Parenting

Parenting
Sopan Santun



Penanaman Sopan Sandun Sejak Dini


Segala hal yang berkaitan dengan dunia anak itu bermuara dari rumah atau kedua orang tuanya sendiri. Termasuk tentang akhlak dan sopan santun yang terpancar lewat sikap dan tutur kata anak tersebut.


Oleh karenanya, sebagai parents mari kita menempa sang buah hati semenjak dini untuk bisa menerapkan pendidikan adab yang baik dengan harapan mereka bisa mengaplikasikannya langsung seiring pertumbuhan usianya.


Penanaman akhlak dan sopan santun untuk anak bisa diawali dari hal yang paling kecil. Seperti membiasakan mengucapkan 4 kata ajaib yang memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.


Kata maaf, tolong, permisi dan terima kasih adalah ucapan sederhana tapi memiliki dampak yang sangat besar dan penting dalam kehidupan anak.


Bagaimana caranya agar kita sukses dalam mengajarkan 4 kata tersebut sehingga si anak pun mampu mengaplikasikan langsung dalam kesehariannya?


Walaupun sekilas terlihat sepele dan gampang. Tapi, kenyataannya tentu tidak mudah ketika kita menginginkan si anak langsung bisa mempraktikkan dengan instan.


Untuk itu, kuncinya ada di kita sebagai orang tua agar bisa bersabar dan telaten selama proses pembiasaan hal tersebut. Yang terpenting dan perlu digarisbawahi sebagai orang dewasa kita dituntut agar mampu memberi contoh langsung di hadapan anak.


Akan sia-sia belaka jika kita hanya sekadar menyampaikannya sebatas lewat lisan. Karena insting anak akan sangat gampang sekali merekam sesuatu bila melihat langsung dengan yang kita ucapkan dan praktikkan.


Ma'af


Contoh kecil, ketika kita berbuat salah kepada anak jangan ragu dan sungkan untuk secepatnya menyampaikan permintaan ma'af yang tulus kepada sang buah hati dengan harapan bisa memulihkan perasaan mereka.


"Mama minta ma'af, ya, Sayang. Tadi telat jemput ke sekolah karena tadi Mama sedang tanggung menyelesaikan masakan." Sambil memberikan dekapan hangat di tubuh si anak. Insya Allah mood si kecil yang awalnya memendam kekesalan bisa sedikit mencair kembali.


Atau ketika melihat si kakak dan adiknya saling bersitegang dan adu mulut bahkan hingga berkelahi. Sebagai parents kita harus jadi penengah dengan tidak menunjukkan sikap berpihak condong ke salah satu mereka agar anak tidak merasa dibeda-bedakan.


Namun, ajaklah mereka untuk bisa saling meminta ma'af satu sama lain sambil meminta agar berpelukkan sebagai bentuk perdamaian.


Tolong


Ketika kita memerlukan bantuan anak agar tidak terkesan memerintah kita bisa memakai kata tolong. Misal, "Tolong, Nak, belikan Mama terigu sebentar ke warung. Mama mau bikin bakwan jagung."


Seiring berjalannya waktu maka anak pun akan mengikuti dengan apa yang sering ia dengar dan ia lihat secara langsung. Tanpa instruksi dari kita lagi.


Permisi


Bila kita berjalan dalam ruangan dan harus melintasi anak yang sedang berada di jalur yang kita lalui. Jangan lupa dan jangan bosan untuk bilang permisi di hadapan mereka.


"Permisi ... Mama mau lewat dulu, ya."


5 kali kita bolak-balik di depan anak 5 kali pula kita ulang kata permisi itu. Tak apa, demi pembiasaan agar tertanam dalam benak mereka.


Terima kasih


Salah satu bentuk apresiasi kepada si buah hati dalam hal terkecil apapun kita bisa mengucapkan kata terima kasih.


"Terima kasih ya, Sayang. Sudah jadi anak yang penurut dan baik. Mama sangat bangga memiliki anak seperti kamu."


Agar mendapatkan hasil maksimal dan bisa diserap lalu dilakukan secara nyata oleh anak maka orang tua jangan pernah merasa bosan untuk terus mengulang dan mengingatkan kepada buah hatinya.


Seperti contoh, si anak lupa bilang, 'tolong' ketika minta diambilkan sesuatu. Maka yang harus kita lakukan sebaiknya jangan langsung memberikan yang ia butuhkan tadi. Kasih jadi sebentar sampai dirinya mengucapkan kata 'tolong' terlebih dulu.


***


Sejatinya perilaku dan ucapan anak itu cerminan dari apa yang dilihat dan didengar dari kita sebagai orang tua. Karenanya alangkah baiknya sebagai orang dewasa lebih berhati-hati lagi ketika berada di hadapan mereka. Agar tingkah laku kita bisa dijadikan teladan yang baik untuk sang buah hati.


Jangan menjadi sosok parents yang berjiwa egois. Ketika melihat anak buang angin sembarangan kita langsung menegur dan bilang itu tidak sopan. Sedangkan orang tuanya sendiri tanpa merasa risih dan malu mendengarkan suara kentutnya yang keras tepat di depan anak. Hal sepele seperti inilah kesalahan yang selama ini dianggap biasa oleh kebanyakan ayah dan ibu.


Ke depannya semoga kita bisa lebih bisa memperbaiki diri demi memiliki generasi penerus yang memiliki kepribadian yang berakhlaqulkarimah sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.