Over the Rain

Over the Rain
Episode 7



Harapan itu menyusup dalam benci dan sekali lagi berujung pada kekecewaan.



“Pak tadi saya udah telepon Pak Farid untuk pertemuan jam dua siang nanti. Terus dia minta ketemu di West Chicken Sudirman yang deket kantornya.”



“West Chicken?” tanya Reza tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.



“Iya makanan cepat saji asal Prancis. Konsepnya sama kaya KFC, McD.” Friska mendekat ke meja Reza.



“Kamu lagi ada kerjaan nggak?”



“Nggak ada sih, Pak. Kenapa?”



“Nanti ikut saya meeting. Minta masterplan yang baru untuk pembangunan perumahan di Tiga Raksa ke bagian desain. Sekaligus data-data lengkapnya.”



Friska mengangguk dan dia masih terpaku menatap Reza yang masih sibuk. Lagi-lagi bayangan akan sikap Reza yang hangat melintas di kepalanya. Beruntungnya perempuan yang menjadi istri atasannya itu.



“Kok, masih di sini? Ada yang belum kamu mengerti?” Reza mendongak ketika melihat Friska masih ada di ruangannya.



“Nggak, Pak … ini saya udah mau pergi,” jawabnya terbata.



***



Akhirnya, Bulan bisa meluruskan kakinya di sudut dapur. Setiap jam makan siang, West Chicken memang selalu ramai dikunjungi. Saat jam istirahat seperti ini, dia lebih memilih menyendiri dibanding harus bergosip yang tidak penting bersama rekan kerjanya yang lain.



“Mbak, bawa pembalut nggak?” Gina bertanya pada Bulan.



“Nggak, Gin.”



“Ya … aku mau beli pembalut sebentar ke mini market, Mbak. Mbak Bulan bisa nggak gantiin aku sebentar?”



Bulan yang baru saja istirahat, terlihat ragu. Kakinya masih terasa sangat pegal. Tapi dia juga tidak enak untuk menolak.



“Maaf ya, Mbak, jadi ganggu jam istirahatnya,” ucap Gina.



“Nggak apa-apa.” Bulan segera memakai sepatunya kembali.



Sambil berjalan ke depan, Bulan mengingat kapan terakhir kali dia menstruasi. Perasaan cemas tiba-tiba melanda hatinya. Pasca-perceraiannya, Bulan sudah tidak meminum pil KB lagi. Tapi, sudah tiga bulan ini dia tidak menstruasi.



Sebuah pertanyaan muncul di benaknya. Apa mungkin dia hamil? Bulan berusaha menampik pikirannya. Dia tidak mungkin hamil.



Ketika perasaannya masih kacau, dengan jelas dia melihat orang yang sangat dikenalinya sedang membuka pintu West Chicken. Tangannya tiba-tiba mendingin. Bagaimana bisa Reza tahu kalau dia bekerja di sini. Bulan melirik ke belakang, berharap Gina sudah kembali dari mini market. Tapi Gina belum datang juga.



Cepat atau lambat, Reza juga pasti tahu tentang pekerjaannya. Tapi bukan seperti ini caranya.



“Selamat datang di West Chicken, mau pesan apa?” tanya Bulan.



Reza yang berdiri di belakang Friska belum menyadari kehadiran Bulan. Dia masih melihat sekeliling sambil mencari kursi yang nyaman.



“Mbak, namanya, Sinar Rembulan?” tanya Friska saat melihat Id card milik Bulan.



Mendengar nama itu disebut, akhirnya Reza menoleh. Dan perempuan dengan seragam hijau muda itu adalah Bulan. Mantan istrinya.



“Iya,” jawab Bulan dengan canggung tapi tidak sekalipun dia berani melihat Reza.



“Namanya unik ya, Pak,” bisik Friska pada Reza. “Pak Reza mau pesan apa?”



Reza masih memandangi wajah Bulan yang pias. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya. Sejak kapan Bulan bekerja seperti ini? Apa pembagian harta yang diberikannya tidak bisa mencukupinya?



“Pesen apa, Pak?” ulang Friska.



Reza berusaha menutupi rasa terkejutnya. Apalagi saat dia melihat Bulan bersikap tenang, seperti mereka tidak mengenal satu sama lain. Reza tahu, ini bukan saat yang tepat untuk meminta penjelasan dari mantan istrinya itu. Dia akan mengikuti permainan yang Bulan mulai.



“Samain aja kaya kamu. Saya tunggu di sana ya.” Reza menunjuk sofa yang ada di pojok ruangan.



***



Friska bisa merasakan Reza yang berubah drastis sejak kedatangan di restoran ini. Entah ke mana Reza yang luwes saat berinteraksi dengan kliennya? Bahkan ketika mereka sudah sampai di kantor, sikap Reza masih sama. Dan Friska tidak suka melihatnya.



“Ada masalah, Pak?” tanyanya saat Reza membuka pintu ruangannya.



“Banyak. Tuh, kamu nggak liat kerjaan saya yang numpuk?” jawab Reza asal. Dia masih belum percaya ketika melihat Bulan bekerja.



“Ada yang mau saya bantuin?” tawar Friska.



