Playboy in Love

Playboy in Love
Pengacau



Pagi pagi sekali, Naya sudah siap dengan seragamnya. Hari ini dia akan mendaftar mengikuti ekskul drama, dan pendaftarannya cukup pagi, jadi Naya harus mempersiapkan dirinya.


Rutinitas pagi, setelah selesai memakai seragam, biasanya Naya selalu memakai skincare dan sedikit polesan make up tipis agar membuat wajahnya terlihat lebih fresh.


Setelah memakai skincare, tak lupa ia menyisir rambutnya dan memakai parfum.


Setelah dirasa cukup dengan penampilannya, gadis itu turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan.


"Pagi ma," sapa Naya pada Rayna—mamanya.


Rayna menatap putrinya, ia tersenyum hangat. "Pagi, putrinya mama." Kata Rayna.


Naya duduk di dekat mamanya yang masih mempersiapkan sarapan.


"Pagi, dek, pagi ma." Kata Rion yang baru saja datang sambil mencubit pipi Naya.


"Ihh kebiasaan deh, bang! Makanya punya cewek, jadi gak ngusilin Naya lagi. Bosen tau dicubitin mulu." Keluh Naya pada Kakak laki lakinya.


Rion terkekeh melihat tingkah sang adik, "bukannya abang gak mau punya pacar dek, cuma abang bosen aja gitu jadi rebutan para cewek. Nanti kalo abang pacaran, fansnya bisa nangis kejer kiat abang gandeng cewek lain hahaha." Kata Rion.


Naya tak menanggapi ocehan Rion, wajahnya memang lumayan lah, otaknya juga pintar, dia berbakat di bidang musik, tapi kasian juga nanti kalo Rion punya pacar, abangnya ini sangat tidak waras sepertinya.


Rion berdecak kesal saat tak mendapatkan jawaban dari sang adik,  ia tengah melihat Rayna menyiapkan lauk untuk mereka.


"Lagian, ya, abang suka heran. Ada yang nasehatin sendirinya jomblo, dosa apa diriku mendapat pencerahan dari seorang jomblo menahun." Kata Rion sambil terkekeh, membuat adiknya langsung memberikan hantaman pada bahunya, membuat ia memekik kesakitan.


"Awas aja ya, bang kalo Naya punya pacar. Naya bakal pamerin sama abang dan saudara kita." Kata Naya bangga.


Rion mengernyit, saudara? Dia rasa Rayna hanya memiliki dua anak, lalu saudara yang dimaksud Naya siapa?


"Mama gak punya anak lagi selain kalian, sayang." Ucap Rayna sambil mengelus rambut sang putri yang melahap nasi goreng dan telur mata sapi-nya.


Naya menggeleng, "itu emang bukan anak mama! Itu saudara angkat bang Rion, jadi itu juga saudara Naya ma," kata Naya.


Rion mengernyit, "saudara siapa? Gue kagak punya saudara lagi selain elo tau." Kata Rion.


Naya terkekeh kecil, "ituloh bang, saudara Abang itu yang ada di kebun binatang, Setan!" kata Naya sambil terbahak.


"Hush! Kamu jangan ngomong gitu, gak baik. Anak cewek kok ngomongnya begitu sih," kata Rayna sambil menggelengkan kepalanya.


"Tuh, dengerin bocah!" seru Rion.


"Udah lah, aku udah kenyang. Bang, anterin Naya ya, ayo dong abang kan baik." Kata Naya sambil mengerjapkan matanya supaya nampak terlihat imut, padahal tidak.


"Iya iya bawel, lo jangan sok imut gitu jijik gue." Kata Rion sambil berjalan menuju mobilnya.


Rion dan Naya berangkat menuju sekolah Naya, Rion merupakan mahasiswa baru disebuah universitas ternama yang ada di kota itu.


Sesampainya disekolah, Naya langsung berpamitan kepada Rion yang sedang cari perhatian pada teman teman sekolah Naya.


"Abang! Naya ke kelas ya." Kata Naya.


"Yaudah sana!" usir Rion saat ia masih berkenalan dengan teman Naya.


Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, "bang, ngapain sih?"


"Kenalan sama dedek gemezzz!" kata Rion membuat Naya bergidik ngeri.


"Dasar sinting, lo bang!" pekik Naya sambil berlari menuju kelasnya.


Saat Naya berjalan menuju kelasnya, ia melihat Gara sedang tersenyum manis pada pacar pacarnya dan beberapa adik kelas yang terjebak rayuan mautnya.


