Over the Rain

Over the Rain
Episode 5



“Ini bukan tentang maaf… tapi kamu yang tidak pernah mencintaiku.”



Reza baru saja melaporkan hasil meeting-nya bersama pejabat Pemda Bogor tempo hari. Secara garis besar meeting yang dia hadiri menunjukkan progres positif. Proyek pembangunan apartemen PT Surya Mas Land hanya tinggal menunggu surat resminya turun saja.



Pak Arya tersenyum puas ketika mendengar laporan Reza. Proyek apartemen tersebut merupakan salah satu proyek terbesar tahun ini. “Hebat kamu, pakai jurus apa ketika negosiasi sama mereka?”



“Saya jelaskan master plan dari proyek kita, Pak. Apalagi apartemen yang jadi satu dengan mal tanpa tembok bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal untuk mengunjungi Bogor.”



“Tim desain kita memang patut diacungi jempol atas ide mereka yang brilian.”



Reza setuju dengan Arya. “Semoga tidak banyak kendala ke depannya,” ucapnya penuh harap. “Oya, Pak. Saya mau ambil cuti untuk akhir pekan ini.”



“Mau liburan sama keluarga?”



“Iya, Pak, hari Jum’at dan Sabtu ini saya berencana mengajak Bumi bermalam di rumah pohon,” jawabnya.



“Seru tuh liburannya, salam buat istri kamu, kemarin istri saya nanyain, kapan bikin tiramisu lagi?” ucap Pak Arya, sambil mengingat kue yang pernah dikirimkan Reza untuk keluarganya.



Bulan lagi… semuanya masih tentang Bulan.“Nanti saya sampaikan pada Bulan,” jawab Reza.



Di depan pintu ruangannya, Reza memandangi sebuah cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Ya, cincin itu adalah cincin pernikahannya dengan Bulan.



Perasaannya terlampau kalut. Reza seperti terbawa pada kenangan masa lalunya. Cincin itu dipakaikan Bulan setelah mereka resmi menjadi suami istri. Dan kini dengan berat hati, dia harus melepaskan cincin tersebut. Sudah saatnya dia melupakan serta meninggalkan semua tentang Bulan dalam kehidupannya.



***



Sudah sejak pagi, Bumi mogok makan. Mbok Mirna sudah mencoba untuk merayu Bumi dengan berbagai macam cara. Mulai mengiming-imingkan anak itu es krim, mobil-mobilan hingga jalan-jalan ke taman kompleks. Tapi hal itu tidak membuat Bumi mau menuruti perkataannya.



“Aku mau makan sama Bunda.” Suara Bumi terdengar sangat lemas.



Mata perempuan tua itu tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Apa yang harus dia jawab? Apakah sebuah kebohongan yang sama yang sering diberikan Reza? Andai saja kisah cinta terlarang majikannya dengan Bintang yang tiba-tiba hadir tidak pernah terjadi. Pasti Bumi tidak akan pernah merasakan kesedihan seperti ini.



“Hari Sabtu besok, kan, Bunda ke sini.” Mbok Mirna memangku Bumi sambil mengusap punggung anak itu. “Bumi mau nasi goreng? Mbok Mirna masakin ya?”



Bumi tetap menggeleng dan merengek. “Aku mau Bunda, Mbok… Nda ke mana sih? Kok nggak pulang-pulang?”



“Bunda, kan, lagi kerja,” jawab Mbok Mirna.



“Aku mau sama Bunda.” Tangis Bumi sudah tidak tertahan lagi. Badannya berguncang hebat. Wajah putih Bumi berubah memerah. Air matanya terus mengalir.



Mbok Mirna mendekap Bumi semakin erat. Sambil membujuk Bumi, diam-diam dia juga ikut menangis.



***



Di kontrakannya, perasaan gelisah sedari tadi mengusiknya. Bulan mencoba untuk mengalihkan perasaannya tapi tetap saja tidak membuatnya lebih baik. Hati dan pikirannya terus menyebut nama Bumi. Baru tiga hari berlalu dari pertemuannya bersama Bumi tapi rasa rindu itu begitu menggebu di hatinya. Dia sangat merindukan Bumi dan tidak ada yang bisa mengalihkan kegundahan hatinya.



