
Prestasi dan Apresiasi
***
Ketika kita sebagai orang tua ataupun guru sering memberikan apresiasi kepada si kecil ternyata dampaknya luar biasa lho ...
Karena semangat si anak akan meningkat berkali lipat untuk melakukan hal positif lainnya yang sudah ia lakukan tadi ketika kita memberikan dukungan atau pujian yang tulus kepadanya.
Prestasi di sini tak melulu tentang nilai akademik yang berhasil diraih oleh anak di kelas ya, parents. Melainkan pencapaian sang buah hati dalam hal apapun yang sudah berhasil ia kerjakan.
Seperti pengalaman putri ke 2 saya yang berusia 5 tahun. Awalnya, ketika akan mandi ia selalu untuk tidak dimandikan oleh mama atau ayahnya.
"Aku mau mandi sendiri." Begitu ucapnya. Saya pun tidak melarang keinginan sederhananya itu. Akan tetapi, sebelumnya saya memberikan arahan terlebih dulu kepada dia agar tahu bagaimana tata cara mandi yang benar dan bersih.
Dengan memberi tahu, sebelum mandi pipis terlebih dulu di kloset lalu disiram hingga bersih sekitaran kloset serta laintainya. Saya menekankan anak-anak agar buang air kecil langsung di WC agar najisnya tidak menyebar ke mana-mana nantinya.
Setelah membersihkan area sensitif bisa langsung menyiramkan air ke seluruh badan kemudian menggunakan sabun mandi hingga merata dan memakai shampo untuk membersihkan rambut.
Si kecil pun melakukan tahapan-tahapan sesuai yang saya sampaikan tadi. Setelahnya ia pun berhasil dan terbiasa mandi sendiri hingga sekarang.
Selain itu, bocah yang baru masuk TK kecil itu pun kerap meminta memilih dan memakai baju sendiri. Saya pun mengiakan dan memberikan kesempatan kepadanya dengan tujuan melatih kemandirian dan pembiasaan untuk dirinya sendiri.
Sekarang ini, setiap pagi ketika baru bangun tidur yang ia lakukan yaitu langsung membuka pakaiannya sendiri tanpa bantuan siapapun lalu berlari kecil menuju kamar mandi untuk mandi. Usai berhasil membersihkan diri ia pun mengambil handuk untuk mengelap dan mengeringkan badan. Setelahnya memakai seragam yang sebelumnya sudah saya siapkan di tempat yang bisa ia jangkau.
Responnya? Raut mukanya langsung berseri-seri dengan kilatan bola mata berbinar.
"Besok aku mau mandi dan pake baju sendir lagi, ya, Ma," ungkapnya antusias dan sangat bersemangat.
Di lain kesempatan, waktu itu saya sedang makan siang dan si kecil sedang menikmati beberapa buah jeruk kesukaannya di ruang tengah.
Usai menghabiskan dua butir buah berwarna orange itu pun dengan santai ia melenggang menuju pintu depan sambil berkata "Kabur, ah .... " ucapnya tanpa beban.
Melihat pemandangan seperti itu berlangsung di depan mata. Otak saya pun bergerilya berusaha menentukan sikap dan memilih kalimat yang tepat untuk bocah seusianya.
Jika saya memarahi atau menyuruhnya secara langsung agar membersihkan kulit jeruk yang masih berserakan di lantai dengan nada tinggi atau teriakan, prediksi saya itu anak bukannya nurut biasanya malah sebaliknya.
Akhirnya setelah bersemedi beberapa menit keluarlah kalimat seperti ini, "Dila, kan, pinter, ya, kalau udah makan jeruk biasanya langsung dibersihkan dan dan membuang kulit jeruknya ke tempat sampah."
Anak yang awalnya hendak keluar rumah itu pun berbalik badan dan mengambil sapu lalu membereskan bekas kulit jeruk yang tadi dibiarkan dan ditinggalkannya itu.
Setelah mendapati lantai sudah bersih saya pun memberikan pujian dengan senang hati.
"Tuh, kan, anak gadis Mama sudah pintar nyapu dan beres-beres. Terima kasih banyak, Sayang." Sambil memberikan apresiasi tak lupa saya pun memeluknya dengan hangat.