
Belajar dari Kesalahan
***
Parents ... Ternyata menjadi orang tua yang mampu memberikan didikkan dan arahan yang benar dan baik tanpa harus membunuh karakter dan mental anak itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Butuh ilmu dan strategi yang tepat saat menerapkankanya kepada sang buah hati. Supaya tak menjadi bumerang untuk putra putri kita di kemudian hari.
Untuk kita para orang tua yang terlanjur keliru dalam memberikan arahan kepada ananda. Mari kita berbenah diri! Belajar dari kesalahan agar tidak terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam.
***
Dulu ... Dulu sekali sewaktu saya masih berstatus single. Dalam hati bertekad kuat jika sudah saatnya menikah dan dikaruniai amanah akan selalu mencurahkan kasih sayang dengan sepenuh hati. Tidak akan memarahi, membentak apalagi melakukan kekerasan fisik kepada si buah hati.
Namun, setelah putra pertama lahir lalu tumbuh sehat nan sempurna. Semua niat mulia yang pernah terpatri dalam sanubari menguap tak berbekas.
Di usia anak yang belum genap 2 tahun. Makhluk mungil itu pun menjadi korban kebodohan saya karena miskinnya ilmu tentang cara memahami psikologis anak. Hingga saya menjelma jadi sosok ibu yang egois, otoriter dan menyeramkan di mata si kecil.
Ketika mendengar suara tangis histerisnya, emosi saya langsung meluap merasa terganggu. Tak jarang saya membentak dan memaksa menyuruhnya agar diam. Terkadang saya mendaratkan pukulan di kaki mungilnya jika isak itu tak kunjung reda.
Tatkala si sulung melakukan kesalahan yang sangat wajar diusianya yang masih satu setengah tahun seperti membongkar dan merusak mainan, saya pun mencaci serta menghukumnya seolah bukan sedang berhadapan dengan makhluk polos yang lemah.
Saat si kecil berkata ingin mengambil dan memilih bajunya sendiri di lemari. Saya kerap melarang dengan dalih takut berantakan. Anak pun mengalah walaupun wajah polosnya menyiratkan kekecewaan.
Waktu itu saya berpikir, anak harus nurut apa kata orang tua. Kata orang tua jangan, ya, jangan. Tanpa mempedulikan dampak buruk ke depannya yang akan mempengaruhi tumbuh kembang sang buah hati.
Bahkan yang lebih membuat hati saya teriiris. Bocah polos itu kini tak mampu lagi untuk sekadar mengekspresikan diri ketika ia sedang bersedih. Ia tak bisa lagi menangis kencang dan lepas seperti dulu. Hanya air mata yang mengalir membasahi pipinya tanpa berani mengeluarkan suara. Bocah sekecil itu pun lebih memilih menekan semua beban emosinya. Karena takut dimarahin.
Si kecil pun mulai terlihat tak bisa menentukan pilihannya sendiri. Ia tumbuh dengan perasaan cenderung plin-plan dan nampak kebingungan karena khawatir salah dalam mengambil keputusan.
Kini saya hanya mampu meratapi penyesalan yang sulit rasanya untuk bisa lagi mengembalikan fitrah anak ke semula.
Hanya niat yang kuat dalam hati ini ingin merubah diri sendiri menjadi sosok orang tua yang baik yang mampu menjaga perasaan anak dengan harapan si kecil bisa tumbuh bahagia serta bisa mengembalikan keceriaannya yang sudah saya rampas paksa.
Tertatih saya berusaha agar mampu memberikan yang terbaik untuknya. Walaupun mungkin bisa dibilang terlambat. Tapi, lebih baik daripada tidak sama sekali.
Saya mulai belajar mengelola emosi ketika mendapati si sulung melakukan kesalahan. Jika dulu saya langsung meninggikan nada suara saat memberikan nasihat. Kini lebih memilih cara berdiskusi dari hati ke hati dalam mengingatkannya. Dengan harapan ia bisa menerima apa yang saya sampaikan tanpa merasa disalahkan dan diintimidasi.
Sekarang saya sering mencoba memberikannya pilihan tanpa ia minta terlebih dulu. Misal, saat menemani belanja keperluan sekolahnya saya membebaskan anak untuk memilih barang yang sesuai dengan pilihannya sendiri.
Saya mulai menurunkan ego agar tidak lagi menjadi parents yang memaksakan kehendak sendiri agar si kecil terlepas dari tekanan yang selama ini ia pendam.
Dulu waktu usia si sulung 6 tahun saya pernah memaksanya agar ia mampu menulis hurup dengan rapi dan bagus biar dapat nilai tinggi dari guru di sekolahnya.
Saat ini, saya akan selalu memberikan pujian dan apresiasi dengan nilai akademik yang ia raih yang sesuai dengan kemampuan dirinya.
Uraian lengkapnya bisa baca di buku, ya.