One Night's Mistake

One Night's Mistake
Dalam bahaya



"Sabar sayang, setelah aku kuasai semua hartanya, aku akan segera menikahi kamu. Kamu nggak mau , kan kalau kita hidup miskin?" suara Ferdinan bertanya. Alesha tak menyangka, ternyata selain menjadi sekretaris, Anggel juga menjadi wanita simpanan Ferdinan.


"Tapi aku nggak bisa menunggu lama lagi, sekarang aku sedang hamil," ujar Anggel, membuat mata Alesha membulat sempurna.


"Hamil?" tanya Ferdinan.


"Iya, ini anak kamu. Ini, kan yang kamu mau dari istri kamu, seorang anak. Dan aku sudah bisa memberikannya," Anggel merasa bisa satu langkah lebih baik dari Vanessa, tapi bisakah dia bersama Ferdinan, sedangkan semua harta Ferdinan sejatinya adalah milik Vanessa.


"Tapi, ini bukan waktu yang tepat," ujar Ferdinan nampak sekali kalau dia belum bisa bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh Anggel.


"Lalu kapan waktu yang tepat? Aku mau secepatnya, kamu bertanggung jawab, kalau tidak aku akan bongkar semuanya kepada Vanessa," ancam Anggel.


"Baiklah, secepatnya akan aku urus," janji Ferdinan. Alesha tidak mau ambil resiko, dia pun masuk ke dalam bilik di sebelah dengan sangat hati-hati, bahkan sampai Alesha melepaskan hellsnya, dan tidak terdengar suara langkah kaki maupun pintu berderit.


Tidak lama, terdengar suara langkah kaki keluar, tapi hanya ada satu,  dan Alesha belum bisa keluar dari persembunyiannya, dia pun menunggu sampai benar-benar Ferdinan pergi. Tidak lama, Alesha mendengar suara Ferdinan yang nampaknya menghubungi seseorang.


"Aku mau kalian singkirkan Anggel, dia sangat merepotkan. Apalagi saat ini dia hamil dan mengancam bahwa dia akan melaporkannya pada Vanessa, cepat bereskan dengan rapi," titah Ferdinan, membuat degup jantung Alesha semakin berdebar.


'Anggel, sekarang dia dalam bahaya,' batin Alesha. Dia pun akhirnya mendengar suara langkah kaki, dan diyakini adalah Ferdinan, sudah cukup lama, dan semakin jauh, Alesha yakin kalau Ferdinan sudah pergi. Saat Alesha kembali, dia melihat Ferdinan yang tengah bercengkrama dengan orang lain, dan Anggel juga sudah duduk di tempatnya.


"Alesha?" Alesha terperanjat kaget, saat tangan kekar menepukbahunya.


"Tuan, bikin kaget aja," ujar Alesha, ternyata yang menepuknya adalah Alden.


"Sudah malam, ayo pulang." Alden rasa sudah cukup waktu mereka di pesat itu, dia pun mengajak Alesha untuk pulang.


"Boleh, tapi saya pamit sama seseorang dulu," Alesha mencari keberadaan Anggel di mejanya tapi kosong.


"Cari siapa?" tanya Alden.


"Anggel," jawab Alesha, manik matanya masih mencari sekeliling.


"Dia sudah pergi, tadi aku lihat," jawab Alden, mendengar jawaban Alden, Alesha pun jadi risau.


"Ayo, Tuan sebaiknya kita pulang," Alesha ingin memastikan keadaan Anggel baik-baik saja, jadi dia ingin bergegas keluar dari tempat acara itu.


"Ayo, aku sudah pamitan kok," Alden pun menggandeng tangan Alesha keluar dari hotel tersebut, saat sampai di depan hotel, Alesha melihat Anggel yang tengah berdiri.


"Anggel, mau pulang?" tanya Alesha setelah dia mendekat.


"Iya nih, kamu juga mau pulang?" Anggel balik bertanya.


"Iya," jawab Alesha, tiba-tiba dia ingat dengan pembicaraan Ferdinan di telepon tadi, "ayo ku antar pulang, ini sudah malam," Alesha langsung mengajak Anggel, tanpa meminta izin Alden lebih dulu.


"Nggak perlu, apartementku nggak terlalu jauh dari sini, aku bisa naik taksi," tolak Anggel dengan halus.


"Ini sudah malam, ayo." Alesha dengan sedikit memaksa menyeret Anggel menuju mobil Alden. Alden sendiri bingung dengan Alesha, dia merasa ada yang Alesha sembunyikan.


