
Beberapa hari kemudian.
Alesha tengah berkutat dengan pekerjaannya, dia merasa sangat lelah sebenarnya, apa lagi semalam Alvin juga sangat rewel karena demam, membuat Alesha mau tidak mau harus begadang.
"Segelas kopi, rasanya ukup supaya kamu tidak mengantuk." tiba-tiba seseorang datang dan membawakan segelas kopi untuk Alesha. Alesha ingat siapa dia, wanita yang sudah membuli Alesha dan tengah menjalankan mas hukuman.
"Terimakasih, Alina." kata Alesha seraya tersenyum ramah.
"Kantung mata kamu hitam, kamu begadagng ya?" tanya Alina, setelah beberapa hari ini dia mengantarkan kopi untuk Alesha setiap pagi, membuat mereka berdua sedikit lebih dekat. Menurut Alina, Alesha tidak seburuk apa yang teman-temannya bicarakan, Alesha sangat ramah bahkan sangat baik.
"Ya, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku harus lembur semalam," jawab Alesha, hanya itu yang bisa dia buat untuk alasan.
"Ck, tapi itu tidak baik untuk kesehatan, kamu tidak ingin pergi ke spa? Aku lihat kamu sepertinya cukup bekerja keras akhir-akhir ini. Kamu sudah bekerja dengan keras, apa kamu tidak sayang ke tubuhmu, berikan saja dia sedikit perawatan supaya bisa lebih segar," saran Alina, dan hanya ditanggapi senyuman oleh Alesha. Alesha tidak punya waktu untuk pergi ke spa, karena sekarang saat Alesha tengah merasa lelah, maka hanya dengan melihat Alvin, rasa lelah Alesha langsung menghilang. Dan lagi, Alesha tidka mau menghamburkan uangnya, dia ingin menabung untuk Alvin, untuk masa depan putranya.
"Tidak, mungkin aku akan pergi ke sana lain waktu," jawab Alesha.
"Bailah, kalau betitu aku titip kopi ini untuk Tuan felix, ya?" Alina menaruh satu gelas lagi untuk asisten Felix, sedangkan untuk Alden kopinya jelas berbeda, karena Alden biasanya lebi suka kopi buatan Alesha.
"Iya, sekali lagi terimakasih kopinya," ucap Alesha, dan Alina hanya melambaikan tangannya dan menghilang setelah masuk ke dalam lift.
'Dulu, aku sangat suka pergi ke salon, mempercantik diri dan merawat tubuh, sekarang jelas sangat berbeda, aku harus berpikir lagi ketika ingin menggunakan uang,' batin Alesha, ketika seperti ini, dia jadi ingat orang tuanya, keluarga yang dia tinggalkan di Indonesia.
"Bagaimana kabar kalian sekarang?" lirih Alesha, air mata sudah tertahan di pelupuk mata, Alesha sangat merindukan keluarganya, dia ingin menghubungi kedua orang tuanya dan mengetahui keadan mereka. Akan tetapi, Alesha belum cukup berani untuk melakukan itu, dia takut kalau kedua orang tuanya masih sangat marah padanya, karena dia pergi begitu saja disaat hari pertunangannya sudah cukup dekat.
"Alesha?" Alesha terkesiap saat dia mendapati Alden dan Felix sudah berada di hadapannya, Alesha langsung menghapus air matanya.
"Kamu kenapa menangis, ada yang membuat kamu sedih, atau ada yang mengolok-olok kamu lagi?" tanya Alden dengan penuh perhatian, tapi Alesha langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak Tuan, sama sekali tidak, saya menangis hanya karena saya merindukan keluarga saya," jawab Alesha.
"Kalau kamu kangen hubungi saja mereka, atau kamu mau pulang ke Indonesia, dan mengambil cuti?" tanya Alden menawarkan.
"Tidak Tuan, saya tidak bisa pulang sekarang, saya masih ingin bekerja. Nanti, di rumah saya akan hubungi mereka," tentu saja, hal itu hanya bohong belaka, karena sebenarnya Alesha belum punya keberanian untuk melakukan hal itu.
"Ya, sudah jika itu sudah menjadi keputusan kamu, saya hargai itu. Tapi, jika kamu berubah pikiran kamu bisa hubungi saya atau Felix," kata Alden.
