One Night's Mistake

One Night's Mistake
Mengakhiri semuanya



"Lalu, kapan kamu akan menikahi aku, semakin hari perut aku akan semakin besar, dan semakin terlihat. Bagaimana kalau sampai akhirnya istri kamu tahu?" tanya Anggel dengan raut wajah serius.


"Itu tidak akan terjadi, aku akan cari caranya," jawab Ferdinan.


"Mencari cara, bagaimana? Dengan cara melenyapkan aku?" mendengar pertanyaan  Anggel, membuat raut wajah Ferdinan berubah pias, dia sepertinya terkejut dengan pernyataan Anggel.


"Kamu pikir, aku bodoh? Kamu menikahi bu Valen hanya karena harta, kamu mencari wanita-wanita bodoh seperti ku, yang bisa kamu manfaatkan," ucap Anggel.


Mendengar perkataan Anggel, Ferdinan justru tertawa, dia sama sekali tidak takut dengan perkataan Anggel.


"Kau ternyata sudah mulai pintar, ya?" ucap Ferdinan.


"Iya, karena aku sudah sadar sekarang, kamu hanya pria pengcut, kamu juga yang sudah berusaha mencelakai aku, karena kamu tidak mau kalau sampai bu Valen tahu, iya kan?" tanya Anggel, dan tanpa ragu Ferdinan mengiyakan.


"Kenapa kamu tega? Bukan kah kamu sangat menginginkan hadirnya anak ini?" Anggela tidak habis pikir dengan cara pikir Ferdinan.


"Memang, aku sangat menginginkan anak ini, tapi jika kehadiran anak ini, justru mengncam posisiku, bukankah sebaiknya aku menyingkirkannya? Bersama dengan sumbernya juga," kata Ferdinan seraya menyeringai.


"Kamu benar-benar jahat, tapi aku akan berusaha menguak semuanya kepada bu Valen, aku akan berusaha supaya bu Valen tahu, seperti apa suaminya sebenarnya," ancam Valen. Mendengar hal itu, Ferdinan menjadi marah, dia memegang dagu Anggel dengan keras. Melihat Anggel yang mulai diperlakukan kasar oleh Ferdinan, membuat Alden menjadi was-was, dia hendak keluar dari persembunyiannya, tapi ditahan oleh Alesha.


"Lihat itu, Tuan." Alesha menunjuk ke arah pintu, di mana di sana ada Valen yang sudah berdiri mematung mendengar semua perkataan Anggel dan Ferdinan. Valen nampak shock dengan semua pengakuan yang keluar dari mulut suaminya.


"Jangan gila kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan semua itu, karena sebelum kamu bertindak, maka aku akan lebih dulu bertindak untuk menghilangkan jejak kamu!" sentak Ferdinan.


"Kamu tidak akan bisa menghancurkan aku, karena sebelum rahasia itu terbongkar, kamu pasti sudah lenyap," ancam Ferdinan dengan tawa yang begitu puas.


"Kata siapa?" Ferdinan membeku, kala dia mendengar suara wanita yang sangat dia kenal, Valen. Ferdinan melepas cengkraman di dagu Anggel, dan memutar badannya, dia menatap istrinya yang sudah berdiri di belakang dirinya dengan tatapan tajam.


"Sa-sayang?" Ferdinan terbata, habis sudah semuanya.


"Kenapa? Kamu tampak sangat terkejut," ucap Valen seraya bersedekap dada.


"Sayang, sejak kapan di sini?" tanya Ferdinan cemas.


"Sejak tadi, sejak kamu mengakui bahwa kamu menikahi aku, hanya karena uang, dan kamu sering bergonta-ganti wanita, aku merasa sangat jijik dengan tingkah kamu!" sentak Valen, Ferdinan mencoba untuk mendekat, tapi Valen justru menjauh.


"Sayang aku bisa jelaskan," Ferdinan menunjukkan raut wajah sendunya.


"Kamu pikir aku sebodoh itu? Kamu pikir aku sebuta itu? Meskipun aku mencintai kamu, tapi aku nggak buta, aku masih bisa menilai, mana yang salah dan benar," kata Valen.


"Aku mau kita pisah," perkataann Valen yang berhasil membuat Ferdinan menjadi begitu kertakutan, bagaimana tidak. Berakhinya pernikahan mereka, maka berakhir pula masa kejayaan Ferdinan, dia harus siap kehilangan semua kemewahan yang selama ini dia dapatkan.