"Maaf ya Tuan Alden, jadi merepotkan anda," Anggela merasa tidak enak dengan Alden karena harus mengantarkannya pulang.


"Terimakasih Tuan Alden, dan Alesha yang sudah mau memberikan saya tumpangan," ucap Anggel.


"Sama-sama Anggel, oh ya pesan ku kamu harus selalu hati-hati ya?" ujar Alesha penuh makna, sebenarnya Anggel ingin bertanya lebih, tapi dia juga merasa sungkan karena ada Alden.


Kini, di mobil hanya ada Alden dan Alesha. Setelah mengantarkan Anggel, Alesha terlihat lebih lega, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Alden.


"Kenapa, senang ya punya teman baru?" tebak Alden, dia pikir Alesha senang karena bisa mendapatkan teman baru, yang bekerja dalam bidang yang sama dengannya.


"Oh, Tuan Alden," Alesha tersenyum malu. "Saya cuman khawatir sama Anggel, Tuan."


"Anggel? Kenapa memangnya?" tanya Alden.


Alesha nampak ragu untuk menjawab, karena dia pikir, mungkin saja Alden tidak akan percaya dengan apa yang didengar olehnya. Akan tetapi, bukankah jika Alden tahu, Alden bisa membantu? Begitu pikir Alesha.


"Alesha? Kok ngelamun?" Alden menyenggol sedikit lengan Alesha.


"Oh iya, Tuan, maaf." kata Alesha, "jadi begini, Tuan ...." Alesha menjelaskan tentang apa yang didengarnya saat di toilet tadi. Sal hubungan gelap antara Ferdinan dan Anggel, bahkan kondisi kehamilan Anggel saat ini.


"Yang membuat saya semakin was-was, tuan Ferdinan hendak mencelakai Anggel," ujar Alesha.


"Apa?" Alden nampak terkejut.


"Iya, Tuan. Saya mendengarnya sendiri, tapi karena Anggel sudah ada di apartementnya, saya rasa dia sudah aman," kata Alesha.


"Kamu salah Alesha, Anggel saat ini belum aman," ucap Alden, membuat Alesha bingung, bahkan Alden sampai putar balik membuat Alesha semakin kebingungan.


"Kamu kencangkan sabuk pengaman," titah Alden, dan Alesha hanya bisa mengangguk paham. Alden mengemdikan kendaraannya dengan cukup cepat, Alesha sendiri hanya bisa berdoa, semoga saja dia dan Alden selamat.


Sedangkan kini, Anggel tengah berlari di tangga darurat, karena ada beberapa orang yang mengikuti. Anggel yang kesusahan berlari menggunakan sepatu hak tinggi, langsung membuang sepatunya ke sembarang arah. Angel, dengan mata kepalanya sendiri, melihat bagaimana orang-orang tadi melumpuhkan penjaga apartement, sebelum penjaga mencoba menghubungi pihak kepolisian.


Brukk!! Angel, tidak kuat berlari, kakinya terasa lemas sampai dia terjatuh. Angel mencoba sekuat tengaha untuk kembali berlari, tapi sepertinya, dia benar-benar sudah tidak kuat, saat ini, dia hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi. Ditambah dengan kondisi perutnya yang terasa sakit.


'Bertahan sayang,' batin Anggel.


"Mau lari ke mana lagi kau!" dua pria berbadan besar datang, mereka menatap Anggel dengan tajam.


"Tolong, jangan sakiti saya," isak Anggel memohon. "Kalau kalian mau uang, akan aku berikan semuanya, tapi saya mohon, lepaskan saya," pinta Anggel, tangisnya semakin menjadi, dia terus mengiba meminta belas kasih dari orang-orang di hadapannya yang saat ini tengah menatapnya dengan tajam.


"Kami tidak butuh uangmu. Uang yang dijanjikan oleh bos kami, jauh lebih besar dari apa yang kamu tawarkan," seraya tertawa dia menjawab perkataan Anggel.


"Bodoh! Kenapa kau memberitahunya?" salah satu orang suruhan itu, memberi pukulan kecil pada rekannya karena dianggap sudah menguak rahasia mereka.


"Tenang saja, toh dia juga akan mati hari ini," tawa mereka berdua pun akhirnya terbit, berbeda dengan Anggel yang sudah ketakutan, bahkan keringat dingin sudah mulai muncul.


'Siapa orang yang ingin membunuh ku?' batin Anggel.