Over the Rain

Over the Rain
Episode 10



Bulan masih menjaga Bumi ketika Reza sampai di rumah sakit, dia pikir setelah kemarin mereka bertengkar, Bulan tidak akan datang untuk melihat Bumi namun pikirannya salah. Ada perasaan yang mengganjal hatinya karena dia harus meminta tolong pada Friska, untuk melihat kondisi Bumi. Hari ini jadwalnya memang padat, Reza tidak bisa meninggalkan kantornya sama sekali.



“Ayah … Nda, boleh nginep di sini ya malam ini. ” Suara Bumi lebih dulu mendistraksi pikiran Reza.



Bulan yang tengah membereskan barang-barangnya, menunggu dengan harap jawaban dari Reza. Semoga Reza mau memberi izin padanya, walaupun dia tahu … hubungan di antara mereka sedang tidak baik.



“Bumi mau tidur sama Nda. Boleh ya, Ayah,” rayu Bumi lagi.



Sambil duduk di pinggir ranjang. Reza mengiyakan permintaan Bumi. “Tolong beresin baju kotornya Bumi, Mbok.”



Sekantung plastik baju kotor sudah dibereskan oleh Mbok Mirna. “Bumi sama Bunda dulu ya. Ayah mau anter Mbok Mirna pulang.”



“Lho Mbok Mirna di sini aja sama aku. Biar kamu aja



yang pulang,” sahut Bulan cepat.



Dahi Reza berkernyit. Urusannya dengan Bulan belum selesai. Lalu dia berbisik mendekati Bulan. “Ada yang harus kita bicarakan.”



Wajah Bulan berubah pucat. Berbicara dengan Reza adalah sesuatu yang ingin selalu dia hindari. Karena yang sudah-sudah, pembicaraan mereka akan berakhir dengan adu pendapat tanpa solusi yang jelas. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.



Reza mendekati Bumi dan mencium puncak kepala anaknya. “Jangan nakal sama Bunda, ya.”



Bumi tertawa mendengar ucapan Reza. “Hati-hati, Ayah.”



***



Jam sepuluh malam, Reza sudah kembali lagi ke rumah sakit. Sebelum pulang, Reza sempat menemui dokter untuk mengetahui kondisi Bumi dan juga kapan Bumi bisa pulang. Ternyata dokter belum mengizinkan Bumi pulang dalam waktu dekat, walaupun kondisi Bumi sudah terlihat baik-baik saja tapi dokter yang menangani Bumi masih harus melakukan observasi lebih lanjut untuk memantau respons fisik Bumi setelah hampir tenggelam dan menelan banyak air kolam.



Reza berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Untungnya dia memesan kamar VIP untuk ruang perawatan Bumi, jadi tidak ada jam malam untuk keluarga pasien. Sepanjang perjalanan, Reza berusaha merangkai kata yang tepat untuk berbicara pada Bulan. Dia tidak ingin, pembicaraan mereka selalu berakhir dengan emosi.



Saat tangannya menyentuh handle pintu kamar rawat Bumi terbuka, hanya lampu tidur yang menyala. Matanya beralih pada sofa multi fungsi yang biasanya dia jadikan tempat tidur, dia pikir Bulan akan tidur di sana tapi tempat itu kosong. Di mana Bulan? tanyanya dalam hati.



Lalu pandangannya mengerjap ketika dengan damainya Reza melihat Bulan terlelap di kursi yang terletak di samping ranjang Bumi. Kepala Bulan bersandar di atas ranjang dengan kedua tangannya yang dijadikan sebagai alas kepalanya.



Hati Reza beradu antara membangunkan Bulan untuk pindah atau langsung menggendong mantan istrinya pindah ke atas sofa. Keputusan akhir, dia tidak tega untuk membangunkan Bulan.



Dengan sekali angkat, Reza meraih tubuh Bulan ke dalam dekapannya. Bulan yang tersadar bahwa ada yang mengangkat tubuhnya langsung terbangun. Cahaya ruangan yang remang, membuatnya harus memfokuskan penglihatannya. Di mana dia sekarang?



“Mas,” panggil Bulan pelan. Dia ingat bahwa kini dia berada di ruang rawat Bumi.



Bulan berusaha turun dari gendongan Reza, tapi lelaki itu menahannya. “Turunin aku,” pintanya.



