
Mobil Alden terus melaju menuju rumah sakit, Alesha sendiri, sudah menyiapkan buah tangan berupa parsel buah untuk Anggela. Alesha rasanya tidak sabar untuk melihat keadaan Anggela, dia tidak bisa tidur nyenyak semalam.
"Tuan, maafkan saya," ucap Alesha merasa tidak enak hati.
"Maaf? Untuk apa Alesha?" tanya Alden bingung, setahu dia, Alesha tidak melakukan kesalahan apapun.
"Karena saya melibatkan, Tuan, dalam masalah Anggela, banyak sekali orang yang berpikir buruk tentang saya dan Tuan," ucap Alesha.
"Tidak perlu merasa bersalah, sebaik apapun kita, kalau memang mereka tidak suka, maka apapun yang kita lakukan, akan selalu dianggap buruk oleh mereka. Aku harap, kamu bisa sabar," kata Alden.
"Iya, Tuan." Alesha menganggukkan kepalanya, dia merasa lebih baik sekarang, karena sepertinya, Alden tidak begitu berlarut dalam masalah tadi. Mereka berdua kembali melanjutkan langkah memasuki gedung rumah sakit, saat di depan ruangan Anggela, mereka bertemu dengan dokter yang sepertinya, baru saja selesai memeriksa keadaaan Anggela. Alden pun bertanya lebih lanjut soal keadaan sekretaris Ferdinan itu, sedangkan Alesha lebih memilih masuk ke dalam ruangan Anggela.
"Anggela?" sapa Alesha, dia yakin Anggela masih shock dengan apa yang terjadi.
"Alesha, kamu datang?" tanya Anggela tidak percaya, dia pikir setelah menyelamatkannya, Alesha tidak mau berurusan apapun lagi dengannya, tapi ternyata Alesha masih mau datang berkunjung.
"Iya, dari semalam aku kepikiran kamu terus, gimana keadaan kamu dan kandungan kamu?" tanya Alesha dengan penuh perhatian.
"Berkat pertolongan kalian, aku dan calon anakku selamat, terimakasih ya Alesha, maaf sudah merepotkan kamu," Anggela merasa berunng karena dia beremu dengan Alesha, padahal mereka baru saja bertemu, tapi Alesha sangat peka dengan keadaannya.
"Oh iya, Alesha. Boleh aku tahu, bagaimana kanu bisa tahu bahwa nyawa kamu sedang terancam?" tanya Anggel penasaran.
"Maaf ya, bukan bermaksud aku menguping, tapi saat kamu ke toilet, aku juga ke sana, dan aku melihat Tuan Ferdinan menyusul mu, dan masuk ke bilik toilet bersama kamu,z" Alesha menjelaskan secara rinci, bahkan soal dirinya yang mendengar soal sambungan telepon antara Ferdinan dengan seseorang.
Anggela mengatupkan bibirnya rapat, dia begitu terkejut mendengar penuturan Alesha. Ternyata Ferdinan begitu jahat, karena dia begitu tega denga dirinya. Padahal, Anggel tengah mengandung anak Ferdinan.
"Kenapa dia begitu jahat, padahal dia sendiri yang bilang, bahwa dia sangat ingin memiliki anak, lalu kenapa saat aku mengandung dan menuntut tanggung jawab darinya, dia tidak mau? Bahkan ingin membunuhku?" isak Anggela.
"Anggela, dia bukanlah lelaki yang baik, dia tidak bisa puas hanya dengan satu wanita, dia tidak mau bertanggung jawab, karena semua harta yang dia punya bukanlah miliknya," ucap Alden yang baru saja datang.
"Tuan Alden?" lirih Anggela.
"Aku tahu, kamu pasti sangat tersakiti dan merasa sangat tertipu oleh Ferdinan, hanya saja saranku, tinggalkan dia, besarkan anak kamu sendiri, dan tinggalkan dia, menjauh sebisa kamu." itu adalah saran terbaik yang Alden berikan, karena tidak menutup kemungkinan, Ferdinan akan kembali mencelakai Anggela.
"Saya juga berniat untuk meninggalkan Tuan Ferdinan, tapi saya juga ingin menyelamatkan ibu Valen, dari suami macam Ferdinan," kebencian begitu terlihat di mata Anggela, dia pasti sangat membenci Ferdinan sekarang, rasa cinta yang dulu pernah ada untuk Ferdinan kini seolah lenyap begitu saja.
"Baiklah, aku akan bantu sebisa ku," ujar Alden. Alesha begitu beruntung, karena sekarang dia bisa melihat dengan jelas, bahwa Alden adalah sosok lelaki yang begitu baik. Alesha juga berjanji akan membantu Anggela, tapi sekarang, mereka akan lebih fokus pada kesehatan Anggela, dan lebih dulu menyembunyikan Anggela, agar Ferdinan tidak bisa menemukan Anggela sekarang ini.
