Parenting

Parenting
Brother and sister



Memupuk Kerukunan antar Adik dan Kakak


***


Hubungan kakak beradik yang dilahirkan dari satu rahim yang sama sejatinya memiliki rasa ikatan batin yang kuat satu sama lain.


Tapi, kenapa kadang kita melihat banyak sekali fenomena yang bikin miris. Di lingkungan sekitar banyak kita jumpai hubungan antar saudara bisa terpecah belah bahkan saling bermusuhan. Nauzubillahimindzalik.


Sesama saudara kandung saling menyebar benih kebencian seolah bukan terlahir dari seorang ibu yang sama.


Bagaimana caranya agar hal mengerikan itu tidak sampai terjadi kepada anak-anak tercinta?


Salah satu caranya, kita sebagai orang tua sebisa mungkin harus belajar untuk bersikap adil kepada anak. Usahakan jangan sampai ada sikap dan ucapan yang cenderung terlihat berpihak hanya pada salah satu anak.


Namun, terkadang karena minimnya pengetahuan tentang parenting kita sebagai ibu sering sekali salah langkah dalam menyikapi situasi seperti itu.


Ketika melihat si kakak dengan sang adik menginginkan mainan yang serupa hingga mereka bertengkar dan adu mulut. Baiknya orang tua tidak langsung berkata seperti ini, "Kamu, kan, kakaknya. Harusnya ngalah, dong, sama adeknya yang masih kecil."


Kalimat seperti itu bukanlah solusi yang tepat. Yang ada malah dapat memicu masalah baru. Kok, bisa?


Karena kalimat tersebut hanya akan membuat psikologis si kakak terganggu. Jika ia kerap kali diperlakukan seperti itu secara berulang oleh orang tuanya. Maka, tidak menutup kemungkinan sang kakak tumbuh dengan pribadi yang pendendam, merasa dibedakan, dan perasaan negatif lainnya yang akan mempengaruhi pola pikir si anak ke depannya nanti.


"Adek terus ... Selalu Adek, apa-apa Adek."


Kalimat seperti itulah yang bakal muncul di benak si kakak. Ia merasa dikesampingkan dan tidak dianggap. Hingga lambat laun rasa iri dengki pun bercokol dan terus tumbuh subur di hatinya.


Sehingga akan terlihat dari sikap yang ditunjukkan oleh si kakak seperti selalu memasang muka masam tiap kali bertemu adiknya. Rentan gampang tersulut emosi jika mendapati sang adik melakukan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan si kakak.


Sehingga hal sekecil apapun akan selalu memicu keributan dan menyebabkan ketidakakuran antar adik dan kakak. Mirisnya, hal buruk seperti itu bisa berkelanjutan bahkan bisa terbawa sampai kelak dewasa. Sangat mengerikan, bukan?


Misal dengan mengajukan pertanyaan.


"Tadi siapa yang duluan mengambil mainan itu?"


Jika jawabannya ternyata si kakak yang duluan memegang mainan tersebut. Maka langkah yang tepat sebaiknya orang tua mencoba memberikan pengertian kepada si adek.


"Karena tadi yang duluan ngambil mainannya Kakak. Jadi, yang pertama mainin Kakak dulu, ya. Nanti setelah selesai baru boleh gantian Adek."


Jika si adik menolak dan mengeluarkan jurus cari perhatian dengan menangis. Jangan lantas kita langsung mengabulkan keinginannya. Biarkan saja si adik melupakan perasaan jengkel atau perasaan marahnya dengan cara menangis.


Nanti jika sudah terlihat tenang dan mood si kecil sudah kembali normal. Kita bisa kembali mengulang menasihati dan memberi arahan jika ketika menginginkan sesuatu harus bersabar terlebih dulu. Harus belajar antri menunggu giliran waktu bermain.


Karena biasanya jika kita mengajak anak berdiskusi dalam keadaan mood anak stabil. Si kecil akan dengan mudah memberikan respon baik dan menerima semua yang disampaikan oleh orang tuanya.


***


Sebagai orang tua kita juga sangat diharuskan mengajarkan anak-anak untuk biasa berbagi sedini mungkin. Dengan harapan jika mereka sudah dewasa kelak dan memiliki kehidupan dengan keluarga masing-masing. Senantiasa ada rasa kepedulian yang tinggi satu sama lain.


Tidak merasa acuh dan bodo amat ketika mengetahui keadaan saudaranya yang masih kekurangan dalam hal perekonomian.


"Kakak sama Adek harus saling berbagi. Jika Kakak punya mainan atau makanan harus ngasih Adek. Begitu juga sebaliknya. Karena sesama saudara harus saling memberi dan membantu."


Insya Allah. Jika kita sudah berusaha menanamkan nilai-nilai kepedulian kepada ananda tercinta sedini mungkin. Maka di masa yang akan datang akan selalu terpatri perasaan saling ingin membantu dan meringankan beban saudaranya yang terlihat sangat membutuhkan uluran tangan tanpa ada rasa berat atau perhitungan.


Hubungan persaudaraan antar adik dan kakak itu sangat kental karena masih terdapat aliran darah yang sama dalam tubuh mereka.


Jangan sampai memberikan pola asuh yang salah hingga menimbulkan bibit-bibit perang antar keluarga saat mereka tumbuh dewasa.