Over the Rain

Over the Rain
Episode 1



Siapa yang menjadi pemenang dari sebuah perpisahan?



Yang memilih tinggal atau yang berlalu pergi? Karena keduanya malah menangis dalam diam.



“Selamat datang di West Chicken. Khusus hari ini ada promo hemat dengan membeli dua paket ayam, Anda bisa memilih dua jenis dessert,” ucap Bulan sambil menunjukkan katalog menu West Chicken kepada dua orang remaja di meja kasir.



Bulan tersenyum ramah melayani pembeli yang cukup ramai pada akhir pekan seperti sekarang. Sudah dua minggu ini dia memulai pekerjaannya sebagai kasir di West Chicken, restoran cepat saji.



Sebelumnya Bulan tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup seperti ini. Seorang diri, dia melewati kesedihannya. Hatinya pun selalu mengingatkan bahwa ini bukan salah siapa-siapa, jika kini dia harus menanggung segala beban atas perbuatannya bersama Bintang.



Tapi ini semua adalah kesalahan yang dibuatnya sendiri karena terlampau bodoh. Dan biarlah itu menjadi masa lalu… menjadi luka yang akan segera mengering, pun dalam kurun waktu yang lama.



“Mbak… udah mau ganti shift nih. Nggak mau pulang?” tanya Gina yang mendapatkan giliran shift sore.



Bulan tertawa sambil melirik jam dinding. Sudah jam



tiga kurang lima menit. “Saking ramenya, aku sampai lupa waktu,” jawabnya. Sebelum pergantian kasir, Bulan terlebih dulu merapikan uang hasil transaksi selama shift siang.



“Oya, di belakang ada kue ulang tahun, tadi si Riri yang bawa. Punya Mbak Bulan sudah aku pisahin di kulkas.”



“Wah, mana si Riri? Aku malah belum ngucapin selamat ke dia.”



“Tadi sih ada, Mbak. Kan, hari ini dia libur jadi cuma nganterin kue aja ke sini.”



“Nanti kirim nomornya Riri ke WhatsApp aku ya.”



Gina mengacungkan jempolnya. “Sip, Mbak. Nanti aku kirim nomor dia.”



Bulan memberikan kunci brankas pada Gina. “Aku pulang duluan.”



“Hati-hati, Mbak. Selamat malam Minggu.”



“Kamu juga… selamat bekerja. Jangan iri ngeliat customer yang dateng berdua sama pacar,” ledek Bulan. Gina dan Bulan tertawa bersama. Malam minggu seperti ini yang datang ke West Chicken rata-rata adalah pasangan muda-mudi.



Dan bagaimana dengan Bulan melewati malam Minggunya?



Bulan mengganti pakaiannya dengan cepat. Hari Sabtu adalah hari sangat yang dinantikan olehnya. Karena hari ini merupakan jadwal pertemuannya dengan Bumi. Sesuai dengan hasil sidang perceraiannya bersama Reza, Bulan hanya boleh bertemu dengan Bumi satu hari dalam seminggu.



***



Bulan memencet bel berulang kali, ke mana Bumi? Lama berdiri, akhirnya Bulan duduk di depan pintu rumah Reza yang baru. Dikeluarkannya ponsel dari sakunya, dia mencoba menghubungi Reza tapi hanya terdengar nada sambung.



Hubungannya bersama Reza tidak kunjung membaik pasca-perceraian mereka. Bulan mencoba mengerti atas sikap mantan suaminya. Segala kebaikan Reza berakhir dengan kemarahan yang begitu mendalam. Bulan sadar, sekeras apa pun dia memohon dan meminta hak asuh Bumi, Reza tetap tidak akan memberikannya.



Jadi di sinilah Bulan sekarang… menunggu Bumi dengan perasaan rindu yang tidak tergambarkan. Karena segala perasaan sakit akan muncul ketika rindunya pada Bumi bergejolak di dalam hatinya. Rindu yang menyakitkan… hanya Bumi, satu-satunya yang paling berharga, yang mampu membuatnya bertahan ada di posisi ini.



Bulan memencet bel lagi. Akhirnya, Mbok Mirna membukakan pintu. Ada kerinduan di raut wajah tuanya ketika melihat Bulan yang selalu datang di akhir pekan. Awalnya Mbok Mirna ingin ikut bersama Bulan, dia tidak tega membiarkan majikan kesayangannya itu menanggung beban berat seorang diri. Tapi Bulan tidak mengizinkannya karena hanya pada Mbok Mirna, Bulan bisa percaya untuk menitipkan Bumi.



