
Bulan tak lagi bercahaya.
Bahagianya sirna tidak tersisa.
“Assalamualaikum. ”
Tak lama seseorang membuka pintu rumahnya. Ada lelaki yang sudah berusia hampir 60-an menyambut Bulan dengan wajah suram. Toni, ayahnya yang selalu menyambutnya dengan hangat, kini menampakkan raut kecewa di wajah tuanya.
“Mau apa ke sini?”
“Aku aku mau pulang,” jawab Bulan terbata.
Toni terlihat menghela napas. Bulan, anak perempuan satu-satunya. Tak disangka akan membuat aib bagi keluarganya. “Bapak malu punya anak kaya kamu,” ucap Toni. “Bapak sama Ibu nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan murahan. Ibu mana yang rela memilih selingkuhannya daripada suami yang setia dan anaknya?”
Tas yang sedari tadi dipegang Bulan kini terlepas. Alasan tentang perceraiannya dengan Reza memang sudah tersebar, dia tidak peduli jika orang lain mencibirnya. Tapi ketika orangtuanya berkata seperti itu, tak ayal membuat rasa penyesalannya semakin menjadi.
“Renungkan kesalahan kamu dan kembalilah jika kamu sudah menyadarinya.” Toni segera menutup pintu rumah tanpa merasa iba sama sekali. Untung saja, Ningsih dengan tergesa lari dari dalam kamar, saat mendengar percakapan Bulan dan suaminya.
“Bulan… itu kamu, Nak?” panggil Ningsih. “Benar kamu dan Bintang selingkuh?”
Bulan menoleh, menatap ibunya sendu.
“Apa benar yang orang-orang katakan tentang kamu?” Ningsih memaksa keluar meski tangan Toni mencekalnya. “Ibu nggak percaya sama omongan orang.”
Dengan berat hati, Bulan membenarkan fakta yang dipertanyakan oleh ibunya. Dia tidak bisa mengelak. Dia memang selingkuh.
Ningsih langsung memeluk Bulan. “Kenapa, Nak? Kenapa kamu melakukannya?”
Bulan terisak, tapi dia tidak mampu berbicara untuk menjelaskannya. Baginya, kenangan bersama Bintang sudah harus dilenyapkan dalam memori dan juga hatinya.
“Bu… biarkan dia pergi.” Dengan kasar, Toni menarik lengan Ningsih dan membanting pintu rumah dengan kencang.
***
Sekelebat bayangan kedua orangtuanya hadir saat Bulan ingin memejamkan kedua matanya. Wajah Bapak dan Ibunya terlihat kecewa, ketika dia pulang setelah hasil perceraiannya diputuskan. Apa yang bisa membuat dirinya termaafkan?
Perasaan nelangsa karena kehilangan orang-orang terdekat, akibat kesalahannya membuat Bulan harus menerima semua ini. Lelah menikmati rasa sakit, Bulan memandangi setiap foto Bumi dan dirinya yang masih tersimpan di ponselnya.
Senyum Bumi memberikan energi positif pada Bulan, minimal dia masih memiliki Bumi—yang masih tulus mencintainya. Dan ada satu yang tersisa, foto Bumi bersama Reza. Mantan suaminya tersenyum hangat sambil memeluk Bumi.
Fahreza Ibrahim.
Bulan masih enggan untuk mengakui, kalau sejak perpisahan yang terjadi antara dia dan Reza ada setitik lubang kecil yang tertinggal dalam hatinya. Setitik lubang yang nyatanya meninggalkan bekas yang belum dia sadari.
Bagaimana pun, Reza pernah mencintai serta melindunginya. Meski dulu semuanya terasa semu. Tapi ternyata sekarang ada bekas yang tak kasatmata yang baru dia rasakan. Sebuah rasa kehilangan yang terasa dalam.
Tapi harga dirinya terlalu angkuh untuk mengatakan sepatah kata tentang terima kasih dan juga maaf. Karena masa-masa indah yang pernah mereka lewati telah berlalu dan hilang.
Sekilas Bulan memandang jemarinya. Matanya menangkap sebuah benda yang melingkar di jari manisnya— cincin pernikahannya bersama Reza. Ada rasa getir ketika dia menatap benda itu. Harusnya dia mengembalikan cincin ini pada Reza saat mereka kemarin bercerai.
Tanpa banyak berpikir lagi, Bulan melepaskan cincin itu dan menaruhnya di dompet kecil tempat dia menyimpan uang recehan. Ketika cincin tanda pengikat antara dia dan Reza terlepas darinya. Sebuah perasaan sedih muncul begitu saja, menimbulkan rasa nyeri yang tidak mampu Bulan definisikan.
Lelaki itu tidak pantas mendapatkannya, Reza berhak bahagia. Bulan berusaha mengingatkan dirinya sendiri.
Lama melambung dalam pikirannya yang rumit. Bulan kembali ke dunia nyata ketika ponselnya berbunyi. Matanya mengerjap beberapa kali. Ada rasa kalut dalam hatinya melihat nama yang sudah ingin dia lupakan dan kini tanpa diminta tiba-tiba hadir begitu saja.
Mau apa, Bintang menghubunginya?
Panggilan pertama tidak dijawab olehnya. Suara ponselnya tak kunjung berhenti. Bintang terus mencoba menghubunginya. Dengan tangan bergetar, akhirnya Bulan meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut.
Hening.
“Apa kabar?” tanya Bintang.
Bulan menarik napasnya pelan. “Kenapa menelepon?
Sudah kubilang, jangan pernah menghubungiku lagi.”
Tenggorokan Bintang terasa kering kerontang. Rupanya
Bulan masih tetap dengan pendiriannya. Tapi bagaimana pun, Bulan harus tahu tentang pilihan hidup yang akan diambilnya. Dia telah berjanji, tidak akan mengusik Bulan lagi dan dia akan melakukannya.
“Bulan depan, aku akan menikah,” jeda sejenak. “Aku akan menikahi perempuan yang baru kutemui tiga kali. Gila bukan?” Bintang menertawai kekonyolan dirinya sendiri. Dadanya terasa sesak ketika menceritakan hal ini pada Bulan.
“Selamat… semoga kamu bahagia,” ujar Bulan dingin.
“Hanya ucapan selamat? Kamu tidak mau tahu, alasan aku menikahi gadis tersebut?”
Bulan menggeleng meski dia tahu Bintang tidak melihatnya.
“Aku menikahinya karena mungkin dengan cara ini aku bisa melupakanmu.”
Bulan hanya diam, dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.
“Tolong, katakan sesuatu Bulan. Aku hanya berharap kita bisa sama-sama bahagia.”
Bulan tersenyum miris. Sama-sama bahagia? Tanpa Bumi di sampingnya, bagaimana bisa hidupnya bahagia. Tapi terlambat jika sekarang dia menyesali apa yang telah diperbuatnya bersama Bintang. Bagaimana pun juga dialah yang paling bersalah dalam hal ini.
“Mulailah hidup baru bersamanya dan jangan pernah menghubungiku.”
“Bulan, tolong maafkan aku…!”
Sayup-sayup suara Bintang terdengar semakin jauh, karena Bulan segera mematikan ponselnya. Air matanya berjatuhan lagi, dia bukan menangis karena Bintang yang akan segera menikah. Lebih dari itu, air matanya jatuh karena sebuah penyesalan bertubi yang menghinggapinya.