Parenting

Parenting
Episode 7



Seandainya waktu bisa diputar kembali. Aku mending memilih hidup dengan suami dan anakku yang dulu. Di bandingkan hidup numpang bersama mertua yang berkecukupan namun tidak pernah dianggap keberadaannya.


Dulu, bayanganku akan bisa hidup bahagia setelah menikah dengan Mas Rangga. Tapi ternyata keadaan tidak sesuai dengan ekspektasi. Hidupku kini malah jauh lebih menderita dibandingkan ketika masih menjadi istri suamiku yang pertama. Namun, apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Aku harus terus menjalaninya, apalagi sekarang sudah ada sang buah hati dari pernikahanku dengan Mas Rangga.


Hari ini akan ada acara pesta pernikahan di salah satu rumah kerabat ibunya Mas Rangga. Dari semenjak malam Mas Rangga dan ibu sudah berada di sana tanpa menghiraukan dan mengajakku. Aku dibiarkannya di rumah berdua dengan bayiku. Seolah aku ini bukan bagian dari keluarga mereka.


"Mirna, besok kamu harus bersihin dan beresin rumah ini serapih mungkin, ya! Akan ada saudara ibu nanti yang akan mampir ke sini. Ibu malu kalau rumahnya nanti dalam keadaan kotor dan berantakan," titah ibu sesaat sebelum ia pergi ke tempat saudaranya yang sedang menggelar pesta.


"Tapi, Bu, bagaimana Mirna bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak seperti itu, sedangkan si dedenya lagi demam dan rewel terus ini dari kemarin," tolakku beralasan.


"Sudah berani, ya, sekarang kamu sama Ibu?"


"Bukannya begitu, Bu, tapi Mirna khawatir nanti gak bisa mengerjakan semua tugas dari Ibu kalau si dedenya rewel terus."


"Jangan nyari-nyari alasan dengan bawa-bawa anak Mirna! Ibu aja dulu ngurus anak sambil ngurus kerjaan rumah bisa. Masa kamu gak becus!"


"Sudahlah, jangan banyak alasan ini itu, pokoknya Ibu mau saat saudara Ibu nanti mampir ke sini rumah sudah dalam keadaan rapih dan bersih. Titik," pungkasnya lalu berlalu dari hadapanku.


Aku hanya bisa menghela napas berat menghadapi sikap ibu yang sedikit pun tidak ada rasa simpati kepada aku sebagai menantunya. Aku hanya pasrah dengan keadaan apa pun. Dan mau tidak mau harus menjalinya walau selalu menahan nyeri dan sesak di dalam dada.


***


Mirna kebingungan saat ia berniat hendak memasak nasi. Beras yang ia ambil ternyata tinggal nyisa setengah gelas. Mirna menghampiri Rangga, suaminya yang sedang berjibaku dengan adonan somay yang akan dijajakannya saat siang nanti.


"Mas, bisa ke rumah ibu sebentar gak? Aku mau masak tapi beras habis. Mas coba pinjam beras dulu satu kilo nanti siang pulang dagang dibayar pake uang aja," pintanya kepada Mas Rangga.


"Ini Mas lagi tanggung lagi goreng kacang buat bumbu, gimana? Kenapa gak kamu aja sendiri yang pergi ke rumah ibu?"


"Sini biar aku yang terusin goreng kacangnya, Mas," usul Mirna. Ia tak berani kalau harus berhadapan dengan ibu mertuanya apalagi urusan seperti ini.


Sudah beberapa bulan Mirna dan suaminya tinggal terpisah dari rumah Bu Sumi, ibunya Rangga. Setelah Mirna berusaha membujuk Rangga untuk tinggal di rumah kosong yang ditinggal penghuninya merantau ke Jakarta. Kebetulan pemilik rumah itu masih kerabat dari almarhum bapaknya Rangga.


"Yaudah, Mas coba ke rumah ibu dulu."


"Jangan lama-lama, ya, Mas. Nanti berasnya mau aku langsung masak. Sekalian buat bikin bubur si Rifal, kasian dia belum disuapin."


