Playboy in Love

Playboy in Love
Pacaran



Naya membawa Alva menuju UKS, setelah insiden Gara menonjok pipi Alva, Naya langsung membawanya menuju UKS karena di pipi cowok itu terdapat luka lebam yang sedikit parah.


Naya mengambil kotak obat yang sudah dipersiapkan disana. "Sorry ya Al, gara gara gue Lo jadi bonyok kayak gini." Kata Naya sambil mengobati pipi Alva.


Alva tersenyum manis, "gak papa Nay, lagian ini bukan salah lo kok." Kata Alva.


Naya tersenyum tipis menanggapi Alva, disaat seperti ini ia masih sempat sempatnya tersenyum.


"Lo yakin?" tanya Alva membuat alis Naya berkerut.


"Maksud lo?" tanya Naya.


"Maksud gue, lo yakin pacaran sama Gara? Lo tau kan gimana sifat dia?" tanya Alva yang tak yakin bahwa Naya menerima tantangan Gara.


Naya mengangguk mengiyakan, tentu saja Naya tau. Bagaimana dia tak tahu, Gara adalah cowok famous dan tetangganya.


"Gue tau, Al. Tapi, ini kesempatan satu satunya buat gue supaya dia gak ganggu hidup gue lagu kedepannya, gue muak sama dia." Kata Naya sambil tersenyum.


"Tapi, kalau nanti lo beneran jatuh cinta sama Gara gimana?" tanya Alva membuat Naya terdiam.


Bagaimana bisa dia tidak berfikir kearah sana, bagaimana jika karena kesepakatan sialan itu keduanya saling jatuh cinta? Atau hanya Naya yang jatuh cinta? Tapi bagaimana mungkin juga ia akan jatuh cinta pada si brengsek Gara.


Naya menggeleng menanggapi Alva, "mana mungkin gue jatuh cinta sama dia Al." Kata Naya.


Setelah selesai mengobati Alva, Naya menaruh kotak obat itu ke tempat semula.


"Al, lo gak lapar? Ini udah istirahat loh." Kata Naya yang melihat wajah pucat Alva.


Dia berfikir bahwa Alva sedang dalam kondisi tidak baik baik saja.


Alva tak menanggapi Naya, kepalanya rasanya sangat pusing.


"Alva! Lo gak papa kan?" tanya Naya yang mendekat saat melihat wajah pucat Alva.


"Tuh kan, ini semua gara gara si cowok brengsek itu deh!" kata Naya mendengus kesal.


Alva memegangi kepalanya yang berdenyut, "gue beliin lo makan dulu ya Al, nanti gue balik lagi kesini." Kata Naya, Alva hanya mengangguk mengiyakan.


Naya keluar dari UKS dan langsung berjalan menuju kantin. Suasana kantin saat ini sangat ramai, dia harus rela berdesakan agar bisa memesankan makanan.


"Hai, pacar!" seru Gara sambil tersenyum manis dihadapan Naya.


"Ngapain sih, lo! Pergi sana, sialan!" bentak Naya yang disaksikan para penghuni kantin. Berani sekali Naya membentak seorang Sagara Vallecano Jonathan, playboy yang merangkap menjadi seorang badboy itu.


"Ih jahat banget deh, pacar! Mau pesen apa? Biar gue pesenin." Kata Gara sambil berusaha menggenggam tangan Naya, namun dengan segera ia menepis tangan Gara.


"Gak perlu repot repot!" ketus Naya.


"Gue gak ngerasa direpotin kok!" kata Gara sambil menaik turunkan alisnya menggoda Naya.


Diseberang sana terdapat anggota Redrigaz sedang tertawa melihat Gara ditolak mentah mentah oleh Naya. Gadis yang terkenal ketus itu.


"Gar! Semangat!" pekik Dalvin.


"Weyyy! Gebetan gue ******, udah gue incer dari awal masuk!" kata Olis yang dihadiahi tatapan tajam dari Gara.


"Hehe, sorry Gar!"


"Pepet terus Gar! Sampe luluh," kata Fandi.


"Baru tau, ada cewek nolak Gara." Kata Fano datar.


Semua anggota Redrigaz termangu mendengar kata kata Fano yang datar namun langsung membuat mereka tertawa sesaat setelah ia berkata seperti itu.


