
Ternyata bahagianya aku, bersama kamu!
Reza dan Friska sedang terjebak dalam kemacetan, mereka baru saja pulang dari meeting lanjutan di Bogor dan akan kembali ke kantor. Pikiran Reza masih menerawang pada pekerjaan yang menantinya. Proyek pembangunan tahun ini dua kali lipat dari tahun kemarin. Hal ini jelas membuat waktunya bersama Bumi tersita. Kadang dia pulang ketika Bumi sudah terlelap dan keesokan harinya, dia harus berangkat pagi-pagi sekali ketika Bumi belum terbangun.
Lamunannya terpecah ketika suara panggilan pada ponselnya berbunyi nyaring. Mbok Mirna yang meneleponnya.
“Pak … Bumi jatuh di kolam renang dan hampir tenggelam. Sekarang saya dan tetangga sudah bawa ke rumah sakit Insan Medika,” suara Mbok Mirna terdengar panik.
“Terus sekarang gimana kondisinya?”
Mbok Mirna terisak. “Masih belum sadar.”
“Jangan panik, Mbok. Tolong jaga Bumi. Saya segera ke sana.”
Reza segera memutar balik mobilnya. Bersama Friska, dia menuju rumah sakit. Setibanya dia di rumah sakit, Bumi sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus anak. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak kencang karena berlari dari parkiran. Dia benar-benar khawatir dengan
keadaan Bumi.
Kakinya terasa kaku, terasa begitu berat ketika dia mencoba mengangkatnya padahal beberapa langkah lagi dia dapat meraih tubuh Bumi ke dalam pelukannya. Karena di sana, ada Bulan yang sedang berbaring di atas ranjang. Tangan perempuan itu memeluk Bumi sambil mengusap punggung anak mereka. Suara Bulan yang sedang bersenandung terdengar sangat lembut, mengisi kesunyian di dalam kamar tersebut.
Reza sangat hafal dengan lagu itu. Sebuah lagu pengantar tidur yang selalu dinyanyikan oleh Bulan, jika Bumi sedang rewel atau sedang sakit. Dia ingin mengelak dari perasaan haru yang muncul dalam hatinya, tapi nyatanya dia gagal.
Andai kini, dia bisa memeluk dua orang itu sekaligus.
“Gimana kondisi anaknya, Pak?” Friska yang baru sampai di ruangan Bumi memecah keheningan.
Bulan segera membalikkan badannya saat mendengar suara perempuan. Dia memastikan keadaan Bumi yang sudah benar-benar terlelap. Di belakang tubuh Reza, seorang gadis yang tempo hari datang ke West Chicken berdiri dengan wajah khawatir.
“Kayaknya kita pernah ketemu, deh?” Friska berusaha mengenali wajah Bulan.
Bulan yang masih menggunakan seragam West Chicken hanya tersenyum kecil. Lalu dia memperkenalkan diri.
“Saya Bulan.”
“Oya, Sinar Rembulan ya, Mbak, nama panjangnya?” Friska berusaha membuka ingatannya.
Bulan mengangguk.
“Ini istrinya, Pak Reza?” tanyanya lagi dengan rasa penasaran. “Kok waktu di West Chicken, Pak Reza nggak ngenalin, sih?”
Belum sempat Reza menjelaskan. Bulan sudah menjawab lebih dulu.
“Saya mantan istrinya,” jawab Bulan tanpa keraguan.
Wajah Reza mengeras mendengar jawaban Bulan.
Sementara, Friska mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya.
Bulan tidak berani untuk melihat wajah Reza, yang dia tahu sekarang, dia harus segera membereskan barang-barangnya dan pergi dari tempat ini. Sebelum mantan suaminya murka karena jawaban yang dia berikan pada Friska.
“Aku pamit dulu. Nanti malam atau besok aku ke sini lagi.”
Tanpa disangka, Reza menahan tangan Bulan. “Bisa kita bicara sebentar?” lalu pandangannya mengarah pada Friska. “Bisa tinggalkan kami?”
Friska berbalik sambil mengangguk.
“Dari kapan kamu kerja?”
“Apa urusan kamu?”
“Apa uang dari pembagian harta perceraian kita tidak bisa menghidupimu?”
