Playboy in Love

Playboy in Love
Tertarik



Saat tengah berbincang dengan teman temannya, tiba tiba kehadiran Maura dan Laura membuat mereka langsung terdiam.


"Gara!" pekik Maura sambil memasang wajah memerahnya. Cowok itu hanya menatap mereka sekilas, lalu beralih menatap teman temannya lagi.


"Gar, lo diajak ngomong tuh!" celetuk Fandi.


Orang bodoh juga tau, bahwa Gara diajak ngomong, tapi masalahnya ia tidak ingin berbicara dengan dua pacarnya yang sangat merepotkan ini.


"GARA!" pekik keduanya berbarengan dengan suara mereka yang cempreng, sontak Gara menoleh dengan malas, ia hanya menaikan sebelah alisnya untuk merespon keduanya.


"Aku mau ngomong," kata Maura, Laura pun mengangguk mengiyakan.


"Lo dari tadi ngomong," kata Gara acuh.


"Ih! Maksudnya bukan gitu, Gara sayang. Kita mau ngomong bertiga." Kata Laura sambil memilin rambutnya manja.


Gara menatap keduanya sebal, apa maksud dari dua gadis ini? Sebenarnya ia sangat muak melihatnya.


"Lo pikir, gue babu lo yang mau diperintah gitu aja?" tanya Gara dengan tatapan tajamnya.


"Yaudah, kita ngomong disini aja. Kamu kenapa pacaran sama si anak baru yang sok kecakepan itu." Kata Maura mendengus.


Gara heran dengan mereka, padahal Naya sudah menjadi murid baru hampir satu bukan, tapi tetap saja mereka menyebutnya murid baru.


"Namanya Naya!" kata Gara tegas.


Laura dan Maura menghentakan kakinya kesal, disaat seperti ini saja Gara masih sempat sempatnya membela gadis itu.


"Iya deh, si Naya cabe! Ngapain kamu jadian sama dia. Gak cukup pacar kamu selama ini yang udah lusinan itu?!" kata Laura dengan suara khas cemprengnya.


Gara hanya mendelik menatap keduanya, ia sangat malas merespon dua gadis yang paling agresif diantara pacar pacarnya yang lain.


"Urusannya sama kalian berdua?" tanya Gara ketus.


Mereka menatap Gara melongo, "kita kan pacar kamu, Gara!" kata keduanya berbarengan.


"Terus, kalau kalian pacar gue, kalian berhak ngatur ngatur gue, gitu? Inget ya! Pacar gue yang lain aja gak komplain gue jadian sama Naya, dan kalian berdua ngapain komplain hah?" kata Gara sambil menunjuk wajah Maura dan Laura dengan tatapan tajamnya juga.


"Pergi kalian dari sini!" usir Gara.


"Tap—"


"PERGI!" usir Gara.


Mereka menghembuskan nafasnya kasar, akhirnya mereka pergi dari sana sambil merutuki Gara yang bersikap kasar pada mereka.


Setelah keduanya pergi, sontak keadaan kembali heboh.


"Kapan lo tobat, bro!" kata Olis sambil menepuk bahu Gara.


Cowok itu hanya mengedikan bahu ya acuh, "mana gue tau!" katanya.


Gara melirik Naya yang baru saja datang ke kelas, ia tersenyum pada gadis itu namun sama sekali tak mendapat respon.


"Hai, pacar! Abis dari mana?" tanya Gara sambil tersenyum dan engerlingkan matanya kearah Naya.


Gadis itu diam dan berjalan ke bangkunya di susul Anin dibelakangnya yang tersenyum kikuk.


Gara yang tak terima diacuhkan langsung membalikan badannya menghadap Naya, yang duduknya dibelakangnya.


"Pacar, judes banget sih!" kata Gara.


Naya menatap tajam Gara, tak suka. Ia sudah lelah dicemooh orang orang karena berhasil memikat Gara, dan sekarang cowok itu kembali menjahilinya.


"Diem lo! Ngapain sih disini?" ketus Naya sambil menatapnya tajam.


"Kan tempat duduk gue disini, sayang." kata Gara.


Plak.


"Sekali lagi lo ngomong gitu sama gue, gak segan segan gue bikin tulang lo remuk." Kata Naya ketus.


Sedangkan Gara, menatap Naya seolah takut. "Maaf pacar, gue gak sekali kali lagi deh. Gue takut hahahahah!" kata Gara sambil tertawa terbahak diiringi teman temannya.


