
Akhirnya, Alesha dan AldenĀ sampai di gedung apartement tempat tinggal Alesha.
"Tuan, mau mampir?" tawar Alesha, meski sebenarnya dia berharap kalau Alden akan menolaknya. Karena kalau tidak, maka tamat riwayat Alesha.
"Tidak, terimakasih." tolak Alden, membuat Alesha bernapas lega.
"Baik, Tuan. Terimakasih atas tumpangannya." ucap Alesha seraya membukaka pintu mobil.
"Hati-hati, Tuan," ucap Alesha, masih berdiri di tempatnya, menunggu mobil Alden menjauh.
'Syukurlah, Tuan Alden tidak menerima tawaran ku,' batin Alesha.
Alesha pun langsung bergegas naik ke lantai, di mana unitnya berada. Alesha sangat lelah, namun dia juga sangat merindukan putra kecilnya.
"Nona, sudah pulang?" sapa Anjani, seraya masih menimang Alvin.
"Iya, Bu Anjani." jawab Alesha seraya berlalu ke kamar mandi, untuk membasuh tangannya.
Alesha pun kembali mendekati Anjani, dan mengambil alih Alvin.
"Hai, anak Mommy," ucap Alesha, seakan tengah mengajak bicara putranya.
"Nona pasti lelah, kenapa tidak bersih-bersih dan makan dulu?" tanya Anjani, dia tahu sebagai seorang orang tua tunggal, pasti banyak beban yang harus Alesha tanggung.
"Selelahnya aku, kalau aku bertemu dengan putraku, maka rasa lelah itu akan lenyap, Bu Anjani." jawab Alesha, dia mencium gemas wajah sang putra.
"Di luar hujan, tadi Nona pulang pakai taksi?" tanya Anjani.
"Bukan, Bi. Tapi, diantar atasan ku," jawab Alesha. Anjani pun nampak mengernyit heran.
"Nona, masih karyawan baru. Tapi, sepertinya bos Nona sangat baik. Nona dibelikan gaun dan baju, lalu diantar pulang," Anjani memang benar, bukankah apa yang dilakukan oleh Alden cukup mencurigakan?
"Iya sih Bi, tapi menurut atasan ku, itu semua aku butuhkan karena aku bisa saja mengikuti atasan ku, mendatangi acara-acara pesta," jelas Alesha, menjelaskan sama seperti yang Alden berikan padanya.
"Semoga, kebaikan atasan, Nona benar-benar tulus ya? Tanpa mengharap balasan apapun," ucap Anjani penuh harap.
"Iya Bu, semoga saja," ucap Alesha. Dia pun kembali menyerahkan Alvin, karena Alesha ingin membersihkan diri.
.
.
Alesha menatap deretan baju mahal di lemarinya, Alesha ingat, bahwa kemarin dia sudah berjanji kepada Alden akan memakai setelah baju kantor yang dibelikan oleh Alden.
"Baiklah, memang sebaiknya aku pakai, dari pada aku harus membayar semua belanjaan itu." ucap Alesha seraya mengambil satu set pakaian kantor. Alesha menatap pantulan dirinya di cermin, sepatu yang dia kenakan terasa begitu nyaman.
"Aku baru memakai pakaian mahal lagi," gumam Alesha. Dulu, saat masih tinggal dengan kedua orang tuanya, Alesha memang sering berbelanja kebutuhan pribadi, bahkan setidaknya sebulan sekali dia membeli pakaian baru. Tapi, setelah di Amerika, Alesha lebih banyak menghemat, karena dia tahu saat ini dia punya Alvin, yang harus diutamakan lebih dulu.
"Hai Alvin sayang." Alesha, menghampiri putranya yang tengah duduk di kursinya. Seperti biasa, Alesha akan menyusui Alvin sebelum berangkat ke kantor.
"Wah, Non Alesha terlihat semakin cantik," puji Anjani.
"Terimakasih, Bu." jawab Anjani seraya tersenyum.
"Memang ya, Bu kalau baju mahal itu beda rasanya," ucap Alesha.
"Tapi, mau baju mahal atau murah, kalau Non Alesha yang pakai, pasti tetap bagus kok," ucap Anjani lagi.
