Over the Rain

Over the Rain
Episode 3



Pada akhirnya, menghilangkan kebiasaan adalah bagian tersulit dari kepergianmu.



Semenjak perpisahannya dengan Bulan, tidur nyenyak pada malam hari adalah sebuah kemewahan. Ini bukan pertama kalinya, Bumi terbangun tengah malam di sampingnya sambil terisak. Dalam tangisnya, Reza bisa mendengar Bumi memanggil nama Bulan berkali-kali.



“Ayah… Nda mana? Bumi mau Nda.…” Sambil menangis Bumi tak henti-hentinya menanyakan keberadaan Bulan. “Tadi, Nda nemenin Bumi bobo tapi sekarang kenapa nggak ada?”



Pertanyaan ini lagi. Reza bangun dari posisi tidurnya dan beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. “Minum dulu,” kata Reza dan Bumi menurutinya.



“Bunda, kan, udah pulang tadi pas Bumi bobo.”



Bumi mengucek matanya. “Pulang?”



“Iya… nanti minggu depan baru ke sini lagi.”



“Kenapa?’



Kenapa? Reza merutuki dirinya sendiri, pertanyaan sederhana itu sungguh sulit dijawab olehnya. “Hmm… Bunda sekarang lagi kerja biar bisa beli mainan buat Bumi.” Sebuah kebohongan lagi.



“Mainan?”



Reza mengangguk. “Makanya Bumi jangan nangis,” katanya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi tembem Bumi. “Sekarang Bumi bobo lagi ya. Nanti kalau sudah pagi, kita jalan-jalan.”



Mata Bumi masih sembab meski air matanya sudah mengering. “Bacain buku cerita dulu, Ayah.”



Reza mengambil buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara yang berada di atas nakas, dia tersenyum ketika melihat buku tersebut. Mengingatkan dirinya akan sebuah kenangan manis bersama Bulan ketika mengandung Bumi. Ya, mereka membeli buku ini dengan perdebatan alot, Reza merasa buku itu belum diperlukan tapi Bulan bersikeras untuk tetap membelinya. Akhirnya dia mengalah dan Bulan tersenyum puas saat bisa membawa pulang buku cerita itu.



Reza membuka lembar pertama, cerita berjudul Timun Emas akan dia bacakan untuk Bumi. “Di sebuah desa hiduplah seorang perempuan tua bernama Mbok Yem. Ia hidup sebatang kara. Mbok Yem ingin sekali memiliki seorang anak, agar dapat merawat dirinya yang sudah mulai tua. Namun, itu semua mustahil karena ia tidak mempunyai suami.”



Diliriknya Bumi, anak itu masih asyik mendengarkan hingga Bumi mulai menguap beberapa kali dan Reza masih meneruskan ceritanya. ”Karena penasaran dengan buah mentimun itu, akhirnya dipetiklah satu yang paling besar. Ketika dibelah, Mbok Yem sangat terkejut. Di dalam timun tersebut ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik.”



Akhirnya Bumi terlelap juga. Dirapikannya selimut Bumi sambil memandang wajahnya yang damai tanpa dosa. Bagian terberat dari perceraiannya adalah menggantikan posisi Bulan. Maafin, Ayah, Nak… entahlah kebohongan seperti apa lagi yang akan diucapkan besok dan besoknya? Apa harus selalu seperti ini dia menghadapi hari bersama Bumi?



***



Reza menepati janjinya pada Bumi. Hari ini dia akan membawa anaknya jalan-jalan. Tapi sebelumnya dia mengajak Bumi untuk mengunjungi rumah Ibunya. Beberapa kali Farida menyuruh Reza untuk datang tapi dia belum memiliki waktu yang pas.



“Kita ke rumah Eyang Uti dulu…” kata Reza saat dia selesai memasang seatbelt Bumi.



“Bunda nggak ikut?”



“Bunda nggak bisa ikut…” Reza menangkap raut wajah kecewa Bumi, “abis itu kita ke Playparq. Mau, kan?”



Wajah Bumi berubah semringah ketika mendengar arena bermain favoritnya. “Mauuu…. Ayo Ayah,” ucapnya tak sabar.



***



Farida telah menunggu cucu kesayangan sejak pagi. Menu kesukaan Bumi pun sudah dia siapkan. “Utiiiii…” panggil Bumi saat dia turun dari mobil.



Dina lebih dulu keluar rumah saat mendengar suara



nyaring Bumi. “Tante Dindin…” panggil Bumi.



