
Selama perjalanan mereka hanya diam, namun tiba-tiba saja Alden teringat dengan Alesha, yang saat ini ada di Amerika. Alden tahu, Alesha adalah orang Indonesia.
"Alesha, boleh aku bertanya?" tanya Alden dengan penasaran.
"Silahkan, Tuan," jawab Alesha.
"Kenapa kamu ada di Amerika? Bukankah kamu orang Indonesia?" Mendengar pertanyaan Alden, benar-benar membuat Alesha tertegun. Lidahnya terasa kelu, dan sulit untuk berucap.
'Kenapa Tuan Alden menanyakan hal ini sih? Masa aku jawab kalau aku kabur gara-gara hamil di luar nikah? Dan lebih parahnya, aku nggak tahu siapa ayah dari anak ku,' Alesha hanya bisa membatin. Dia masih memberikan jawaban yang harus bisa meyakinkan Alden.
"Itu ... Saya memang suka berkelana, Tuan. Saya suka mencari suasana baru, jadi saya pindah ke Amerika," jawab Alesha bohong.
"Orang tua kamu?" Alden menanyakan seputar kedua orangtua Alesha.
"Mereka, ada di Indonesia." jawab Alesha, saat Alden menanyakan seputar kedua orangtuanya, entah kenapa Alesha merasa begitu berat. Dia merindukan kedua orangtuanya, namun keadaan tidak memungkinkan.
"Pasti kamu rindu dengan kedua orangtua kamu ya?" tebak Alden dan diangguki oleh Alesha.
"Kalau nanti, ada kesempatan saya ke Indonesa, apa kamu mau ikut?" Alden menawarkan hal yang sangat menggiurkan bagi Alesha. Namun, Alesha harus sadar, saat ini dirinya sudah jauh berbeda.
"Tidak Tuan, saya sudah janji akan kembali nanti saat saya sudah bisa sukses dengan kaki saya sendiri," tolak Alesha dengan halus.
"Baiklah," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Alden.
.
.
Sedangkan kini, di kantor milik Alden. Felix tengah dipusingkan dengan kelakuan Regina. Regina begitu kesal karena dia sudah menunggu Alden sejak 2 jam lalu, namun sampai detik ini Alden masih belum juga kembali. Felix sudah memberikan saran, untuk Regina kembali lagi nanti, namun Regina memang sangat keras kepala.
"Makanan apaan ini?! Ganti!" Regina memerintah staf OB dengan sesuka hatinya. Dia meminta dibelikan makanan yang entah apa yang dia mau, setiap kali mereka menyediakan makanan, selalu dibuang dengan alasan tidak enak atau bukan selera Regina.
"Nona Regina, saya mohon sudah cukup jangan begini, kasihan mereka." Felix tidak tega melihat karyawan yang sudah kelelahan melayani Regina.
"Apa peduli mu? Kau mau menggantikan mereka? Hah?" dengan sombongnya, Regina menaruh kedua kaki di atas meja. Benar-benar tidak mencerminkan wanita yang bermartabat.
"Sampai detik ini, saya masih sabar Nona. Saya mohon dengan sangat supaya anda menghentikan semuanya, dan kembali lah besok." kembali Felix membujuk dengan perasaan yang tertahan.
"Tidak!" seru Regina menolak.
"Kalau begitu, jangan salah kan saya," Felix mengambil tas dan kunci mobil Regina yang tergeletak di atas sofa. Felix membawanya keluar, membuat Regina mau tidak mau mengikuti Felix.
"Felix! Apa yang akan kamu lakukan?! " Regina terus mengejar langkah Felix bahkan sampai di lift.
"Felix kembalikan padaku," pinta Regina, napasnya masih tersengal-sengal karena lelah berlari.
"Felix!" Regina berteriak, karena Felix sama sekali tidak menggubris ucapannya.
"Nona, saya tidak tuli," ucap Felix dengan dingin. Pintu lift terbuka, dan Felix kembali melangkah keluar. Diikuti dengan regina.
"Sekarang silahkan masuk," Felix mengantarkan Regina sampai ke mobil, Regina masih menatap Felix dengan tidak percaya.
"Kau mengusirku?" tanya Regina.
"Iya," jawab Felix tanpa sungkan.