“Kamu tunggu di sini,” lalu tanpa melihat map yang diambil olehnya, Reza menyerahkan begitu saja pada Friska. “Kamu review kelengkapan datanya, kalau ada yang kurang, kamu lengkapi secepatnya.”




***



“Fris…,” panggil Andara.



“Iya, Mbak, kenapa?”



“Nanti sore Pak Reza masih ada meeting di luar nggak?”



Semenjak Reza meminta Friska menemani rapat karena tidak ada yang lain, semenjak itulah Friska selalu didaulat oleh Reza untuk mengatur semua jadwalnya. “Kayaknya



nggak ada, deh, Mbak.”



“Hari ini, Pak Reza ulang tahun. Tapi nggak ada yang bisa keluar beli kue. Kamu bisa nggak beli sebentar? Di Harvest aja.”



“Ya udah aku aja yang beli, Mbak.”



Andara memberikan jempolnya, “Nanti sekitar jam empat. Pak Reza dan anak-anak yang lain aku suruh kumpul di ruang meeting. Kamu nyusul aja.”



“Siippp, Mbak.”



***



“Hari ini saat bahagia untukmu. Bertambah satu tahun usiamu. Kunyanyikan sebuah lagu. Agar istimewa harimu. Happy birthday to you…”



Suara seorang perempuan bersuara merdu memenuhi ruang meeting dan mereka semua menatap kagum ketika melihat wajah si pemilik suara. Ternyata Friska.



Reza yang tidak tahu menahu hanya duduk sambil menunggu. Dia yang sedang pusing memikirkan masalah Bumi dan pekerjaan di ajak paksa oleh Bara untuk ikut bergabung bersama teman-temannya.



Black Forest yang ditancapkan lilin-lilin kecil yang menyala dibawa oleh Friska. Reza bergeming menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ditatapnya wajah Friska yang tersenyum manis ke arahnya.



“Selamat ulang tahun ya, Pak Reza,” kata Friska seraya meletakkan cake tersebut di depannya.



“Tiup lilinnya, dong,” ucap Bara yang duduk di sebelah Reza.



Reza tampak terkejut di kursinya. Merayakan ritual ulang tahun dengan cara tiup lilin bukanlah gayanya. Diliriknya wajah Friska yang menatap penuh harap padanya dan juga sekeliling teman-temannya yang menanti dirinya untuk meniup lilin yang sudah meleleh itu. Dengan wajah tanpa ekspresi, akhirnya dia meniup lililn-lilin tersebut hingga padam.



“Potong kuenya dong, Pak.” Andara ikut bersuara.



Reza menggelengkan kepalanya, tersenyum malas. Pasti ini adalah ide dari salah satu stafnya.



“Cheese cake dari istrinya nggak ada nih, Pak?” tanya Fera lagi.



Tahun-tahun sebelumnya pada hari ulang tahunnya, Bulan selalu membuatkan cheese cake favoritnya dan akan dia bawa ke kantor. Hanya seperti itu yang dia lakukan dan tahun ini segalanya berbeda. Cuma Bara seorang yang tahu tentang perceraiannya dengan Bulan. Karena selama pengajuan proses cerai, Reza meminta Bara untuk tidak menceritakan perihal masalah rumah tangganya kepada siapa pun termasuk bos-bos besar di kantornya. Sejujurnya, dia tidak ingin orang lain tahu lebih banyak tentang kondisinya saat ini.



“Tahun ini absen dulu,” jawab Reza sekenanya.



Cheese cake … ada yang ganjil, saat sesuatu yang menjadi kebiasaan hilang begitu saja.



Friska memberikan pisau plastik pada Reza. “Ayo, Pak, dipotong dulu kuenya.”



“Duh, maaf, saya tuh, nggak bisa makan cokelat,” jawab Reza jujur.



“Maaf ya, Pak. Tadi saya lupa bilang ke Friska, supaya jangan beli cake cokelat,” Andara menepuk jidatnya dengan wajah bersalah



“Pak Reza nggak suka cake cokelat?” Friska tidak percaya dengan apa yang didengarnya.



“Pak Reza, tuh, alergi cokelat. Iya kan, Pak?” Fera memberi penjelasan tanpa diminta. “Makanya tiap tahun istrinya selalu buatin cheese cake buat dibawa ke kantor.”



Reza jadi tertawa ketika fakta tentang dirinya yang alergi cokelat sudah tersebar. “Maaf ya. Bukannya saya nggak menghargai usaha kamu. Terima kasih untuk kuenya, tapi saya emang nggak bisa makan cokelat.”



“Saya yang minta maaf nih, Pak. Tadi di cake shop, Black Forest ini yang paling enak kayaknya, makanya saya langsung beli. Eh, tahunya Bapak malah nggak suka.”



“Nggak apa-apa, Friska. Silakan di makan kuenya.”



***



Sesaat sampai di rumahnya, Reza langsung menuju ruang makan. Ruangan itu sepi, tidak ada siapa-siapa di sana. Konyol, ketika dia berharap ada Bulan sedang menunggunya dengan hidangan istimewa.



Separuh hatinya membisikkan kata-kata sakti, mengingatkan dirinya tentang kesalahan yang telah dilakukan Bulan. Tidak sepantasnya Reza berharap Bulan ada di sini.



Karena dalam mimpi pun, perempuan itu tidak pernah mencintainya.