Playboy in Love

Playboy in Love
Macan Betina



Gara menatap dua gadis disampingnya kesal. Tidak habis fikir dengan pikiran mereka, siapa lagi jika bukan Maura Dan Laura, namanya mirip sama dengan watak mereka.


Maura menarik tangan tangan Gara membuatnya sedikit terhuyung kesamping kanan, "aduh, maaf sayang." Kata Maura.


Gara melepaskan cekalan tangannya, menghentakannya secara kasar. Menatap gadis itu dengan tatapan tajam, membuat nyali si gadis menciut. Ia langsung terdiam.


"Gue muak sama sikap kalian berdua tau gak!" bentak Gara pada keduanya yang sedang tertunduk.


"Maafin gue, dia yang mulai duluan!" kata Laura.


Maura yang tak mau kalah, membela dirinya hingga adu cekcok pun terjadi diantara keduanya.


"Apaan sih! Itu kan lo yang duluan mepet Gara, ya gue gak terima lah, kan gue pacar duluannya dari pada lo!" kata Maura membuat Laura kembali membalasnya.


"Ya gak papa dong! Gara juga kan pacar gue, bukan lo doang!"


Gara terdiam, ia harus mencari cara agar keluar dari pertengkaran kedua macan betina ini. Dia melihat seorang gadis tengah berjalan melewatinya, terlintas ide gila dalam benaknya. Ia tersenyum miring ketika melihat gadis itu menoleh padanya.


"Eh, Sayang!" kata Gara sambil berlari kecil menuju Naya.


Gadis itu terpaku ketika Gara menyapanya dengan sapaan sayang. Kedua pacar Gara terkejut sambil menatap keduanya kesal.


Naya tak peduli, ia terus berjalan tanpa menghiraukan cowok itu diikuti kedua pacarnya.


Maura menghentakan kakinya kesal, sedangkan Laura melipat kedua tangannya didepan dada sambil mencebikan bibirnya, "ihhh! Kok cewek itu sekarang jadi pacarnya Gara sih!" keluh Laura.


Gara tersenyum miring, ia terus berjalan setengah berlari mengejar Naya yang tak menghiraukan ucapannya.


"Naya, sayang!" pekik Gara, gadis itu sama sekali tak menoleh. Ia terus melanjutkan langkahnya, hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang dihadapannya membuatnya terhuyung kebelakang.


HAP.


Gara menangkap tubuh kecil Naya, membuat gadis itu terkejut. Maura dan Laura menatap syok keduanya, namun seakan waktu terhenti, keduanya malah berpandangan. Mata mereka bertubrukan, memandang satu sama lain. Sampai interupsi seseorang membuat fokus keduanya kembali.


"GARA!" pekik Maura dan Laura secara bersamaan.


Naya yang tersadar, langsung membenarkan posisinya dan menyingkirkan lengan Gara dari pinggangnya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berusaha untuk meminimalisir rasa malunya.


"Makasih, gue pergi dulu." Kata Naya.


Namun, tangan Gara menghentikan langkahnya sehingga ia harus berbalik menatap cowok itu. Ia menghentakkan tangan Gara begitu saja.


"Udah! Gue mau ke kelas. Anggap aja kejadian tadi angin lalu," kata Naya ketus.


Gara tersenyum samar, "gak bisa gitu dong! Lo udah bikin jantung gue deg deg-an." Katanya.


Naya diam, otaknya masih mencerna apa yang dikatakan cowok itu barusan. Persetan dengan Gara, toh dia memang seperti itu tukang tebar pesona pada setiap wanita.


Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada, "emang gue peduli?" acuhnya.


"Lo harus tanggung jawab!" kata Gara membuat Naya begidik ngeri.


Ia menatap jijik cowok itu, "emang kapan gue buntingin, lo hah?" kata Naya sambil terkekeh kecil.


"Lo udah bikin jantung gue berhenti berdetak!" kata Gara mencoba membuat Naya baper.


Namun, sepertinya ia salah orang. Gadis itu sama sekali tak terpengaruh dengan kata manis Gara, justru ia geli mendengarnya.


Naya membuang mukanya, "COWOK LEBAY!" katanya setengah berteriak sambil berlari menuju kelasnya.


Sedangkan, cowok itu diam sambil menatap Naya diiringi seringainya.


"Permainan dimulai," katanya.


Maura dan Laura tak mendengar secara jelas apa yang cowok itu katakan karena jarak mereka yang jauh dari cowok itu. Setelah kepergian Naya, kedua pacar Gara itu langsung menghampirinya dan menggelayut manja di kedua tangan Gara membuat cowok itu mendengus risih.


