One Night's Mistake

One Night's Mistake
Pergi ke acara pesta



Malam ini, Alesha sudah bersiap untuk menghadiri sebuah perayaa pesta ulangtahun    kolega Alden. Alesha sudah mengenakan dress berwarna navy, pemberian Alden. Beberapa kali dia mencoba melihat dirinya dari pantulan cermin, karena dia merasa ada yang kurang.


"Kenapa sih, Non? Nona sudah sangat cantik kok," ucap Anjani yang sedari tadi melihat Alesha terus bercermin.


"Aku kurang percaya diri, Bu. Karena ini pertama kalinya bagi aku, mendatangi pesta besar di sini," jelas Alesdha dengan wajah menunduk.


"Nona datang dengan pengusaha ternama, jadi Nona tidak perlu merasa malu. Nona adalah sekretararisnya, jadi harus bisa menjunjung tinggi nama atasan Nona," ucap Anjani, mencoba mengembalikan kepercayaan diri Alesha.


Alesha tersenyum. "Terimakasih Bu Anjani, selalu bisa menenangkan aku," Alesha mulai merasa tenang, dia pun menatap jam di dinding. "Bu, saya permisi duluan ya, sebelum nanti Tuan Alden menunggu dan datang ke sini." Anjani mencium kening sang putra dan berpamitan, setelah itu barulah dia bergegas pergi.


Alesha sudah sampai di loby apartement, dia tidak menyangka kalau Alden sudah berada di sana. Alesha meneguk salivanya kasar, saat melihat penampilan Alden yang begitu mempesona, namun Alesha menggelengkan kepalanya cepat, dan menyadarkan dirinya, bahwa yang saat ini berada di hadapannya adalah atasannya sendiri.


'Cantik sekali Alesha,' batin Alden memuji, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Alesha. Malam panas di antara mereka, yang terjadi satu tahun silam pun, kembali membayangi, membuat Alden menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Maaf Tuan, anda sudah lama menunggu?" ucap Alesha tidak enak hati.


"Tidak, aku juga baru sampai," jawab Alden, dia kembali meneliti penampilan Alesha, karena merasa ada yang kurang.


"Ada apa Tuan? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Alesha was-was.


"Bukan, kamu sudah sangat cantik, tapi ada yang kurang," ucap Alden sambil terus mengamati, dia pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu.


"Ke sini," Alden meminta Alesha untuk mendekat, dan Alesha pun menuruti. Alden menyematkan sebuah kalung berlian di leher Alesha. Alesha terkejut, karena itu adalah barang mahal.


"Tu-Tuan, apa ini?" tanya Alesha gelagapan.


"Kalung, ini melengkapi penampilan kamu," jawab Alden, setelah menatap dengan seksama penampilan Alesha. Kalung itu, nampak sangat pas dikenakan oleh Alesha.


"Tapi, apakah ini tidak terlalu berlebihan, Tuan? Saya merasa tidak pantas mengenakannya," Alesha yakin, kalung itu pasti bernilai sangat fantastis.


"Kalung ini, jauh lebih cantik dari kamu, tidak akan ada barang yang labih mahal dari kamu. Kamu adalah wanita berharga, dan tidak akan bisa dibandingkan dengan apapun. Jangan menilai dari harta, yang penting kamu masih punya martabat dan harga diri," jelas Alden. Alesha merasa tersentuh dengan perkataan Alde, Alesha pikir Alden adalah lelaki yang sombong, namun penilaian Alesha ternyata salah,


"Ya sudah ayo. Nanti, kita terlambat," Alden meminta Alesha untuk menggandeng lengannya, dan dengan agak kaku, Alesha mau tidak mau melakukannya. Alden membukakan pintu mobil untuk Alesha, hal yang sangat membuat Alesha merasa terkesan.


'Kenapa, jadi seperti ini? Jantung ku berdebar dengan sangat kencang,' batin Alesha, 'nggak Alesha, ayo sadar, kamu ini hanya bawahan. Dan ingat, Tuan Alden akan sangat membenci kamu, kalau sampai rahasia kamu terbongkar.'


