Over the Rain

Over the Rain
Episode 2



Matahari sudah mulai tenggelam dan langit sudah berganti warna menjadi kelam. Langit malam itu terlihat hitam pekat, tidak ada sinar bintang atau bulan… langit pun seolah menertawakan Bulan yang berjalan tanpa arah tujuan.



Apakah tempat yang biasanya dia sebut sebagai rumah—



sebuah tempat yang dulu dia habiskan ketika menjalani kehidupan bersama Reza, masih bisa menjadi tempatnya pulang? Bulan teringat perkataan Reza, dia sudah tidak memiliki hak apa-apa.



Kata hatinya mengingatkan bahwa masih ada Bumi di sana. Bumi pasti mencarinya, menantinya untuk segera pulang. Pikiran itu yang membuatnya dengan cepat memberhentikan taksi yang melintas di depannya.



Koper-koper besar menjadi pemandangan pertama yang Bulan temui saat kakinya menyentuh lantai marmer ruang tamu. Mbok Mirna yang sibuk membereskan barang-barang, tidak menyadari kedatangan Bulan.



“Kamu bisa tinggal di sini. Karena rumah ini memang atas nama kamu,” Reza membuyarkan lamunan Bulan.



Rumah ini memang hadiah yang diberikan Reza ketika mereka dulu menikah. Tapi Bulan sama sekali tidak setuju dengan ide yang diberikan Reza. “Biarkan aku yang pergi dari sini,” jawabnya.



“Ndaaaa… kata Ayah, kita mau jalan-jalan.” Dari dalam rumah, Bumi berlari ke arahnya. “Baju sama mainan Bumi udah ditaruh di tas semua,” tunjuk Bumi pada tas berwarna merah.



Bulan menatap tajam ke arah Reza.



“Mas, kasih aku satu malam untuk membereskan perlengkapanku. Aku yang harusnya pergi dari sini. Bukan kalian.”



“Nda… mau ke mana? Bumi ikut ya…,” rengek Bumi, ketika Bulan mengucapkan kata pergi.



“Bunda, nggak ke mana-mana, kok,” jawabnya bohong.



Reza menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa. Lalu dia menyodorkan sebuah map pada Bulan. “Ini keputusanku dari pembagian harta yang kita miliki.”



Bulan tidak meraih map tersebut, dia membiarkan Reza tetap memegangnya. “Kamu yang memiliki semua aset di sini, Mas. Aku nggak berhak dapat apa-apa. Kalaupun aku boleh meminta, aku hanya ingin Bumi bersamaku.”



Rupanya Bulan belum lelah untuk terus meminta Bumi pada Reza. Sesuai dengan pendiriannya, Bumi tetap akan bersamanya.



“Terserah kamu.” Reza mengambil Bumi dari pelukan Bulan. “Sudah siap semua, Mbok? Tolong masukan tasnya ke dalam mobil.”



“Kalian mau pergi sekarang?” tanya Bulan pilu.



Reza hanya mengangguk. “Secepatnya aku kabari, di mana nanti kami akan tinggal.”



“Mas, bisakah sekali ini kamu mendengarkan aku? Tinggallah di sini. Aku yang pergi,” tandas Bulan berbicara dengan suara tinggi.



“Aku hanya menuruti keputusan hukum. Rumah ini sekarang menjadi milikmu.”



Mbok Mirna menjaga jarak dari kedua majikan yang sangat dia sayangi. Dia sungguh merasa prihatin atas keputusan cerai yang mereka ambil. Ingin dia melerai, tapi dia tidak berani untuk ikut campur. Yang bisa dia lakukan hanya menepuk punggung Bumi, agar anak itu merasa tenang.



Kalau saja tidak ada Bumi, ingin rasanya Bulan beradu argumen lagi dengan Reza. Pandangannya terpaku, Reza memasukkan koper-koper tadi ke dalam mobil. Hanya menunggu hitungan menit, Bumi akan benar-benar meninggalkannya.



Bulan akan kehilangan oksigennya. Matanya kini terasa panas. Semuanya terasa lebih sakit ketika tadi hakim membacakan tentang kekalahan hak asuhnya atas Bumi. Karena perpisahan yang sebenarnya baru akan terjadi sebentar lagi.



Pandangan Bulan mengabur, dia tidak ingin Bumi melihatnya menangis. Tapi dia tak kuasa untuk menahan rasa pedihnya.



“Nda… Ndaaa…” Bumi merengek ketika dia melihat Bulan tidak ikut naik ke mobil bersamanya. Tangis Bumi semakin kencang.



Bulan berlari, dia merengkuh tubuh Bumi yang berada di pangkuan Mbok Mirna. Mereka menangis bersama sambil berpelukan erat. Lewat air mata, keduanya menuangkan bentuk dari kepedihan akan sebuah perpisahan yang akan mereka jalani. Lelah karena menangis perlahan napas Bumi terdengar teratur. Anak itu terlelap di pelukan Bulan.