-//-
Ferdinan, saat ini tengah kalut, karena anak buah yang sudah dikerahkannya untuk menari Anggela, masih belum menemukan titik terang. Bahkan apartement, milik Anggela juga kosong. Akan tetapi, Ferdinan masih cukup percaya diri, karena dia berpikir bahwa Anggela masih belum tahu soal kejahatannya.
"Sayang," Valen, mendatangi suaminya, seperti biasa dia terkadang datang ke kantor ketika hampir jam makan siang.
"Aku pikir, Anggela ada di sini, soalnya dia nggak ada di depan," ucap Valen bertanya.
"Iya, dia nggak masuk ke kantor, aku juga bingung karena dia sama sekali nggak bilang ke aku," jawab Ferdinan.
"Aku juga khawatir, karena dia pulang dari pesta kita cukup malam, harusnya kamu minta anak buah untuk mengantarnya," Valen memang begitu baik, dia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Anggela. Andai dia tahu, bahwa Anggela adalah selingkuhan suaminy, yang saat ini bahkan tengah mengandung anak suaminya.
"Ya aku mana tahu, sudahlah tidak usah memikirkan dia, doakan saja dia tidak kenapa-kenapa," jawab Ferdinan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kalau aku mencoba datang ke apartementnya nanti, aku cukup khawatir dengan Anggela," ucap Valen.
"Ya, terserah kamu sajalah," hanya itu jawaban yang keluar dari Ferdinan, dia bertindak seolah tidak tertarik dengan pembahasan Anggela, padahal saat ini dia sendiri tengah mencari keberadaan Anggela.
-\-
Sesuai perkataannya, Valen benar-benar datang berkunjung ke apartement Anggela, tapi anehnya dia justru melihat ada bebeapa polisi yang tengah berlalu lalang di sana.
"Maaf Pak, ini ada apa ya?" tanya Valen kepada satpam.
"Semalam, ada tindak kriminal Bu, beberapa orang menggunakan topeng datang ke sini, dan merusak cctv, bahkan mereka mengeroyok satpam, dan sepertinya mereka menculik salah seorang penghuni di apartement ini," terang satpam.
"Siapa Pak, saya takut jika itu adalah orang yang saya kenal," Valen begitu penasaran dengan jawaban satpam, sebab perasaannya menjadi sangat was-was.
"Namanya ibu Anggela, penghuni unit apartement nomor 17," jawab satpam, dan benar saja, Valen sangat shock mendengarnya.
"Apa Ibu mengenalnya?" tanya satpam, sebeba melihat raut wajah Valen yang begitu terkejut, membuat satpam cukup risau.
"Iya, dia adalah karyawan suami saya, dan semalam baru saja ada pesta, bahkan Anggela juga datang. Apakah dia diculik setelah pulang dari pesta ku?" tanya Valen menerka.
"Sepertinya begiti Bu, menurut satpam yang berjaga, ibu Anggela juga baru sampai, dan langsung ada yang mengikutinya." terang satpam. Setelah mendapatkan informasi dari tentang Anggela, Valen segera menghubungi suaminya, berharap suaminya juga bisa membantu mencari keberadaan Anggela, dengan bantuan anak buah.
"Bagaiman sayang, kamu sudah bertemu dengan Anggela?" tanya Ferdinan basa-basi, dia tahu kalau istrinya tidak akan mungkin bertemu dengan Anggela.
"Tidak, tapi ada berita mengejutkan soal Anggela," kaca Valen panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Ferdinan. Valen pun menceritakan semua informasi yang didapatnya dari satpam tadi, dan mengatakan soal penculikan Anggela. Ferdinan berpura-pura terkejut supaya istrinya tidak mencurigainya, karena sebenarnya orang-orang yang datang adalah suruhannya sendiri.
"Sayang, aku mohon, cari Anggela, aku sangat khawatir dengan dia," pinta Valen.
"Baiklah, aku akan mengerahkan anak buahku untuk mencari Anggela," kata Ferdinan dengan seringai licik. Valen mengucapkan terimakasih dan dia menganggap bahwa suaminya memilki hati bak malaikan, dia hanya belum tahu, bahwa suaminya adalah seorang iblis berwujud manusia. Ferdinan terlalu mudah membodohi dua wanita, dan dia sama sekali tidak memiliki hati nurani. Ingin membunuh ibu yang tengah mengandung calon anaknya sendiri. Akan tetapi, apakah Ferdinan akan bisa melakukan rencananya, mengingat ada Alden di belakang Anggel?