Over the Rain

Over the Rain
Episode 6



Yang lebih menakutkan daripada dibenci adalah dilupakan.



Reza : Hari ini dan besok aku pergi bersama Bumi. Kami akan pulang sabtu sore, kalau kamu mau bertemu Bumi, datang hari minggu saja.



Ditatapnya layar ponsel berukuran empat inci itu. Mau ke mana Bumi dan Reza? Pertanyaan itulah yang muncul pertama kali di benaknya, tapi dia sama sekali tidak berhak untuk tahu. Bulan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke kasur tanpa dipan. Berarti dia harus menahan rasa rindunya pada Bulan satu hari lagi. Satu hari yang terasa sangat lama, meski kemarin dia telah bertemu dengan Bumi. Tapi tetap saja rasanya menyebalkan.



Tanpa semangat, Bulan bersiap untuk berangkat kerja. Tubuhnya yang mungil berlari kecil ke arah toilet sebelum pergantian shift. Bulan tetap berlari meski lantai yang dilewatinya masih basah karena habis dipel.



Bulan hampir saja terjatuh, saat salah satu kakinya terpeleset dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Untung saja ada Gina di dekatnya kalau tidak Bulan pasti sudah menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena telah sukses mencium lantai.



“Hati-hati, Mbak,” kata Gina dengan wajah panik.



“Iya, Gin… aku kebelet pipis, nih,” jawab Bulan sambil terkekeh.



“Kok, mukanya pucet banget? Lagi sakit?”



Bulan menggeleng, “Kebanyakan begadang nih kayaknya,” aku Bulan. “Makasih ya udah ditolongin.”



Saat pintu toilet terbuka, bau karbol yang menyengat membuat perutnya terasa diaduk-aduk dan akhirnya membuatnya mual. Keringat dingin membasahi pelipisnya, Bulan mendekati wastafel dan menundukkan kepalanya, karena dia pikir dia akan memuntahkan isi perutnya.



Lama Bulan menunduk, hanya mual yang terasa mengocok lambungnya, serta menimbulkan rasa pusing yang seperti menusuk kepalanya. Bulan membasuh wajahnya dengan air keran. Dia menarik napasnya dalam, akhir-akhir ini kondisi tubuhnya memang tidak fit.



“Kenapa Mbak Bulan?” tanya Riri yang baru saja masuk toilet.



“Kayaknya darah rendah aku kambuh. Tadi tiba-tiba aja pusing,” jelas Bulan sambil mengurut pelipisnya.



“Mau minyak kayu putih?”



“Boleh. Kamu punya?”



Riri membuka tas kecil yang selalu dia bawa. “Pakai dulu aja, Mbak.”



“Makasih ya, Ri.”



***



Sejak kemarin Reza sudah merencanakan liburan santai bersama Bumi, Farida, Dina dan juga Mbok Mirna. Berbekal hasil browsing, dia akan mengajak Bumi untuk menginap di rumah pohon Taman Buah Mekar Sari.



Baju dan juga perlengkapan Bumi dan lainnya sudah disiapkan oleh Mbok Mirna, tinggal menjemput Ibunya dan Dina. Bumi tak henti-hentinya mengoceh banyak hal. Dia sangat senang ketika Reza menunjukkan foto-foto permainan yang ada di sana.



Semoga Bumi bisa melupakan rasa rindunya pada Bulan.



***



Keesokan harinya, Setelah berkeliling dengan kereta wisata untuk melihat aneka jenis tanaman buah dan juga mengunjungi kebun yang sedang panen, Reza mendaftarkan Bumi untuk mengikuti Paddy Legend Tour—acara menanam padi untuk anak-anak.



Mereka berjalan menyusuri jalan setapak untuk sampai ke arena sawah. Usaha Reza sepertinya berhasil mengalihkan Bulan dari pikiran Bumi. Sejak kedatangannya kemarin, Bumi sama sekali tidak menanyakan Bulan, ketika malam pun, Bumi terlelap bersama adik dan Ibunya tanpa terbangun sama sekali.



“Ayah kita mau ngapain?” tanya Bumi dengan antusias.



“Mau menanam padi… belajar jadi petani dan memandikan kerbau. Bumi berani, nggak?”



“Menanam padi?” tanya Bumi ingin tahu.



“Iya,” jawab Reza sambil menggandeng tangan Bumi.



Sekelompok anak sudah mendapatkan pengarahan lebih dulu dan Bumi mendapatkan kloter kedua. Sambil menunggu jadwal, Reza mengajak Bumi untuk melihat arena penyemaian bibit dan pohon-pohon yang masih berada dalam polybag.