"Non, sudah dengar kabar soal keluarga Non di Indonesia?" tanya Anjani, dia tahu meskipun Alesha terlihat tegar, pasti Alesha memiliki kerinduan teramat dalam pada keluarganya.
"Belum, Bu. Tapi, aku harap, semoga saja mereka akan selalu baik-baik saja, dan akan selalu bahagia walau tidak bersama ku," harap Alesha.
.
.
Alden, langsung melakukan mobilnya, pura-pura melewati Alesha, dan menghentikan mobilnya perlahan.
"Alesha? Kamu belum berangkat?"ucap Alden, setengah berteriak.
"Iya, Tuan. Biasanya juga saya berangkat jam segini," jawab Alesha, dia sebenarnya merasa aneh kenapa ada Alden di sini.
"Ayo ikutlah denganku." ajak Alden.
"Ti-tidak perlu, Tuan." tolak Alesha menggelengkan kepalanya. Dia malu, kalau sampai orang kantor tahu, dia berangkat dengan atasannya, Alesha takut akan timbul gosip nantinya.
"Lalu? Aku sampai kantor duluan? Sedangkan kamu belum? Begitu?" tanya Alden, dan membuat Alesha tersadar.
'Benar juga ya?' batin Alesha, dia pun mulai bimbang.
"Ayo, atau kau ku tinggal," ancam Alden.
"Oh, baik Tuan. Saya ikut." Alesha pun akhirnya memutuskan ikut, dia membuka pintu mobil Alden, dan duduk di samping atasannya.
"Tuan, kenapa ada di sini?" tanya Alesha.
"Aku biasa lewat sini," jawab Alden.
"Ohh begitu...." Alesha hanya bisa mengangguk kan kepalanya.
"Tuan, berangkat cukup pagi ya?" ucap Alesha lagi, kali ini Alden harus memikirkan alasan yang tepat.
"Iya, aku ada beberapa dokumen yang harus diselesaikan hari ini, aku lupa tidak membawanya pulang," jawab Alden bohong.
Akhirnya, mereka pun hampir sampai di kantor, Alesha was-was, karena pastinya nanti banyak pegawai kantor yang melihatnya turun dari mobil Alden.
"Tuan, anda bisa menurunkan saya di sana." Alesha menunjuk pinggir jalan, yang masih ada jarak dengan kantor.
"Kenapa?" tanya Alden dengan memicing.
"Sa-saya nggak enak, Tuan kalau saya turun dari mobil, Tuan. Saya takut, nanti akan ada gosip yang tidak benar," jawab Alesha dengan hati-hati.
Namun, Alden tidak menjawab sama sekali. Dia juga tidak menuruti permintaan Alesha. Justru membawa Alesha ikut serta dalam parkiran.
'Tuh, kan bener dugaan gue. Banyak banget pasang mata yang ada di sini,' batin Alesha.
"Ayo turun." ajak Alden, seraya membuka sabuk pengamannya.
"Ba-baik, Tuan. Dan terimakasih atas tumpangannya." ucap Alesha dengan menunduk hormat. Alesha dan Alden pun turun bersamaan, dan benar dugaan Alesha, semua mata karyawan yang melihatnya turun dari mobil Alden, nampak menatap curiga.
"Jangan menundukkan wajah mu, kau sekretaris ku, jadi wajar kalau kau sering bersama ku," bisik Alden.
"Baik, Tuan." Alesha, menuruti apa yang dikatakan oleh Alden. Alesha mencoba bersikap biasa saja, dan melangkah di belakang Alden dengan tenang.
'Tuhan, aku ingin bekerja dengan tenang. Semoga saja, tidak ada gosip miring apapun setelah ini,' batin Alesha penuh harap.
.
.
Makan siang kali ini, Alesha makan di kantor. Dia belum punya teman, jadi Alesha hanya makan sendirian. Tiba-tiba saja, ada tiga orang datang yang bergabung di meja Alesha.
"Kamu sekretaris baru Tuan Alden, kan?" tanya salah seorang wanita.
"Iya Benar." jawab Alesha dengan senyum ramah.
"Kamu kenakan Tuan Alden sejak lama? Keliatan nya kalian sering pergi bersama," timpal wanita yang lain.
'Yakin sih, pasti mereka mulai curiga dan berpikir yang bukan-bukan,' batin Alesha was-was.