"Bisa diem gak kalian?"


"GAK!" jawab mereka kompak.


"Diem, atau gue putusin kalian berdua!" kata Gara sambil melepaskan tangannya dari pelukan mereka dan meninggalkan keduanya.


"Ihhh! Gara jahattt sama aku yang cantik ini," kata Maura sambil menatap kepergian Gara.


"AWAS AJA LO LAURA!" kata Maura sambil berteriak dan berlari menyusul Laura.



Sesampainnya dikelas, Naya segera menghampiri bangkunya, namun suara seseorang mengalihkan fokus semua orang, dia adalah Gara.


"Naya, sayang!" pekik Gara membuat Naya membulatkan matanya dengan aksi nekat Gara.


Cowok itu menghampiri Naya sambil tersenyum sok manis dihadapan gadis itu.


"Pergi lo!" usir Naya, namun cowok itu sama sekali tak menghiraukan ucapannya.


"Sayang, jangan ngambek terus dong! Ah, jahat kamu mah." Kata Gara sambil mengerlingkan matanya, membuat keduanya jadi sorotan anak anak sekelas.


Naya menggeplak wajah Gara saat cowok itu mendekatinya, itu membuat Gara meringis kesakitan sambil meraba pipinya.


"Huh, ganas banget sih babe." Kata Gara.


Naya menatap jijik cowok ini, ia menggerutu dalam hati. Ini cowok kurang belaian apa? Hih, jijik gue dasar cowok alay! Playboy nomor satu! Batin Naya.


Gadis itu tak menggubris ocehan cowok dihadapannya, ia menyumpal kedua telinganya menggunakan earphone.


Gara, yang melihat itu secara paksa merenggut earphone milik Naya membuat gadis itu menatap tajam cowok dihadapanya sambil mendengus kesal.


"Balikin gak!" gertaknya.


Gara tersenyum kecil, "gak akan!" kata Gara.


Naya tak peduli kini ia menjadi sorotan banyak orang. Persetan dengan semua tatapan mereka.


"Balikin woy!" kata Naya sambil berjinjit mencoba meraih earphone ditangan Gara, namun tinggi cowok itu tak sebanding dengan tinggi Naya, membuat gadis itu kesal sendiri.


Cowok itu terkekeh, sambil sesekali menjulurkan lidahnya meledek Naya.


"Ambil kalo bisa." Kata Gara semakin menggoda gadis itu.


"Bodo amat! Udah sana, lo mau ambil earphone gue juga gak papa. Toh, gue masih punya banyak earphone dirumah. Kasian gue sama kaum dhuafa kayak lo." Kata Naya sambil tersenyum meremehkan.


Namun, bukan Gara namanya kalau menyerah begitu saja membuat gadis dihadapannya jengkel.


"Oke, cowok yang lo bilang kaum dhuafa ini mau minta sesuatu sama lo." Kata Gara tersenyum jahil, membuatnya bergidik ngeri.


"Oke, asal lo jauh jauh dari gue aja. Lo mau earphone kan? Gue kasih,"


Gara mendengus menatap Naya seolah menatapnya dengan tatapan meremehkan, dan jijik. Aksi Gara saat ini sangat receh baginya.


"Gue gak mau earphone lo. Gue mau tanggung jawab lo."


Sontak kata kata Gara membuat tawa sekelas pecah.


"Lo hamilin Gara, Nay?"


"Wah, si Gara bunting oyyy!"


"BERISIK! PERSETAN DENGAN KALIAN SEMUA!" kata Naya dengan nada tinggi membuat suasana kelas seketika menjadi hening.


"Aduh, kamu jangan maragarah dong!" kata Gara sengaja dibuat buat.


Naya menghela nafasnya berat, "pertama, gue gak ada tanggung jawab sama lo! Kedua, gue gak buntingin lo, ketiga omongan lo yang ambigu itu bikin gue kesel sekaligus asumsi orang orang buruk atas apa yang lo omongin. Keempat, GUE BENCI SAMA LO, ********!" kata Naya sambil menekankan lima kata terakhirnya.


GUE BENCI SAMA LO ********.


GUE BENCI SAMA LO ********.


kata kata Naya terngiang, seolah ia pernah mendengarnya entah dari siapa.


Naya menghembuskan nafasnya sambil mendorong bahu Gara kuat membuat ia tersungkur seketika.


"Jangan nampakin muka menjijikan lo lagi, gue bukan cewek murahan yang bisa lo pake kapan aja. ********!" kata Naya.