudah menarik tangan Rara menjauh, mereka langsung menuju mobil sport milik Marvel dan meninggalkan anak Redrigaz beserta anak Genzdarges disana.
"Cabut!" kata Gara.
"Lah, cabut kemana? Terus ini anak Genzdarges yang lain gimana pada bonyok begini?" tanya Dalvin.
Gara memutar bola matanya malas, dia merasa bersalah kali ini karena banyaknya korban yang cukup parah. Ia mengeluarkan dompet dari sakunya, dan mengambil kartu ATM miliknya.
"Nih, beresin semuanya. Gue cabut dulu," kata Gara.
"Yaudah, sisanya gimana?" tanya Dalvin.
"Makan makan!" celetuk Fandi.
Gara langsung menatap Fandi tajam. "Enak aja! Balikin, kalo kalian mau Snack atau makanan yang lain beli aja. Tapi, jangan habisin duit gue!" kata Gara sambil menaiki motornya.
"Siyap!" kata Dalvin.
"Gue cabut." Kata Gara sambil melesatkan motornya dari markas Genzdarges.
Gara melajukan motornya ke sebuah cafe, sebenarnya cafe ini adalah miliknya, peninggalan dari mendiang sang Kakek.
Gara tersenyum saat melihat cafe saat ini cukup ramai dengan pembeli, cafe peninggalan sang Kakek yang ia pertahankan hingga saat ini.
Saat Gara memasuki cafe, semua perempuan yang datang langsung memekik kegirangan melihat wajah tampan Gara. Beberapa ada yang cengo, beberapa ada yang teriak teriak, ada juga beberapa yang hanya diam mematung. Namun ada satu gadis yang menarik perhatiannya, dia sedang menatap tajam Gara, dia si anak baru, Annayara Alexandria.
Dengan usilnya, Gara tersenyum pada beberapa perempuan yang ia lalui sambil meminta ID line, dan dengan senang hati mereka memberikannya. Mata Naya tak luput memperhatikan setiap gerak gerik cowok itu, ia mencibir dan mendecih melihat tingkah Gara.
Lalu ia mendekat ke mejanya, tersenyum jahil. Naya hanya memutar bola matanya sambil membatin, mau ngapain nih si playboy kelas kakap datang ke meja gue. Sambil senyam senyum lagi, najis. Batin Naya.
Naya menatap tajam Gara yang senyam senyum dan tanpa permisi duduk begitu saja dihadapan Naya. Apalagi melihat sekelilingnya yang sudah menatap mereka tajam semakin membuat gadis itu geram dengan tingkah Gara.
"Hai pacar." Kata Gara sambil terkekeh kecil.
Naya diam, sambil menatapnya tajam.
"Ehhh, pacar!" kata Gara sambil menepuk bahu Naya, namun gadis itu segera menyingkirkan lengan Gara dari bahunya secara kasar.
"Diem lo! Pergi sana, gue najis ngeliat muka lo yang sok kecakepan," kata Naya mengusir Gara.
Bukannya pergi, atau pindah tempat duduk, Gara malah menggenggam tangan Naya. "Jangan ngambek dong, sayang!" kata Gara, sontak hal tersebut mengundang amarah gadis itu. Ia langsung menghempaskan tangan Gara.
"GUE BUKAN SIAPA SIAPA LO! DAN LO SIAPA? MANUSIA SOK KECAKEPAN, MUKA LO SAMA MUKA MONKEY JUGA CAKEPAN ITU!" kata Naya sambil melangkah pergi keluar cafe.
Gara menggeram kesal, bisa bisanya gadis itu menyamakannya dengan binatang itu. Sialan.
Gara tersenyum sinis, Annayara Alexandria, liat aja. Gue bakal buat lo menderita dengan jadiin lo pacar gue, ralat. Mainan gue hahaha." Batin Gara.
—
Vote+comment!!!