
Kenapa air matanya justru jatuh saat logikanya menyuruh untuk diam?
Sikap Reza yang berubah membuat Bulan bertanya-tanya sendiri tapi dia tidak berani untuk mengungkapkannya. Apalagi sebelum kejadian kemarin, hubungan mereka sudah baik-baik saja.
Meski Reza berubah tapi tidak menyurutkan niat Bulan untuk datang mengunjungi Bumi pada akhir pekan ini. Dia berusaha mengesampingkan segala perasaan yang mengusiknya. Bumi-lah yang menjadi tujuan dari kedatangannya—kalaupun Reza bersikap tak acuh padanya, dia tidak akan memedulikannya.
“Non Bulan….” Mbok Mirna terlihat kaget melihat kedatangan Bulan.
“Pada ke mana, Mbok? Kok sepi?”
“Hmm… Pak Reza lagi berenang sama Bumi dan Randi.”
“Randi?”
“Siapa, Mbok?” sebuah suara perempuan terdengar oleh Bulan.
“Masuk dulu, Non.” Mbok Mirna menarik pergelangan tangan Bulan. “Ada Mbak Friska di dalam, dia lagi masak.”
“Baru dateng, Mbak…?” Friska menghampiri Bulan. “Apa kabar?”
Bulan tersenyum jengah. “Baik,” jawabnya singkat.
“Aku mau masak rawon nih, Mbak. Bantuin dong, hehe,
katanya Pak Reza lagi pengen makan rawon.”
Bulan mengikuti Friska menuju dapur. Sekilas, Bulan mencuri pandang melihat Friska—gadis muda yang cantik, itulah kesan pertama dari perkenalan mereka. Mungkinkah Reza tengah jatuh hati pada perempuan ini?
“Ini bumbunya, Mbak. Udah bener semua belum?”
Bulan melihat satu per satu bumbu yang sudah disiapkan Friska, “Kurang kemiri.…”
“Kemiri tuh yang mana?” tanya Friska. “Aku tuh jarang masak jadi nggak hafal sama bumbu-bumbu.”
Bulan mengambil botol dan mengeluarkan tiga biji kemiri. “Semua bumbu dihaluskan, baru setelah itu di tumis.”
“Bantuin dong, Mbak. Aku takut nanti rasanya nggak enak,” kata Friska sambil tersenyum.
“Kalau aku bantuin, nanti nggak spesial dong…” sindir Bulan.
Friska tersentil tapi dia tidak mau melanjutkan perasaan sentimentilnya. Bulan berhak merasa tersaingi karena kehadirannya. Bagaimana pun, Bulan-lah yang lebih dulu datang di kehidupan Reza.
***
Saat Reza tiba di rumahnya bersama Bumi dan Randi, masih ada Friska yang masih sibuk di dapurnya. Bertahun-tahun, hanya Bulan yang selalu betah dia pandangi saat perempuan itu tengah memasak dan ada yang janggal ketika perempuan itu bukan Bulan.
“Udah pulang, Pak? Mana Bumi dan Randi?”
“Mereka masih di depan, lagi main bola.” Reza mendekati Friska, ingin tahu hasil masakan Friska. “Kayaknya enak, nih….”
Friska tersenyum semringah. Sebuah ide muncul dalam pikirannya yang terjahat. Sebuah percobaan yang mungkin nanti akan melukai orang lain dan mungkin juga dirinya sendiri. Friska memantapkan hatinya, dilenyapkannya segala perasaan malu dan sungkan.
“Kurang asin sedikit,” kata Reza setelah dia mencicipi kuah rawon.
Friska mengambil sendok garam dan menambahkannya sesendok ke dalam panci. Sementara Reza membelakanginya, sedang membuka cabinet.
“Saya boleh jujur nggak, Pak?”
“Jujur apaan, Fris?” tanya Reza tanpa menoleh pada Friska.
“Bapak percaya nggak, kalau saya bilang… kayaknya saya jatuh cinta sama Pak Reza.”
“Kayaknya, kan? Berarti belum sepenuhnya jatuh cinta.” Reza sudah berhasil mengambil plastik yang berisi kopi kesukaannya.
“Saya serius.” Friska menatap lekat wajah Reza. “Awalnya saya kira cuma kagum aja, ternyata… lebih dari itu. Saya suka sama, Bapak.”
Ditatapnya wajah Friska yang menunggu jawaban darinya, andai saja yang berkata seperti itu adalah Bulan. Dengan senang hati, dia akan menjawab iya dan segera merengkuh Bulan ke dalam pelukannya. Tapi yang ada di hadapannya adalah Friska, seorang perempuan yang tak lebih dia anggap sebagai adik. “Maaf, Friska, tapi saya tidak memiliki perasaan apa-apa untuk kamu.”
Tanpa disangka, Friska malah memeluk Reza.
Wajah Reza menegang, ketika tangan Friska melingkar di pinggangnya.
Gadis itu menatap mata Reza yang datar. Tapi Reza sama sekali tidak terpancing atas aksi Friska. Sampai akhirnya jemari Friska menyentuh rahang Reza yang ditumbuhi rambut halus. Friska menarik napasnya, mengumpulkan keberanian yang dia miliki untuk melanjutkan rencananya.
“Tolong beri aku kesempatan,” Friska berbisik.
Reza memejamkan matanya lima detik. Kesempatan apa yang dia bisa berikan pada Friska? Tidak ada ruang yang mungkin terisi olehnya. Dia berusaha untuk menghentikan Friska.
