Playboy in Love

Playboy in Love
Redrigaz



Rara membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui indera penglihatannya, samar samar ia melihat beberapa temannya sedang menunggunya.


"Ra, lo udah sadar. Akhirnya," kata Dias, sahabat Rara.


Rara memijit pelipisnya yang tak pusing, "emmm, gue kenapa ya?" tanya Rara.


"Tadi lo pingsan," kata Tiara, sahabat Rara juga.


"Loh, kenapa emangnya gue pingsan?" tanya Rara.


"Lo tadi disapa sama disenyumin kak Gara, terus habis itu lo tiba tiba pingsan gitu aja. Lo gak inget?" tanya Tiara.


Rata mengingat ingat kembali, ia sangat malu. Apa yang akan dikatakan orang saat dia pingsan hanya karena disapa dan disenyumin seorang Gara?


"Gue inget, gue malu banget. Gimana ini?"


Dias mengusap rambut sahabatnya pelan, "tenang aja, ada kita. Lagian lo ada ada aja liat kak Gara Soe pingsan segitunya." Kata Dias.


Tiara terkekeh menanggapi apa yang dikatakan Dias, "bener, lo aneh banget deh." Kata Tiara.


Rara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tersenyum kaku.


"Sebenernya, gue suka sama kak Gara sejak pertama masuk." Kata Rara jujur.


Mata keduanya membelalak mendengar kesaksian seorang Rara yang sebelumnya tak pernah mengatakan rasa suka pada satu orang lelaki pun.


"Loh, beneran lo suka sama kak Gara?" tanya Tiara.


Rara mengangguk singkat, "iya, gue suka sama kak Gara." Kata Rara.


"Tapi lo tau kan dia itu playboy, ya walaupun ganteng juga sih." Kata Dias.


Rara mengangguk, "gue tau, dan gue juga gak berani kalau harus saingan sama kak Laura sama kak Maura, gue bagaikan remahan rempeyek kalau dibandingkan mereka." Kata Rara.


"Jadi, ya gue lebih milih pendam perasaan gue aja, gue gak sanggup kalau harus berhadapan dengan dua primadona sekolah itu." Kata Rara.


Mereka berdua mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Rara barusan.


"Iya bener, kita semua tau betapa kejamnya mereka berdua kalau menyangkut kak Gara, bisa mati kita ditangan macan betina hahaha." Kata Tiara sambil tertawa diiringi kedua sahabatnya.


"Yaudah lah, ayo kita ke kelas aja dari pada disini." Kata Rara yang hendak turun dari ranjangnya.


"Eh gak usah, ini udah mulai pelajaran loh. Lagian kita udah izin juga." Kata Tiara.


Dias mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Tiara, "bener, udah lo istirahat aja. Lagian, kapan lagi bisa bolos kayak gini." Kata Dias terkekeh.


Rara menggeleng, "haduh! Dasar kalian ada ada aja deh." Mata Rara sambil kembali merebahkan tubuhnya.


"Oh iya! Gue hampir lupa, tadi kak Gara nitip salam buat lo. Beruntung banget sih," kata Tiara sambil menyenggol lengan Rara pelan dan tersenyum menggoda.


Pipi gadis itu bersemu merah menahan malu, bagaimana tidak? Most wanted boy menitip pesan hanya untuknya. Eh tapi dia tidak boleh baperan berlebihan, karena kan dia pingsan juga karena Gara, pasti cowok itu merasa bersalah.


"Ciee, pipinya merah nih!" goda Dias.


Refleks Rara segera menangkupkan tangannya menutupi pipinya yang bersemu merah. "Ih apaan sih, kalian ini." Kata Rara tak kuasa menahan malu.


"Ciee... Rara berflower flower!" kata Tiara terkekeh.


"Berflower flower? Apaan tuh?" tanya Dias.


Tiara menoyor kepala Dias pelan, "yaampun! Berflower flower itu artinya berbunga bunga, dasar ****!" kata Tiara.


Dias terkekeh pelan, "yamaap gue kagak tau elah," kata Dias.


"Udah udah, kalian ini ribut mulu." Kata Rara.



