
"Tahu apa kamu tentang arti cinta?"
Reza datang terlambat hari ini, wajahnya yang kurang tidur tercetak jelas. Kantung matanya membentuk lingkaran warna hitam. Bayangan Bulan terus memenuhi pikirannya. Dan pada kenyataannya, setiap hari yang dilalui tanpa Bulan tidak juga membuatnya bisa melupakan mantan istrinya itu. Berulang kali, hatinya menyuruh untuk menghubungi Bulan, untuk sekadar berbicara tentang perkembangan Bumi. Tapi logikanya masih menahan semua keinginannya itu. Karena pada akhirnya, semua harapan yang Reza miliki hanya akan memberikan sebuah mimpi semu yang menyakitkan. Dan saat dirinya masih berkelana di labirin yang dia ciptakan. Sebuah suara mengembalikannya ke dunia nyata.
“Pak, hari ini saya mau izin setengah hari, kebetulan ada berkas kelengkapan beasiswa saya yang harus saya kumpulkan.”
“Oya, silakan, Fris, kalau memang ada pekerjaan kamu yang belum selesai, kamu bisa titip ke Andara biar dia yang menyelesaikan.”
“Semua pekerjaan saya sudah selesai kok, Pak.” Friska menyerahkan sebuah file pada Reza.
“Oh oke. Terima kasih.”
Lalu Friska menyodorkan sebuah kantong plastik berlogo Cheese Cake Factory, “titip buat Bumi, ya, Pak…”
“Dalam rangka apa nih?”
“Ini titipan dari Randi, kemarin Randi mau nengokin Bumi tapi mamanya lagi sakit jadi nggak bisa dateng ke rumah sakit.”
“Nanti saya sampaikan ke Bumi. Salam untuk Randi.
Terima kasih ya.”
***
Bulan sudah mengganti pakaiannya dengan baju biasa. Hari ini pekerjaannya sudah selesai dan seperti biasa dia akan menjenguk Bumi lebih dulu sebelum pulang ke kontrakannya.
Bersama karyawan West Chicken yang lain, Bulan keluar dari pintu dapur dan berjalan melewati parkiran. Teman-temannya sudah berjalan lebih dulu dan meninggalkan Bulan yang berjalan santai.
Gerak Bulan tidak selincah dulu lagi, pengalamannya ketika dia dulu hamil Bumi menjadi bekal yang sangat berguna baginya. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak kelelahan. Karena itu akan berdampak buruk bagi janinnya.
Saat melewati mobil-mobil yang di parkir. Bulan berhenti tiba-tiba, dia menggigit bibirnya, matanya menyipit, mencoba mengenali sesosok laki-laki meski orang tersebut hanya tampak dari belakang. Dengan mudahnya, dia bisa mengenali sosok laki-laki tinggi dengan kemeja flanel bewarna abu-abu.
Meski pria itu tidak melihatnya, ada rasa ketakutan yang menyeruak dalam hatinya.
Untuk apa Bintang ada di sini?
Bulan segera mempercepat langkahnya, ketika Bintang sudah melangkah jauh dari mobilnya. Semoga Bintang tidak melihatnya. Tapi ternyata semesta tidak berpihak padanya. Bintang berbalik sambil merogoh kantong celana jeansnya lalu mengambil kunci mobilnya—seperti ada yang tertinggal di mobilnya.
Bulan menelan ludahnya, jarak di antara mereka hanya sekitar sepuluh meter dan Bulan tidak bisa berpaling. Satu hal yang dia yakini, dia harus menghadapi Bintang cepat atau lambat.
Di bawah terik matahari yang menyilaukan matanya, Bintang berusaha mengenali perempuan yang tengah berdiri memandangnya dengan ketakutan. Bulan kah itu? Mengapa Bulan terlihat kurus dari pertemuan terakhir mereka.
“Bulan?” Bintang segera menghampiri Bulan. “Kamu sudah mau pulang?” tanya lelaki itu.
“Mau apa kamu ke sini?” Bulan balik bertanya dengan kewaspadaan.
Bintang meraih tangan Bulan, tapi Bulan menolaknya dengan tegas. “Aku mau ketemu kamu.”
Mata Bulan memancarkan marah dan kecewa saat itu juga. Kenapa Bintang harus datang kembali? “Aku nggak mau ketemu kamu.”
“Tapi … masih banyak yang harus kita selesaikan. Tolong beri aku kesempatan.”
“Semuanya sudah berakhir, Bi. Apalagi yang harus diselesaikan?”
“Tolong ikut aku? Sebentar aja.”
“Dulu pun kamu selalu memintaku seperti itu dan akhirnya aku kehilangan segalanya.”
“Kamu menyesal pernah mencintaiku?” suara Bintang terdengar kecewa, saat melontarkan pertanyaan itu pada Bulan.
Bulan memejamkan matanya. Pernahkah dia menyesal? Tapi kesakitan yang kini dia rasakan adalah akibat dari cinta terlarang yang dulu mereka jalani.
“Tahu apa kamu tentang arti cinta?” tantang Bulan.
Bintang bergeming. Menatap Bulan secara keseluruhan.