Bayi laki-laki Mirna sekarang sudah berusia hampir tujuh bulan dan sudah mulai diberi MPASI sejak enam bulan kemarin.


***


Sudah hampir satu jam Mirna menunggu sang suami. Tepatnya menunggu beras yang akan segera dimasaknya. Tapi orang yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


Beruntung Rifal, anaknya sedang tidur pulas di atas ayunan yang ia bikin sendiri menggunakan kain panjang dengan tali tambang yang digantung di pintu kamar yang tanpa daun pintu.


Dengan perasaan berkecamuk antara menahan perih di perut yang semakin melilit dan rasa geram kepada suaminya Mirna tergesa menuju rumah Bu Sumi yang hanya berjarak dua ratus meter dari tempat tinggalnya.


Dari kejauhan mata cekung Mirna menangkap sosok sang suami sedang duduk santai dengan temannya sambil menghisap rokok dan dua gelas kopi serta satu piring pisang goreng di sampingnya.


Hati Mirna semakin geram. Dilambaikannya tangan Mirna dari kejauhan. Berharap sang suami dapat melihatnya.


"Ga, nih bini lu nyuruh pulang!" ucap teman ngobrolnya yang kebetulan tadi melirik ke arah Mirna.


"Heleh ... bodo amat lah! Palingan ngajakin ribut lagi. Bosen gue di rumah terus. Jenuh! Bentar-bentar ribut, bentar-tibut." Rangga tak mempedulikan ucapan temannya dan Mirna.


"Tapi, kelihatannya penting banget tuh, sana smperin dulu!" saran Mujib, kemmudian.


Dengan malas Rangga bangkit dari duduk lalu berjalan pelan menghampiri istrinya. Kepalanya diputar ke sekeliling memastikan tidak ada orang sedang melihatnya. Lalu menarik dan menyeret kasar tangan sang istri.


"Ada apa, sih, nyusul-nyusul segala?" tanyanya tanpa merasa berdosa. Setelah mereka berada di dalam rumah.


"Pake nanya lagi. Tadi, kan, aku minta Mas buat pinjam beras sama ibu, bukan ngobrol bareng temanmu." Mirna menjawab dengan suara gemetar menahan tangis.


"Mas, kamu itu sekarang sudah punya istri, sudah punya anak, sudah jadi bapak. Bukan bujangan lagi. Ada aku dan anak kamu yang harus diberi makan," sambung Mirna mengeluarkan unek-unek yang menggunung di dalam hati.


"Tadi, kan, aku sudah nyuruh kamu buat berangkat sendiri ke rumah ibu?" teriak Rangga tak mau kalah.


"Ibu kamu itu gak suka sama aku Mas. Kalau aku yang bilang mau pinjam beras bisa-bisa ibu mencaci maki aku seperti kemarin."


"Makanya jadi istri, tuh, harus bisa menempatkan diri kalau hidup bareng keluarga suami. Jangan bisanya menyalahkan orang lain saja." Rangga mendengkus kesal.


"Percuma aku ngomong banyak sama kamu, Mas! Lebih baik aku dan Rifal pergi dari sini daripada hidup seperti di neraka terus-terusan."


Mirna mulai mengambil tas besar lalu mulai memasukkan baju-baju Rifal serta pakaiannya satu persatu.


Melihat itu Rangga jadi berang. Amarahnya seketika memuncak ke ubun-ubun. Darahnya berdesir hebat. Tanpa pikir panjang ditariknya karung berisi terigu bahan adonan somay yang biasa ia gunakan. Lalu diangkat dan ditumpahkannya bercecer memenuhi lantai. Persis seperti anak kecil yang sedang ngamuk.


Tak sampai di situ, hatinya yang sudah dirasuki setan semakin kalap. Kakinya menendang galon yang berisi air minum yang tinggal setengah. Sehingga keadaan rumah seketika berubah seperti kapal pecah.


Bola mata Mirna terbelalak menyaksikan kekacauan ulah suaminya. Rasa perih di perut dan hatinya menyatu.


Next?