Harus hari ini juga. Tidak ada yang bisa menahan keinginannya. Tapi Bulan tahu, dia tetap harus menghormati Reza, dengan sedikit keberanian dia mengirimkan sebuah sms kepada lelaki itu.



Bulan: Mas, aku mau lihat Bumi sebentar saja. Bolehkan?



Setelah menunggu beberapa lama, tidak ada suara notifikasi sebagai tanda sms masuk dari ponselnya. Bulan menarik napas panjang, berasumsi bahwa kini Reza sedang sibuk dan tidak sempat membalasnya. Atau sebaliknya… Reza memang tidak mengizinkan dirinya untuk bertemu Bumi?



Dilihatnya lagi ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Reza belum juga membalas sms darinya. Kesal menunggu, Bulan langsung menelepon Reza. Beberapa kali terdengar nada sambung tapi juga tidak terjawab. Tapi Bulan tetap mencoba. Reza harus mau berbicara padanya.



Bulan tersenyum ketika teleponnya tersambung.



“Halo….”



Bulan terdiam. Suara perempuan?Siapa yang mengangkat ponsel Reza?



“Halo… ini istrinya Pak Reza ya? Maaf ya Bu, Pak Reza lagi meeting, kebetulan ponselnya ketinggalan di meja kerjanya.”



Istri? Bulan masih mencerna ucapan orang yang sedang berbicaranya kini.



“Oya, perkenalkan, Bu, saya Friska.”



Friska mengenalkan dirinya dengan sopan.



“Saya, Bulan.”



“Nanti saya sampaikan kalau ibu telepon.”



“Terima kasih, Friska.”



“Sama-sama, Bu.”



Bulan bergeming di atas kasurnya yang kecil. Perasaannya sedikit terganggu dengan apa yang didengarnya. Tapi dia tidak mau memperpanjang rasa itu lebih jauh. Cukup baginya memendam semua luka yang pernah dia ciptakan di antara mereka.



Tanpa ragu, meski belum mendapat izin dari Reza. Bulan tetap melanjutkan niatnya untuk mengunjungi Bumi.



***



“Maaf ya, Pak.” Reza menoleh ketika Friska keluar ruangannya. “Tadi saya mau kasih laporan tertulis meeting kemarin, eh ponsel Bapak bunyi terus-terusan. Karena takut ada hal penting jadi saya angkat.”



Reza segera merogoh saku jasnya. Ponselnya memang tidak ada. Dan matanya menangkap ponsel pintar miliknya itu ada di antara tumpukan map yang berserakan di atas meja kerjanya. “Siapa yang menelepon?”



Wajah Friska tampak sungkan ingin menjawab. “My Beloved Wife, Pak,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum.



Bulan? Dan kenapa nama Bulan belum berubah di ponselnya? Reza merutuki kebodohannya lagi.




“Iya, saya juga salah karena meninggalkan ponsel sembarangan,” sahut Reza dan merasa tidak enak.



“Itu laporan yang tadi Bapak minta sudah saya taruh di meja ya, Pak.”



Reza mengangguk. “Kamu boleh keluar.”



***



Reza segera memeriksa ponselnya. Benar kata Friska ada lima panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan dari Bulan. Bulan mau bertemu Bumi? Dia tertawa sendiri membaca ulang sms tersebut. Beginilah akhirnya, memisahkan Bulan dari Bumi hanyalah akan menambah permasalahan baru setelah perceraian mereka.



Reza : Datang saja ke rumah.



Tanpa menimbang, Reza membalas sms Bulan. Ini semua demi Bumi, karena dia tahu Bumi pun juga merindukan Bulan.



***



“Non Bulan?” Mbok Mirna seperti tidak percaya saat melihat kehadiran Bulan.



“Aku kangen sama Bumi, Mbok. Tapi nggak bisa lama-lama soalnya abis ini aku mau kerja. Bumi mana, Mbok?”