“Hai Bumbum…” goda Dina sambil mencubit pipi Bumi. “Ihhh… Bumi tambah ndut aja, nih.”



Wajah Bumi merengut mendengar ledekan Dina.



“Tapi lucuuuu…” ucap Dina sambil tertawa.



“Din… kasian si Bumi jangan digodain gitu, nanti kalau nggak mau makan gimana?” sela Farida.



“Iya… iya…” jawab Dina. “Tante Dina punya mainan baru nih, Bumi mau lihat nggak?”



Bumi meraih uluran tangan Dina, “Mau Tante…”



Farida mengamati cucunya penuh perhatian lalu tersadar ketika tangan Reza mencium tangannya. “Maaf ya, Bu baru sempet kemari.”



“Ibu maklum, gimana kabar kamu?”



Reza tertawa mendengar pertanyaan ibunya. “Baik, seperti yang ibu lihat.”



“Bulan… apa kabar dia?” Farida cukup penasaran dengan mantan menantu kesayangannya itu. Meski telah melakukan kesalahan tetap saja tidak mengurangi rasa sayangnya pada Bulan.



“Keliatannya dia juga baik-baik aja. Kemarin habis nengokin Bumi.”



“Sampai sekarang Ibu masih nggak percaya kalau kalian bercerai.” Farida mengecilkan suaranya, dia tidak ingin Bumi sampai mendengar pembicaraannya. “Bulan yang Ibu tahu itu perempuan baik-baik.”



“Sudahlah, Bu. Semuanya sudah terjadi,” Reza mencoba menenangkan Farida. “Mungkin ini memang yang terbaik untuk kami.”



“Ibu cuma kasihan sama Bumi. Dia masih terlalu kecil dan apa kamu sanggup mengurusnya?”



Reza bisa melihat sorot khawatir di mata Farida, sorot tidak percaya kalau dirinya bisa mengurus Bumi seorang diri. Wajar jika Farida berpikir seperti itu, karena sebelumnya dia pun merasa tidak akan mampu mengurus Bumi… tapi dirinya juga tidak memiliki pilihan lain, karena menyerahkan Bumi pada Bulan juga bukan solusi.



“Aku sedang berusaha mengurus Bumi meski tanpa Bulan, aku yakinkan kalau dia tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun.”



Farida tersenyum puas saat melihat tekad Reza yang kuat. “Ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Nak.”



“Makasih, Bu,” Reza balas tersenyum. Kepercayaan seperti inilah yang dia butuhkan, meski biduk rumah tangganya pincang dan harus berjalan terseok-seok, dia akan memastikan kalau Bumi akan tumbuh menjadi anak yang bahagia meski tanpa sosok Bulan, ibu kandungnya.



***



Malam harinya karena kelelahan, Bumi tidur dengan pulas dan tidak terbangun seperti malam-malam sebelumnya. Semoga ini akan berlanjut dan Bumi akan terbiasa tanpa Bulan di kehidupan mereka. Bumi baru terbangun keesokan paginya ketika Reza sudah berpakaian rapi.



“Ayah, kok kita nggak pulang-pulang?” tanya Bumi dengan mata polosnya.



“Ini kan rumah kita yang baru,” kata Reza sambil duduk di sebelah Bumi.



“Rumah baru? Bumi mau rumah yang dulu aja,” rengeknya lagi.



Reza pikir setelah semalam Bumi tidak terbangun dan menangis, segalanya sudah baik-baik saja. Tapi ternyata di luar dugaannya. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, lewat dari jam ini maka dia akan terjebak kemacetan menuju kantornya.



Kesabarannya mulai menipis, ingin rasanya dia menelepon Bulan dan mengatasi hal ini.



“Bumi kenapa nggak suka rumah ini?”



Bumi diam dan hanya mendengarkan kata-kata Reza.



“Oya, di taman kompleks banyak mainan, lho, ada perosotan, kolam renang, ayunan dan jungkat-jungkit. Enak, deh, Bumi boleh main kapan aja sama Mbok Mirna.”



“Tapi nggak ada Bunda…” sahutnya pelan.



Reza memutar otaknya lagi, dia tengah berpikir untuk menyuruh Bulan datang. “Nanti Ayah coba telepon Bunda dan sekarang, Ayah mau berangkat kerja dulu.”



“Ayah di rumah aja sama Bumi,” pinta Bumi lagi.



“Kalau nanti Ayah nggak kerja, nanti nggak punya



uang, kita nggak bisa jalan-jalan dong.”



“Jalan-jalan? Sama Nda?” Mata Bumi mengerjap, memantulkan binar bahagia.



