One Night's Mistake

One Night's Mistake
Mirip seperti lelaki itu



"Regina sangat mencintai kamu, sebenarnya apa sih yang membuat kamu tidak bisa menerima dia? Kamu masih normal kan?" Antonio menanyakan sesuatu yang membuat Alden langsung terkejut, begitupun dengan Franda.


"Kamu apa-apaan sih," Hardik Franda kepada suaminya.


"Aku kan cuman mau memastikan," jawab Antonio dengan raut wajah tak bersalahnya.


Alden menghela napasnya, "aku masih normal Mom, Dad. Hanya saja aku tidak bisa menerima Regina. Hatiku bukan untuk dia, dan tidak akan pernah bisa dipaksakan," jawab Alden ditengah frustasinya, dia benar-benar kesal karena terus didesak untuk mencoba menjalin hubungan dengan Regina.


"Sudahlah, aku ingin istirahat, aku lelah." Alden langsung meninggalkan kedua orangtuanya, dia cukup lelah untuk terus membicarakan hal yang menurut Alden, itu sangat membosankan.


"Alden tapi sampai kapan kamu akan terus begini? Mommy juga ingin menimang cucu!" seru Franda kepada Alden yang masih terus melangkahkan kakinya. Alden tidak menggubris, dia terus melangkah seolah menulikan pendengarannya.


Alden menutup pintu, dan melemparkan jasnya ke sembarang arah. Alden melangkah menuju balkon kamarnya, dia menatap langit malam ini dengan perasaan yang berkecamuk.


"Aku akan terus memperhatikan dia, dan akan aku buat dia jatuh cinta pada ku," Gumam Alden, dia sudah bertekad akan membuat Alesha masuk dalam pelukannya, tanpa Alden tahu bahwa kini Alesha sudah melahirkan putranya.


.


.


Pagi ini, Alesha bangun lebih awal, sebelum berangkat kerja Alesha akan memompa ASI nya untuk Alvin. Sebenarnya, Alesha cukup sedih karena sekarang Alvin akan meminum susu lewat dot bayi, namun Alesha bersyukur setidaknya Alvin masih merasakan ASI nya. Alesha tidak pernah berpikir atau takut kalau *********** akan kendor, Karena bagi Alesha yang terpenting adalah kesehatan sang putra.


"Alvin sayang, Mommy berangkat kerja dulu ya?" Alesha menyempatkan waktu untuk bermain dan menimang Alvin lebih dulu.


"Alvin jangan nakal sama Bu Anjani, harus nurut, oke?" Alesha mengajak sang putra untuk mengobrol, seolah paham, Alvin tersenyum gemas kepada Alesha.


"Bu, Alesha pamit ya?" Alesha memberikan Alvin kepada Anjani.


"Baiklah, Nona hati-hati, " ujar Anjani mengingat kan. Alesha melambaikan tangannya dan bergegas pergi.


"Semoga, akan ada kebaikan dan kebahagiaan untuk Nona Alesha," harap Anjani. Dia begitu tahu perjuangan Alesha selama hamil. Sejujurnya Anjani juga sangat kasihan pada Alesha, dulu Alesha harus melakukan apapun sendirian, bahkan untuk ngidamnya sekalipun.


.


.


Anjani sudah sampai di kantor, semua mata menatapnya aneh, mungkin karena mereka baru melihat Alesha. Saat Alesha di dalam lift, ada yang berani bertanya kepada Alesha, apakah Alesha karyawan baru? Dan Alesha menganggukka kepalanya. Alesha menemukan beberapa orang ada yang ramah dan juga menatapnya dengan sebelah mata. Namun Alesha tidak mengambil pusing, karena baginya yang penting dia datang ke sini untuk bekerja.


"Ayo Alesha semangat," Alesha menyemangati dirinya sendiri, dia membereskan mejanya dan beralih membereskan meja Alden, memastikan AC sudah menyala supaya saat Alden datang, ruangannya sudah sejuk.


Alesha kembali ke meja kerjanya, dia menyiapkan tab kantor untuk melihat jadwal Alden hari ini. Jadwal ini sudah dibuat oleh Felix sejak satu Minggu lalu, dan sudah ada jadwal Alden untuk beberapa hari kedepan. Alesha beruntung, karena dengan begini dia merasa sudah sangat dibantu.