Secara hukum, Bulan memang tidak mendapatkan hak apa-apa atas perceraian mereka, karena posisi Bulan yang memang salah. Tapi atas dasar keinginan pribadi, Reza tetap menyerahkan rumah yang memang menjadi hak Bulan—rumah yang diberikan Reza pada Bulan sebagai hadiah pernikahan mereka. Dan juga sejumlah uang dalam rekening tabungan Bulan dari Reza—Reza tidak akan mengambil sesuatu yang pernah dia berikan pada Bulan, itu prinsipnya, meski kondisi rumah tangganya harus berakhir dengan perceraian.
Bulan tertawa sinis. “Sepeser pun aku nggak berniat untuk menyentuh uang kamu.”
Tangan Reza mengepal, tapi dia harus menahan emosinya. "Ke mana Bulan yang dulu pernah aku kenal?"
Bulan menggeleng. Dia juga tidak tahu, ke mana Bulan yang dulu. Yang dia tahu, sekarang dia harus menjadi perempuan yang kuat.
“Apa kamu benar-benar marah sama aku?”
Sekali lagi Bulan menggeleng, dia melakukan hal ini jelas bukan karena ingin membalas Reza. Dia melakukannya karena dia memang merasa tidak pantas mendapatkan apa pun dari Reza. “Anggap aja ini caraku untuk menebus segala kesalahanku. Sebagai seseorang yang telah menghancurkan pernikahan kita, aku tidak pantas mendapatkan apa-apa. Kecuali kamu mau berbaik hati memberikan Bumi padaku … aku dengan senang hati akan menerimanya.”
Reza kontan mengangkat alisnya. Apa kata Bulan, memberikan Bumi? Sampai dia mati pun, dia tidak kan pernah rela memberikan hak asuh Bumi pada Bulan. “Dalam mimpi pun, aku nggak akan pernah membiarkan Bumi hidup bersama kamu.”
Bulan menegang, wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa marah pada Reza. “Kalau kamu lupa, aku ibunya … aku yang melahirkannya,” balas Bulan.
“Aku nggak akan pernah menghilangkan fakta itu. Kamu memang ibunya dan juga….” Reza enggan meneruskan kalimatnya. Karena dia tahu pada akhirnya, mereka hanya akan bertengkar lagi.
“Juga perempuan yang telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Itu maksud kamu, kan?” Bulan menelan ludahnya ketika mengakhiri kalimatnya.
Gantian Reza yang merasa bersalah. “Kalau kamu khawatir aku akan menceritakan hal itu pada Bumi, kamu nggak usah takut karena aku nggak akan pernah melakukan hal keji seperti itu.”
Bulan menggigit bibirnya, tersenyum penuh luka. Dia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Reza.
***
Sore itu Reza dan Friska duduk di kantin rumah sakit. Keduanya masih menikmati kepulan asap dari dua cangkir kopi di hadapan mereka.
Pembicaraannya dengan Bulan tadi membuatnya banyak berpikir. Bulan sekarang begitu berbeda. Mantan istrinya itu begitu meledak-ledak ketika membahas tentang Bumi. Satu hal yang Reza sadari dan belum berubah ternyata Bulan memang begitu mencintai anak mereka, Bumi.
Reza menyesap kopinya … menikmati rasa pahit dan manis di akhir.
“Sejak kapan bercerai, Pak?” tanya Friska tanpa basa-basi.
Reza terbatuk, tidak menduga sama sekali bahwa Friska akan bertanya hal seperti ini padanya. “Kenapa?” tatapnya dengan sinis.
Friska tertawa jengah. Dia tahu, ini memang bukan urusannya. “Cuma pengen tahu aja … tapi kalau Bapak nggak mau cerita, nggak apa-apa, kok.”
“Nggak banyak orang yang tahu tentang perceraian saya karena memang masih terbilang baru.”
“Kasihan, Bumi,” ujar Friska pelan.
Reza mendengar apa yang diucapkan oleh Friska. “Ya, tidak akan pernah ada keputusan yang seratus persen tepat. Karena pada akhirnya akan selalu ada pihak yang tersakiti dari sebuah perceraian.”
Senyum tipis dari bibir Friska seolah mewakili kalau apa yang dikatakan Reza adalah benar apa adanya. “Bumi pasti jadi anak yang kuat, Pak,” ucapnya tulus.
“Semoga….”
