One Night's Mistake

One Night's Mistake
Tidak mengenalinya



Alesha melangkah dengan gugup, dia masih tidak menyangka, kalau mulai hari ini, dia akan bekerja di kantor. Alesha menatap sekeliling,  semua karyawan berpenampilan rapih dan cantik.  Alesha benar-benar merasa dirinya sangat jauh berbeda.


Tok .. tok..HRD mengetuk pintu ruangan CEO, semakin membuat jantung Alesha sulit untuk diajak bekerja sama. Tidak lama, terlihat seseorang membukakan setengah pintu.


"Tuan Felix, ini Alesha Zulvani Abraham, dia yang terpilih untuk menjadi mengisi meja sekretaris,"  jelas HRD.


"Baiklah, kau bisa pergi." Alesha hanya bisa menunduk.


"Kau, masuklah."  titah lelaki yang bernama Felix.


"Baik, Tuan."  jawab Alesha, dia melangkah kakinya memasuki ruangan CEO. Saat Alesha masuk, ternyata ada seseorang yang tengah duduk di kursi kebesaran, dan Alesha yakini dia adalah pemimpin perusahaan.


"Tuan, sekretaris baru sudah datang,"  lelaki yang bernama Felix, mencoba berbicara dengan atasannya. Namun tidak ada  jawaban.


'Duh, kenapa deg-degan gini sih,' batin Alesha, dia masih menunggu harap-harap cemas, seperti apa atasannya itu? apakah berwajah tua dengan perut buncit? atau .... akh ternyata Alesha dibuat tercengang, saat kursi itu berputar.  Menampilkan sosok lelaki yang berwajah tampan, alis tebal, rahang yang tegas, tatapannya benar-benar mampu membius Alesha.


"Kau Alesha?" Alesha semakin tercengang mendengar suara atasannya.


'Deep voice nya, tambah bikin maskulin,'  batin Alesha yang secara tidak sadar sudah memuji atasannya.


"Aku Alden Xavier, dan kau?"  Alesha termangu, dia sampai tidak sadar bahwa atasannya sudah berada di hadapannya saat ini.


"Sa-saya Alesha Zulvany, Tuan." jawab Alesha dengan gugup.


"Baiklah, Felix jelaskan semuanya padanya," ujar Alden  memberikan perintah pada  sang asisten.


"Baik, Tuan." Felix pun segera mengajak Alesha keluar dari ruangan Alden, untuk menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh Alesha. Sedangkan Alden, menatap punggung Alesha dengan penuh arti.


'Akhirnya, aku menemukan kamu,'  batin Alden, senyumnya terbit.


Setelah malam panasnya dengan Alesha, Alden mencoba untuk mencari Alesha, namun tidak ketemu. Minimnya informasi, membuat Alden sulit menemukan Alesha. Alden terpaksa harus kembali ke Amerika, karena banyak pekerjaan yang menantinya di sana.  Selama beberapa bulan, dia tidak pernah bisa lepas dari memikirkan wanita yang menghabiskan satu malam dengannya.  Namun, setelah pencarian hampir satu tahun,  kini Alden menemukan wanita itu, Alden masih ingat jelas wajahnya.


"Alesha Zulvany, akhirnya aku menemukan kamu, bahkan kau yang datang sendiri pada ku," gumam Alden. Dia sudah menerima data siapa saja yang mendaftarkan diri sebagai sekretaris. Alden meminta pada HRD untuk menerima Alesha bagaimana pun caranya.


Namun, ada hal yang masih menjadi beban bagi Alden, karena dia belum bisa jujur tentang dirinya.  Alden takut, kalau Alesha akan marah dan pergi jauh dari jangkauannya. Jadi, Alden memutuskan untuk menyimpan rahasia ini lebih dulu dan nantinya dia akan mengakui kepada Alesha tentang malam itu.


'Dengan kami dekat, itu berarti aku akan selalu tahu kabar Alesha,' batin Alden


Di sisi lain, kini Alesha tengah diberikan penjelasan seputar pekerjaannya nanti. Sejauh ini, Alesha sudah cukup paham, karena memang dia tipikal wanita yang cerdas.


"Baiklah, apakah setelah mendengarkan penjelasan dari saya, kamu mau mengurungkan niat kamu untuk bekerja?" tanya Felix.