Reza tidak menggubris ucapan Bulan. Tangannya memeluk tubuh Bulan erat hingga mereka sampai sofa.



Bulan segera berdiri, dia tidak cukup sanggup untuk berhadapan dengan Reza dalam situasi seperti ini.



“Mau ke mana?”



“Mau minum,” jawabnya bohong. Tapi Reza tidak mendengarkannya. Lelaki itu malah menarik tangan Bulan, hingga Bulan terjatuh tepat disampingnya.



“Kita harus bicara.”



Pandangan Reza begitu menusuk. Apalagi dengan posisi mereka yang begitu dekat. “Tapi bisa kan, kalau aku minum dulu?”



Reza menggeleng. Tangannya justru menyusuri wajah Bulan yang terlihat tirus. “Boleh aku cium kamu?”



“Mas,” suara Bulan bergetar. Bulan berusaha menjauh, tapi tangan kanan Reza justru menahan pinggangnya.



Reza menempelkan dahinya ke dahi Bulan. Matanya memancarkan sinar kerinduan yang dalam tapi juga kemarahan serta kebencian pada mantan istrinya itu.



“Kamu tahu, Bulan. Kenapa aku mati-matian mempertahankan Bumi? Meski aku tahu rasanya mustahil untuk merawat dia.”



“Maksud kamu?” ucapnya tertahan. Reza yang ada di hadapannya kini bukanlah Reza yang selama ini dia kenal. Ada pancaran kesedihan, luka yang teramat dalam.



“Karena cuma Bumi, satu-satunya hal yang bisa aku miliki sekaligus untuk mengingatkan aku, kalau aku pernah mencintai kamu.”



“Maaf.”



Wajah Bulan berubah sendu. Kecintaan Bulan pada Bumi selama ini pun adalah sebuah pengalihan rasa yang selalu dia hindari ketika getar-getar cinta yang diberikan Reza padanya mulai menyentuh hatinya.



Bulan menyalahkan dirinya sendiri. Kesalahan terbesarnya adalah karena hatinya sudah lebih dulu menutup segala perhatian yang diberikan Reza. Seharusnya hanya Reza, lelaki yang selama ini menerima cintanya dan bukan laki-laki lain.



Reza menyentuh pipi Bulan dengan telapak tangan kanannya, merasakan pipi Bulan yang dingin. Bulan membeku saat jarak mereka begitu dekat. Mata mereka saling menyimpan sebuah luka. Perlahan, Reza tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengecup bibir Bulan yang lembut dan selalu menggodanya saat dulu mereka masih bersama. Dia menyentuh bibir Bulan sambil memejamkan matanya berharap Bulan mau membuka bibir dan membalasnya.



Bulan terkesiap saat bibir Reza menyentuhnya dengan lembut. Ciuman yang diberikan Reza, memberikan getaran yang aneh pada tubuhnya. Tapi Bulan tidak memiliki keberanian untuk membalasnya.



Setitik air matanya menetes tanpa Bulan sangka. Sebuah fakta tentang kehamilannya, justru membuat langkahnya semakin pasti untuk menjauhi Reza. Karena dia tidak ingin menyiksa pria ini lebih dalam lagi.



Reza membuka matanya ketika dia tahu, Bulan menangis. Hatinya terasa sakit, karena perasaannya tidak juga terbalas.




Reza bangun dan meninggalkan Bulan begitu saja.



Malam itu keduanya larut akan kesedihan yang mereka pendam. Kesedihan dengan alasan berbeda dan membuatnya semakin parah karena perasaan itu tidak tersampaikan. Tapi inilah jalan hidup yang harus mereka hadapi.



***



Bulan mengurung dirinya di kamar mandi. Bibirnya masih merasakan kelembutan dari sentuhan yang diberikan Reza, tapi air matanya justru semakin deras. Semakin dia mencoba untuk menahan tangisnya, justru yang muncul rasa sesak yang membuatnya sulit bernapas.



Kehilangan, perasaan inilah yang sangat dia benci. Kenapa semua baru terasa saat semuanya sudah tidak bisa dia perbaiki lagi.



Semuanya sudah terlambat. Dia sudah terlambat untuk menyadari kalau pria yang tidak pernah dia anggap ada di hatinya, ternyata memiliki pengaruh yang besar saat dia kehilangannya. Ketika semua sel dalam otaknya menyuruh untuk mengejar, hatinya mengatakan untuk tetap bertahan.



