
Alesha mencoba bersikap tenang, dia tidak mau sikapnya justru akan semakin memancing orang lain, berpikir buruk tentangnya. Dia hanya ingin bekerja untuk bisa menghidupi putranya.
"Saya ini, kan sekretaris, wajar kalau saya harus selalu bersama Tuan Alden," jawab Alesha mencoba untuk meyakinkan mereka, bahwa apa yang dilakukannya dengan Alden, hanya sebatas pekerjaan.
"Oh begitu," mereka pun nampak menganggukkan kepalanya percaya.
'Mereka baru begini sudah menganggap aku punya hubungan dengan Tuan Alden, bagaimana kalau mereka tahu, bahwa aku dibelikan dress dan baju mahal,' batin Alesha.
Jam makan siang, akhirnya selesai, tapi saat Alesha baru saja duduk di meja kerjanya, Alesha merasakan nyeri di dadanya, Alesha tahu kenapa, itu karena Alesha sudah seharusnya memberikan ASI kepada Alvin. Tapi, saat ini tidak memungkinkah.
'Untung aku bawa pompa ASI,' batin Alesha, dia segera menuju ke toilet untuk memompa ASInya. tapi baru saja Alesha melangkah, dia bertemu dengan Alden yang baru saja kembali.
"Alesha? Kamu kenapa?" tanya Alden, sebab dia melihat wajah Alesha yang nampak meringis kesakitan.
"Sa-saya nggak apa-apa kok, Tuan." Alesha mencoba menutupinya, dia tidak mau kalau nantinya Alden berpikir Alesha sakit.
"Tapi wajah kamu terlihat menahan sakit begitu," Alden ternyata tipe lelaki yang tidak mudah untuk dibohongi.
"Sa-saya mau ke toilet, Tuan. Permisi," Alesha langsung lari begitu saja, meninggalkan Alden, karena dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit di dadanya.
Alesha bernapas lega karena saat ini dia tengah berada di toilet dan memompa ASI miliknya, Alesha bersyukur karena ASI nya cukup banyak, jadi putranya itu sangat tercukupi tanpa harus membeli susu formula. Alesha membuka ponselnya, dan menatap foto keluarganya yang dia simpan di galeri ponsel. Netra Alesha mulai berkabut, ada rasa rindu terhadap keluarganya, dan dia juga memikirkan bagaimana nasib Adrian, setelah ditinggal pergi oleh Alesha, tepat beberapa hari lagi mereka akan mengadakan pesta pertunangan.
'Aku merindukan kalian,' isak Alesha, dia memeluk ponselnya yang menampilkan foto keluarga.
Akhirnya, Alesha sudah selesai memompa Asinya, untung tadi dia tidak lupa membawa tas, jadi dia segera menyimpannya. Alesha memastikan, penampilannya sudah rapih, dan barulah dia keluar dari toilet.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Felix, asisten pribadi Alden.
"Sudah Tuan," jawab Alesha, lalu dia duduk di kursinya.
"Besok malam, kamu ikut Tuan Alden, menghadiri pesta ulang tahun salah satu kolega besar," ucap Felix memberitahukan.
"Baik, Tuan," jawab Alesha patuh.
"Lebih lengkapnya, kamu bisa tanyakan kepada Tuan Alden nanti," lanjut Felix, dia pun masuk ke dalam ruangannya.
'Pesta? Sudah lama aku tidak menghadiri pesta, pasti akan sangat asing bagiku, apalagi ini bukan di Indonesia,' batin Alesha.
-//-
"Jadi, menurut Kak Adrian, bagus yang mana?" Elsa dan Adrian saat ini tengah memilih undangan pernikahan mereka. Ya, dalam waktu beberapa bulan lagi, mereka akan segera menikah, dan saat ini mereka tengah mempersiapkannya.
Elsa pun mencoba memilah dan memilih kira-kira undangan mana yang cocok, dia ingin undangan itu terkesan mewah, karena pesta pernikahan mereka juga digadang-gadang akan digelar secara besar-besaran. Sejauh ini, mereka sudah membooking gedung pernikahan mereka, dan mereka juga sudah mulai mempersiapkan gaun pernikahan. Semua Elsa persiapkan bersama dengan Ratu dan Anita, yang tidak lain calon ibu mertuanya.