Keadaan kelas 11 IPS 3 sangat heboh karena kelas sedang jamkos, jangan tanya kenapa. Bukan karena guru sedang berhalangan masuk, namun karena dia muak mengajar dikelas ini karena ulah Gara dkk.


"Wey bos! Makasih loh, gara gara bos kita jadi jamkos gini." Kata Kevin, anggota geng Redrigaz.


"Bos, lo emang the best lah. Gak dia sia bokap lo jadi donatur utama sekolah kita, buat sekolah jadi gak punya wewenang buat ngeluarin lo." Kata Dalvin.


Olis yang mendengarnya mengangguk, "bener juga tuh, lagian si bos ini bener bener pro kalau mau buat guru kesel hahaha." Kata Olis sambil tertawa, diiringi gelak tawa teman temannya yang lain.


Tiba tiba saat perbincangan mereka, Maura datang menghampiri Gara sambil melipat tangannya didepan dada.


"Sayang!" kata Maura manja.


Gara menoleh, "apa?" tanya Gara.


Ia sebenarnya sudah sangat muak pada Maura, dia sudah bosan dengan Maura dan dia juga sangat muak dengan sikap Maura yang over protective dan terlalu menuntut.


"Kata adik kelas kamu tadi nitip salam sama Rara adik kelas itu!" ketus Maura sambil mencebikan bibirnya.


Semua orang yang berada dikelas itu merasa geli dengan sikap Maura yang terlalu over.


"Emang iya? Kenapa, lo ada masalah?" tanya Gara.


Maura menghentakkan kakinya beberapa kali, "ihhh! Nyebelin banget sih kamu!" kata Maura.


Gara menatap Maura tajam, "apa? Lo mau protes hah?" tanya Gara sambil maju dan menjambak rambut warna warni Maura dengan sekali sentakan.


"Awshh, sakit Gara, sakit." Kata Maura mengernyit.


Gara melepaskan ****** pada rambut Maura, "kalau lo masih mau jadi pacar gue! Berhenti kayak gini. Diluar sana yang mau jadi pacar gue banyak, bukan lo doang. Sekali lagi Lo bikin gue muak, gue bakal tendang Lo jauh jauh." Kata Gara.


"Pergi sana!" usir Gara.


Maura pergi dari kelas Gara sambil menghentakkan kakinya.


"Weyyy si bos! Bisa aja bikin cewek pada takluk begitu." Kata Fandi.


"Yoi, siapa lagi Fakboi nomor satu gini." Kata Gara.


"Bos, bos! Ada kabar!" kata Januar yang baru datang ke kelas Gara.


Gara mendongak menatap Januar, "kabar apa?" tanya Gara.


"Adik kelas yang tadi bos bikin pingsan jadi sasaran labrakan Maura sama Laura, tapi gak tau kapannya." Kata Januar.


"Yaudah, nanti gue beresin. Ada hal yang lebih penting dari ini." Kata Gara.


Semuanya langsung terdiam mendengar Gara berbicara serius.


"Besok kumpulin anak Redrigaz di basecamp habis pulang sekolah, gue bakal bahas sesuatu nanti. Jangan ngaret, cepet datang, kalau gak mau gue tendang sama gue temuin tulang kalian." Ancam Gara.


Semuanya langsung terdiam, menahan salivanya.


"Siyap bos, jangan kejam kejam deh jadi orang." Kata Dalvin.


"Tergantung, kalau kalian bikin gue emosi atau buat kesalahan fatal, apalagi berkhianat, gue gak segan segan bunuh kalian sekalipun kalian itu temen temen gue." Kata Gara.


"Pokoknya besok anggota Redrigaz baik yang inti maupun bukan harus datang, gue bakal bahas masalah penting soal geng Genzdarges." Kata Gara.


"Oke bos," kata semuanya.


"Oh iya bos, gue denger anak Genzdarges mau nyerang kita?" kata Januar.


Gara mengangguk, "iya, mereka nantang kita buat balapan yang kalah, kekuasaan mereka bakal diambil alih." Kata Gara.


"Kita gak boleh kalah," kata Gara sambil tersenyum miring.



Vote+commentnya!!!


Jangan lupa follow Ig aku:


@r.rhmaulia, oke:)