Karena itulah janjinya. Sebuah janji yang Reza ucapkan ketika menggugat cerai Bulan. Bumi harus menjadi anak yang kuat dan juga tidak kekurangan kasih sayang.
***
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Bulan memberanikan diri untuk pergi ke apotek sepulang kerja. Sebuah testpack bewarna biru digenggamnya dengan erat. Pikirannya menerawang. Entahlah apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi semakin cepat dia tahu, semakin dia bisa bertindak untuk memutuskan segala sesuatu.
Saat terbangun keesokan paginya, di kamar mandi kontrakannya, kini dia menanti sebuah hasil yang sejak kemarin dia ragukan keberadaannya. Matanya refleks terpejam. Sedetik, dua detik dan pada detik berikutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Testpack yang telah dicelupkan di air seni yang ditampung Bulan di gelas kecil menunjukkan dua garis berwarna merah. Tenggorokannya tercekat. Dia menajamkan tatapannya dan membukanya kembali. Testpack itu tetap menunjukkan dua garis berwarna merah.
Bulan positif hamil. Ada kebahagiaan yang menyelusup dengan cepat di dalam hatinya tapi itu hanya sebentar karena sedetik kemudian, air matanya menetes. Apakah ini adalah sebuah tangis karena haru? Karena di dalam rahimnya kini sedang tumbuh seorang janin yang bergantung hidup sepenuhnya hanya pada dirinya.
Namun sebuah pertanyaan menghentaknya dengan kejam. Anak siapa yang kini tengah dikandungnya? Bulan tidak mungkin melupakan fakta tentang masa lalunya bersama Reza dan juga Bintang.
Hatinya meringis. Meminta maaf dengan tulus kepada janin yang kini berbagi kehidupan bersamanya. “Maafkan Bunda, Nak.”
Dalam hati Bulan berjanji, Reza ataupun Bintang tidak boleh ada yang tahu tentang kehamilannya. Karena dia akan membesarkan bayi yang ada di rahimnya seorang diri. Hanya dia yang memiliki hak atas anak yang tengah dikandungnya.
***
Jantungnya berdetak lebih kencang ketika ponsel yang kini ada digenggamannya bergetar berkali-kali. Bintang terus menghubungi dirinya sejak pagi tadi. Tapi tidak sekali pun Bulan ingin mengangkatnya. Sampai seorang suster memanggil namanya.
Dokter Eva menyambut Bulan dengan senyum hangat. “Apa kabar, Bu? Sendiri aja?”
Bulan tersenyum rikuh sambil mengangguk.
“Jadi ada keluhan apa? Mau program hamil?” tebak Dokter Eva.
Ragu, Bulan mengeluarkan testpack dalam tasnya. “Garis dua, Dok. Berarti positif hamil, ya?”
Dokter Eva tertawa. “Ibu kayak anak perawan aja, deh. Kan, sebelumnya udah pernah hamil, masa masih belum yakin.”
“Tapi kan saya KB, Dok? Masa bisa hamil,” bantah Bulan.
“Suntik, pil atau spiral?”
“Pil,” jawabnya cepat.
“Teratur minum di jam yang sama setiap hari?”
Bulan terdiam. Dia sering lupa meminum pil yang harusnya dia minum setiap hari. Akhirnya dia menggeleng pasrah.
“Kita periksa aja untuk memastikan.” Dokter Eva langsung menyuruh Bulan naik ke atas brankar.
Suster yang bertugas membantu Bulan serta mengoleskan gel diperutnya. Dengan cermat Dokter Eva memastikan monitor. Setelah lama mengamati, wajahnya tersenyum, “Ada kantung. Usia janin diperkirakan 12 minggu.”
Tangan Bulan mendingin, dalam hatinya, dia semakin memantapkan hatinya untuk menjaga bayinya. Tidak ada lagi keraguan yang muncul sedikit pun. Bersama bayi yang ada di rahimnya dia akan berjuang.
“Sehebat apa pun alat kontrasepsi, kalau Tuhan menghendaki maka tidak ada yang bisa menghalanginya,” kata Dokter Eva sambil menuliskan resep vitamin untuk Bulan. “Ibu bukan orang pertama yang hamil meski sudah berusaha mencegahnya dengan alat kontrasepsi.”
