Over the Rain

Over the Rain
Episode 11



Karena semuanya memang tidak harus dimengerti.



Beberapa hari kemudian setelah Bumi sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.



Reza : Datanglah kapan pun kamu mau untuk menemui Bumi.



Sebuah pesan dari Reza saat Bulan terbangun di kontrakan membuatnya kaget dan juga senang sekaligus. Apa ini artinya dia boleh bertemu dengan Bumi sesuka hatinya tanpa harus menunggu akhir pekan?



Segera saja, Bulan menelepon Reza untuk memastikan pesan singkat yang dia terima serta mengucapkan rasa terima kasihnya jika memang itu benar.



“Halo, Mas.”



“Iya, Bulan.”



“Jadi aku bisa datang kapan saja untuk bertemu dengan Bumi?” tanya Bulan tanpa basa-basi.



“Iya … kamu bebas menemuinya kapan saja.” Sejujurnya Reza hanya tidak ingin Bumi kehilangan sosok ibunya.



“Kamu nggak bercanda, kan?”



Reza tertawa. “Untuk apa aku bercanda? Toh, aku melakukan ini demi kebahagiaan Bumi…,” dan kamu, Bulan. Sambungnya dalam hati.



“Makasih, Mas.” Bulan tidak bisa menutupi kebahagiaannya.



“Bulan…,” panggil Reza. “Maaf kalau aku harus menyulitkan kamu untuk hak asuh Bumi.”



Hati Bulan terasa nyeri saat mendengar pernyataan maaf dari Reza. Tidak seharusnya Reza berkata seperti itu. “Aku yang harusnya minta maaf, Mas.” Suara gembira Bulan berganti pelan dan pilu, tidak menggebu seperti tadi.



Reza tertawa, satu fakta yang dia tahu tentang mantan istrinya itu. Bulan selalu menjadi perempuan yang teramat sensitif jika membahas tentang perceraian mereka atau tentang Bumi. “Aku rasa kita bisa jadi teman yang baik?”



usulnya.



“Mungkin. Asal kamu nggak sering ngajak aku berdebat setiap kita bertemu.”



Suara tawa Reza makin kencang. “Itu dia, seharusnya aku dan kamu cuma punya satu urusan, yakni Bumi. Tapi terkadang masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa aku mengerti.”



“Karena semuanya memang tidak harus dimengerti,” jawab Bulan pelan.



“Kamu benar.”



“Satu hal, yang harus kamu tahu. Aku nggak pernah marah sama keputusanmu itu, Mas.”



Jantung Reza seperti tertancap pisau tajam. Bulan yang sekarang memiliki harga diri yang amat tinggi. “Tapi karena perceraian kita, kamu harus kehilangan Bumi,” sahutnya.



“Tapi setidaknya kamu masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengan Bumi. Terima kasih, Mas.”



“Jangan berterima kasih padaku. Aku melakukan ini semua demi Bumi.”



Bulan tersenyum. Apa pun alasan yang diberikan Reza tidak penting baginya. Karena sekarang dia bebas menemui Bumi setiap hari.



***



Bintang, lelaki itu telah membatalkan pesta pernikahannya tepat seminggu sebelum acara tersebut berlangsung. Pikirannya teramat kacau tatkala pembicaraannya dengan Bulan berakhir dengan beribu tanda tanya.



Bulan kini telah hancur lebur dan itu karena dirinya. Dialah penyebab dari segala kekacauan yang dialami perempuan yang paling dia cintai itu.



Pantaskah dia bahagia, kalau Bulan justru menderita?



Beberapa kali dia mencoba menghubungi Bulan dan panggilannya selalu ditolak. Kini sepertinya dia harus melupakan sebuah janji yang dulu pernah diucapkan. Sebuah janji yang diminta Bulan untuk tidak pernah hadir lagi dalam kehidupan perempuan itu.



Apalah arti janji itu, jika tidak ada satu pun yang bahagia di antara mereka semua? Janji itu berlaku, jika pada saat itu Bulan memilih hidup bahagia bersama suaminya, Reza.



Rasa marah menyelimuti hatinya. Sebuah pertanyaan besar muncul dalam otaknya. “Bagaimana bisa, Reza menyia-nyiakan Bulan ketika Bulan sudah memilihnya?”



Sebuah laporan dari orang yang dia percaya. Memberikan banyak bukti bagaimana kini Bulan harus hidup dan berjuang seorang diri. Tidak ada satu pun informasi yang luput dari Bintang tentang Bulan meski mereka berjauhan.



Secarik kertas yang bertuliskan alamat dan juga tempat kerja Bulan menjadi sesuatu yang sangat berharga baginya.