“Maaf ya Non, tadi Mbok ketiduran. Non Bulan apa kabar?” tanya Mbok Mirna sambil melihat penampilan Bulan.



“Kabarku baik,” jawab Bulan sambil tersenyum. Matanya mencari sosok Bumi tapi rumah terlihat sepi. “Bumi mana, Mbok?”



“Bumi lagi pergi sama Bapak. Masuk dulu, Non. Tunggu di dalam aja, Mbok buatkan minum dulu.”



Bulan duduk di sofa ruang tamu. Saat Mbok Mirna membawakan minum untuknya, terdengar ketukan dari daun pintu berwarna putih. “Mbok… bukain pintu, dong,” suara cempreng Bumi membuat Bulan tersenyum.



“Aku aja, Mbok, yang buka,” kata Bulan.



“Ndaaaa….” Bumi langsung memeluk kaki Bulan ketika melihat Bulan yang membuka pintu untuknya.



“Jagoaaaan Bunda…” Bulan menangkap tubuh Bumi dan memeluknya erat. “Habis berenang?” tanyanya ketika menyentuh kepala Bumi yang basah.



“Iya tadi berenang sama Ayah. Enak deh, Nda, banyak mainannya di sana,” cerocos Bumi.



Bulan menggandeng tangan Bumi dan berjalan ke sofa. Dia menengok ke belakang beberapa kali, ada keinginan yang besar dalam dirinya untuk melihat Reza. Sejak hari di mana mereka resmi bercerai, Reza menjaga jarak darinya.



“Bunda punya kue… Bumi mau?” Bulan mengeluarkan kue yang tadi dia bawa dari tempat kerjanya.



Mata Bumi mengerjap melihat potongan kue warna pelangi itu. Mulutnya terbuka lebar ketika Bulan menyuapi Rainbow cake. “Enak?”



“Enakan bikinan Bunda,” jawab Bumi jujur.



Bulan tertawa, “Besok kalau ke sini Bunda bawain kue yang enak, deh.”



“Choco Lava ya, Nda…” Bulan pun mengangguk sambil mengingat kalau dia baru saja memberi janji pada Bumi.



Setelah mengunci pintu mobil, Reza berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Dilihatnya Bulan dan Bumi sedang bercengkerama satu sama lain. Keduanya terlihat sangat bahagia.



“Ayah… sini.” Bumi mengarahkan tangannya pada ruang kosong di sebelahnya. “Tadi Bumi hampir aja tenggelam, Nda. Untung ada Ayah,” Bumi menceritakan pengalaman berenangnya.



Reza ragu untuk bergabung, tapi ketika Bumi yang meminta, dia tidak memiliki pilihan lain meski hatinya enggan. Biasanya ketika jadwal kedatangan Bulan, Reza sudah mengantisipasi agar dia tidak bertemu dengan Bulan dan selalu berhasil. Tapi pagi ini, ketika dia ingin pergi, Bumi merengek mengajaknya berenang. “Nanti Ayah ajarin berenang biar Bumi nggak tenggelam,” kata Reza.



“Bener ya, Ayah.” Pandangan Bumi beralih pada Bulan. “Nda bisa berenang?”



“Bisa dong… Bunda bisa gaya kupu-kupu,” jawab Bulan bangga.




“Gampang….” Bulan mengangkat jemarinya, “Ayo kita



toss dulu.”



Bumi menepuk telapak tangan Bulan hingga terdengar suara nyaring. “Bumi pasti bisa berenang.” Mendengar semangat dari Bulan, Bumi tertawa dan menampilkan deretan gigi susunya.



“Pak… makan sudah siap,” panggil Mbok Mirna.



Reza mengangguk, “Ayo Bumi kita makan dulu…” ajak



Reza tapi sama sekali tidak melirik pada Bulan.



“Maunya makan sama, Nda…” pinta Bumi sambil menyender pada tubuh Bulan.



Senyum Bulan merekah ketika Bumi masih mengandalkannya akan hal-hal sederhana seperti ini. “Bunda temenin makannya, mau?”



Bumi menggeleng. “Suapin, Nda…!”



“Tapi makannya harus habis, ya?”



“Iyaaaa…” jawab Bumi cepat.



Bulan menggendong Bumi sementara Reza memilih menghindar, meninggalkan Bulan dan Bumi tanpa pamit.



“Kamu nggak ikut makan, Mas?”



“Saya makan di luar aja,” jawabnya dingin.



***



Reza berjalan gontai. Sungguh, seharusnya dia puas melihat Bulan menangis karena kekalahannya akan hak asuh Bumi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Hatinya pun ikut meneriakkan kesedihan yang sama. Hanya menunggu waktu, Bumi akan kehilangan sosok ibunya. Perempuan yang begitu dia cintai tapi juga yang paling dia benci.