Bumi memperhatikan bibit-bibit itu satu per satu, kemudian berbisik pada Reza. “Ayah nanti kita beli bibit pohon ya.”



“Bumi mau pohon apa?”



“Mangga, rambutan, jambu, apel. Bumi mau semuanyaaaa….”



“Hahaha…. Nggak cukup, dong. Pilih salah satu aja, nanti, kan, kita bisa beli lagi.”



Bumi memperhatikan satu per satu pohon buah yang menarik hatinya. “Rambutan aja.”



“Bener…?”



“Iya. Bumi suka Rambutan.”



Reza memberikan jempolnya, tanda setuju. “Nanti Ayah beli. Tapi Bumi janji, harus sayang sama pohonnya. Setiap hari harus disiram.”



“Iya… Ayah.”



“Kepada peserta Paddy Legend Tour kloter kedua ditunggu untuk berkumpul,” seorang laki-laki berumur 20an berbicara menggunakan megafon.



“Tuh, udah dipanggil sama Om,” kata Reza.



“Ayah nggak ikut?” tanya Bumi.



“Ayah tunggu Bumi di sini. Jagoan masa takut? Tuh, temen-temennya juga nggak ada yang ditemenin sama orangtuanya,” Reza menunjuk anak-anak yang sudah berkumpul.



Bumi melirik Reza lagi.“Ayah nggak akan ke mana-mana.”



Bumi pun berjalan meninggalkan Reza di kursi panjang yang diperuntukkan orangtua yang ingin melihat anak-anaknya.



“Pak Reza?”



Reza mencari suara orang yang memanggil namanya. “Friska? Sama siapa kamu?”



“Saya sama keluarga, Pak. Tuh, dipaksa sama keponakan saya buat nemenin dia,” tunjuk Friska pada anak laki-laki sepantar Bumi. “Bapak sama siapa?”



“Saya sama keluarga juga. Itu anak saya yang pakai baju merah.”



“Wah, mirip banget ya sama Bapak.”



Reza tertawa mendengar pengakuan Friska yang sudah sangat sering didengarnya dari orang-orang.



“Jadi Bapak ngambil cuti buat pergi ke sini?” tebak Friska.



“Wah, ketahuan nih, kalau saya ambil cuti buat jalan-jalan,” jawab Reza sambil tertawa. “Biar si Bumi puas mainnya dan besok saya masih bisa istirahat di rumah. Kamu baru sampai?”



“Iya, Pak ini baru sampai berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Senin udah kerja lagi, Pak?”



“Maunya sih cuti lanjut sama minggu depan,” jawab Reza. “Tapi, kan, masih banyak kerjaan yang belum selesai.”



Melihat Reza dengan kaos polo dan celana pendek selutut sangat berbeda dengan kesehariannya saat di kantor. Reza tampak lebih bersahaja dan hangat. Friska tersenyum sendiri ketika membayangkan sosok Reza di kantor dengan yang sekarang ada di sebelahnya.




“Ayahhh…” jerit Bumi.



Reza membantu Bumi berdiri. Baju Bumi kotor karena terkena lumpur.



“Kenapa?”



Bumi menggeleng tapi mata anak itu menyembunyikan sesuatu. Anak yang tadi mendorong Bumi terlihat merasa bersalah tapi tidak berani untuk meminta maaf.



“Bumi masih mau main, kan?”



Kepalanya menggeleng. “Pulang aja…” rengek Bumi.



Reza tertawa lalu menggandeng Bumi dan berjalan mendekati anak berbaju biru. “Kenalan dulu dong. Ayo Bumi.”



“Ada apa, Pak?” Friska ikut menghampiri.



“Urusan laki-laki,” jawab Reza santai.



“Ini keponakan saya.”



“Oh… siapa namanya?”



“Ditanya sama Om, siapa namanya?” Friska bertanya pada keponakannya.



Anak itu mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Bumi, “Randi.”



Bumi menoleh sekilas pada Reza dan dibalas oleh senyum. “Bumi.”



“Nah sekarang temenan ya… kalau teman nggak boleh



saling ganggu. Oke?” tanya Reza kepada kedua anak itu. “Janji?”



Randi dan Bumi mengangguk bersama.



“Sekarang main bareng lagi,” Reza melepaskan tangan Bumi.



Friska seperti ada di dimensi berbeda ketika melihat sifat Reza yang lain. Tidak ada Reza yang serius, tangguh dan dingin ketika di kantor. Reza yang ada bersamanya adalah seorang laki-laki yang hangat dan penuh cinta.



