
Naya mendengus menatap papan tulis yang membuat otaknya berputar putar. Pusing rasanya, apalagi harus menghitung setiap rumus yang tertulis disana.
Ia masih mencatat apa yang bisa ia catat, namun otaknya sama sekali tidak bisa berfikir untuk saat ini. Rumus di depan membuat kepala Naya berdenyut karenanya.
Gadis itu menyenderkan kepalanya pada tembok, wajahnya pucat pasi, membuat Anin menatapnya heran.
"Lo kenapa, Nay?" tanya Anin, Naya menoleh sambil memijat kepalanya.
"Gak tau, Nin. Kepala gue sakit banget, perut gue sakit lagi." Kata Naya.
"Lo mau ke UKS?" tanya Anin pada Naya. Gadis itu menggeleng sambil menghembuskan nafasnya gusar.
"Bentar lagi juga pulang, 'kan?" tanya Naya.
Anin mengangguk mengiyakan. Gadis itu menatap Naya khawatir, takut rasa sakitnya semakin parah.
"Beneran gak mau ke UKS Nay? Gue takut lo kenapa napa." Kata Anin.
Gadis itu menghela nafasnya gusar, ia menggeleng menatap Anin.
"Nggak, Nin." Kata Naya.
Gara yang sedari mendengar bisikan dari bangku belakangnya sempat menyimak. Ia juga khawatir dengan keadaan gadis itu, ia sedikit menoleh ke belakang menatap Naya. Gadis itu sangat pucat, kepalanya bersandar pada tembok disampingnya.
Tiba tiba ia bangkit dari duduknya, membuat semua murid dan bu Merlin menatapnya heran. Tapi, tetap saja Gara tak peduli.
"Bu, Naya sakit! Liat tuh wajah pacar saya pucat begitu." Kata Gara membuat Bu Merlin langsung melangkahkan kakinya ke meja Naya.
Bukan itu yang menjadi perhatian orang orang, namun dengan Gara yang terang terangan mengakui Naya adalah pacarnya. Bukan rahasia umum bahwa Naya dan Gara berpacaran, namun gadis itu selalu menolak jika ditanya hal seperti itu.
Pipi Naya bersemu merah, apalagi mendengar Gara menekankan kata pacar seolah olah ingin memberitahukan kepada semua orang akan status mereka.
"Kamu sakit apa Naya?" tanya bu Merlin, Naya menggeleng pasrah. Ia tak tahu sakit apa, pasalnya tadi ia terlihat biasa biasa saja. Tapi sekarang ia merasakan sakit pada perut dan kepalanya.
"Naya, sebaiknya kamu pulang saja ya," kata bu Merlin lagi. Gadis itu mengangguk mengiyakan. Mau bagaimana lagi, ingin menolak tapi rasa sakit pada perutnya semakin tak tertahan.
"Tapi, siapa yang bakal antar kamu nantinya ya?" kata bu Merlin.
"Saya aja bu!" kata Gara dengan suaranya yang menggelegar.
Bu Merlin menatap Gara malas, ia sudah tau apa maksud dari anak itu. Apa lagi kalau bukan ingin membolos dengan alasan mengantar Naya pulang.
"Gak bisa! Itu hanya alasan kamu, dasar anak nakal," ketus bu Merlin.
Gara tersenyum sambil memamerkan deretan giginya.
"Hehe bu, ibu tau aja." Mata Gara sambil terkekeh kecil.
"Tapi beneran deh bu, sebagai pacar yang baik dan budiman— eh nama gue bukan Budiman btw. Saya bersedia untuk mengantar Naya pulang, ke KUA juga saya mah hayu! Tapi Naya nya yang gak mau, nasib orang ganteng yang ternistakan!" kata Gara, seketika suasana kelas riuh dengan tawa para murid.
"Halah, garing banget lelucon kamu. Yasudah, kamu antar Naya ya." Kata bu Merlin.
"Makasih banyak bu," kata Gara.
Ia langsung mengemasi bukunya, namun segera dihentikan oleh suara cempreng bu Merlin.
"Ngapain kamu beresin buku juga, kan yang pulang cuma Naya bukan kamu." Kata Bu Merlin dengan nada bicara naik beberapa oktaf.