Beberapa menit kemudian, Alden nampak datang dengan Felix. Alesha berdirii dan menatap Alden yang tengah berjalan ke arahnya, ah lebih tepatnya menuju ke ruangannya.


"Selamat pagi Pak Alden," Alesha menyapa Alden dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Bacakan jadwal untuk ku," jawab Alden seraya berlalu masuk ke dalam ruangannya. Alesha mengambil tab dan mengekor masuk.


Dia mulai membacakan jadwal Alden hari ini, dan kebanyakan Alden akan berada di luar kantor untuk bertemu dengan client.


"Apa-apaan, aku akan berada di luar kantor? Dan itu berarti, aku tidak bisa melihat Alesha?" batin Alden kesal.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Felix seolah sudah paham dengan tatapan mata Alden.


"Iya, kamu gantikan Alesha dan biarkan Alesha ikut bersama ku," jawab Alden dengan santai. Felix hanya bisa terpaku dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


'sepertinya, cinta sudah merubah anda Tuan,' batin Felix, namun Felix hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang diinginkan oleh atasannya.


"Namun, apa anda tidak takut jika nanti, Nyonya Franda tahu? Atau ..." Felix belum selesai mengatakan ucapannya. Namun, langsung dipotong oleh Alden.


"Jangan membuat mood ku buruk," ucap Alden memperingatkan.


"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi," Felix keluar dari ruangan Alden, dan menemui Alesha.


"Ada apa Tuan?" tanya Alesha dengan sopan.


"Nanti, kamu yang temani Tuan Alden, ya." ucap Felix memberikan perintah, sontak saja Alesha terkejut.


"Sa-saya?" tanya Alesha dengan wajah tak percaya.


"Iya, saya harus menangani beberapa dokumen, nanti pekerjaan kamu di sini, biar saya yang handle," ucap Felix meyakinkan.


"Oh baik Tuan," jawab Alesha dengan patuh. Felix pun berlalu menuju ruangannya yang berada di samping ruangan Alden.


"Pergi bersama Tuan Alden? Astaga apa aku sanggup?" gumam Alesha.


Sudah jam 10, Alesha pun mengetuk ruangan Alden untuk mengingatkan bahwa setengah jam lagi mereka akan bergegas pergi menuju tempat bertemu dengan client.


"Maaf Tuan, saya menganggu," lirih Alesha.


"Ada apa Alesha?" tanya Alden dengan suaranya yang begitu manly.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin mengingatkan bahwa setengah jam lagi kita harus berangkat ke tempat, di mana Anda dan kolega sudah membuat janji temu," jelas Alesha dan Alden menganggukkan kepalanya paham.


"Baiklah, 5 menit lagi kita berangkat, supaya tidak terjebak macet," putus Alden.


"Baik Tuan," Alesha pun undur diri, dia juga harus bersiap membawa apa saja yang harus dia bawa. Setelah itu, mereka pun bersama-sama meninggalkan kantor. Alesha berjalan di belakang Alden, entah kenapa Alesha samar-samar seolah mengingat sesuatu, seseorang yang nampak pernah dia lihat.


'Pasti cuman perasaaan ku,' batin Alesha. Berjalan di belakang Alden, Alesha bisa merasakan wangi Alden yang nampak tidak asing juga bagi Alesha.


'Sepertinya aku sudah gila, bagaimana mungkin aku seolah berpikir bahwa kami pernah bertemu?' batin Alesha, dia menggelengkan kepalanya.


"Ayo masuk." Alesha tertegun, saat Alden membukakan pintu untuknya.


"Tuan, harusnya saya yang melakukan itu," Alesha menatap sekeliling, orang-orang yang melihat bagaimana sikap Alden pun dibuat tercengang.


"Aku tidak suka mengulang perkataan ku," jawaban Alden membuat Alesha langsung menurut, dia tidak mau dipecat di hari pertama bekerja. Alesha masuk ke dalam mobil di kursi penumpang bersama dengan Alden.


'Harusnya, aku di samping supir kan? bukan di sini?' batin Alesha, namun lagi-lagi dia tidak bisa berkutik, dia hanya diam di samping Alden.