Ia sengaja berjalan menuju mereka, karena ia muak melihat Gara yang terus memainkan perempuan. Apalagi disana ada Rara, yang notabenenya adalah sepupu gadis itu.


"Rara!" pekik Naya saat melihat Rara berdekatan dengan Gara. Cowok itu menatap tajam Naya yang mengganggunya dengan Rara.


Gadis polos itu nampak kaget dengan kehadiran Naya dan memekik padanya.


"Eh, Kak Naya." Kata Rara gugup sambil mengangguk tengkuknya yang tak gatal.


"Balik ke kelas!" kata Naya sedikit membentak.


"Atau apa?!" tantang Naya.


Ia tak peduli dengan tatapan orang disekelilingnya dengan tatapan aneh.


"Lo cemburu?" tanya Gara sambil tersenyum tengil.


Perkataan Gara mengundang pelototan dari mata Naya.


"In You're dreams, Sagara Vallecano Jonathan!" kata Naya dengan nada membentak.


Rara masih diam ditempatnya dengan tatapan takut. Ia melirik Naya dengan pupil matanya, dilihatnya gadis itu sedang memberikan tatapan mengintimidasi pada Rara.


"Ra, ke kelas! Atau gue bilangin sama abang lo kalo lo deket sama cowok ******** macam dia!" kata Naya sambil menunjuk Gara.


Tangan cowok itu terkepal kuat, membuat Rara berlari menuju kelasnya. Gara mendekat kearah Naya membuat beberapa orang disana menatap takut, tapi bukan Naya namanya kalau takut begitu saja. Apalagi pada cowok ******** macam Gara ini.


Naya memundurkan langkahnya saat jarak antara wajah Gara dan wajahnya semakin dekat. Cowok itu tersenyum sinis sambil menatap Naya.


"Kenapa? Takut?" tanya nya.


Naya menggeleng, "mana mungkin!" katanya sambil mendorong bahu Gara kuat membuatnya tersungkur.


"Dasar cewek gila!" kata Gara sambil mengusap bokongnya yang terhempas begitu saja.


Naya menatap remeh cowok itu, "gue emang gila. Dan lo lebih gila karena berani nyautin orang gila!" kata Naya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan cowok itu.


Namun, baru beberapa langkah gadis itu berjalan, ia membalikan tubuhnya dan berjalan kembali menghampiri Gara yang menatap tajam kearahnya.


"Kalo lo mau main main sama cewek, pake aja cewek mainan lo. Asal bukan Rara, dia sepupu gue!" kata Naya memberikan tatapa mengintimidasi.


Gara tersenyum kecil, "kalo gue gak mau?" katanya sambil mengerlingkan matanya membuat Naya begidik ngeri.


"Lo berurusan sama gue!" kata Naya.


"Lagian ya, gue suka bingung sama cowok kayak lo. Udah kaya, tampang lo juga lumayan oke—"


"Tuh kan, lo juga terpesona sama pesona gue."


"Sayang, lo ****!" Kata Naya sarkas.


"Iya, sayang!" kata Gara sambil tersenyum manis.


Naya menatap jijik cowok yang sudah berganti posisi menghadapnya itu.


"Lo tau najis?" tanya gadis itu.


"Tau,"


"Ya, itu elo!" kata Naya membuat Gara mengepalkan tangannya kembali hendak menampar gadis itu, namun tangannya dicekal oleh Naya.


"Gak usah sentuh pipi gue sama tangan sialan lo yang kotor ini. Lo orang kaya kan?"


"Kenapa sih, lo lebih milih mainin cewek yang ada disekolah ini. Mereka pada polos, dan lo manfaatin kepolosan mereka, demi kepuasan lo? Kenapa lo gak pake ****** diluaran sana aja sih. Simple kan? Mereka hanya butuh kepuasan dan uang!" kata Naya mengakhiri kalimatnya.


"Gue tau gue emang brengsek! Tapi, gue gak pernah ngelakuin hal menjijikan yang lo sebutin itu, sialan!" bentak Gara.


Naya mengangguk, "gue tau. Tapi, sikap lo yang brengsek itu, buat pikiran gue berfikir yang enggak enggak."


"Jangan mengundang fikiran buruk orang orang, karena kalau mereka sudah berasumsi, siapapun akan percaya. Manusia saat ini lebih percaya dengan apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar." Kata Naya sambil meninggalkan Gara yang terpaku menatapnya.


Annayara Alexandria, lo akan jadi salah satu mainan gue nantinya. Liat aja nanti, lo yang memulai semua ini. Batin Gara.



Rate+comment!!!


Follow Ig aku yuk: @r.rhmaulia