"Si Fano kalo ngomong suka bener!" celetuk Kevin.


"Sakit, tapi tak berdarah!" Kata Fandi.


"*****! Sekalinya ngomong nyakitin bener, kayak omongan mantan!" kata Olis sambil mengusap dadanya.


Dalvin menoyor kepala Olis pelan, "emang lo punya mantan?" tanya Dalvin.


"Punya!" katanya.


"Siapa?" tanya Dalvin.


"Si Veronica." Kata Fandi ngasal.


"Siapa Veronica?" tanya Dalvin.


"Kucing peliharaan mamanya Fano hahahaha!" celetuk Fandi membuat tawa mereka pecah.


Disisi lain, Gara masih memaksa untuk memesankan makanan untuk Naya, namun gadis itu tetap terus menolak.


"Udah Mau, biar gue yang pesen. Kasian gue liat pacar gue capek nunggu kayak gini." Kata Gara sok perhatian.


Gara terkekeh kecil menanggapi Naya, "cieee cemburu ya?"


Naya mendengus kesal menatap Gara, "najis! Gue cemburu sama monyet kayak lo!" kata Naya ketus.


Gara mengepalkan tangannya kuat, ia mengeratkan pegangannya pada bahu Naya, namun gadis itu sama sekali tak mengeluh kesakitan. Dia malah menatap Gara dengan tatapan menantang.


"APA? MAU MARAH?" kata Naya sambil berteriak tepat di depan wajah Gara.


"Gue udah bersikap baik ya sama lo, tapi apa? Lo malah seenaknya sama gue." Kata Gara menatapnya tajam.


"Terus? Apa peduli gue," kata Naya sambil melepaskan cekalan tangan Gara di bahunya.


"Jangan mentang mentang gue jadi pacar lo, jadi lo seenaknya kasar kayak gini! Pergi sana, gak butuh bantuan dari cowok brengsek kayak lo!" kata Naya.


Tanpa mengubris umpatan Naya, Gara langsung masuk kedalam antrean.


"Dek, dek, mau foto sama gue gak?" tanya Gara. Sontak semuanya langsung menyingkir sambil berteriak.


"Mau kak!"


"Mau!"


"Mau banget!!!"


"Omo! Mau dong kak!"


"OMG! Oppa ku!"


"Mau!"


"Oke oke, ada syaratnya." Kata Gara, disampingnya Naya hanya melihat tanpa berniat berkata sedikitpun.


"Apa kak?"


"Apa?"


"Apa woy?"


"Haduh apa sih? Syarat segala kayak Adain give away aja."


"Apaan syaratnya?"


"Kalian harus nyingkir dulu, gue mau pesen!" kata Gara.


"Oke kak!" kata semuanya serempak.


Gara tersenyum kearah Naya sambil menaik turunkan alisnya bangga.


"Jual diri aja bangga, cih!" ketus Naya sambil memandangi Gara.


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan nasi goreng yang dipesankan Gara akhirnya datang juga. Ia menyerahkannya pada Naya sambil tersenyum sok manis.


"Ini, makan ya." Kata Gara sambil menepuk kepala Naya membuat gadis itu langsung terpaku.


Naya menepis tangan Gara segera, takut ia nantinya baper.


"Ini bukan buat gue, jangan sok perhatian. Karena gue nerima lo karena perjanjian sama kasian! Kalo nggak, nggak mau gue terima Lo sampai kapanpun!" ketus Naya yang hendak melangkahkan kakinya, namun tangannya dicekal oleh Gara.


"Apalagi!" bentak Naya.


"Terus, itu buat siapa?" tanya Gara heran.


"Kak, ayo katanya mau foto?"


"Gara, ayo fotbat!"


"Foto dong Gar!"


"Jawab Nay!" kata Gara sambil menarik tangan Naya mendekat kearahnya.


"Buat Alva, dia sakit gara gara lo!" kata Naya malas.


Gara menatap tajam Naya, "ngapain sih lo ngurusin dia? Dia bukan siap siapa lo." Kata Gara.


"Kata siapa dia bukan siapa siapa gue?"


"Terus dia siapa lo? Pacar lo kan gue, bukan dia!" bentak Gara.


"Bodoamat! Capek ngomong sama orang yang otaknya kayak udang!" kata Naya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kantin.


"ARGH! SIALAN!"