
"Kami tidak butuh uangmu. Uang yang dijanjikan oleh bos kami, jauh lebih besar dari apa yang kamu tawarkan," seraya tertawa dia menjawab perkataan Anggel.
"Bodoh! Kenapa kau memberitahunya?" salah satu orang suruhan itu, memberi pukulan kecil pada rekannya karena dianggap sudah menguak rahasia mereka.
"Tenang saja, toh dia juga akan mati hari ini," tawa mereka berdua pun akhirnya terbit, berbeda dengan Anggel yang sudah ketakutan, bahkan keringat dingin sudah mulai muncul.
'Siapa orang yang ingin membunuh ku?' batin Anggel. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka segera membawa Anggel. Anggel hanya bisa memohon, meronta pun akan percuma, tenaganya sudah habis ditambah dengan rasa kram di perutnya. Anggel hanya bisa berharap semoga ada orang baik yang mau menolongnya saat ini.
Bruukk! suara salah satu orang yang akan menculik Anggel, terjatuh. Anggel dan yang lain menoleh ke belakang, ternyata ada Alden di sana.
"Lepaskan dia," titah Alden.
"Ini bukan urusan mu, jangan ikut campur!" sentak salah satu orang yang badannya lebih besar.
Alden berdecih, dia menggulung lengan kemejanya dan menatap mereka satu persatu. "Kalian cuman berani pada wanita, dan lagi, membawa satu wanita saja harus berlima, kalian benar-benar laki-laki?" sinis Alden.
"Minggir, kami tidak ada urusan dengan mu!" ucap pria yang tengah memegang Anggel.
"Langkahi dulu anak buah ku, baru kalian pergi," ucap Alden seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Anak buah?" kelima pria bingung, karena mereka hanya melihat Alden sendirian. Tapi tidak lama, mereka melihat ada rombongan mobil yang berjejer, kira-kira ada10 orang keluar dari mobil, mereka semua menunduk hormat ke arah Alden.
"Urus mereka," titah Alden. Mendengar perintah sang atasan, mereka langsung melakukan penyerangan. Akhirnya, Alden bisa mengamankan Anggel.
"Anggel, kamu tidak apa-apa?" tanya Alesha dengan raut wajah panik.
"Perut ku." Anggel meringis kesakitan, dia memegang perutnya yang kini semakin terasa sakit.
"Masuk dalam mobil, biar aku bawa ke rumah sakit." Alden segera melajukan mobilnya, setelah Anggel masuk ke dalam mobil, dan Alesha pindah ke kursi belakang menemani Anggel. Alesha mengusap perut Anggel berharap tidak terjadi sesuatu dengan janinnya.
"Alesha, ini sangat sakit," rintih Anggel.
"Anggel, tarik napas lalu buang perlahan, ayo ikuti aku," kata Alesha, dia juga tidak lupa untuk mengusap perut Anggel.
'Kenapa Alesha seperti orang yang berpengalaman dalam kehamilan?' batin Alden heran. Tapi, Alden tidak mau berpikir terlalu jauh lebih dulu, fokusnya sekarang adalah, membawa Anggel ke rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit, Alden langsung mengurus semuanya, supaya Anggel bisa cepat ditangani, Alden memberikan salah satu tanda pengenal milik anak buahnya, karena dia ingin melindungi Anggel. Alden yakin orang-orang suruhan Ferdinan masih berusaha untuk mencari Anggel.
"Bagaimana?" Alden menemui Alesha, yang masih sabar menunggu Anggel.
"Dokter masih menanganinya, Tuan," jawab Alesha, dia harap-harap cemas menanti Dokter, karena Alesha tahu, saat ini Anggel tengah mengandung.
"Semoga saja, tidak terjadi hal buruk pada janin Anggel," harap Alesha. Di tengah kecemasan mereka, Dokter akhirnya keluar.
"Dengan keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Syukurlah, tidak terjadi hal buruk pada kandungan pasien, kondisi pasien saat ini juga sudah lebih baik. Hanya saja, saya sarankan supaya pasien tetap dirawat intensif dulu, supaya memulihkan kesehatannya dan juga kandungannya," saran Dokter.
"Baiklah Dok, lakukan saja yang terbaik," terang Alden. Anggel sendiri masih belum siuman, karena Dokter memberikan obat supaya Anggel bisa beristirahat.
