
Membiasakan Anak Berpakaian yang Baik
***
Hidup pada akhir zaman seperti saat ini kita sebagai orang tua dituntut untuk selalu waspada dalam segala kondisi dan hal apapun. Termasuk tentang tata cara berpakaian untuk putra-putri tercinta.
Kenapa? Karena di luaran sana banyak sekali aksi-aksi kejahatan yang mengintai. Diantaranya pelecehan terhadap anak di bawah umur pun kasusnya sudah semakin meresahkan dan sangat mengerikan.
Sebaiknya anak-anak diajarkan untuk memakai pakaian yang menutup aurat dan tidak menampakkan lekuk badannya, karena mengenakan pakaian yang menampakkan aurat atau bentuk tubuh bisa menjadi pemicu terjadinya tindak kejahatan.
Itu semua bisa terjadi karena ada penyebab dan kesempatan. Diantaranya karena kadang orang tua lalai dengan cara pakaian yang dikenakan oleh si anak yang dianggapnya sepele itu.
Sebaik-baiknya sosok orang tua yakni yang bisa menjadi panutan yang baik bagi putra-putri tercintanya. Jadi, sebaiknya sebelum kita meminta si kecil mengenakan pakaian tertutup, kita pun harus menjaga penampilan di depan anak-anak. Terlebih, anak sangat cepat dalam hal meniru. Jika kita sebagai orang tua mengenakan pakaian santun yang menutup aurat, tentu saja itu sudah jadi inspirasi yang menggerakkan hati sang buah hati untuk mengenakan pakaian yang sama.
"Mama, kenapa, sih, kalau Mama mau keluar rumah harus ganti baju panjang dan pake kerudung dulu?" Pertanyaan seperti itu sering ditanyakan si kecil Dila, kepada saya tiap kali melihat mamanya ini sedang memakai daster pendek di dalam rumah dan berganti memakai gamis ketika hendak menjemur pakaian atau sekadar berbelanja sayur ke luar.
"Karena kita sebagai perempuan harus berpakaian yang menutup aurat," jawab saya.
Saya pun mencoba memberikan penjelasan kepadanya jika aurat itu merupakan anggota atau bagian tubuh yang tidak boleh terlihat oleh orang lain. Batasan aurat untuk perempuan yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan bagi laki-laki yaitu dari pusar hingga bawah lutut.
Sejak itu pun si kecil selalu meminta untuk selalu memakai celana dan baju panjang serta dipakaikan kerudung tiap kali ia hendak keluar rumah.
Sedini mungkin hendaknya anak-anak harus dibiasakan mengenakan pakaian sesuai jenisnya. Anak laki-laki mengenakan pakaian laki-laki, anak perempuan mengenakan pakaian perempuan. Dengan harapan ke depannya nanti tidak terjadi penyimpangan yang menyalahi kodrat dan syariat islam.
Berikan juga pemahaman rasa malu terhadap si kecil jika memakai pakaian terbuka itu artinya tidak sopan dan tidak menghargai diri sendiri. Bagaimana orang lain bisa menghargai kita kalau kita sendiri tak menghargai anggota badan sendiri.
Yang mesti wajib ditanamkan dalam dasar hati anak yaitu agar memilik rasa takut akan dosa ketika tidak mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariat. Yaitu busana yang menutup aurat secara sempurna yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah baik untuk kaum lelaki atau perempuan.
Karena perasaan khauf(takut) itulah yang akan selalu menjadi tameng dalam diri anak kelak setelah semakin beranjak dewasa. Sikap seperti ini pun upaya untuk pembentukkan karakter ketakwaan yang harus dimiliki oleh generasi muslim agar tetap berada di jalur yang terarah dalam koridor keislamannya.
Supaya tidak sampai terombang-ambing dengan maraknya budaya busana kebarat-baratan yang terus digencarkan oleh kaum kapitalis baik melalui media dan publik figur yang terus berusaha mempengaruhi generasi kita agar mengikuti gaya kekiniannya.