One Night's Mistake

One Night's Mistake
Perhatian atasan?



Alesha dan Alden akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Alesha langsung menanyakan kepada pelayan, meja reservasi atas nama Perusahaan KingAlden. Mereka pun dibawa ke salah satu meja VVIP.


"Baiklah Tuan, mereka sepertinya akan datang sebentar lagi," ucap Alesha, karena kini dia juga tengah menghubungi sekretaris dari client Alden.


Tidak lama, benar saja client Alden datang. Yang ternyata seorang lelaki paruh baya berbadan gemuk, dengan perut buncit. Di sampingnya, ada seorang wanita cantik dan sexy, dia mengenakan rok span di atas lutut dengan kemeja yang terlihat press body.


"Maaf Tuan Alden, sudah membuat anda menunggu," lelaki itu menjabat tangan Alden, begitu pun Alden.


"Tidak masalah, saya juga baru sampai," jawab Alden dengan datar.


"Hai Nona manis?" tatapan pria paruh baya itu, beralih kepada Alesha yang duduk berdiri di samping Alden. Alesha bergidik ngeri, karena tatapan pria itu seolah tengah menatapnya dengan lapar.


"Siapa namamu cantik?" tangan pria paruh baya itu terulur, dan Alesha agak takut-takut untuk membalasnya.


"Sepertinya, sekretaris saya tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaan anda. Sebaiknya, kita bahas sekarang saja perkejaan kita, karena saya sibuk," ucap Alden yang terlihat tidak suka, jika Alesha di ganggu apalagi disentuh oleh lelaki tua itu.


'Dasar tua Bangka, tidak ingat ajal dia?' batin Alden.


Lelaki paruh baya itu, tertawa. Dia sama sekali tidak marah dengan jawaban yang diberikan oleh Alden.


"Tuan Alden memang sangat pelit sekali, tapi ingat Tuan, jika anda sudah bosan dengan sekretaris anda, maka berikan dia padaku. Aku siap menampung nya," lelaki tua itu mengerlingkan sebelah matanya kepada Alesha, membuat Alesha langsung menunduk karena risih.


Alden tidak menjawab, dia langsung duduk dan mulai membahas projects. Sejujurnya, jika Alden tidak ingat jika lelaki di hadapannya ini adalah rekan ayahnya, mungkin sudah Alden tendang milik lelaki tua itu dan mencolok matanya supaya tidak curi-curi pandang pada Alesha.


"Baiklah, Tuan Alden, saya sangat senang bisa bekerja sama dengan anda." akhirnya sudah selesai mereka membahas Projects.


"Kalau begitu, ayo kita makan sing dulu." ajak lelaki tua itu dengan senyum yang mengerikan bagi Alesha.


"Tidak, saya sedang sibuk dan harus segera pergi," tolak Alden.


"Oh baiklah, semoga kita bertemu lagi Nona cantik," ucap lelaki tua itu kepada Alesha. Alesha hanya diam dan menundukkan wajahnya.


'Semoga doamu tidak dikabulkan oleh Tuhan,' batin Alden kesal. Alden menarik Alesha untuk meninggalkan tempat itu, Alden pergi tanpa melemparkan senyum kepada lelaki tua itu.


Dalam mobil, Alesha masih diam. Dia memikirkan perkataan lelaki tua tadi.


"Tuan?" lirih Alesha, namun masih bisa didengar oleh Alden.


"Iya Alesha?" tanya Alden seraya menatap Alesha.


"A-anda tidak akan melakukan apa yang dikatakan orang tadi kan?" tanya Alesha takut-takut.


Alden nampak berpikir, "soal memberikan mu padanya?" tanya Alden memastikan, dan Alesha menganggukkan kepalanya lemah.


"Kenapa memang?" tanya Alden penasaran.


"Saya takut," jawab Alesha dengan polosnya. Sumpah, saat ini Alden benar-benar menahan tawanya. Dia begitu gemas melihat ekspresi Alesha saat ini.


"Ya tergantung," jawab Alden berpura-pura.


"Ma-maksud anda?" tanya Alesha bingung.


"Baik Tuan, saya janji akan bekerja dengan baik dan menurut pada perkataan anda," jawab Alesha dengan penuh keyakinan.