"Ini sudah larut malam, kita pulang saja?" tanya Alden kepada Alesha, tapi terlihat raut wajah Alesha yang bimbang.
"Nanti, Anggel dengan siapa, Tuan? Saya takut kalau nanti akan ada anak buah pak Ferdinan yang masih mencari Anggel," Alesha mencemaskan keadaan ANggel, biar bagaimanapun Alesha yakin kalau orang sekelas Ferdinan, tidak akan menyerah begitu saja, membiarkan Anggel masih berkeliaran bebas. Karena Ferdinan ingin menyingkirkan Anggel, supaya rahasia perselingkuhannya bisa terkubur dalam-dalam. DIa tidak perduli dengan anak yang dikandung Anggel.
"Kamu tenang saja, besok kita bisa kembali lagi, dan untuk mal am ini, akan ada anak buah ku yang berjaga," terang Alden membuat Alesha lega, karena Alesha juga sejujurnya memikirkan sang putra. Alesha sangat yakin, kalau Alvin pasti mencarinya.
"Ya sudah, Tuan, kita pulang saja, karena ini juga sudah sangat larut," kata Alesha, akhirya Alden pun mengantarkan Alesha ke apartementnya.
Sedangkan di sisi lain, Ferdinan tengah uring-uringan setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, bahwa mereka tidak berhasil melakukan tugas yang Ferdinan berikan.
"Bodoh! Hanya membereskan satu wanita saja kalian tidak bisa!" bentak Ferdinan.
"Maafkan kami, Tuan. Wanita itu dibantu oleh seseorang," jawab salah satu anak buah Ferdinan.
"Dibantu seseorang? Siapa?" tanya Ferdinan seraya menyipitkan matanya.
"Ka-kami tidak tahu, Tuan," jawabnya.
Ferdinan menatap remeh anak buahnya. "Dia hanya sendirian, kalian justru kalah telak?" tanya Ferdinan meremehkan.
"Tidak Tuan, mulanya dia memang sendirian, tapi ternyata dia membawa 10 anak buah," terang anak buah Ferdinan menjelaskan. Tapi, dari keterangan anak buahnya, Ferdinan tidak mendapatkan informasi apapun tentang siapa sebenarnya yang sudah membantu Anggel.
"Sayang," dari arah belakang, Valen memanggil suaminya. Dia melihat Ferdinan sang suami yang tengah mengumpulkan beberapa anak buahnya dan berbicara dengan penuh emosi.
Mendengar suara istrinya, Ferdinan seketika megubah raut wajahnya, dia membalikkan badan dan tersenyum ke arah sang istri. "Sayang, kamu belum tidur?" tanya Ferdinan.
"Aku terbangun, dan mendapati kamu yang tidak ada di ranjang," jawab Valen, "kamu kenapa? Kok marah ke mereka? Memang mereka buat salah apa sampai kamu semarah ini?" tanya Valen curiga, seketika Ferdinan gelagapan.
"Saat pesta tadi, hampir ada penyusup yang masuk, aku memarahi mereka karena tidak bisa berjaga dengan benar," Ferdinan rasa, alasan yang dia gunakan suadah masuk akal, dan seharusnya Valen percaya.
"Sudahlah, jangan terlalu keras pada mereka. Pesta juga berjalan lancar dari awal sampai akhir. Mereka semua sudah bekerja keras malam ini, biarkan mereka beristirahat," kata Valen memberikan saran.
"Iya sayang, aku cuman mau memperingatkan mereka aja kok, supaya mereka bisa lebih hati-hati dalam bekerja. Ya sudah, kamu ke kamar lebih dulu, nanti aku menyusul," ucap Ferdinan, dia hanya ingin memastikan bahwa istrinya tidak berada di dekatnya, supaya tidak mendengar apapun yang dia ucapkan.
"Baiklah, tapi pastikan kamu segera masuk dan biarkan mereka istirahat," kata Valen mengingatkan. Setelah Valen masuk, Ferdinan kembali menatap semua anak buahnya, dan berbicara dengan lirih.
"Pastikan kalian temukan wanita itu, malam ini. Kalau tidak, nyawa kalian yang menjadi taruhan," ancam Ferdinan, dia pun segera menyusul istrinya masuk ke dalam, sedangkan semua anak buah Ferdinan segera membubarkan diri dan segera mencari keberadaan Anggela.