Inilah saatnya dia kembali dan mengambil Bulan untuk menjadi miliknya. Karena pada kenyataannya, sekarang perempuan itu kini sudah tidak memiliki ikatan dengan



lelaki mana pun.



Dengan tegas, Bintang sudah menentukan kepastian yang akan dia pilih. Dia harus kembali. Membayar segala luka yang telah dia timbulkan.



“Bulan, tidak ada satu pun orang yang boleh menyakitimu.”



***



Usia kandungan Bulan sudah memasuki bulan keempat dan dia bahagia meski menjalaninya seorang diri. Janin yang berada di dalam kandungannya adalah sebuah anugerah. Anugerah terindah yang dia miliki setelah kehadiran Bumi. Belum ada satu pun orang yang menyadari tentang kehamilannya. Hanya dirinya yang tahu dan dia belum berminat untuk memberitahukan kepada orang lain.



Meski ada beberapa hal yang membuatnya tidak nyaman karena rasa mualnya yang sering muncul saat dia mencium bau-bau yang menyengat tapi Bulan mencoba untuk tidak mengeluh. Walaupun sering sekali di jam-jam istirahatnya, ketika Bulan mencium wangi masakan, dia harus berjalan cepat ke toilet sambil menutupkan mulutnya dengan sapu tangan.



Bulan tidak sadar, kalau selama ini ada orang yang selalu memperhatikannya. Ya, Ervin, supervisor di kantornya. Pria itu beberapa kali melihat Bulan lari tergesa ke toilet karena menahan mual. Dari kemarin dia ingin menanyakan kondisi Bulan, tapi belum memiliki waktu yang tepat.



“Bulan bisa ke ruangan saya?” panggil Ervin.



Sebelum menjawab, Bulan mengambil air mineral dan meneguknya. “Iya, Pak.”



“Silakan duduk,” ucap Ervin saat Bulan masuk ke dalam ruangannya. Matanya melihat wajah Bulan yang pucat. “Kamu lagi sakit?”



Bulan memainkan ujung bajunya dengan gelisah. Kenapa di antara semua karyawan West Chicken, harus Ervin yang peka terhadap kondisinya?



Bulan tahu, cepat atau lambat, perutnya pasti akan membesar. Dan pada saat itu tiba, apa yang harus dia katakan? Sementara semua orang tahu dia adalah seorang perempuan single. Bulan memang sengaja menutupi kehidupan masa lalunya. Tapi apa sekarang dia harus berkata jujur?



“Saya cuma masuk angin aja, Pak,” kilahnya.




“Terima kasih, Pak.” Bulan tetap pada pendiriannya, belum saatnya dia memberitahukan kepada orang lain tentang kehamilannya.



***



Tepat pukul empat sore, Bulan sudah sampai di rumah Reza. Dia sengaja meminta masuk di shift pagi, agar setiap sore bisa berkunjung menemui Bumi.



“Nda.…” Bumi berlari dari sepedanya. Anak itu mencium tangan Bulan. “Nda, bawa apa?” tanyanya saat melihat kantong yang dibawa Bulan.



“Bunda bawa ayam goreng. Bumi mau?”



“Mauuuuu. ”



“Mau mam sekarang apa nanti?”



“Sekarang aja. Bumi laper,” katanya sambil memegang perutnya.



Bulan yang gemas melihat tingkah anaknya, mencubit pipi tembam Bumi. Membuat Bumi tertawa bersamanya.



“Mbok Mirna, mana?”



“Ada, tuh, di belakang.”



Tanpa canggung Bulan segera menyiapkan makan untuk Bumi di dapur. Dia menyendokkan nasi dan juga sepotong ayam yang tadi dibawanya dan Bumi menunggunya di ruang TV.



“Nda, kok setiap pagi Nda nggak ada?”



“Bunda, kan, kerja,” jawab Bulan sambil menyuapkan nasi dan ayam ke mulut Bumi.



Bumi mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti tapi ternyata dia belum puas dengan jawaban yang diberikan Bulan.



“Nda, nggak usah kerja. Kan, Bumi sendirian,” sambungnya lagi.



Bulan tertawa mendengar Bumi yang berbicara dengan mulut penuh makanan.



“Tapi, kan, setiap malam Bunda selalu temenin. Bacain buku dongeng juga.”



“Iya sih tapi, kan, enakan ada, Nda, tiap hari.”



Dari ujung matanya, setetes air bening itu jatuh membasahi pipinya. Tapi Bulan menutupi dengan senyum dan segera menghapusnya. Dia tidak mencoba untuk membalas ucapan Bumi lagi, karena dia tidak ingin menambah kebohongannya pada Bumi.