"Sayang, aku nggak mau pisah dari kamu." Ferdinan mengejar Valen yang melangkah menuju pintu keluar, sedangkan Anggel nampak melihatnya dengan tatapan remeh.


'Ini adalah masa kehancuran kamu Ferdinan,' batin Anggel. Dia masih menyaksikan bagaimana Ferdinan yang terus berusaha memohon kepada Valen, supaya diberikan kesempatan kedua. Akan tetapi, sepertinya Valen enggan memberikan kesempatan itu untuk Ferdinan, hati wanita mana yang tidak kecewa dan sakit hati, jika suami yang selama ini dipercaya, ternyata sudah sering menduakan cinta.


"Valen!" Ferdinan hanya bisa menatap Valen yang semakin jauh dari pandangan matanya, sedangkan Anggela menatap Ferdinan dengan tatapan mengejek.


"Anggela, kamu mau kita menikah, kan? Ayo kita menikah." Ferdinan, tiba-tiba saja mengajak Anggela untuk menikah, padahal sebelum kejadian Valen memergoki semuanya, Ferdinan sudah menolak mentah-mentah.


"Aku udah nggak mau," jawab Anggela dengan mantap.


"Apa maksud kamu, aku mau menikah dengan kamu, untuk mempertanggung jawabkan semuanya," ucap Ferdinan dengan bingung.


"Aku nggak mau mernikah sama kamu, bukannya kamu juga nggak mau menikahi aku, kan?" sentak Anggel.


"Anggel, jangan bercanda, ada anak kita di perut kamu," Ferdinan benar-benar pintar, setelah dia dicampakkan oleh Valen, dia akan kembali bernaung lewat Anggel.


"Nggak ada lagi anak kita, karena kamu sudah berhasil membunuhnya, aku kehilangan anak ku, dan kamu kehilangan kesempatan menjadi seorang ayah, Ferdinan!" seru Anggel menatap Ferdinan dengan marah.


Ferdinan nampak terkejut dengan pernyataan Anggel, entah kenapa, meski awalnya dia tidak menginginkan anak itu, karena tidak mau posisinya menjadi terancam, tapi mendengar dia kehilangan calon anaknya, yang selama ini juga sangat Ferdinan tunggu, membuat hati nurani Ferdinan tersentil. Kaki Ferdinan terasa lemas, tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya, Ferdinan jatuh berlutut di hadapan Valen.


"Kenapa Ferdinan, kamu sepertinya terlihat sangat terpukul? Bukankah ini yang kamu mau. Sekarang, pergilah dan kejar Valen sampai dapat," ketus Anggel, dia pun masuk ke dalam apartement dan hanya menyisakan Ferdinan di depan apartementnya. Anggel sudah mengganti pin apartementnya, jadi Ferdinan tidak akan bisa masuk. Anggel duduk di kursi, dan datanglah Alden juga Alesha.


"Anggel?" Alesha menepuk bahu Anggel yang nampak bergetar, Alesha tahu Anggel tengah menangis. Dan benar saja, Anggel langsung memeluk Alesha dan menumpahkan semua kesedihannya.


"Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai sekarang." kata Alesha seraya mengusap surai Alesha.


Setelah beberapa menit terisak, akhirnya Anggel terlihat sudah jauh lebih baik, sepertinya Anggel sudah lebih tenang.


"Anggel, kenapa kamu bilang keapada Ferdinan, bahwa anak kalian sudah tidak ada?" tanya Alden, yang memang pada saat itu mendengar semua perkataan Anggel.


"Iya, Tuan. Saya sengaja mengatakan hal itu, kepada Ferdinan, supaya dia berpikir, bahwa terjadi sesuatu dengan kandunga saya, dengan begini tidak ada ikatan apapun lagi antara saya dengan dia. Saya akan membesarkan anak saya sendiri, tanpa Ferdinan," terang Anggel, dia sudah memutuskan untuk memutus semuaya, termasuk menyembunyikan kehamilannya dari Ferdinan.


"Kamu, benar-benar yakin?" tanya Alesha memastikan.


"Aku yakin, aku sudah memikirkan hal ini, aku akan pergi dari kota ini, dan memulai kehidupan baru ku, tanpa bayangan masa lalu," ungkap Anggel, sepertinya Anggel sudah menyusun semuanya, dia sudah berpikir dengan matang ke mana dia akan pergi. Tapi, Anggel berjanji, bahwa komunikasinya dengan Alesha akan tetap berjalan, bagi Anggel, Alesha dan Alden adalah orang yang paling baik, karena mereka sudah banyak membantu Anggel.