
Adakah yang lebih menyakitkan dari cinta tidak terbalas?
“Aku cinta sama kamu, Bi. Jangan tinggalin aku lagi.”
“Aku akan selalu ada di samping kamu, dengan apa pun kondisimu, Sayang.”
“Termasuk dengan posisiku sebagai seorang ibu dan juga istri dari laki-laki lain?”
“Asalkan kamu mau bersamaku, aku siap menerima segalanya.”
Bulan terbangun dengan perasaan berkecamuk. Ini bukan pertama kali dia mimpi buruk. Kilasan-kilasan tentang hubungannya dengan Bintang yang pernah dia lewati, selalu muncul sehingga meninggalkan luka yang dalam. Dan masih membuat dirinya merasa terpojok.
Entah kapan perasaan bersalah ini akan berakhir?
Bulan mencoba memejamkan matanya kembali. Hatinya semakin terasa gelisah saat dia kembali mengingat pertemuannya dengan Reza siang tadi.
Entah siapa perempuan yang tadi datang ke counter West Chicken bersama Reza. Keduanya, terlihat akrab dan dekat. Mungkin sebentar lagi, posisinya sebagai Ibu Bumi akan segera tergeser. Reza berhak bahagia atas hidupnya. Tapi kenapa membayangkan hal tersebut memberikan gelenyar aneh di hatinya.
Mungkinkah hatinya baru tersentuh dengan segala kebaikan yang pernah diberikan Reza padanya?
***
Secangkir kopi hangat dengan aroma yang sangat khas membuat Reza mendongakkan kepalanya.
“Coffee break,” Friska membawakan secangkir kopi dan satu potong cake beraroma lemon dan keju.
Beberapa orang yang ada di sana melihat ke meja Reza dan berdehem meledek. “Yang di sini juga mau, dong,” ledek Andi.
“Nanti nyusul ya, Mas. Yang ini spesial buat Pak Reza sebagai ganti Black Forest yang kemarin,” sahut Friska sambil memberi senyum pada rekannya.
“Sejak kapan ada rutinitas coffee break di kantor ini?” tanya Reza tanpa senyum.
Friska sama sekali tidak terintimidasi dengan sikap Reza yang menjaga wibawanya. “Emang nggak ada sih, Pak. Ya, kayak yang tadi saya bilang … Lemon Chesse Cake ini sebagai ganti Black Forest yang kemarin.”
Barulah Reza tertawa, “Nggak usah repot-repot seperti ini, Friska.”
“Saya nggak enak, Pak. Jadi ini sebagai gantinya … selamat ulang tahun,” kata Friska sambil menaruh piring kue dan secangkir kopi.
“Terima kasih…” akhirnya Reza menarik piring berisi Lemon Cheese Cake itu dan menyendokkannya. “Enak … kamu bikin sendiri?”
“Iya, Pak, saya bikin sendiri di Cheese Cake Factory,” jawab Friska sambil terkekeh. “Mama saya bisa bikin acara syukuran tujuh hari tujuh malam, kalau tahu saya turun ke dapur.”
Reza menatap Friska … gadis di hadapannya ini begitu berbeda dengan Bulan. Dan, apa pentingnya membandingkan Bulan dengan Friska?
***
Kebiasaan Reza belum berubah, dia langsung melihat Bumi lebih dulu ke kamar sebelum membersihkan dirinya. Bumi terlelap pulas … diciumnya kening Bumi. Maafin, Ayah.
Raut lelah Reza berganti gusar. Ketika Mbok Mirna menceritakan bahwa Bulan datang lagi ke rumahnya? Tidak ada pesan atau panggilan terjawab dari Bulan… rupanya Bulan sudah melanggar perjanjian dari kesepakatan mereka.
“Ada titipan dari Non Bulan untuk Bapak,” tunjuk Mbok Mirna ke arah meja makan. “Mau saya panaskan dulu nggak, Pak?”
“Apa?” Reza segara beranjak dari sofa yang dia duduki.
Dalam sepersekian detik, hati Reza seperti berada di roller coaster yang sedang berpacu dengan ketinggian. Di atas meja makan, tersaji semangkuk rawon, makanan kesukaannya. Dan secarik kertas yang Reza tahu, itu adalah tulisan tangan Bulan:
Selamat ulang tahun, Mas. Terima kasih telah menjadi Ayah yang baik untuk Bumi.
Sepenggal kalimat di kertas itu bukanlah kalimat yang lengkap. Karena dia selalu hafal kalimat yang diucapkan Bulan pada saat ulang tahunnya. Setelah kalimat yang tertulis di kertas kecil yang kini dipegangnya, seharusnya… “… Dan untuk selalu menjadi suami yang luar biasa penuh cinta, untuk keluarga kecil kita…,” ucap Reza lirih dalam hatinya. Dan sepertinya kalimat itu tidak akan pernah terucap lagi dari bibir Bulan.
***
“… Dan untuk selalu menjadi suami yang luar biasa penuh cinta, untuk keluarga kecil kita. ”
Kalimat itu masih menggema dalam pikiran Reza. “Suami yang penuh cinta?” Benarkah selama ini dia telah menjadi suami yang baik untuk keluarga kecil yang dulu pernah dimilikinya?
Sebuah kesadaran baru memenuhi hatinya yang terasa kosong. Selama ini dia selalu memandang dari sisi Bulan yang salah. Salah karena telah mempermainkan kepercayaan yang dia berikan. Tapi kini, suara-suara dalam hatinya makin tegas menggertak pikiran serta alam sadarnya.
Dia-lah yang selama ini egois. Dia-lah yang selama ini, seolah tidak melihat yang terjadi sebenarnya. Sejak awal, segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan Bulan selalu bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan.
Dan yang dia lakukan adalah selalu berharap. Berharap bahwa dengan perlahan Bulan akan mencintainya. Sedikit saja. Tapi nyatanya hal itu tidak menjadi kenyataan. Dan bodohnya, dia selalu memaksakan harapannya itu. Dan memupuknya, kalau besok dan besoknya lagi selalu ada kesempatan untuk mereka.
Satu hal yang harusnya dia sadari, Bulan memang tidak pernah mencintainya. Tapi lihat apa yang telah perempuan itu lakukan padanya?
Bulan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Bumi. Bulan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dirinya dan juga untuk anaknya, meski sekali lagi yang perlu dia ingat, perempuan itu melakukannya tanpa cinta.
Ya … tanpa sebuah cinta. Tapi tidak pernah sekali pun, Reza melihat Bulan yang mengeluh. Yang ada, Bulan malah selalu berusaha menjadi istri sekaligus ibu yang baik.
Dan, hanya karena satu kesalahan. Bulan harus menanggung segala beban yang demikian berat. Berpisah dengan Bumi, buah hati yang dia jaga meski kehadirannya mungkin tidak pernah diinginkan oleh Bulan.
Lagi-lagi cinta. Reza mengerang, benci dengan dirinya sendiri dan juga perasaan yang begitu kuat mengikatnya.
Sementara Bulan, perempuan itu telah berkorban dengan sepenuh hati untuk keluarga yang pernah mereka bina. Dan, Reza seolah buta dengan hal itu, hatinya terlalu marah untuk mengakui setiap kebaikan yang pernah Bulan berikan padanya.
Adakah yang lebih menyakitkan dari cinta tidak terbalas? tanya Reza dalam hatinya. Tapi sekarang apa yang dia lakukan? Hanya karena Bulan tidak mencintainya, kini dia membalasnya dengan cara yang sangat kejam.
Sampai kapan mereka akan terus menyakiti?