Over the Rain

Over the Rain
Episode 13



Amarah itu menyesatkan. Menyembunyikan kasih dan memenangkan ego.



Segalanya lebih baik setelah malam itu. Di bawah naungan sebuah payung, mereka berjalan berdampingan dan saling melindungi satu sama lain. Mungkin takdir sedang memberi kesempatan untuk mengulang kebersamaan yang dulu sempat terlewat di antara mereka.



Reza masih tersenyum di balik kemudinya, ketika mengingat wajah Bulan yang merona karena dekapannya yang tiba-tiba. Apalagi ketika Bulan membiarkan semuanya mengalir seperti rintik hujan yang berjatuhan. Rasanya dia begitu dekat dengan Bulan dan tidak ada satu pun yang menghalangi mereka.



Mungkinkah segalanya bisa terulang kembali? Sebuah tanya tebersit di pikiran Reza beberapa hari ini.



Dan untuk itulah, sekarang Reza ada di parkiran West Chicken, tempat Bulan bekerja. Dia ingin menjemput Bulan, sekaligus ingin membuat kejutan pada Bumi. Anak itu pasti bahagia jika melihat kedua orangtuanya datang bersama.



Reza turun dari mobilnya dengan wajah berseri, dia percaya kalau sekarang Bulan tidak akan menolaknya.



Matanya segera mencari sosok Bulan yang bertugas di bagian kasir. Tapi ternyata jauh di luar dugaannya. Reza kalah cepat. Bukan, yang benar adalah dia memang selalu jadi nomor dua. Bulan tidak sedang bekerja, karena perempuan itu kini sedang duduk di salah satu sudut restoran bersama laki-laki yang tidak pernah dibayangkan Reza akan kembali lagi pada hidup mereka.



Lelaki itu Bintang.



Reza mengertakkan giginya. Dia mencoba menahan amarahnya yang menggebu. Ingin rasanya Reza menghampiri Bintang dan memberikan bogem mentah di pipi pria itu. Tapi logikanya masih menyuruh untuk menimbang segala perbuatan yang akan dia lakukan.



Masih pantaskah dia melakukan itu? Dia tidak berhak sedikit pun atas diri Bulan.



Sebuah pemikiran itu mampu menahan aksi gilanya untuk membuat keributan di tempat kerja Bulan. Tapi hatinya terasa sakit, jadi selama ini Bulan telah berbohong padanya? Jadi semuanya hanya sandiwara?



Reza menertawai kebodohannya. Dirinya yang terlalu lemah karena cinta, sampai tidak bisa melihat yang sebenarnya. Nyatanya Bulan tidak menyimpan sedikit pun perasaan cinta untuknya. Dulu maupun sekarang.



Semua rencananya berantakan. Reza membalikkan badannya, dia berjanji, tidak akan dia izinkan Bulan membohonginya lagi.



***



Hampir tengah malam, Reza tiba di sebuah pub. Ajakan Bara yang membuatnya berada di tempat ini. Kehidupan malam jelas bukan gaya hidup yang sering dia lakoni, tapi untuk malam ini yang dia inginkan hanyalah melupakan Bulan.



Teman-teman kantornya, menyambut Reza dengan beragam ekspresi. Reza yang pantang menghadiri acara seperti ini menjadi bahan tertawaan serta mendapat cibiran. Tapi dia tidak peduli, yang dia perlukan adalah bergelas-gelas vodka hingga membuatnya tidak sadarkan diri.



“Rez, berhenti, lo udah minum lima sloki,” tegur Bara.



“Gue masih sanggup ngabisin satu botol vodka,” jawabnya sombong.



Bara tertawa meremehkan. “Gue nggak mau ya harus nganterin lo pulang dalam keadaan nggak sadar, apalagi sampai muntah-muntah di jalan.”



Reza tidak menanggapi perkataan Reza, dia meminta lagi jenis minuman yang sama pada sang bartender.



“Ada masalah apa sih lo?”



“Masalah gue cuma satu,” Reza meneguk habis vodka yang baru saja diberikan bartender. “Gue terlalu bodoh karena mencintai Bulan.”



Bara menggelengkan kepalanya. Rupanya masih perempuan yang sama. “Lo ganteng. Mapan. Lo punya segalanya. Cari perempuan yang lebih dari dia.”



Gantian Reza yang tertawa sumbang, lalu dia terbatuk. “Tapi… gue cintanya sama dia. Dia ibu dari anak gue.” Reza ingin berdiri tapi dia justru terjatuh.