"Bagus kalau begitu," ucap Alden, dia pun meminta supir menuju lokasi yang dia sebutkan. Namun, Alesha bingung karena itu bukan alamat kantor.


"Loh Tuan, Kita tidak ke kantor?" tanya Alesha.


"Tidak, dan kau hanya cukup diam," titah Alden, ternyata perkataan Alden benar-benar dilakukan boleh Alesha. Dia diam tidak berani mengatakan apapun lagi.


Akhirnya, mereka berdua sampai di salah satu mall terbesar. Alesha menatap kagum, karena hampir satu tahun dia di Amerika, namun Alesha baru pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Alden mengajak Alesha untuk langsung menuju ke salah satu store pakaian wanita. Alden meminta pegawai toko untuk mengukur tubuh Alesha dan mencarikan beberapa pasang setelah pakaian kerja beserta tas dan sepatunya. Tidak hanya itu, Alden juga meminta untuk dicarikan gaun serta high heels yang pas untuk Alesha, beserta tasnya. Semua yang ada di store ini, tentu memiliki harga fantastis, karena bermerek.


Sembari menunggu semua belanjaannya, Alesha dan Alden dipersilahkan untuk duduk, bahkan mereka juga membawakan teh hangat serta camilan.


"Tuan, semua sudah kami dapatkan," pegawai store datang dengan menenteng apa yang diminta oleh Alden.


"Bagus," Alden memuji cara kerja mereka.


"Kau cobalah," titah Alden.


"Hah? semua, Tuan?" tanya Alesha, dia membulatkan matanya sempurna.


"Iya," jawab Alden enteng. Akhirnya mau tidak mau Alesha menuruti Alden. Satu persatu dicoba dan benar-benar sangat pas serta sangat cantik dikenakan oleh Alesha. Alesha juga mencoba gaun yang diminta oleh Alden, sepertinya Alden juga puas.


Setelah belanjaan dikemas dan dibayar oleh Alden, mereka memutuskan untuk makan sing. Ini termasuk makan siang yang terlambat.


"Tuan? Apa ini semua untuk saya?" tanya Alesha memastikan.


"Iya, terus untuk siapa lagi?" jawab Alden seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Ini bayarnya pake potong gaji Tuan?" tanya Alesha dengan hati-hati.


Mata Alden, menatap Alesha tak percaya, "kamu pikir aku semiskin itu? sampai-sampai harus memotong gaji mu yang tidak seberapa?" ujar Alden.


"Oh, bu-bukan Tuan, masa seorang CEO perusahaan ternama tidak punya uang. Ta-tapi maksud saya, ini sangat banyak dan semuanya pasti mahal," Alesha tidak enak, karena ini adalah hari pertamanya bekerja, namun dia sudah mendapatkan semua ini.


"Kau itu sekarang seorang sekretaris, jadi wajar kalau aku membelikan ini, karena untuk menunjang penampilan mu. Kamu akan sering bekerja di samping ku, bertemu dengan kolega besar, dan pertama yang akan mereka lihat, pastinya penampilan," jelas Alden, dan diangguki oleh Alesha.


"Lalu gaun Tuan?" tanya Alesha lagi.


"Kamu mungkin akan menemani saya baik diacara formal maupun informal, jadi kalau kita sedang diundang ke acara pesta, apa kamu akan mengenakan setelah pakaian kerja?" penjelasan dari Alden memang bisa diterima oleh Alesha. Alden sengaja memberikan jawaban demikian, supaya Alesha tidak curiga.


"Terimakasih Tuan, atas kebaikan anda. Dan terimakasih karena tidak memotong gaji saya," Alesha bersyukur, karena gajinya akan aman.


"Ya tapi itu tergantung, kalau kamu memakai apa yang saya berikan itu berarti kamu menghargai saya, jadi saya tidak akan memotong gaji kamu. Tapi, jika sebaliknya kamu tidak memakai apa yang saya berikan, maka saya akan potong gaji kamu," ancam Alden dan langsung membuat Alesha takut.


"Ah tidak Tuan, saya janji besok akan saya pakai," ucap Alesha dengan bersungguh-sungguh.


"Bagus," hanya itu jawaban yang Alden berikan.


'Good girl, aku suka wanita yang penurut seperti ini,' batin Alden.