
Pentingnya Kerjasama Orang Tua
***
Keberhasilan dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak butuh kerjasama antar ibu dan bapak. Tidak bisa hanya condong ke satu pihak saja. Butuh kekompakan untuk meraih hasil yang maksimal.
Bukan hanya dalam hal memberikan pendidikan dan pembiasaan saja yang harus dikerjakan bersama melainkan dalam semua aspek.
Sejak si buah hati terlahir ke dunia ini kedua orang tua harus memulai kerjasama yang baik.
Seperti pengalaman saya waktu dulu awal-awal pasca melahirkan anak pertama. Ketika bayi kami terbangun tengah malam dan menangis histeris ayahnya yang sedang terlelap pun seketika terbangun dan sigap memeriksa kondisi si buah hati.
Mengganti popoknya saat dilihat bayi itu basah karena ompol atau pup. Setelah itu baru diserahkan kepada saya untuk dikasih ASI. Hal seperti itu dilakukan kurang lebih selama 3 bulan berturut-turut. Bergadang secara bergantian selama menjaga dan mengurus si buah hati.
Begitu pula dalam hal pekerjaan rumah. Ketika saya harus fokus kepada anak karena kadang ada masanya si bayi sedang rewel dan tak mau ditinggal barang sekejap pun oleh ibunya. Maka, suami tanpa diminta ia bersedia menggantikan tugas istri seperti memasak, mencuci baju serta pekerjaan domestik lainnya.
Apalagi saat sedang proses praktik toilet training kepada si kecil. Dukungan dari ayah dan ibu ini sangat dibutuhkan.
Misal, si anak bilang ingin pup atau buang air kecil, sedangkan saya sedang tanggung dengan pekerjaan di dapur. Maka ayahnya dengan tulus menawarkan bantuan kepada si kecil.
"Yuk! Pipis atau pup di kamar mandi sama Ayah." Begitu yang diucapkan ayahnya.
Ketika anak terlihat kurus, ibunya yang disalahkan. Katanya tidak bisa ngurus dan memberi gizi yang baik untuk anaknya.
Padahal, apa salahnya sang ayah ikut turun tangan untuk sekadar menyuapi si kecil dan memberikan kesempatan si istri beristirahat barang sejenak.
Oya, saya pernah melihat langsung ada pasangan suami istri yang begitu kompak. Di tengah keramaian pada acara resepsi pernikahan keluarga besarnya. Si suami dengan telaten menyuapi anaknya yang masih berusia satu setengah tahun. Bahkan rela sambil mengejar-ngejar putranya tersebut karena sambil berlarian ke sana ke mari. Sedangkan istrinya sedang istirahat sambil tiduran karena kelelahan hampir setengah hari menjaga anak.
Dalam menanamkan pembiasaan dan pendidikan karakter kepada anak pun sangat dibutuhkan kerjasama antar ibu dan ayah.
Seperti contoh si ibu meminta sekaligus memeraktikkan langsung pada anaknya agar membiasakan bilang tolong ketika hendak meminta sesuatu.
Namun, si ayah malah dengan seenaknya menyuruh anak tanpa menggunakan kata tolong terlebih dulu. Nah, hal seperti inilah yang akan membuat sistem pengasuhan menjadi kacau balau.
Untuk bisa mencapai kesuksesan secara sempurna dalam pola asuh terhadap anak, kita sebagai orang tua sebaiknya menjalin komunikasi terlebih dahulu sebelum menentukan langkah yang akan diambil dan harus mencari kesepakatan bersama agar tidak terjadi ketimpangan di tengah jalan.
Jika ibu memilih A, maka, ayah pun harus bersedia bilang A pada anak. Begitupun sebaliknya kalau kata ayah B, maka ibu harus mengikuti dan kompak.
Contoh kecilnya, si ibu tidak mengizinkan anak untuk bermain ponsel, maka ayah sebaiknya jangan sekali-kali meminjamkan gadgetnya kepada si kecil. Dengan harapan sang buah hati tidak mengalami kebingungan dengan pembiasaan dan pola asuh yang sedang diterapkan oleh kedua orang tuanya.