“Iya nanti kita jalan-jalan.”



Sudah puas dengan jawaban yang diberikan oleh Reza. Barulah Bumi mau beranjak dari pangkuannya.



***




Sampai kapan dunianya bisa kembali normal? Pikirannya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Mungkin besok atau lusa atau bahkan minggu depan semuanya akan berjalan apa adanya.



Mobil Reza memasuki area parkir, keningnya mengeryit sekali lagi. Kenapa pagi ini seolah semesta ingin melihatnya menderita?



Tempat yang khusus menjadi tempat parkir mobilnya kini sudah terisi oleh mobil lain. Siapa yang berani melakukannya?



Reza memberhentikan mobilnya di depan lobi dan berjalan ke arah satpam. Dia memberitahukan tentang tempat parkirnya yang di tempati mobil lain. Satpam yang tidak tahu menahu tentang orang yang berani menaruh mobilnya di jajaran direksi PT Surya Mas Land langsung meminta maaf pada Reza.



Satpam tersebut langsung berinisiatif meminta kunci mobil Reza untuk membantu memarkirkannya. Reza berjalan tergesa, benar saja, meeting-nya sudah dimulai. Reza mengesampingkan perasaan tidak enak dan mengetuk pintu. Semua orang menengok ke arahnya sambil tersenyum.



***



Selesai meeting, seorang perempuan muda menghampiri Reza. “Pak Reza tadi Pak Brian pesan, selesai meeting, Bapak diminta ke ruangannya,” kata Desi, yang menjabat sebagai sekretaris Pak Brian, Direktur Pemasaran.



“Oh iya… terima kasih, Des,” ucapnya.



Reza langsung memencet lift untuk menuju lantai teratas, tempat para petinggi kantor tersebut. “Ada apa, Pak?” tanya Reza setelah dipersilakan masuk.



“Kenalkan ini, Friska. Keponakan saya.”



Reza segera mengulurkan tangannya dan tersenyum sopan. Gadis itu membalasnya dengan senyumnya yang manis.



“Oya, Fris. Reza ini Legal Manager di perusahaan ini.” Lalu pandangan Pak Brian beralih pada Reza. “Friska ini baru saja lulus kuliah Strata satu jurusan Ilmu Hukum dan sekarang dia sedang menunggu program beasiswa S2 di Belanda. Jadi untuk mengisi waktu kosongnya, saya meminta dia untuk magang di divisi kamu. Gimana, Pak Reza?



Reza melirik perempuan modis yang tampil dengan sangat percaya diri itu. Sejujurnya divisinya, tidak kekurangan orang. Tapi permintaan ini datangnya dari salah satu direktur, jadi tidak mungkin dia menolaknya.



“Saya nggak masalah, Pak.”



“Kalau gitu, saya meminta tolong kamu untuk membantu serta mengajari dia.” Brian melirik Reza yang selalu siap dan bisa diandalkan olehnya.



“Semoga kita bisa bekerja sama,” ucap Reza pada Friska.



Pak Brian senang mendengar jawaban Reza. “Oke, Friska, sekarang jika ada masalah kantor yang kamu nggak ngerti bisa tanya ke Pak Reza,” katanya dengan penuh wibawa.



“Terima kasih, Pak,” jawab Friska.



Reza dan Friska keluar bersama dari ruangan Pak Brian. Friska dengan gayanya yang santai mengikuti langkah Reza yang berjalan cepat.



“Jadi pekerjaan saya nanti apa aja, Pak?” tanyanya tanpa basa-basi.



Reza menimbang, sedari tadi itulah yang dia pikirkan. “Membantu membuat perizinan dan juga menyiapkan dokumen jual beli serta bertemu dengan para kontraktor.”



“Hanya itu?”



“Bagian legal di perusahaan properti ya memang seperti ini pekerjaannya. Nggak tertarik ya?”



“Bukan nggak tertarik. Tapi lebih tepatnya saya memang belum tahu,” jawabnya jujur karena dia belum memiliki pengalaman apa-apa.



“Harusnya dari sekarang kamu bisa menentukan minat kerja kamu, karena kan bidang hukum cakupannya luas. Saran saya, jangan memaksakan sesuatu yang kamu nggak suka,” ucap Reza dengan bijaksana.



Friska menggangguk setuju sambil menatap kagum pada Reza, “Kata-kata Pak Reza bener banget. Dan sampai sekarang saya juga masih bingung mau fokus ke mana,” jawabnya sambil terkekeh. “Jangan bosen, kalau nanti saya banyak tanya ya, Pak.”