Mobil melaju, membelah jalanan yang masih ramai. Alden dengan gagah mengemudikan mobilnya, sedangkan Alesha di sampingnya, nampak begitu tenang. Alesha sebenarnya cukup was-was pergi ketika malam, takut kalau Alvin akan rewel. Karena biasanya Alvin akan tidur di samping Alesha.


"Wah sekian lama, akhirnya anda membawa kekasih juga, Tuan Alden," Ferdinan, salah satu rekan bisnis Alden, dan juga pemilik acara malam ini, menyambut hangat kedatangan Alden Xavier, CEO Perusahaan KingAlden.


"Maaf, Tuan. Saya hanya sekretaris Tuan Alden," Alesha meralat ucapan Ferdinan, yang mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Alden. Alesha tidak mau orang lain salah paham, dan malah membuat Alden malu karena memiliki kekasih seperti drinya.


"Waah benarkah? Padahal kalian terlihat serasi loh," celetuk Valen, istri Ferdinan.


"Ya, kalau kalian masih sama-sama single, rasanya tidak akan masalah. Bukankah, jodoh tidak akan ada yang tahu?" sambung yang lain, Alden tidak menamnlik dia justru tersenyum seolah membenarkan ucapan yang lain, tidak ada sanggahan darinya.


'Kenapa Tuan Alden malah diem sih, harusnya membela diri, kan?' batin Alesha.


Saat ini, Alden dan Alesha sudah duduk di meja yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua, acara sudah dimulai, ada sambutan dari sang pemilik acara, dan ada juga ucapan selamat serta doa dari Vanessa, untuk suaminya yang tengah berulang tahun hari ini. Acara pesta berjalan dengan lancar. Alesha bertemu dengan kawan baru, yang mana mereka juga staf kantor Ferdinan, bahkan ada pula sekretaris.


"Pasti lelah ya Alesha, bekerja sebagai sekretaris?" tanya Anggel sakretaris Ferdinan.


Alesha terkekeh pelan. "Ya, lelah sih, tapi karena Tuan Alden juga orang yang baik, jadi aku tidak begitu merasakannya. Terkadang aku hanya kesal dengan karyawan lain yang usil," bisik Alesha disertai kekehan kecilnya.


"Usil, seperti apa maksud kamu?" tanya Anggel nampak penasaran.


"Ya seperti tuduhan bahwa aku menjalin hubungan terlarang dengan Tuan Alden. Karena aku selalu bersama dia, mereka bilang skeretaris sudah seperti istri kedua," Alesha menggelengkan kepalanya, sedangkan Anggel nampak tersedak oleh minuman.


"Loh, Anggel kamu kenapa?" tanya Alesha seraya menepuk punggung Anggel dengan pelan.


"Nggak, aku nggak apa-apa, aku udah baikan," ujar Anggel setelah batuknya mereda.


"Hati-hati ya?" Alesha menatap Anggel yang nampaknya mulai salah tingkah, padahal dirinya sama sekali tidak menjawab sesuatu hal yang membuat terkejut, kecuali ... 'Kecuali aku menjelaskan soal hubungan terlarang?' batin Alesha.


"Alesha, aku ke kamar mandi dulu ya?" pamit Anggel, dan diangguki oleh Alesha. Entah kenapa, Alesha sangat ingin mencari keberadaan Ferdinan, dan akhirnya manik mata Alesha mendapatkannya, Ferdinan nampak berpamitan kepada rekan kerjanya dan pergi ke arah toilet.


'Arah yang sama dengan Anggel?' batin Alesha, dia pun mengikuti Ferdinan secara diam-diam. Alesha hampir syok, saat dia melihat Ferdinan masuk ke dalam toilet wanita bersama dengan Anggel, bahkan masuk bilik toilet yang sama. Alesha mencoba mendekat dan memastikan bahwa benar Anggel yang ada di sana.


"Kapan kamu akan berpisah dengan istri kamu?" Alesha menutup mulutnya tak percaya, dia jelas mendengar suara Anggel.


"Sabar sayang, setelah aku kuasai semua hartanya, aku akan segera menikahi kamu. Kamu nggak mau , kan kalau kita hidup miskin?" suara Ferdinan bertanya. Alesha tak menyangka, ternyata selain menjadi sekretaris, Anggel juga menjadi wanita simpanan Ferdinan.