Ke mana Bulan yang dulu pernah dia cintai dan mencintainya?
“Kita hanyalah dua orang egois yang terjebak romantisme masa lalu yang belum selesai. Dan itu bukan cinta.”
“Jangan berbicara cinta di depanku. Aku yang lebih tahu rasanya mencintai. Aku yang tersiksa melihat kamu harus bersama orang lain. Apa kamu pernah memikirkan hal itu?” Bintang tak mampu membendung emosinya.
“Kamu egois, Bi. Tolong jangan ganggu hidupku lagi. Kehadiran kamu hanya membuat diriku semakin bersalah.”
“Jadi kamu menyesal pernah mencintaiku?”
Setitik air mata Bulan meleleh di pipinya. “Aku menyesal atas kehadiranmu di hidupku.” Sambil mengusap air matanya, Bulan meninggalkan Bintang bergitu saja.
Bintang menatap kepergian Bulan. Dadanya bergemuruh. Hatinya diliputi berbagai pertanyaan. Ke mana Bulan yang dulu pernah mengatakan mencintainya?
Tapi Bintang berjanji, dia tidak akan semudah itu menyerah. Dia pastikan, Bulan akan kembali ke dalam pelukannya.
***
Pertemuannya dengan Bintang membuat semua luka yang dirasakan Bulan mencuat kembali ke permukaan hati dan pikirannya. Bayang-bayang akan setiap kesedihan yang dia alami pun kembali menyeruak bagaikan tamu tak di undang.
Di sudut kamarnya, Bulan menangis tersedu. Pantaskah kini dia merasakan bahagia setelah semua luka yang dia ukir? Dan hatinya yang jujur mengatakan, jika bahagia yang tersisa untuknya, hanyalah bersama Bumi.
Bukan Bintang, pria dari masa lalunya yang tiba-tiba muncul dan menghancurkan segalanya.
Kehadiran Bintang memang sempat menyadarkan perasaan Bulan yang hampa terhadap Reza, tapi di akhir, segalanya berbeda. Bintang jugalah yang membuat Bulan mengerti bahwa kehilangan Reza juga menyakitkan.
Meski kesempatannya untuk bersama Bintang terbuka lebar, tidak pernah sedikit pun, dia ingin merajut kisahnya lagi bersama laki-laki itu. Cukup baginya merasakan hina dan hancur berkeping-keping, saat setiap orang yang dia kenal memandangnya penuh dengan cibiran.
***
“Di luar hujan, Non.”
Bulan membuka gorden dan mengintip dari balik jendela. Benar kata Mbok Mirna, di luar sedang hujan.
“Non Bulan tidur dulu aja, nanti kalau sudah reda, saya bangunin.”
Bulan melihat jam dinding. Sudah jam delapan, dia tidak enak kalau harus bertemu dengan Reza.
“Aku pulang aja, Mbok. Aku bawa payung, kok.”
“Non Bulan takut ketemu, Bapak, ya?” Tanpa menunggu jawaban dari Bulan. Mbok Mirna tahu apa yang ada dipikiran perempuan itu. “Tenang aja, Non, Pak Reza kalau pulang, kan, jam sembilan atau jam sepuluh. Kalau Bapak pulang lebih awal, Non bisa keluar lewat pintu belakang.”
Wajah Bulan masih terlihat ragu dengan ide cemerlang yang dikatakan Mbok Mirna. Bukannya apa-apa, tiap kali bertemu dengan Reza pasti ada saja perdebatan yang muncul di antara mereka.
“Non, kan, lagi hamil. Jangan pikirin diri sendiri. Kalau nanti basah terus masuk angin, kan, malah jadi penyakit.” Mbok Mirna mengambil tas yang ada di tangan Bulan. “Tidur dulu aja sama Bumi, nanti Mbok bangunkan.”
Ucapan Mbok Mirna tentang kehamilannya memang ada benarnya. Dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan janinnya. “Nanti kasih tahu aku kalau Mas Reza pulang ya, Mbok.”
Mbok Mirna mengangguk dan keluar dari kamar Bumi.
***
Bulan terduduk di pinggir ranjang. Melihat wajah anaknya yang terlelap, wajah polos inilah yang menjadi sumber kebahagiaannya. Bumi, Bulan masih ingat ketika dulu dia memberitahukan pada Reza tentang kehamilannya. Lelaki itu memeluknya dan menciumnya penuh kasih sayang. Ucapan rasa terima kasih penuh kebahagiaan pun terus terucap dari bibir Reza.
Selama 39 minggu kehamilannya, Reza selalu memenuhi kebutuhannya. Menjadikan Bulan satu-satunya perempuan paling beruntung.
Reza yang tidak pernah absen mengantarnya untuk kontrol kehamilannya.
Reza yang selalu ada di sisinya saat dia menghadapi
morning sickness.
Dan masih banyak lagi tentang kebaikan Reza, yang selama mereka hidup bersama seolah tak ada bekasnya di hati Bulan. Dulu hati Bulan begitu tertutup untuk menyadari kebaikan Reza. Tapi sekarang segala sesuatunya berbeda. Meski Bulan mencoba menghindari, tapi dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Dalam hatinya berharap, mungkinkah masa-masa itu terulang lagi?