"Baik Tuan, terimakasih banyak," ucap Alesha dengan tulus. Melihat sikap Alden yang begitu baik padanya, embuat Alesha merasa sangat bersalah, karena sudah membohongi Alden. Tapi, jika tidak begini, maka Alesha juga bingung bagaimana cara dia menghasilkan uang, dan bisa membayar semua keperluannya selama di sini.
"Semoga saja, jika suatu saat rahasia saya terbongkar, Tuan Alden tidak membenci saya," lirih Alesha seraya menatap pintu ruangan Alden yang tertutup.
-//-
"Kamu yakin, ini akan berhasil?" tanya Alden dan Alesha, mereka cukup was-was.
"Aku yakin. Kalian tenang saja, aku bisa mengatasi semuanya," jawab Anggela meyakinkan.
"Izinkan aku dan Alsha bersembunyi di dalam apartement kamu, supaya kami bisa berjaga-jaga," ucap Alden, dan Anggela pun mengizinkan. Alesha dan Alden bersembunyi di dalam ruangan kerja Anggela, sedangkan Anggela sendiri duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan Ferdinan.
Anggela duduk dengan tenang, tidak lama terdengar ber terdengar, dan Anggela terenyum karena dia melihat Ferdinan datang. Dengan sigap Anggel membuka pintu dan memeluk Ferdinan.
"Sayang, aku sangat takut," isak Anggela dala dekapan Ferdinan, dia tengah memainkan sandiwaranya sekarang.
"Apa yang terjadi, sayang? Aku sangat khawatir karena kamu tidak ada kabar sama sekali," ucap Ferdinan, berlagak khawatir.
"Masuklah dulu, biar aku jelaskan," Anggela meminta Ferdinan masuk, sedangkan Anggela menutup pintu, tapi tidak terlalu rapat. Sekarang, dia dan Ferdinan sudah duduk di sofa.
"Setelah dari pesta kamu, aku pulang dan ternyata ada beberapa orang yang mengikuti ku, aku hampir diculik, tapi untunglah ada yang menolong ku," ucap Anggela.
"Siapa yang menolong kamu?" tanya Ferdinan begitu penasaran.
"Kenapa kau justru lebih penasaran siapa yang menolongku, apa kamu tidak khawatir dengan keadaan anak kita?" tanya Anggela memasang wajah curiga, dan seketika Ferdinan tersadar, sikapnya bisa saja membahayakan dirinya, dan membuat Anggela curiga.
"Bu-bukan begitu sayang, aku juga khawatir dengan keadaan kamu dan calon anak kita. Tapi, aku juga ingin tahu, siapa orang baik yang sudah menolong kamu, aku ingin berterimakasih dengannya," jawab Ferdinan beralasan.
"Aku tidak tahu, karena ketika aku terbangun, aku sudah ada di rumah sakit," jawab Anggela.
"Ya sudah, yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja," ucap Ferdinan mencoba menenangkan.
"Kamu, kapan akan menikahi aku?" kembali Anggel meminta pertanggungjawaban Ferdinan, dan raut wajah Ferdinan pun berubah masam.
"Bukankah aku sudah meminta kamu untuk bersabar? Aku butuh waktu untuk mengambil semua harta Valen, apa kamu mau hidup kita miskin?" tanya Ferdinan.
"Aku nggak perduli, mau kita hidup pas-pasan sekalipun, bukankah kamu sangat ingin hidup bersama dengan ku, bersama anak kita juga?" Anggel menuntun tangan Ferdinan dan membawanya ke perutnya, di sana tumbuh janin buah cintanya dengan Ferdinan.
"Aku terima kamu apa adanya, yang penting kamu mau bersama ku, dan kita hidup sederhana," ujar Anggel.
"Jangan bodoh, aku sudah berjuang sampai sejauh ini Anggel, dan kamu justru mau meminta ku untuk hidup pas-pasan?" tanya Ferdinan, dia mulai terlihat kesal.
"Kamu berada di titik ini, karena bu Valen, bukan karena kerja keras kamu!" sentak Anggel.
"Jangan meninggikan suara kamu! Ingat posisi kamu!" Ferdinan menekan kata-katanya, membuat sifat asliynya terlihat.