***



Bulan datang pagi-pagi sekali ke rumah Reza untuk menemui Bumi. Sekotak tupperware berisi sup jagung—makanan kesukaan Bumi, sengaja dia bawa dari kontrakannya. Bulan berharap kalau kedatangannya hari ini akan membuat Bumi senang.



“Tumben, Non, pagi banget datangnya?” tanya Mbok Mirna saat melihat angka enam di jam dinding ruang tamu.



“Biar nggak macet, Mbok. Bumi belum bangun ya?”



“Masih tidur sama Bapak … kecapekan kayaknya, Non.



Kan, semalam sampai rumah sekitar jam sembilan malam.”



“Emang dari mana, Mbok?”



“Taman Buah Mekar Sari. Sama Ibu Farida dan Mbak Dina juga,” jelas Mbok Mirna. “Ayo, Non, masuk dulu … sebentar lagi Bumi juga bangun.”



Bulan mengikuti langkah Mbok Mirna. Tiba-tiba saja perasaan asing mendominasi hatinya. Dari dalam kamarnya, Reza sudah tahu tentang kedatangan Bulan, kini dia sedang merencanakan apa yang akan dia lakukan hari ini. Entahlah hatinya masih ingin menghindari Bulan.



Saat Reza bangun dari ranjangnya, Bumi merengek. “Ayah … mau ke mana?” tanya Bumi dengan mata mengantuk.



“Mau ke kamar mandi sebentar. Di ruang tamu ada Bunda, tuh. Ayo bangun.”



“Bunda?”



“Iya…”



Reza tertawa ketika melihat Bumi loncat dan berlari ketika mendengar Bulan datang. Sekeras apa pun, dia ingin memisahkan Bulan dan Bumi, hal itu tidak akan pernah bisa dia lakukan.



***



Bumi melihat penampilan Reza yang sudah rapi. “Ayah mau pergi?” tanya Bumi ketika Bulan sedang menyuapi nasi dan sup jagung.



“Pergi sebentar aja. Kan, ada Bunda, tuh, main sama Bunda aja.”



Bumi mengejar Reza, seperti tidak rela kalau harus ditinggalkan. “Ayah … kita, kan, belum kasih pupuk ke pohon rambutannya, terus belum disiram juga. Kalau nanti mati gimana?”



Reza menatap tidak tega pada Bumi tapi sungguh melihat Bulan ada di sekitarnya juga bukan ide yang bagus. “Sore nanti Ayah kasih pupuk.”



“Nggak mau. Maunya sekarang.”



Diliriknya sekilas Bulan yang tidak mengerti dengan apa yang dia dan Bumi bicarakan. Sebersit ide muncul di otaknya. “Kalau siram dan kasih pupuknya sama Bunda aja, gimana? Bunda juga bisa, kok.”



Bumi menggeleng. “Maunya sama Ayah.”



Percuma adu pendapat dengan Bumi, toh dirinya juga akan kalah. “Bumi habisin makannya. Ayah ganti baju dulu.”



Barulah Bumi mau tersenyum. “Kemarin Bumi beli pohon rambutan sama Ayah, Nda. Pohonnya masih kecil…” tutur Bumi sambil memperkirakan tinggi pohon rambutan tersebut dengan pinggangnya.



“Cerita dong sama Bunda … ada apa aja di sana?”



“Bumi belajar berkebun, terus menanam padi. Di sana



ada keretanya juga, Bun … pokoknya seru, deh. Kata Ayah, nanti Bumi mau diajak ke sana lagi.”



“Ambil pupuknya.” Reza memberi perintah pada Bumi.



Kontan anak itu langsung berdiri dari pangkuan Bulan dan memanggil Mbok Mirna untuk mengambilkan pupuk.



“Ini Ayah.” Bumi memberikan sekantung pupuk pada Reza di halaman depan rumahnya.



“Ambir air di gayung. Awas jangan tumpah-tumpah.”



Dengan langkah lincahnya, Bumi berjalan ke dapur untuk mengambil gayung.



“Sini Bunda bantuin,” kata Bulan ketika melihat Bumi berjalan pelan-pelan.



“Aku bisa, Nda,” sahutnya sambil berjalan pelan-pelan. Selanjutnya Bulan hanya bisa menyaksikan keseruan Reza dan Bumi dari balik jendela ruang tamu tanpa bisa bergabung.



Mungkin terdengar egois … tapi Bulan tidak suka ketika Bumi lebih memilih Reza dibandingkan dirinya. Perasaan tersisih muncul dalam hatinya. Bagaimana kalau Bumi benar-benar melupakannya? Tidak membutuhkan dirinya lagi?