Benci, karena tidak ada sedikit pun rasa yang dimiliki Bulan untuknya.



Benci, karena Bulan sekarang benar-benar lepas dari hidupnya.



Apakah ini balasan untuk kebencian yang dia miliki untuk Bulan? Separuh hatinya menjawab iya. Tapi separuh hatinya menyesali hal ini, karena bagaimana pun, tindakannya telah menyakiti Bumi, buah hati mereka yang tidak tahu apa-apa tentang persoalan hidup yang mereka jalani.



Bulan masih bergeming di sudut ruangan pengadilan. Duduk sendirian dengan wajah yang memerah, akibat air mata yang terus mengalir. Dia sudah benar-benar kehilangan segalanya. Tidak ada yang lebih berarti bagi seorang ibu selain kehadiran anaknya. Dan mulai kini, dia akan terpisah dari Bumi.



Sesaat Reza ingin menghampiri Bulan. Ya, dia hanya ingin menawari tumpangan untuk Bulan. Meski mereka telah resmi bercerai, masih banyak hal yang harus mereka selesaikan secara baik-baik.



“Maaf.…” Kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Reza.



Bulan menahan dadanya yang sesak. “Kamu menang,” ucap Bulan parau.



Menang katanya? Adakah dari mereka yang pantas disebut sebagai pemenang di sini. Tidak kah Bulan sadar, kalau mereka semua sama hancurnya?



“Iya, aku menang,” jawabnya sinis. “Menang atas semua kesalahan yang telah kamu buat.”



Bulan ingin membalas Reza, tapi bibirnya tertutup rapat. Ini memang salahnya. Salahnya karena tidak pernah benar-benar mencintai Reza, suaminya dan justru terjebak akan cinta masa lalu.



“Akan lebih mudah bagimu untuk mencari perempuan yang lebih baik dari aku tanpa Bumi di samping kamu.”



Reza tersengat mendengar perkataan Bulan. Sedikit pun dia belum memiliki rencana untuk mencari perempuan lain untuk menggantikan posisi Bulan dalam hidupnya. Dia mempertahankan Bumi, karena Bumi adalah satu-satunya hal terindah yang akan dia kenang, kalau dia pernah mencintai Bulan dengan sepenuh hati.



Ada senyum Bulan di wajah Bumi.



Ada keteduhan mata Bulan di saat Bumi menatapnya.



Ada darah Bulan yang mengalir di tubuh Bumi.



Hal itulah yang membuatnya sekuat tenaga mempertahankan Bumi tetap di sampingnya.



“Kamu masih bisa bertemu dengan Bumi di akhir pekan.” Reza mengingatkan.



Bulan tetap menggeleng. “Apa kamu bisa membacakan dongeng untuknya setiap malam? Apa kamu bisa membujuknya, saat dia nggak mau makan? Apa kamu bisa menghabiskan waktu untuk bermain dengannya?” cecar Bulan.



Tanpa harus menjawab pun mereka sama-sama tahu jawabannya. Hanya Bulan yang mampu melakukan itu semua, tapi dia tidak mungkin menyerah untuk memberikan Bumi pada Bulan.



“Benar kata kamu. Aku memang tidak bisa melakukan semua yang kamu bilang.” Reza terlihat berpikir sejenak. “Tapi mungkin… ada perempuan di luar sana yang bisa menggantikan posisi kamu sebagai ibu Bumi.”



Hati Bulan mencelos. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bukan karena Reza yang akan mencari perempuan lain. Tapi Bumi? Akankan nanti Bumi masih mengingatnya sebagai Ibu kandungnya, ketika ada perempuan lain yang menggantikan dirinya.



“Kamu bebas menikahi siapa saja. Tapi cukup aku yang menjadi ibunya. Aku tidak akan membiarkan Bumi dirawat oleh perempuan lain.”



Kali ini Reza tertawa puas. “Apa hak kamu mengatur kehidupanku dengan Bumi? Sejak hari ini, kamu sudah kehilangan semua hak dan tanggung jawabmu sebagai istriku dan juga ibu dari Bumi.”



Bulan membeku. Semua yang Reza katakan benar. Dia tidak memiliki hak untuk mengatur Reza. Tapi Bumi? Bumi adalah anaknya.



Reza yang awalnya ingin menawarkan Bulan tumpangan membatalkan niatnya. Pertengkaran ini akan terus berlanjut kalau mereka berdekatan. Reza berbalik dan memilih meninggalkan Bulan.