One Night's Mistake

One Night's Mistake
Hukuman



Alesha sudah berada di kantor sekarang, melakukan pekerjaan seperti biasanya, meskipun sebenarnya dia terus memikirkan kondisi Anggela. Meski menurut Dokter, kondisi Anggela dan kandungannya baik-baik saja, tapi Alesha yakin, saat ini wanita itu tengah terguncang atas apa yang menimpanya.


"Alesha?" Alden memanggill sekretarisnya, Alesha yang tengah melakukan pekerjaan.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alesha sigap.


"Pulang dari kantor, mau menjenguk Anggela?" tanya Alden.


"Saya memang mau berniat ke sana, Tuan," jawab Alesha. Memang, dia sudah merancang rencana untuk menjenguk Anggela selepas pulang kantor nanti, tidak enak rasanya terus merepotkan Alden, apalagi Anggela juga berkaitan dengan client Alden yang cukup dekat.


"Kita pergi bersama, bagaimana?" tawar Alden.


Alesha nampak ragu untuk menjawab. "Memangnya, Tuan tidak sibuk?"


"Tidak, lagi pula akan bahaya jika kamu pergi ke rumah sakit sendirian. Aku takut, anak buah Ferdinan mencurigai kamu, karena kamu adalah orang yang terakhir kali terlihat berbincang dengan Anggela," terang Alden.


Alesha yang mendengar perkataan Alden, langsung shock, dia merasa dirinya begitu bodoh, karena tidak memikirkan hal ini sebelumnya.


"Anda benar, Tuan. Kenapa aku tidak memikirkannya, ya?" Alesha menepuk jidatnya dengan pelan.


"Sudahlah, aku yakin kamu tidak mengenal Ferdinan, jadi kamu tidak merasa waspada sedikitpun. Sebaiknya lakukan pekerjaanmu, dan nanti sore kita ke rumah sakit," jelas Alden lagi sebelum dia meninggalkan meja Alesha. Jujur saja, dengan alasan ini, Alden bisa jauh lebih dekat Alesha, meskipun Alesha tidak tahu menahu tentang perasaan Alden padanya.


Jam pulang kantor, Alesha dan Alden berjalan menuju keluar kantor, tapi saat baru sampai di lobby, Alden mengingat sesuatu, bahwa dia lupa tidak membawa dokumen yang seharusnya dia bawa pulang.


"Alesha, kamu tunggu di sini dulu ya, saya harus kembali ke ruangan saya, karena lupa tidak membawa berkas," kata Alden.


"Biar saya ambilkan, Tuan?" tawar Alesha, akan tetapi Alden menolak, dan meminta Alesha untuk duduk dan menunggunya saja. Akhirnya, Alesha menuruti perintah dari atasannya tersebut.


Saat Alden sudah pergi, tinggalah Alesha, beberapa karyawan yang lewat hendak pulang, mereka melirik Alesha dengan sinis, bahkan ada yang sengaja berbisik dengan keras.


"Aneh, sekretaris sama atasan, kok sering keluar bareng. Memangnya, setiap sore habis pulang kantor, selalu ada meeting di luar?" bisik beberapa karyawati. Alesha yang mendengarnya, hanya bisa menghela napas dalam, dia tidak menjawab perkataan apapun yang keluar dari bibir mereka. Karena Alesha tidak mau adanya pertengkaran yang terjadi.


"Iya, dia pakai cara yang kotor, buat bisa masuk ke perusahaan ini dan jadi sekretaris," tuduhnya.


"Iya, dilihat dari bodynya yang ideal, dia pasti tidak mau menyia-nyiakannya, kan?"


"Ups, kau mendengarnya?" mereka yang tengah mengolok-olok Alesha, justru terlihat senang, karena Alesha terpancing emosi, mereka ingin menunjukkan bahwa Alesha tidak sebaik itu. Dan mereka semua yakin, bahwa tidak ada juga yang bersimpati pada Alesha, karena banyak yang berpikiran sama seperti mereka tentunya.


"Tarik semua kata-kata kalian! Aku tidak melakukan apapun yang kalian tuduhkan padaku," seru Alesha, dia merasa mereka semua sangat keterlaluan dan menginjak harga diri Alesha.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau mau apa? Mengadu, pada Tuan Alden?" bukannya takut, justru mereka semakin menentang Alesha.