Friska sama sekali tidak memberikan jeda pada momen yang begitu langka dia dapatkan. Dia mencium Reza dengan berani, tanpa rasa malu. Dia berjanji, dia akan membuat Reza membalasnya.
Sementara Bulan yang sudah bosan menunggu kedatangan Bumi di halaman belakang, memutuskan untuk mengambil ponselnya di ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti… lututnya terasa lemas, ketika dia melihat Reza yang tengah berpelukan mesra dengan Friska.
Saat menyadari Bulan melihatnya, Reza memicingkan matanya, memastikan bahwa perempuan yang tengah menahan air matanya itu adalah Bulan. Dipandanginya wajah Bulan yang tak percaya menatapnya, lalu Reza menarik pinggang Friska agar merapat pada tubuhnya. Reza membalas tiap kecupan yang tadi diberikan Friska dengan menggebu, seolah dia baru saja menemukan oase di padang pasir.
Bulan tetap berdiri melihat Friska dan Reza. Bukankah semakin sering kita merasakan sebuah rasa sakit, maka lama-kelamaan rasa sakit itu akan tidak terasa? Tapi kenapa ini berbeda…? Bulan tersenyum tapi sebelum berbalik pergi dia mengucapkan sebuah kata, “Maaf.”
***
Tubuh Bulan bergetar hebat saat kakinya berhenti melangkah. Dadanya bergemuruh, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang salah yang kini tengah terjadi padanya. Bulan menggeleng kencang, dia berusaha menghalau perasaan asing yang sejak tadi berlarian di hatinya. Dia tidak mungkin cemburu. Karena selama ini pun dia tidak memiliki rasa untuk Reza.
Tapi kenapa hatinya terasa sakit?
Kenapa jiwanya terasa membeku?
Dan kenapa air matanya justru jatuh saat logikanya menyuruh untuk diam?
Segala sesuatunya telah terlambat. Sangat terlambat, karena seorang pecundang seperti dirinya, tidak pantas merasakan perasaan cinta seperti ini lagi.
Ini bukan cinta. Bulan berusaha menentang kata hatinya. Ini hanya perasaan kaget, hanya itu. Lalu dia menangis. Menyesali kebodohannya yang telah berharap, bahwa Reza bisa kembali lagi padanya.
“Maafkan Bunda, ya, Sayang,” ucapnya sambil mengelus perutnya karena merasa tidak bisa mengontrol emosinya.
***
“Pulanglah…,” kata Reza sesaat setelah dia menyudahi ciumannya. Tidak ada Reza yang tadi terlihat terbakar oleh api gairah.
Friska menggeleng dan tersenyum. “Setelah ciuman tadi, apa kamu masih berpikir tidak ada apa-apa di antara kita?”
Ada jeda saat Friska meluncurkan kata-katanya yang menyiratkan harapan juga kepastian.
“Maaf. Saya cuma memanfaatkan kamu. Jadi jangan berpikir macam-macam.” Tidak ada yang lain, hanya itulah alasan yang Reza miliki. Untuk pertama kalinya, dia melakukan suatu hal di luar akal sehatnya. Terdengar lucu memang, dia ingin menyakiti Bulan. Dia ingin, Bulan merasakan apa yang dia rasakan. Tapi justru sekarang dia merasa bersalah pada Bulan dan juga pada Friska. “Maaf,” ulangnya lagi, saat dia melihat ekspresi tak percaya di wajah Friska.
Friska menggigit bibirnya. Kecewa karena rencananya telah gagal, Reza masih menyimpan begitu banyak cinta untuk Bulan. Friska bisa menerima alasan apa saja tentang ciuman mereka. Tapi bukan alasan seperti yang tadi Reza kemukakan. “Kamu masih mencintai mantan istri kamu?”
Reza tertawa, merasa lucu, ketika dia masih saja harus mendengar pertanyaan itu dari mulut Friska. “Apa
pentingnya untuk kamu tahu?”
“Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu justru menyakitinya?”
“Friska, sudah saya bilang berapa kali. Cinta itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Seperti saya dan Bulan, kami memang sudah tidak bersama, tapi. ” Reza menghela
napasnya. “Masih banyak yang belum selesai di antara kami.”
“Kalau kalian saling mencintai, kenapa bercerai?”
“Dia tidak pernah mencintai saya.”
Friska menatap mata Reza yang berubah sendu dan menertawainya. “Jadi kamu memilih menyakitinya, dibandingkan harus mengejarnya kembali?”
“Sekali lagi, itu bukan urusan kamu.”
Friska yang sejak tadi masih menahan emosinya, kini sudah tidak bisa membendungnya lagi. Dia benci dengan kemunafikan. Baginya, Reza dan Bulan tidak ada bedanya dengan kedua orangtuanya yang juga bercerai. “Lupakan dia atau kamu bisa mengejarnya kembali… kamu masih punya masa depan. Sama juga seperti dirinya dan kalian berdua pantas bahagia untuk bersama atau dengan orang lain yang baru.”
“Saya tahu yang terbaik untuk diri saya,” balas Reza dingin. Friska sudah terlalu jauh masuk ke dalam zona kehidupannya.
Friska menarik lengan Reza, saat pria itu ingin meninggalkannya lagi. “Kalau dengan cara menjadi tameng, bisa membuat kamu lepas dari perasaan masa lalu kamu. Aku siap untuk itu.”
“Kenapa kamu melakukan ini?”
“Karena aku sungguh-sungguh mencintai kamu.”
Reza menertawai pengakuan Friska… cinta? Apa masih bisa dia percaya dengan kata cinta?