Reza terlalu baik untuk dia sakiti, apalagi dengan kehamilannya saat ini. Bulan sadar, kini alam semesta sedang membalas semua keegoisan yang dulu dia pernah lakukan. Meski dia tahu, kesalahannya tetap tidak akan bisa termaafkan.



Di luar kamar mandi, Reza mulai khawatir. Sudah hampir satu jam Bulan berada di ruang berukuran 2x3 meter itu. Suara hatinya mulai memaki dirinya sendiri. Tidak seharusnya tadi dia mencium Bulan. Setelah semua yang telah mereka lewati, tidak seharusnya mereka memiliki kisah yang lebih tragis daripada ini.



Tidak cukupkah penolakan yang selama ini dilakukan Bulan? Ejek suara hati Reza.



“Bulan … kamu baik-baik aja?”



Hanya suara keran air yang terdengar.



“Kalau kamu nggak jawab, aku dobrak pintunya.” Suara Reza tidak setenang tadi.



Reza sudah mengambil ancang-ancang untuk mendorong pintu dengan tubuhnya. Untungnya Bulan lebih cepat membuka pintu tersebut.



Mata Bulan merah.



“Kamu nangis?”



Bulan menggeleng.



Reza menarik siku Bulan. “Aku minta maaf.”



Bulan tidak menanggapi dan berjalan melewati Reza. Dia kembali ke kursi yang berada di samping brankar Bumi. Tubuhnya yang lelah, mambuat rasa kantuknya hadir kembali dengan cepat.



“Kadang aku bingung sama kondisi kita,” ucap Reza. “Di saat orang-orang yang bercerai bertengkar memperebutkan harta atau saling memaki satu sama lain dan menjadi musuh. Kita justru stuck di keadaan ini.”



Kelopak mata Bulan yang tadi terasa berat kini terang benderang. Apalagi ketika Reza menarik kursi dan duduk di sebelahnya.



“Kenapa kamu nggak pergi sama pria itu?” Akhirnya Reza bertanya pada Bulan tentang Bintang.



Bulan membuang pandangannya. Hatinya terasa luluh lantah ketika tanpa emosi Reza berbicara tentang Bintang.



“Aku pikir, setelah kita bercerai. Kamu akan mengejar kebahagiaan kamu, yang sempat tertunda karena kehadiranku dan Bumi.” Reza tertawa, seolah yang dibicarakan adalah hal yang lucu.



Bulan ingin menjawab tapi Reza sama sekali tidak memberikan kesempatan itu.



“Kamu tahu satu-satunya alasanku menceraikan kamu?”



Tanpa Reza harus bertanya pun, Bulan sudah tahu kesalahannya.



“Aku.…” Suara Reza tertahan. Ada keraguan untuk melanjutkan kata-katanya. “Awalnya aku marah. Sangat marah, karena kamu membohongi aku dan Bumi.” Reza membenarkan posisi duduknya, bahunya tegap, matanya menerawang jauh. “Tapi ternyata, kesalahan itu bukan dari kamu aja. Aku juga salah, karena dulu telah memaksa untuk menikahi kamu. Iya, kan?”



“Kamu nggak pernah cinta sama aku dan aku selalu berharap kamu akan mencintaiku sedikit aja.” Reza lagi-lagi tertawa. “Aku yang egois.”



“Mas…,” panggil Bulan dengan mata berkaca-kaca. “Jangan lanjutkan lagi. Aku yang salah.”



“Yang benar, kita berdua yang salah. Mungkin memang seharusnya kita seperti ini.”



“Seperti ini? Maksudnya?”



“Iya. Seharusnya kita menjadi partner yang baik untuk menjaga Bumi tanpa harus saling menyakiti lagi.”



Sambil menelan ludah, Bulan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.



“Kamu harus bahagia, Mas.”



“Kalau bahagianya aku adalah bersama kamu? Apa kamu bisa memberikannya?”



Bulan tertegun menatap Reza. Wajahnya terasa hangat.



Seketika Reza tertawa melihat ekspresi Bulan yang berubah 180 derajat. “Aku cuma bercanda.” Pria itu mencubit pipi Bulan yang terlihat tirus. “Jangan diet, kamu jelek kalau kurus.”



Jantung Bulan berdesir tak karuan atas sikap Reza.



“Tidurlah. Biar aku yang jaga Bumi.”