Bara memanggil beberapa temannya. Jika dibiarkan semakin lama, Reza akan semakin menyusahkan. Mereka memapah tubuh Reza dan mengantarnya pulang ke rumah.



Sementara Friska yang juga berada di sana, dari tadi matanya terus mengawasi Reza… melihat keterpurukan laki-laki itu yang hancur karena sebuah cinta. Saat yang lain asyik berbicara—Friska pamit pulang. Karena malam itu, bukan hanya Reza yang hancur tapi juga Friska… cintanya kandas bahkan sebelum dia berani untuk menyadarinya.



***



Pagi-pagi sekali Bulan dikagetkan oleh telepon dari Mbok Mirna. Perempuan tua itu menceritakan keadaan Reza yang pulang dalam keadaan mabuk dan terus memanggil namanya.



Bulan yang hari ini kebetulan libur tanpa pikir panjang lagi berniat melihat keadaan Reza. Terakhir kali mereka bertemu, segalanya baik-baik saja. Lalu apa yang terjadi?



Di depan kaca, Bulan melihat perutnya yang terlihat menonjol. Ada rasa takut, jika nanti Reza mengetahui kehamilannya. Blus longgar dengan motif kotak-kotak menjadi pilihannya sehingga perutnya yang tampak bulat tidak terlihat jelas. Semoga Reza tidak menyadarinya.



Suasana rumah masih sepi saat Bulan sampai. Dia memencet bel beberapa kali dan tak lama Mbok Mirna membukakan pintu untuknya.



“Bapak belum bangun dan Bumi lagi main di kamarnya.” Mbok Mirna seolah tahu apa yang ada di pikiran Bulan.



“Mas Reza semalam pulang jam berapa, Mbok?” “Hampir jam dua malam. Itu juga diantar teman-temannya. Mbok ke dapur dulu ya, mau masak.”



Bulan menahan tangan Mbok Mirna. “Mbok Mirna temenin Bumi aja. Biar aku yang masak.”



Mbok Mirna ingin melarang Bulan tapi kemudian dia tersenyum. “Mau masakin buat Bapak ya, Non?” goda Mbok Mirna.



Bulan tertawa kecil, malu untuk menjawab iya. Dulu… memasak makanan untuk Reza adalah sesuatu hal yang sangat dia sukai. Karena Reza selalu mengatakan enak pada setiap makanan yang dimasak olehnya. Walaupun terkadang beberapa rasa masakan Bulan masih kurang sempurna. Reza selalu memberinya semangat. “Semua bisa karena terbiasa.” Kalimat itulah yang membuat Bulan rajin memasak untuk lelaki itu.



***



Reza terbangun dengan sakit kepala yang hebat. Kepalanya terasa berat dan perutnya juga terasa mual. Dia mencoba bangun dari tempat tidurnya tapi untuk menggeser badan saja, dia membutuhkan tenaga ekstra. Dia mengerang kesal, inilah efek dari minuman beralkohol yang sangat dia benci.



Suara bel rumahnya berbunyi berkali-kali, tapi Mbok Mirna tidak juga membukakan pintu. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, dia memanggil Mbok Mirna. Untungnya perempuan tua itu mendengarnya.



“Mbok, tolong buatkan saya air jeruk.”



“Iya, Pak. Oya itu ada tamu, katanya teman kerja, Bapak.”



“Suruh tunggu di ruang kerja saya ya. Nanti saya menyusul.”




Reza memaksakan dirinya untuk ke kamar mandi. Dia ingin segera melenyapkan bau alkohol yang menempel di tubuhnya. Di bawah kucuran air hangat, Reza merefleksikan lagi semua yang terjadi pada dirinya. Dia tidak akan membiarkan Bulan menyakiti dirinya lagi.



***



Reza mengambil kaus hoodie warna putih dan celana panjangnya. Cukup rapi untuk menyambut teman kantornya yang sangat rajin karena telah mengunjunginya sepagi ini.



Tanpa melakukan kompromi, Bara sudah lebih dulu memberitahukan bagian HRD bahwa hari ini, Reza berhalangan masuk. Tapi bukan berarti dia bebas dari pekerjaannya. Contohnya, ya seperti sekarang. Pasti ada beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani.



Di meja makan, Reza langsung meneguk air jeruk hangat yang tadi dia minta. Kucuran air hangat dan juga rasa asam pada air jeruk yang baru diminumnya membuat dirinya jauh lebih baik. Sesaat Reza melihat sekeliling rumahnya. Sepi. Mungkin Bumi sedang bermain keluar bersama Mbok Mirna, pikirnya.