Reza meminta Mbok Mirna untuk mengambil Bumi dari pelukan Bulan. Sementara Bulan tidak rela untuk melepas Bumi.



“Kami harus pergi, Bulan,” ujar Reza dingin.



Untuk terakhir kalinya, Bulan mengecup wajah Bumi. Dan berbisik lembut di telinga Bumi. “Bunda sayang Bumi. Sayang banget.”



***



Di sudut Starbucks Bintaro Plaza, Reza menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia mensyukuri karena laptopnya tertinggal di mobil sehingga bisa menghabiskan waktu di luar rumah.



Sambil mengaduk gelas kopi ketiga, kemarahannya pada Bulan masih memenuhi ruang hatinya. Sikap Bulan menunjukkan bahwa pernikahan mereka tidak memiliki arti sama sekali… ya, Bulan, mantan istrinya itu tidak tampak sedih atas perceraian mereka. Walaupun Reza sangat tahu alasannya. Karena Bulan memang tidak pernah mencintainya.



Hanya Bumi-lah satu-satunya alasan yang membuat Bulan tersedu dan hancur seketika karena perpisahan mereka.



***



Tepat jam sembilan malam, Bumi sudah terlelap di kamar tidurnya setelah dibacakan dongeng oleh Bulan. Selama dia ada di sana, selama itu juga Reza belum kembali. Sambil membereskan tasnya, Bulan menghampiri Mbok Mirna yang berada di dapur, dia ingin berpamitan pulang.



“Aku pulang ya, Mbok.”



Mbok Mirna menoleh. “Nggak mau tunggu Bapak dulu?”



Bulan menggeleng. Buat apa dia menunggu Reza. Toh, Reza pun tidak ingin melihatnya.



“Berani, Non, pulang sendiri?” tanya Mbok Mirna ragu.



Bulan tertawa. Apalagi yang harus dia takuti sekarang? karena ketakutan terbesarnya sudah terjadi, yakni ke-



hilangan Bumi.



“Berani dong, Mbok. Kalau nggak ada angkot nanti aku bisa pulang naik taksi.”



Mbok Mirna masih memandang wajah mantan majikannya. Bulan terlihat lebih kurus dan wajahnya tidak sesegar dulu.




Sebuah perhatian kecil rupanya bisa menghancurkan tembok di hati Bulan. Dia memeluk Mbok Mirna sambil menangis tanpa suara. Hanya perempuan tua inilah yang masih peduli padanya. “Aku titip Bumi ya, Mbok. Telepon aku kalau ada apa-apa.”



Mbok Mirna mengangguk. “Non, juga jaga diri baik-baik.”



Bulan menarik napasnya dan menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. “Makasih, Mbok.”



“Hati-hati ya, Non,” ucap Mbok Mirna sambil melambaikan tangan untuk melepas kepergian Bulan.



Bulan balas tersenyum pada Mbok Mirna. Di bawah penerangan lampu yang seadanya, Bulan sendirian menyusuri kompleks perumahan mewah itu. Perasaannya cukup tenang karena Bumi diurus dengan baik oleh Reza dan Mbok Mirna.



Livina hitam berhenti tepat di samping Bulan. Suara klakson memberi tanda agar Bulan berhenti.



“Aku anter pulang. Ayo naik.” Suara Reza terdengar jelas meski pria itu tidak turun dari dalam mobil.



Bulan mengernyitkan keningnya. Kenapa Reza tiba-tiba perhatian? Padahal seharian ini jelas sekali, Reza menghindarinya. Dengan cepat Bulan langsung menggeleng. “Aku bisa pulang sendiri,” Bulan meneruskan langkahnya lagi.



Reza tidak terima dengan penolakan Bulan. Ini bukan tentang perasaannya pada Bulan atau tentang status mereka yang dulu pernah menikah. Tapi lebih kepada kekhawatirannya terhadap seorang perempuan yang berjalan seorang diri di malam hari. Hanya itu.



Mobil Reza melewati Bulan dan berhenti lagi tapi dia memilih turun untuk berbicara baik-baik pada Bulan. “Saya antar pulang,” ucap Reza tegas.



Bulan tersenyum getir lalu menggeleng. “Kamu, tuh, udah nggak punya kewajiban untuk perhatian sama aku, Mas,” sindir Bulan.



“Kenapa, sih, kamu jadi sombong banget?” tanya Reza tajam. Kalaupun ada yang berhak bersikap sombong di sini tentu jawabannya hanya dirinya dan bukan Bulan.



Kali ini Bulan tertawa. “Apa aku masih punya sesuatu yang bisa aku sombongkan? Aku hanya berusaha menghargai diriku sendiri dan kamu.”



Wajah Reza mengeras. Bulan yang dia kenal telah berubah perlahan—mantan istrinya terasa asing baginya. “Sejak kapan kamu jadi begini?”



Bulan enggan menjawab pertanyaan Reza dan dia justru mengalihkannya dengan kalimat yang lain. “Terima kasih ya, kamu udah jaga Bumi dengan baik.”