***
Reza membuka pintu rumahnya yang tampak sepi. Tidak ada Mbok Mirna yang menyambutnya untuk menawarkan membuatkan minuman untuknya. Sepertinya Mbok Mirna sudah tertidur, pikir Reza. Diliriknya jam dinding, pantas saja, jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas.
Kepalanya terasa pusing akibat terkena rintik hujan ketika berjalan ke parkiran mobilnya. Tapi sebelum dia membersihkan tubuhnya, dia ingin melihat Bumi lebih dulu. Meski anak itu sudah terlelap, Reza hanya ingin memastikan kalau Bumi baik-baik saja.
Hanya lampu tidur yang menyinari kamar Bumi, tapi jelas Reza tidak salah lihat. Ada Bulan yang ikut berbaring bersama Bumi.
Kenapa ada Bulan di sini? Separuh hatinya senang melihat Bulan, tapi sisanya adalah perasaan hampa. Pernahkah dulu Bulan memikirkan hal ini ketika dulu dia berselingkuh dengan laki-laki itu? Bahkan Reza malas untuk menyebut nama Bintang. Reza menutup kembali pintu kamar Bumi. Lebih baik dia membersihkan dirinya dulu, baru berbicara dengan Bulan.
***
Di depan pintu kamar Bumi, Reza menghela napasnya. Ini bukan masalah tega atau tidak tega, tapi masalahnya adalah Bulan sudah melanggar kesepakatan yang mereka buat. Pelan-pelan Reza membuka pintu kamar Bumi. Baru setengah jam lalu dia memastikan bahwa memang Bulan yang tengah terlelap sambil memeluk Bumi dan sekarang perempuan itu sudah menghilang.
Secepat itu? Ke mana perginya? Ini sudah hampir tengah malam dan hujan. Reza segera menuju pintu depan sambil mengambil kunci mobilnya. Pasti Bulan belum jauh.
Tapi langkahnya terhenti ketika sebuah suara terdengar dari pintu belakang rumahnya. Hal itu kontan membuat Reza mengernyit. Reza segera menuju sumber suara itu. Ada Mbok Mirna yang terlihat panik.
“Di mana Bulan, Mbok?”
“Hmm, nggak ada, Pak. Saya habis buang sampah.”
“Tengah malam begini? Jangan bohong.”
Mbok Mirna tidak sanggup lagi untuk menutupi tentang Bulan. “Non Bulan baru aja pulang. Pak Reza susul Non Bulan ya, saya udah suruh dia nginep tapi dia takut sama Bapak.”
Sebelum mengejar Bulan, ada rasa penasaran yang menggelitiknya. “Tiap malam Bulan selalu menemani Bumi tidur?” tanyanya.
Mbok Mirna mengangguk.
Reza membuka pintu, tanpa payung dia menerobos rintik hujan.
Demi mencari Sinar Rembulan yang redup. Itulah yang dia lakukan sekarang tanpa memedulikan rintik hujan yang membasahi bajunya.
“Ikut aku pulang!” ucap Reza saat dia sudah menemukan Bulan yang ternyata belum jauh dari rumahnya.
Reza menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangannya, berusaha meminimalisir rintik hujan yang jatuh agar tidak membasahi kepalanya.
Bulan tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “Maaf, Mas. Aku udah melanggar perjanjian kita.”
“Iya kamu salah. Tapi lebih salah lagi, kalau kamu pulang tengah malam begini.”
“Kamu pasti nggak mau aku anter pulang, kan? Jadi pilihannya cuma dua, ikut aku pulang atau kamu nggak aku izinin untuk ketemu Bumi lagi.”
Tanpa menunggu Bulan menjawab, Reza berbalik meninggalkan Bulan. Dia cukup tahu, Bulan akan mengalahkan gengsinya jika itu menyangkut Bumi. Sama seperti dirinya yang dulu selalu kalah dari Bulan. Tapi kali ini dia tidak biarkan Bulan menang darinya.
Reza tersenyum ketika langkah Bulan terdengar berjalan di belakangnya. Dia memperlambat langkahnya, menunggu Bulan agar langkah mereka sejajar. Rintik air hujan itu semakin membesar. Bulan dengan payungnya mendekatkan dirinya pada Reza.
“Berbagi payung?” goda Reza.
“Kalau kamu nggak mau, ya udah,” sahut Bulan.
“Tapi kalau satu payung buat kita berdua, nanti kamu basah.” Reza menunjuk lengan kanan Bulan yang tidak tertutupi payung. “Tapi ada cara lain biar kamu nggak basah.” Reza merangkul bahu Bulan, mendekapnya erat lalu megambil gagang payung dari tangan Bulan. “Nah kalau begini, kamu aman.”
Di bawah rintik hujan sebuah lagu tentang suara hati mereka mengalun indah. Ingin Bulan menolak tindakan Reza, tapi pelukan yang diberikan Reza begitu hangat dan nyaman.
Bulan merindukan Reza. Dan itulah kata hatinya.