Bulan terus menyuapi Bumi sambil bercanda sesekali. Membuat Bumi lupa akan permintaannya adalah cara terampuh yang bisa dia lakukan. Karena pada akhirnya permintaan itu hanya akan berakhir sia-sia.



“Kenyang,” ucap Bumi saat Bulan ingin menyuapi nasi lagi.



“Bumi tunggu di sini ya. Bunda ambil minum.”



Mbok Mirna yang sedang mencuci piring, tersenyum hangat melihat wajah Bulan yang sudah lebih segar. Tapi seketika pandangannya terlihat bertanya-tanya saat melihat perut Bulan, walapun Bulan sudah memakai blus yang longgar.



“Non Bulan lagi hamil?” tanyanya hati-hati.



Ingin Bulan berbohong. Tapi perempuan tua itu lebih berpengalaman. Dulu pun, saat dia hamil Bumi. Mbok Mirna orang pertama yang menyadari tentang kehamilannya.



Bulan mengangguk. Dia pasrah apabila setelah ini Mbok Mirna akan memandang sebelah mata padanya.



Mbok Mirna segera membasuh tangannya dan mendekati Bulan. Tanpa disangka perempuan tua itu justru memeluk tubuh Bulan yang ringkih. Diusapnya punggung Bulan. “Selamat ya, Non,” ucap Mbok Mirna dengan perasaan haru.



Bulan menggigit bibirnya. Dia berusaha menahan air matanya.



“Pak Reza tahu?”



Bulan segera menggeleng. “Jangan kasih tau dia, Mbok.”



Mbok Mirna mengangguk mengerti. “Jangan pisahkan seorang bayi dari kasih sayang ayahnya, Non. Pak Reza harus tahu kehamilan Non Bulan. Meski kalian sudah bercerai.”



Andai semudah itu … karena semua tidak sesederhana yang dipikirkan Mbok Mirna. Andai dulu dia bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan hubugan terlarang dengan Bintang. Tentu tidak akan susah untuk mencari tahu siapa ayah dari bayi yang ada di rahimnya.



“Semoga anak perempuan ya, Non. Pasti Pak Reza senang dan Mbok harap kalian berdua bisa rujuk lagi.”



Rentetan kata yang berisi doa dari mulut Mbok Mirna seperti timah panas yang baru saja ditembakkan tepat ke jantung Bulan. Sekali pun dia tidak akan pernah menjadikan bayi yang tengah dikandungnya sebagai alat agar dia bisa kembali rujuk pada Reza walaupun hal itu bisa dia lakukan.



Bayi yang ada dikandungannya adalah miliknya seorang.



***



Gerimis menyambut Reza saat dia memasuki pelataran kompleks perumahannya. Dalam cahaya lampu yang remang, Reza melihat seorang perempuan yang berjalan tanpa menggunakan payung. Sepintas dia seperti mengenali perempuan itu. Nama Bulan-lah, yang pertama kali muncul di kepalanya.



Tapi mana mungkin itu Bulan? Reza melirik jam tangannya sudah jam setengah sepuluh malam. Reza tertawa sendiri, bahkan matanya kini sudah terhipnotis tentang Bulan, sampai-sampai perempuan yang tadi dianggapnya sebagai Bulan.



Reza membuka pagar dan segera memasuki mobilnya. Mbok Mirna pasti sudah tidur, dia segera mengeluarkan kunci cadangan. Tapi ternyata pikirannya salah, Mbok Mirna membukakan pintu untuknya.



“Mau dibuatkan teh hangat atau kopi, Pak?”



Hari ini dia sudah banyak minum bercangkir-cangkir kopi. “Air putih saja, Mbok.” Sambil melepaskan sepatunya, Reza menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam sesaat, sampai Mbok Mirna datang kembali dengan segelas air putih hangat.



“Bulan tadi ke sini, Mbok?”



Mbok Mirna mengangguk sambil tersenyum. Mata tuanya tahu, kalau di antara kedua majikannya itu masih menyimpan cinta. Reza yang terlihat tegar tapi sorot matanya masih memancarkan kerinduan saat mengucapkan nama Bulan. Sementara Bulan, perempuan itu hanya belum menyadari tentang perasaannya pada Reza. “Hampir tiap hari, Non Bulan ke sini.”



“Hari ini datang jam berapa?”



Mbok Mirna sudah berjanji untuk tidak memberitahukan kalau setiap malam, Bulan selalu menemani Bumi sampai anak itu tertidur. “Tadi siang, Pak,” jawabnya bohong.



Reza mengernyitkan keningnya. Siang? Tapi kenapa wangi Bulan masih memenuhi ruang tamunya. Wangi vanila yang sangat dia kenal. Dan sekarang hanya dengan mencium wangi itu membuat pikirannya tenang. Sekaligus merindukan Bulan ada di sampingnya.