Dengan langkah malas, Reza membuka pintu ruangannya dan mendapati Friska yang rupanya tengah menunggunya.



“Bara, udah bilang, kan, kalau saya hari ini izin?” ucap Reza sambil berjalan ke kursinya.



Sesaat Friska terhenyak oleh pemandangan yang dilihatnya. Reza yang terlihat segar karena habis mandi tetap tidak bisa menyembunyikan kepedihan yang disimpan rapat oleh lelaki itu.



“Hei, Fris…!”



Wajah Friska tersenyum canggung. “Udah, Pak.”



“Terus? Atau ada dokumen yang harus saya tanda tanganin?”



Friska menggeleng cepat. “Saya khawatir sama keadaan, Bapak,” jawabnya jujur.



“Khawatir? Saya nggak apa-apa. Kebetulan hari ini mau istirahat aja di rumah.”



Friska menunduk seperti menyimpan sesuatu dalam hatinya. Seperti memikirkan sesuatu.



“Ada apa?”



Friska tersenyum jengah, “Saya semalam lihat bapak…”



Alis Reza bertaut, semalam dia tidak memperhatikan sama sekali siapa saja karyawan PT Surya Mas Land yang



ada di pub.



“Nggak tahu sejak kapan… berawal dari sebuah rasa kagum hingga saya menyadari sesuatu.”



Reza masih menunggu, mendengarkan tiap kata dari mulut Friska.



“Sebuah permintaan besar, jika saya menginginkan bisa ada di posisi Mbak Bulan… tapi entahlah, ada sesuatu yang mengganjal perasaan saya. Sosok Pak Reza….”



“Kenapa sosok saya?” tanya Reza saat ucapan Friska terputus.



Wajah Friska memerah, berulang kali dia mencoba menenangkan jantungnya tapi sepertinya gagal. Friska kehilangan nyalinya untuk melanjutkan. “Kayaknya saya suka sama Bapak….”



Reza tertawa, dia kira Friska akan mengucapkan kata-kata yang lain. “Saya juga suka sama kamu… saya suka dengan kinerja kamu,” balasnya.



Friska melihat tawa Reza yang lepas tanpa beban… biarlah Reza salah persepsi tentang perasaannya. Asal bisa melihat Reza tertawa seperti ini, semuanya jauh lebih baik baginya.



“Kapan-kapan saya boleh ke sini nggak, Pak? Pengen main sama Bumi.”



“Boleh, Bumi juga pasti senang. Ajak ponakan kamu sekalian.”



“Oke, Pak.”



“Makasih, lho, udah repot-repot ditengokin.”



Friska menghirup oksigen berkali-kali saat dia sudah keluar dari pintu pagar rumah Reza. Mengutarakan perasaan itu sama sekali bukan hal yang mudah.



***



Selepas Friska pulang, Reza keluar dari ruangan kerjanya dan mencium wangi masakan. Dia segera menarik kursi meja makan dan memanggil Mbok Mirna untuk menyediakan makan siang. Namun matanya memicing, ketika ada Bulan yang berjalan dari arah dapur sambil membawa mangkuk sayur.



“Mau makan sekarang, Mas?”



“Kenapa kamu ada di sini?” Reza balik bertanya. Kenapa hari ini banyak sekali kejutan untuknya? Dan Bulan adalah orang terakhir yang tidak ingin dia temui untuk saat ini.



“Tadi pagi Mbok Mirna telepon aku, dan kasih tahu kalau kamu… manggil-manggil nama aku.” Bulan melirik sekilas ke arah Reza, ingin tahu reaksi mantan suaminya tapi Reza hanya memandangnya datar.



Separah itu kah kondisinya saat mabuk? Memanggil nama Bulan? “Jadi gara-gara itu kamu ke sini?”



Bulan mengangguk.



“Apa pun yang nanti akan terjadi padaku, jangan pernah merasa kamu memiliki tanggung jawab untuk mengurusku.”



Mata Bulan melebar… kata-kata Reza terdengar dingin dan menyakitkan. “Maksud kamu, Mas?”



“Kamu nggak perlulah masakin aku kayak gini…” Reza bangun dari kursinya dan meninggalkan Bulan begitu saja tanpa penjelasan lebih panjang.



Air mata Bulan hampir saja jatuh kalau saja Mbok Mirna tidak segera datang menghampirinya. Apa yang terjadi pada Reza? tanyanya dalam hati.