“Bumi ada di kamarnya. Non Bulan kerja?” tanya Mbok Mirna tidak percaya.



“Iya Mbok. Tapi jangan bilang sama Mas Reza ya.”



Mbok Mirna tersenyum mengerti. Dia langsung mempersilakan Bulan masuk.



“Bumi… Bumiii…,” panggil Bulan.



“Bundaaaaaa. ” Bumi segera berlari keluar kamar, saat



mendengar suara Bulan memanggilnya.



“Anak Bunda lagi apa?”



“Mau bobo,” ucapnya sambil mengucek kedua matanya. “Nda nggak kerja?” tanya Bumi sementara Bulan terdiam. Dari mana Bumi tahu kalau dia kerja?



“Bumi tahu dari siapa kalau Bunda kerja?”



“Ayah yang bilang. Makanya Bunda pergi.”



Bulan tersenyum pahit. Reza memberikan sebuah kebohongan… tapi dia mengerti. Pasti bukan hal yang mudah menjelaskan kepada Bumi tentang status mereka berdua.



“Terus sekarang Bunda, kok, nggak kerja?” Mata polos Bumi menghipnotis Bulan seketika.



Kemewahan seperti inilah yang Bulan dapatkan ketika bertatap langsung dengan Bumi. Mata bening Bumi memantulkan semua energi yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup di dunia ini. Sekaligus membuatnya merasa yakin kalau kebahagiaan itu masih ada untuknya.



“Sebentar lagi Bunda kerja, tapi Bunda mau ketemu sama Bumi dulu. Bunda kangen.” Bulan menyentuh wajah Bumi dengan lembut. Lalu menciumnya. “Bumi udah mam?”



Bumi menggeleng,”Bumi mau mam-nya sama, Nda.”



Permintaan sederhana yang diucapkan Bumi, membuat Bulan tersenyum lagi. Ini akan sangat mudah, kalau saja mereka adalah keluarga yang utuh. Sekali lagi dalam hatinya, dia mengucapkan beribu kata maaf pada anaknya yang belum mengerti apa-apa. Bulan mengecup puncak kepala Bumi dan memeluk tubuh mungil itu.



“Ayo kita mam,” kata Bulan sambil menjawil hidung Bumi.



***



“Sudah mau makan, Pak?” Mbok Mirna bertanya pada Reza yang baru sampai di rumah tepat pukul delapan malam.



“Saya sudah makan, Mbok. Bumi mana?”



“Bumi sudah tidur. Baru saja.”



“Tadi makannya banyak?”



Mbok Mirna tersenyum, untuk hari ini dia sangat bahagia melaporkan berita tentang Bumi. “Bumi hari ini makannya banyak, Pak. Kan tadi Non Bulan ke sini.”



“Lama tadi si Bulan ke sini?”



“Lumayan juga, Pak.”



“Maaf ya, Mbok, kalau sekarang Bumi sering rewel,” Reza menghela napas. “Semoga saja sebentar lagi keadaannya kembali normal lagi.”



“Saya ngerti, Pak,” takut-takut Mbok Mirna berbicara lagi. “Saya, sih, berharapnya, Bapak bisa memaafkan Non Bulan.”



Reza menaikkan pandangannya, meneliti raut wajah Mbok Mirna yang ragu tapi tetap berani untuk mengutarakan maksud hatinya. “Ini bukan masalah memaafkan, Mbok… tapi Bulan yang tidak pernah mencintai saya.”



Dahi Mbok Mirna ikut berkerut, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.



“Untuk apa saya memaksakan sebuah hubungan, kalau Bulan justru berada di seberang jalan yang berbeda dengan saya?”



“Maafin Mbok ya, Pak, sudah ikut campur. Saya cuma nggak tega sama Bumi. Hampir tiap hari terus menanyakan Non Bulan.”



Reza mengangguk, paham dengan maksud Mbok Mirna. “Nanti Bumi pasti mengerti dengan apa yang terjadi pada orangtuanya.”



“Iya, Pak…” sahut Mbok Mirna.