Parenting

Parenting
Makanan Sehat Vs Jajanan Kekinian



Meminimalisir Jajanan Tidak Sehat untuk Anak


***


Tidak bisa dipungkiri jika kebanyakan anak memang paling suka memilih jajanan kekinian dibanding makanan sehat olahan orang tuanya sendiri.


Apalagi akhir-akhir ini jajanan kekinian yang diproduksi pabrik sangat beraneka ragam jenis, rupa dan rasanya. Dari mulai permen, snack ringan, hingga minuman.


Namun, sebagai orang tua atau guru yang bijak. Semestinya kita tetap mengarahkan agar anak tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi jajanan tidak sehat di luaran sana yang dijajakan bebas.


Misal, di rumah kita sering membuat cemilan seperti bolu pisang, gorengan tempe krispy, jamur atau usus krispy serta olahan makanan lain kesukaan putra-putri tercinta.


Selain tugas orang tua di rumah dalam rangka menjaga anak dari jajanan kekinian pun begitu juga dengan pihak sekolah harus sama-sama kompak dalam memberi arahan tersebut agar niat untuk mengalihkan anak dari makanan tidak sehat bisa terwujud secara maksimal dan sesuai harapan.


Baiknya pihak sekolah memiliki aturan tegas agar melarang keras seluruh siswa tidak jajan di luar, untuk mengantisipasi agar anak tidak jajan sembarangan.


Caranya, pihak sekolah mengadakan kantin sendiri dengan menyediakan aneka jajanan olahan langsung yang bebas dari bahan kimia berbahaya. Seperti risoles, bakwan, arem-arem, lemet, pisang goreng serta makanan tradisional lainnya.


Jajanan pun dijual dengan harga yang sangat terjangkau dan ramah di kantong anak. Karena tarif harga makanan kebanyakan hanya seribuan. Dari mulai aneka jenis gorengan, bahkan mie ayam pun dikemas sedemikian rupa agar bisa dijual dengan harga satu ribu rupiah.


Awalnya saya merasa heran kok, ada mie ayam harga segitu? Setelah bertanya langsung kepada pembuatnya ternyata memang benar dengan apa yang diceritakan oleh si sulung memang mie ayam ala-ala itu dibikin seekonomis mungkin agar pas di kantong para siswa.


Ketika kantin sedang tutup karena mungkin pemasok sekaligus penjaga kantin sedang berhalangan. Pihak sekolah pun tetap sigap dengan menghimbau agar anak didik membawa bekal sendiri dari rumah baik berupa nasi beserta lauk dan sayur ataupun berupa jajanan atau cemilan home Made yang sehat. Tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada anak untuk jajan sembarangan di luar lingkungan sekolah.


Bagi saya sendiri, sebagai orang tua siswa sangat mendukung dan berterima kasih sekali kepada pihak sekolah karena si sulung pola makannya jadi tetap terjaga walaupun sedang di luar rumah.


Selain itu, biasanya ada sebagian anak yang tidak terlalu suka dengan aneka olahan sayur. Termasuk si sulung Fatih. Akan tetapi, ketika gurunya yang mengintruksikan agar membawa bekal nasi, lauk berikut sayurnya. Maka dengan sangat antusias ia akan meminta ibunya ini agar membuat sayur untuk bekalnya ke sekolah.


Hati saya pun akan sangat senang sekali saat memeriksa kotak bekalnya dalam keadaan kosong tanpa ada sisa makanan sedikitpun di dalamnya.


Padahal, ketika sedang makan di rumah maka saya biasanya harus memiliki beribu jurus andalan bagaimana caranya agar anak-anak bersedia memakan sayur atas kesadaran dan kemauan sendiri tanpa harus dibarengi drama apapun.


Misal dengan cara mencampurkan parutan wortel ke dalam telur dadarnya atau menyisipkan sobekan kecil daun bayam pada pepes tahu yang akan dimakannya.