Reza memandang Bulan dengan tatapan tak terbaca. “Dia anakku, tanpa kamu bilang pun. Aku akan menjaganya.”



Bulan ingin memberhentikan taksi yang melintas. Tapi tangan Reza mencekalnya. “Saya antar pulang ke rumah,” Reza tetap berkeras memaksa Bulan.



“Aku bisa pulang sendiri,” Bulan masih mempertahankan harga dirinya.



“Kita ini mantan suami istri, kan? Kita pernah punya hubungan yang baik?”



Bulan mengangguk, membenarkan pertanyaan Reza.



“Anggap aja kita adalah dua orang teman lama. Bisa?”



Bulan menampilkan ekspresi wajah tidak setuju. “Hubungan kita nggak kayak gitu,” suaranya terdengar pelan. “Berhenti bersikap baik sama aku.” Kali ini, dia menatap Reza dengan berani. “Dan satu lagi, aku bisa pulang sendiri. Kalau kamu ngajak aku debat di sini, aku semakin malam sampai di rumah.”



Reza menarik napasnya kasar. Kenapa Bulan jadi seperti ini? Haruskah dia menggunakan cara kasar? Memaksa perempuan ini naik ke mobilnya? Dalam hatinya pun dia menolak ide tersebut.



“Ada berkas yang harus aku ambil di rumah. Bisa sekalian, kan?”



Bulan tidak menyangka, Reza justru memiliki ide seperti itu. Lalu Bulan membuka tasnya dan mengambil sebuah kunci. Kunci rumah mereka yang dulu. “Kamu bisa ambil sendiri,” ucapnya sambil memberikan kunci tersebut



“Apa maksud kamu?” Reza mengurut pelipisnya. Bingung menghadapi Bulan yang seperti sekarang. “Kamu nggak tinggal di rumah kita yang dulu?”



Dengan berat hati Bulan mengiyakan. “Aku nggak pantes dapet rumah itu.” Pandangan Bulan mengabur, entah kenapa hatinya terasa sedih. “Aku yang salah di sini dan nggak berhak dapet apa-apa. Harusnya aku yang pergi, kan?” Bulan mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin Reza melihatnya menangis.



Saat Reza masih terpana dengan kalimat yang diucapkan mantan istrinya itu. Bulan segera memberhentikan taksi di dekatnya. Reza hampir saja menarik tangan Bulan lagi. Tapi Bulan bergerak cepat dan langsung masuk ke dalam taksi.



Reza masih melihat taksi yang membawa Bulan pergi hingga tak terlihat lagi…. Kenapa semuanya jadi begini? Dia sama sekali tidak mengenali sosok Bulan. Jika Bulan tidak menempati rumah mereka yang dulu, lalu di mana Bulan tinggal sekarang? Harusnya hal itu memang bukan tanggung jawabnya lagi tapi mengingat Bulan adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya, tak ayal membuat Reza memikirkannya. Apalagi, setelah keputusan perceraian mereka disahkan, keduanya saling menjauhi satu sama lain.



***



Kopi yang sama dengan rasa yang berbeda.



Reza menyesapnya dan dia tahu meski takaran yang dibuat Mbok Mirna sama dengan racikan yang selalu Bulan buat untuknya, tetap saja rasanya berbeda.



Segala sesuatunya telah berubah. Tidak ada Bulan lagi di sisinya dan juga Bumi. Meski ada keraguan yang muncul tapi Reza segera mematikan rasa tersebut. Hidup mereka harus tetap berjalan dan perlahan dia harus belajar memaafkan Bulan.



Mbok Mirna terlihat berlari ke arah Reza yang sedang duduk di ruang televisi sambil membawa ponselnya. “Dari tadi bunyi terus, Pak,” katanya.



Reza segera mengambilnya. Keningnya mengernyit ketika melihat nama Bulan di layar teleponnya. Dia membiarkan ponselnya terus berbunyi tanpa berniat untuk mengangkatnya. Bukan bermaksud untuk membalas sikap Bulan yang tadi tapi menghindari Bulan saat ini adalah cara terbaik.



“Bumi sudah tidur, Mbok?”



“Baru saja. Tadi ditemani Non Bulan baca dongeng.”



“Kalu gitu, Mbok istirahat juga. Nanti saya yang tidur



sama Bumi.”



Mbok Mirna mengangguk dan meninggalkan Reza. Tangannya menyentuh icon WhatsApp, sebuah pesan dari Bulan.



Bulan: Maaf kalau kehadiranku tadi membuat kamu nggak nyaman. Besok-besok, boleh nggak, kalau aku mau mengajak Bumi jalan-jalan?



Sesaat Reza memejamkan matanya setelah membaca pesan Bulan. Dia membiarkan pesan tersebut dan tidak berniat untuk membalasnya. Biarlah Bulan berpikir macam-macam tentang dirinya karena kenyataannya memang benar… seharian ini yang dia lakukan hanyalah menghindari Bulan.