Kata-kata Dokter Eva menyadarkan Bulan. Bahwa apa yang telah terjadi padanya adalah sebuah takdir yang sudah digariskan untuknya.
“Obat mualnya diminum sebelum makan ya, Bu. Bulan depan jangan lupa kontrol lagi,” Dokter Eva mengingatkan.
Kalau tadi perasaan Bulan diliputi kecemasan, kini dia meraih kertas resep yang disodorkan Dokter Eva dengan senyum merekah. “Terima kasih, Dok.”
***
Bulan sedang menemani Bumi bermain di kamar rawat inapnya. Meski kondisi Bumi sudah membaik, tapi dokter belum mengizinkannya untuk pulang.
“Nda … Nda nanti malam nginep di sini, ya?”
Inginnya dia menjawab iya. Tapi apa Reza akan mengizinkannya?
“Nda…Ayah baca buku ceritanya nggak seru.”
Bulan tertawa mendengar anaknya mengadu. “Mana buku ceritanya? Kalau Bunda bacain sekarang, gimana?”
“Nggak mau sekarang. Bumi, kan, belum mau tidur.” Bulan mengelus kepala Bumi.
“Nda, Bumi pengen pulang tapi sama Nda juga.” Kedua tangan Bumi bergelayut di leher Bulan, Bumi memeluk tubuh Bulan dengan manja.
“Nda, nggak usah kerja ya. Bumi nggak mau mainan lagi. Yang penting tiap malam ada Nda,” ucap Bumi penuh harap.
Dikecupnya puncak kepala Bumi berkali-kali. “Iya, Sayang. Nanti Bunda bilang sama Ayah.”
Bumi mengangguk senang. “Janji ya, Nda?”
Saat menatap mata Bumi yang berbinar bahagia, Bulan tak bisa menutupi perasaan cemasnya. Karena dia cukup tahu, tidak seharusnya dia memberikan janji itu pada anaknya. Dia semakin mempererat pelukannya. Semoga Bumi bisa merasakan bahwa rasa sayang yang dimiliki Bulan hanya untuk Bumi seorang.
***
Terdengar suara ketukan di pintu kamar rawat Bumi, Bulan beranjak dari brankar. Rupanya Friska. Gadis itu datang membawa sekotak es krim cokelat dan mobil-mobilan.
“Ada Mbak Bulan…” ucap Friska dengan sopan. “Kebetulan Pak Reza ada meeting di kantor, jadi saya diminta untuk menemani Bumi.”
“Silakan masuk,” Bulan mempersilakan masuk gadis itu dengan sopan. “Kebetulan hari ini jadwal libur saya, jadi bisa jaga Bumi.”
Friska mendekat dan duduk di samping brankar Bumi. “Halo Bumi, masih inget sama Tante? Ada salam dari Randi, masih inget nggak?”
Bumi bergeming di tempatnya, lalu dia tersenyum ketika Friska menyebut nama Randi—temannya waktu menanam padi di Taman Buah Mekarsari. Mata bulat Bumi melebar dan tertuju pada es krim yang di bawa Friska.
“Oya, Tante lupa. Nih, Tante bawain es krim.” Friska memberikan buah tangannya langsung pada Bumi. Anak itu menerimanya dengan gembira.
“Bilang apa Bumi sama Tante?” kata Bulan.
“Makasih Tante.”
“Nda, boleh makan es krimnya?” tanya Bumi pada Bulan.
Bulan tersenyum. “Boleh tapi sedikit aja, ya. Kan, Bumi masih sakit.”
Tanpa menunggu, Bumi langsung membuka tutup es krimnya dan segera melahapnya hingga bajunya terkena es krim yang mulai mencair. Untungnya Mbok Mirna sudah datang dari rumah untuk membawa baju ganti.
“Mbak Bulan sampai malam di sini?”
Bulan mengangguk. “Saya jaga, sampai nanti Reza datang.”
“Kalau gitu aku pamit pulang aja ya, Mbak. Nanti aku bilang ke Pak Reza kalau ada Mbak Bulan yang jaga Bumi di sini.”
“Bumi salam dulu dong sama Tante. Tante Friska mau pulang, nih.”
Bumi membersihkan tangannya yang terkena es krim dengan kausnya dan mencium punggung tangan Friska.
“Cepet sembuh ya anak ganteng,” kata Friska dan dibalas senyum oleh Bumi.