"Tidak sama sekali, Tuan." jawab Alesha dengan yakin.


"Kamu,  benar-benar masih singgle kan?" pertanyaan Felix yang ingin memastikan bahwa Alesha belum menikah, nyatanya membuat Alesha semakin bergetar. Alesha memang belum menikah, namun Alesha sudah memiliki anak.


"Be-benar Tuan. Tuan bisa melihat di data diri saya kan?" ujar Alexa dan diangguki oleh Felix.


"Baiklah, kamu bisa pulang sekarang, karena kamu akan mula bekerja besok," ucap Felix, setelah itu Alesha pun menjabat tangan Felix tidak lupa mengucapkan terimakasih untuk hari ini.


Alesha pulang dengan perasaan senang, karena mulai saat ini dia tidak perlu lagi memikirkan untuk mencari pekerjaan, Alesha berharap semoga saja jati dirinya yang sudah memiliki seorang anak, akan terus tertutup rapat. Dari penjelasan Felix, seputar gaji yang akan diterima oleh Alesha memang cukup banyak.


"Bu Anjani?" Alesha begitu terkejut, karena sesampainya di rumah, dia sudah mendapati Anjani, yang tidak lain asisten rumah tangganya. Alesha memang memiliki asisten rumah tangga, karena semenjak Alesha hamil 7 bulan, Alesha mulai mencari asisten rumah tangga untuk mengurus apartment dan juga untuk menemani Alesha. Dan saat ini Alesha juga tidak perlu pusing memikirkan mencari pengasuh, karena Anjani sudah berpengalaman dalam hal itu.


"Nona, sudah pulang?" tanya Anjani, sembari melangkah, mendekati Alesha.


"Maaf ya Non, Nona Laura tadi ada keperluan, jadi dia pergi lebih dulu, " Jelas Anjani dan diangguki oleh Alesha. Alesha sudah tahu, karena memang tadi Laura sempat menghubunginya lebih dulu.


"Bu Anjani, mulai besok aku akan bekerja," ujar Alesha memberikan kabar yang menggembirakan, Anjani tahu seberapa berjuang nya Alesha untuk bisa mendapatkan pekerjaan.


"Syukurlah, mulai besok saya akan membuatkan bekal," Anjani tahu, saat ini Alesha tengah memberikan ASI eksklusif, jadi harus menjaga pola makannya.


"Terimakasih ya, kalau begitu aku titip Alvin dulu, untuk mandi." Alesha pun bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Alesha benar-benar masih sulit untuk percaya, bahwa hari ini dia sudah menjadi karyawan. Meskipun, Alesha melakukan kebohongan, namun dia juga terpaksa.


.


.


Malam ini, Alden pulang ke rumah dengan perasaan yang berbeda. Biasanya dia akan pulang dengan wajah datar, namun bagi yang biasa melihatnya pasti bisa membedakan, kalau malam ini Alden sedikit berseri.


"Kau sudah pulang?" suara itu menghentikan langkah kaki Alden.


"Iya, Mom." jawab Alden dengan agak malas.


"Bagaimana kencan kamu hari ini?" iya, harusnya malam ini Alden pergi kencan dengan wanita yang sudah dijodohkan dengannya. Namun, sepertinya Alden tidak melakukan itu. Franda, sebagai seorang ibu, tahu kalau Alden tidak menjalankan apa yang diperankan untuknya.


"Regina sudah menghubungi Mommy, dia sudah menunggu kamu di restorant selama 2 jam," Franda cukup kesal dengan tingkah sang putra, apalagi membiarkan Regina, duduk menunggu ketidakpastian Alden.


Alden masih tidak bergeming, membuat Franda kembali bersuara.


"Apa sih yang kurang dari diri Regina? Dia cantik, baik dan dari keluarga terpandang," ujar Franda lagi.


"Alden, dengarkan Daddy." Antonio Xavier, mulai ikut menimpali, dia menatap wajah sang putra dengan seksama.


"Regina sangat mencintai kamu, sebenarnya apa sih yang membuat kamu tidak bisa menerima dia? Kamu masih normal kan?" Antonio menanyakan sesuatu yang membuat Alden langsung terkejut, begitupun dengan Franda.