"Aduh si ibu teh kumaha atuh? Ya kan saya mau bawa Naya, bentar lagi juga bel pulang. Ya sekalian aja saya juga pulang, lagian ya rumah kita itu deketan. Sebagai pacar dan tetangga yang baik dan Budiman saya akan mengantar Naya dengan selamat dunia akhirat." Kata Gara.
"Pusing saya denger ocehan kamu! Dasar banyak omong, yaudah sana anter Naya. Kasian tuh dia udah nahan sakit gara gara kamu ngomong mulu," katanya.
"Ayo Nay!" ajak Gara sambil menggenggam tangan Naya.
"Permisi bu," kata keduanya dengan tangan yang saling menggenggam.
Bu Merlin mengangguk, setelahnya ia menggeleng pelan.
"Saya jadi flashback sama mantan saya." Kata bu Merlin sambil tersipu malu.
"Yee, sa ae lu bu!" celetuk Olis.
"Mending sama saya bu," katanya lagi.
"Ogah saya sama kamu, mentang mentang muka lumayan cakep. Tapi otak kamu nol besar, kalau Gara masih jomblo udah saya gebet dari dulu." Kata bu Merlin terlampau percaya diri.
"Lah lah, emang Gara mau?"
"Ya mau lah, siapa sih yang berani nolak pesona saya yang aduhai ini. Saya itu mirip Kendall Jedder tau,"
"Kendall Jenner bu! Bukan Jedder," kata Dalvin.
Sontak tawa sekelas pecah seketika juga membuat bu Merlin menahan malunya salah menyebut orang.
Disisi lain, Naya sudah keluar dari kelas. Gara menyusul Naya yang sudah berjalan mendahuluinya. Ia membuka jaket yang sudah ia pakai lalu ia menutupi bagian belakang Naya membuat gadis itu mengernyit heran.
"Lo bocor," kata Gara.
Pipi Naya memerah menahan malu, bagaimana bisa cowok dihadapannya itu melihat noda di rok nya. Padahal, gadis itu sama sekali tak menyadarinya, bahkan satu kelas pun tak menyadarinya saat tadi ia keluar kelas. Pantas saja ia merasakan pusing dan sakit pada perutnya, ternyata dapat tamu bulanan toh.
"Makasih," kata Naya tersenyum.
Gara terpaku diam, dua kali ia melihat Naya tersenyum dan dua kali juga ia terlihat gugup melihat senyum Naya.
"Jangan senyum Nay!" kata Gara sambil menutup matanya.
Naya terkekeh kecil, "lah kenapa?"
Gara menekan dadanya kuat, "sakit!" Kata Gara.
Wajah Naya seketika panik, "lah kenapa lo sakit apa? Bukannya disini gue yang sakit, loh kok lo ikut ikutan sih. Lo punya penyakit jantung?" tanya Naya.
"Iya, semenjak deket lo gue jadi sering merasakan jantung gue berpacu dengan cepat. Apalagi waktu lo senyum kayak gitu sama gue," kata Gara sambil tersenyum jahil.
"Sinting!" kata Naya sambil memukul pelan bahu Gara.
"Aduh!!! Sakit Nay, ini namanya Kdbp." Kata Gara memasang wajah memelasnya.
"Apaan Kdbp?" tanya Naya.
"KEKERASAN DALAM BER PACARAN!" kata Gara.
Naya mendengus kesal, perutnya semakin sakit namun cowok dihadapannya ini malah asyik tertawa.
"Gara cepetan! Gue mau pulang. Ini nanti makin banyak, perut gue makin sakit lagi." Kata Naya.
"Masih kuat jalan gak?" tanya Gara.
Naya mengangguk pasrah.
Dalam hitungan detik, Naya sudah berada dalam pangkuan Gara ala bridal style.
"Gara! Turunin gue, malu tau. Kalau diliat guru gimana?" kata Naya dengan suara cemprengnya.
"Udah gak papa, ini kan lagi urgent!"
Urgent apaan, modus yang ada. Batin Naya.
Gara langsung mendudukan Naya di motornya, ia langsung melesatkan motornya menuju rumah sang pacar.
—