Reza mengeluarkan senyum tipis dari bibirnya.



***



Reza menyuruh Andara, salah satu stafnya, agar menyiapkan berkas-berkas yang dia butuhkan untuk meeting bersama Pemda Bogor terkait perizinan yang masih alot untuk pembangunan apartemen di daerah Bogor Selatan.



“Kamu ikut saya nanti ke Bogor,” ucap Reza pada Andara.



Andara meringis, menahan perutnya yang sakit karena PMS. “Aduh, Pak. Saya lagi nggak enak badan, sekali ini absen dulu ya, Pak.” sahut Andara sambil memegang perutnya.



“Selain kamu, yang ada di ruangan siapa?”



Ruangannya kosong. Senin pagi, selesai meeting rekan-rekan di divisi Legal sudah kabur menyelesaikan pekerjaan mereka dan mungkin akan kembali setelah makan siang. “Kosong, Pak. Yang lain pada ngurusin surat-surat kontrak untuk jual beli Cluster Bougenville.” Andara tersenyum, “Kan ada si… siapa tuh, Pak, namanya? Anak magang itu lho….”



Reza mengernyit, mencoba mengingat nama perempuan yang tadi juga baru dikenal olehnya. “Friska….”



“Iya, Friska… pergi sama dia aja, Pak,” usul Andara.



“Panggilin dia kalau begitu,” kata Reza.



Reza mengecek sekali lagi kelengkapan berkas yang akan dia bawa ke Bogor. Jangan sampai ada yang tertinggal.



“Mau ketemu klien ya, Pak? Tadi Mbak Andara bilang ke saya,” tanya Friska.



“Oya, Fris. Nanti kamu bantu saya untuk mencatat hal-hal penting yang mereka inginkan. Bisa, kan?”



Friska mengangguk.



“15 menit lagi kita jalan. Kamu siap-siap aja dulu, nanti saya tunggu di lobi,” kata Reza tanpa melihat Friska sama sekali.



Sampai di lobi, Reza mencari satpam yang tadi pagi memarkirkan mobilnya. Tapi sepertinya satpam tersebut sedang berkeliling.



“Pakai mobil saya aja, Pak?” usul Friska saat melihat Reza mencari sesuatu.



Reza melihat jam tangannya. Dia hanya memiliki waktu satu jam untuk sampai di Bogor. “Di mana mobil kamu?”



Friska berjalan ke depan pintu utama. Dia menunjukkan mobilnya yang merah menyala. “Itu mobil saya, Pak.”



Reza berdehem. Jadi perempuan ini yang telah mengambil tempat parkirnya?



“Kamu tahu itu tempat parkir siapa?” tanya Reza saat mereka berjalan menuju mobil Friska.



Friska menggelengkan kepalanya. “Tadi pagi sih kosong, Pak. Nggak ada mobil, jadi ya saya parkir aja di sini.”



“Kamu nggak bohong?” cecar Reza.



Friska tertawa kecil. “Sebenernya sih ada tiang papan, Pak, tapi saya pindahin aja. Jangan bilang siapa-siapa ya, Pak.”



“Besok jangan parkir di sini lagi,” sahut Reza.



Reza seperti mencari sesuatu lalu menemukan sebuah tiang papan dengan plat nopol mobilnya. “Ini harusnya ada di sini kan tadi pagi?”



Friska mengangguk. Wajahnya memerah karena ketahuan telah melakukan perbuatan curang. Hari ini adalah hari pertama dia magang di salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia, apalagi perusahaan ini punya pamannya. Karena kesiangan dan pasti akan terlambat, dia tidak bisa mencari tempat parkir lagi. Jadi dia berinisiatif menggeser papan tersebut dan memarkirkan mobilnya.



“Emang ini tempat parkir siapa, Pak?”



“Mobil saya,”jawab Reza datar.



Wajah Friska merah karena malu. Tiba-tiba saja dia ingin terbang ke langit biru dan hilang bersama awan-awan. Kenapa dia bisa sial begini?



“Maaf ya, Pak,” ucapnya ragu-ragu.



Reza hanya mengangkat bahunya dan masuk ke dalam mobil.



“Saya yang nyetir nih, Pak?” tanyanya.



“Iya dong. Ini kan mobil kamu, saya cuma numpang,” balas Reza telak. Mengendarai mobil di tengah kota saat jam makan siang itu bukan ide yang bagus. Biar saja, Friska berpikir yang macam-macam tentang dirinya. Dia tidak peduli.