"Kau pikir kau siapa? Kau hanya asisten! Bawahan dari Alden! tapi kau bertindak seolah kau adalah pemimpin!" Regina meraung, dia tidak terima dipermalukan dan diusir oleh Felix.
"Jadi, silahkan masuk Nona, dan istirahat lah," Felix membukakan pintu mobil untuk Regina. Regina menghentakkan kakinya dengan kesal, dia juga melemparkan tatapan maut kepada Felix.
Felix menghela napas lega, setelah Regina pergi. "Syukurlah, pembuat onar sudah pergi," gumam Felix.
.
.
Alesha dan Alden sudah sampai di perusahaan, namun Alden meminta Alesha untuk meninggalkan belanjaan di mobil saja. Alesha merasakan sesuatu yang mulai tidak enak di bagian p4yudar4nya.
"Tuan, saya permisi ke toilet dulu," Alesha langsung melangkah menuju toilet perempuan. Dia masuk ke dalam salah satu bilik, dia juga mengeluarkan alat pompa asinga yang sengaja dia sediakan di dalam tas.
Dengan tenang, Alesha memompa asinya, setelah di pompa Alesha merasakan bagian dadanya sudah tidak sakit lagi.
"Nikmatnya menjadi seorang ibu," gumam Alesha. Dia memindahkan ASI nya ke dalam wadah yang sudah disediakan.
Alden yang baru saja kembali ke ruangannya, langsung mendapat kan laporan dari Felix, yang mengatakan bahwa Regina baru saja dari kantor. Felix juga menceritakan apa saja kekacauan yang sudah dilakukan oleh Regina.
"Dia benar-benar wanita yang tidak tahu malu," ucap Alden, dia benar-benar benci dengan wanita seperti Regina. Selalu menjadikan kekuasan sebagai landasan untuk menghina dan mencaci orang lain dengan sesuka hatinya.
"Baiklah, kau boleh pergi." setelah mendapatkan persetujuan dari Alden. Felix pun keluar.
.
.
Jam kerja sudah selesai, Alesha sudah berkemas, namun dia melihat dari jendela, bahwa hujan tengah turun begitu derasnya.
"Alesha?" Alden keluar dari ruangannya, dan langsung menemui Alesha.
"Iya Tuan?" jawab Alesha.
"Kamu pulang saja bersama saya, hujan di luar sangat deras," ujar Alden. Namun Alesha nampak sungkan, jika harus merepotkan sang atasan.
"Tidak perlu Tuan, nanti saya cari taksi saja," tolak Alesha dengan halus.
"Hujan seperti ini akan sulit mencari taksi, sebaiknya kamu pulang dengan saya. Karena kalau kamu menunggu taksi, bisa sampai malam," Alesha nampak menimang. Dia juga berpikir, kalau benar sampai malam? Bagaimana dengan putranya Alvin?
"Baiklah Tuan, kalau memang tidak merepotkan," akhirnya Alesha menerima tawaran dari Alden.
Suasana kantor sudah cukup sepi, karena karyawan sudah pulang sejak 15 menit lalu. Alesha pun masuk ke dalam mobil Alden.
'Semoga Tuan Alden nggak minta mampir,' batin Alesha was-was.
"Di mana alamat kamu Alesha?" Alden menanyakan seputar alamat, karena dia akan mengantarkan Alesha. Alesha pun menyebutkan alamatnya.
"Kamu tinggal di apartemen?" tanya Alden.
"Iya, Tuan." jawab Alesha.
"Hanya sendirian? apa tidak takut?" tanya Alden lagi.
"Saya ada bu Anjani, Tuan. Asisten rumah tangga saya, yang sudah saya anggap seperti ibu sendiri," jawab Alesha. Dan Alden pun hanya mengangguk.
Perjalanan begitu lengang, mereka hanya diam satu sama lain, entah apa yang dipikirkan. Namun, satu hal yang tengah dirasakan oleh Alden sekarang, dia sangat bahagia karena sudah bis dekat dengan Alesha. Meskipun Alesha tidak merasakan apa yang dia rasakan. Namun, Alden sudah bertekad pada dirinya sendiri, bahwa dia akan membuat Alesha jatuh cinta padanya.