Parenting

Parenting
Anak Vs Gadget



Anak Kecanduan Gadget? Kok, Bisa?


***


Seberapa penting kehadiran ponsel di kehidupan anak-anak? Terutama untuk balita? Jawabannya, tidak sama sekali.


Jika ada yang menyangkal, "Lah, siapa bilang? Buktinya anakku jadi pinter nyanyi, pandai menghafal do'a sehari-hari dan surat pendek melalui video yang ditontonnya melalui gadget.


Iya, memang tidak dapat dipungkiri jika manfaat menggunakan benda pipih berbentuk segi empat tersebut memang ada.


Namun, mari kita kaji ulang kembali. Antara mudorot dan manfaatnya cenderung lebih condong kemana? Tentu lebih banyak merugikannya bukan? Ketimbang hal positif yang bisa didapat ketika anak memegang ponsel.


Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar keluhan sebagian orang tua mengenai anak-anaknya yang kecanduan gadget. Dengan gejala sulit mengendalikan emosi, gampang tersinggung, sering tantrum pada balita tanpa penyebab yang pasti. Bahkan ada yang hingga mengalami speak delay.


Jika sudah seperti itu tindakan seperti apa yang tepat untuk kita terapkan?


Jalan satu-satunya ya, harus bilang, No gadget kepada anak-anak. Awalnya mungkin si anak menunjukkan reaksi tidak terima dengan keputusan kita. Ia akan menangis meraung berusaha mencari perhatian. Nah, ketika berada di posisi seperti ini. Sebagai parents kita harus tetap konsisten dengan niat awal yang ingin menyetop ketergantungan antar anak dan gadget.


Percayalah! Seiring berjalannya waktu keseharian mereka akan kembali normal dan baik-baik saja. Bahkan, bisa lebih baik setelah bisa lepas dari gadget.


Saya sendiri pun pernah mengalami hal yang sama. Ketika itu dengan dalih kasihan karena katanya hampir semua teman sebayanya bermain game melalui ponsel. Si sulung mulai merengek minta didownload-kan beberapa macam jenis permainan.


Dengan setengah hati saya pun mengiakan dan memenuhi permintaan Fatih. Sebelumnya saya menyebutkan syarat ketentuan yang harus ditaati olehnya terlebih dulu.


"Boleh main game, tapi waktunya makan, mandi jangan sampai dilewatkan. Waktunya salat dan belajar ngaji harus dikerjakan. Main game tidak boleh lebih dari satu jam."


Ketika saya sedang sibuk di dapur, melihat hape nganggur langsung disambarnya. Yang lebih parah lagi ketika saya ingatkan agar menaruh ponsel yang berada di genggamannya ia mulai menunjukkan ekspresi kekesalan sambil uring-uringan.


Bocah laki-laki itu pun mulai mendownload sendiri untuk menambah koleksi permainan gamenya. Yang membuat saya terkejut, game hasil unduhanannya itu sangat tidak layak jika dimainkan dan ditonton oleh anak seusianya.


Seperti game sakura, yang ternyata tokoh dalam permainan game tersebut seorang muda mudi yang berpakaian minim dan **** yang kadang diselingi adegan dewasa seperti berpelukan yang sama sekali tak pantas dilihat oleh anak-anak.


Ada juga game Denzie yang didalamnya mengandung unsur kekerasan serta adegan dan pakaian seronok yang bahaya sekali jika menjadi tontonan anak.


Tidak menutup kemungkinan jika masih banyak lagi jenis game serupa di aplikasi yang sudah disediakan dalam ponsel pintar ini. Saya coba menanyakan dari siapa dan dari mana bocah itu tahu tentang game saru seperti itu. Ia menjawab dari teman.


Please, parents ... Jangan abai dengan ponsel yang dimainkan anak. Sering-seringlah dan luangkan waktu untuk memeriksa apa saja yang menjadi tontonan putra putri kita.


Melihat gelagat tidak baik seperti itu. Saya pun mulai mengambil keputusan tegas. Memanggil si sulung lalu mengajaknya bicara empat mata. Berbincang dari hati ke hati berharap semua ucapan yang saya sampaikan bisa tercerna sempurna dan diterimanya dengan lapang dada.


Memberitahukan kepadanya jika saya akan menghapus semua jenis game yang selama ini ia pakai. Tak lupa memberikan pengertian jika game yang seperti itu tidak baik untuk dilihat dan dimainkan oleh anak seumurnya.


Beberapa hari setelah ponsel bersih dari macam jenis game. Saya perhatikan, perilaku Fatih kembali stabil. Tak lagi uring-uringan dan kembali mampu menguasai emosinya sendiri.


Lebih sering main kelereng, main steakan, main layangan, main bola, petak umpet dan permainan fisik yang lain bersama teman sebayanya. Kini aktivitas anak itu lebih banyak digunakan di luar rumah.


Karena sejatinya setiap sesuatu yang berkaitan dengan anak, orang tualah yang memiliki kendali penuh terhadap sang buah hati. Tapi tetap harus dengan cara yang sebisa mungkin tidak mencederai perasaan si anak itu sendiri. Bisa dengan cara diajak berdiskusi terlebih dulu agar keputusan tidak terkesan diambil sepihak.