"Tanpa Alesha mengadu, aku juga sudah melihatnya," tanpa mereka semua sadari, ternyata Alden sudah menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Melihat Alden yang ternyata berdiri tidak jauh dari mereka, membuat semua kepala menunduk malu dan takut.


"Kenapa tiba-tiba diam, mana wajah kalian yang begitu sombong itu, dan mengolok-olok Alesha? Bahkan kalian juga menuduh ku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya," kata Alden, dia masih berusaha tenang. Suasana lobby yang semula ramai, benar-benar menjadi senyap, padahal banyak orang di sana yang masih lalu lalang untuk segera keluar kantor dan pulang.


"Kalian sudah menuduhkan yang tidak-tidak, maka aku akan memberikan peringatan kepada kalian!" sentak Alden, membuat tiga orang wanita yang baru saja membicarakan Alesha, langsung gemetar ketakutan.


"Tu-Tuan maafkan kami," ketiga wanita itu langsung bersimpuh meminta maaf kepada Alden, mereka sangat takut, jika hari ini akan menjadi hari terakhir mereka bekerja di sana.


"Kenapa kalian takut, tadi kalian begitu sombong bahkan ketika mengatakan yang tidak-tidak tentang aku dan Alesha. Kalian itu memang penjilat," sarkas Alden.


"Tuan, sudahlah mungkin memang ini hanyalah kesalahpahaman," ucap Alesha, dia tidak pernah melihat Alden semarah ini, dan itu membuat Alesha menjadi khawatir.


"Entah itu kesalah pahaman, atau memang mereka yang tidak punya attitude. Mereka masih suka dengan uang di perusahaan ini, mereka masih butuh pekerjaan di sini, tapi bisa-bisanya mereka mengatai aku!" Alden sudah benar-benar habis kesabaran dengan tingkah karyawanannya yang selalu saja membicarakan hal buruk tentang dia dan Alesha.


"Alesha adalah sekretaris ku, wajar rasanya dia ikut ke manapun ada event yang aku hadiri, karena itu juga salah satu pekerjaannya," terang Alden.


"Saya tidak mau tahu, jika saya mendengar, ada karyawan yang berbicara buruk lagi, maka saya pastikan kalian akan dipecat saat itu juga, bahkan kalian tidak akan mendapatkan pekerjaan lain lagi," ancam Alden, yang langsung membuat tubuh karyawati itu bergetar hebat, karena sudah membully Alesha.


"Dan untuk kalian bertiga," Alden menatap ketiga karyawati itu dengan tajam, sedangkan mereka bertiga masih menundukkan wajahnya. "Kalian aku hukum, setiap pagi kalianharus menyiapkan coffe dan juga camilan pagi untuk semua karyawan yang ada di sini, selama satu bulan penuh," Alden masih berbaik hati memberikan hukuman, tidak langsung memecat mereka, padahal kata-kata yang keluar dari bibir manis mereka, sangatlah jahat.


"Karena kalian bertiga, kalian juga harus menyediakan minuman di siang, dan juga sore hari, adil kan?" kata Alden.


"Baik Tuan," ketiga karyawati itu hanya bisa pasrah, setidaknya mereka merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan. Alden tidak lagi menggubris perkataan mereka, dia segera pergi dari sana mengajak Alesha juga.


"Hah, ini semua salah kamu!" mereka bertiga saling menyalahkan satu sama lain. Satu karyawan di kantor? Itu bukan jumlah yang sedikit, dan mereka harus melakukannya selama satu bulan penuh.


Alesha yang mendengar hukuman itu pun, merasa iba, karena tentu pengeluaran mereka bertiga, selama satu bulan akan sangat banyak. Hanya saja, Alesha tidak bisa berbuat apapun, sebab Alden sudah marah dan itu adalah keputusan atasannya sendiri, Alesha tidak mau dianggap sebagai orang yang mengatur atasan. Mungkin hukuman seperti itu juga perlu, sebagai pembelajaran juga untuk yang lainnya, agar tidak mudah termakan omongan dari luar.