"Ganas banget sih, lo Nay!" kata Dalvin.


Gadis itu menatapnya tajam, membuat Dalvin langsung terdiam.


"Sumpah Gar, baru kali ini lo pacaran sama cewek jadi jadian hahahaha!" celetuk Fandi, yang langsung mendapat toyoran dari Naya.


Naya tersenyum penuh kemenangan, "****** lo! Mati aja lo sana," kata Naya kejam.


Gara melepaskan tangan Naya yang sedang memukuli Fandi, "udah sayang, gak baik cewek kasar kayak gitu. Perasaan pacar aku gak ada yang se-ganas kamu," kata Gara sambil mengusap puncak kepala Naya.


"Emang, sejak kapan gue jadi pacar lo?" tanya Naya datar.


Seketika tawa mereka pecah, seisi kelas riuh oleh tawa para anggota Redrigaz.


"Sang Ketua Redrigaz takluk juga sama cewek ternyata!"


"Baru kali ini ada cewek yang nolak pesona ketua kita!"


"Saya turun bersuka cita!"


"Hahahaha, azab playboy ditolak pacar!"


Kata mereka terus menerus mengejek Gara, cowok itu tak terima langsung menarik tangan Naya kasar.


Gara mempersempit jarak antara keduanya, ia menangkup pipi Naya membuat pipi gadis itu memerah.


Sedangkan seisi kelas langsung hening, seolah ingin mengetahui kelanjutan mereka.


"Apa bener, lo sama sekali gak tertarik dengan pesona gue?" tanya Gara dengan senyum miringnya. Naya diam, dadanya berdegup kencang. Sungguh, Gara terlihat sangat menyeramkan ketika sedang seperti ini.


"Jawab, Annayara Alexandria!" kata Gara tegas, dengan tatapan tajamnya.


"Apa?!" kata Naya menantang.


"Bener, lo gak tertarik sama pesona gue selama ini, hm?" tanya Gara semakin menyeramkan, tatapannya tajam menatap Naya intens.


Gadis itu menunduk cukup lama, "lepasin gue, Gara!" bentak Naya.


Namun, alih alih melepaskan Naya, Gara justru semakin mempererat cekalan pada tangan gadis itu.


"Lepasin!" bentak Naya.


"Gak, sebelum lo jawab!" kata Gara.


"Iya! Gue emang gak tertarik dengan pesona lo! Gue gak tertarik sama cowok brengsek yang hobby nya mainin hati cewek!" pekik Naya tepat di telinga Gara.


Sontak senyum miring, tercetak jelas di wajah tampan Gara.


Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Naya membuat gadis itu menutup matanya dan menunduk.


"Lo mau tau definisi brengsek yang sebenarnya?" tanya Gara dengan suaranya yang serak, membuat batin Naya semakin takut kala mendengarnya.


Ia semakin menundukan kepalanya, takut. Walaupun selama ini Naya cukup berani, tapi dikala terpojok seperti ini ia tak berani. Apalagi, teman temannya cukup takut oleh seseorang bernama Gara ini, dasar sialan!


"Jawab hm," kata Gara sambil mengangkat dagu gadis itu pelan.


Naya menggeleng pelan sebagai jawaban.


"E-enggak."


"Lo beneran nggak terpesona dengan gue hm?" tanya Gara sambil menatap wajah Naya intens.


"Iya!" kata Naya tegas.


Gara tersenyum tipis, "beneran nggak terpesona hm?" tanya Gara sambil menaik turunkan alisnya.


Naya menggeleng, "iya," katanya.


"Yah, padahal gue udah mulai terpesona sama lo." Kata Gara, seringai muncul di wajahnya. Naya menatap Gara tak percaya, mana mungkin cowok itu tertarik dengannya.


"Jangan becanda!" kata Naya sambil mendorong bahu Gara pelan, hingga tubuhnya mundur.


Namun, ia semakin mendekat membuat Naya terdesak. Ia panik, sekaligus takut dengan tatapan Gara yang semakin tajam saja.


"Lo gak tertarik sama gue?" tanya Gara.


Naya menundukan kepalanya dalam, ia menggeleng pelan.


"Sayangnya, gue udah mulai tertarik sama lo, babe. Jadi, mulailah permainan kita ini Annayara Alexandria." Kata Gara sambil berbisik di telinganya.



Vote+comment!!!