Mata Adrian nampak melihat sekeliling, dia melihat undangan berwarna biru dan navy, perpaduan warna yang sangat disukai oleh Alesha. Adrian mengambilnya dan nampak tersenyum.
"Anda suka yang ini, Pak Adrian?" tanya pelayan, yang melihat Adrian nampak berseri dengan contoh undangan tersebut.
"Iya, warnanya sangat cantik," jawab Adrian, senyumnya belum juga luntur.
Elsa pun melihat undangan tersebut, dia melihat tidak ada yang spesial, tapi dia ingat bahwa kakaknya itu suka dengan warna biru dan navy. Di bawah meja, tangan Elsa mengepal erat, dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu, bahwa alasan Adrian mengambil undangan itu karena teringat Alesha.
"Mau yang ini, Pak?" tanya pelayan lagi.
"Enggak!" jawab Elsa dengan cepat, dia juga nampak ketus.
"Kenapa?" tanya Adrian, menatap Elsa, dia tidak menyadari kalau calon istrinya itu sudah kesal.
"Kamu menikah sama aku Kak, bukan Alesha. Kamu pikir aku bodoh?" Elsa menatap Adrian dengan tatapan kecewa. "Itu warna favorit kak Alesha, kan?" tanya Elsa, dia segera beranjak pergi, dan Adrian nampak terdiam. Tidak lama, Adrian sadar, bahwa dirinya sudah bersalah, dia pun meminta maaf kepala pelayan, dan mengatakan bahwa dia akan kembali lagi besok.
"Elsa!" Adrian mengejar Elsa yang sudah berjalan mendahuluinya. Adrian mencekal pergelangan tangan Elsa, sampai wanita itu berbalik padanya.
"Lepas!" berontak Elsa, tapi cekalan tangan Adrian cukup kencang.
"Aku tahu, kamu nggak akan pernah bisa mencintai aku, lalu buat apa pernikahan ini? Sebaiknya kita batalkan saja!" terang Elsa dengan derai air mata yang membuat Adrian semakin merasa bersalah dibuatnya.
"Aku minta maaf, tolong jangan katakan itu," pinta Adrian mengiba.
"Kenapa? Kamu masih mencintai kak Alesha, kan? Kamu masih berharap bahwa dia akan kembali. Kamu cari saja dia, wanita yang jelas-jelas sudah meninggalkan kamu!" seru Elsa.
Adrian terdiam, dia tahu dia sudah sangat menyakiti hati Elsa, bahkan Adrian merasa dirinya sangat berdosa. 'Aku memang jahat, seharusnya aku sudah bisa melupakan Alesha, dan aku bisa membuka hatiku untuk Elsa. Karena selama ini Elsa yang sudah selalu ada untukku, bahkan dia rela menggantikan posisi Alesha dan bertunangan denganku, demi menyelamatkan nama baik kedua keluarga,' batin Adrian.
"Aku akan bilang sama mamah dan papah, bahwa pernikahan ini dibatalka," ucap Elsa mengancam.
"Jangan!" cegah Adrian cepat, "aku nggak mau, aku mau pernikahan ini tetap berjalan, dan aku janji akan menjadi suami yang baik untuk kamu Elsa, dan akan mencintai kamu sepenuh hati ku," janji Adrian dengan sungguh-sungguh.
"Bohong! Aku tahu kamu nggak akan pernah bisa melakukan itu, karena hati kamu sudah dikuasai oleh kak Alesha, aku nggak akan pernah bisa menggeser namanya dari sini." Elsa menekan dada Adrian, dia terus terisak, semakin membuat Adrian merasa bersalah.
"Nggak, aku udah benar-benar membencinya, dan aku nggak mau lagi bertemu apalgi berurusan dengannya. Aku mohon Elsa, aku hanya mau kamu," pinta Adrian, dia membawa Elsa ke dalam dekapannya mencoba menenangkan calon istrinya. Elsa diam-diam tersenyum, karena dia sudah berhasil menguasai Adrian, dan dia yakin rencananya untuk menjadi nyonya Adrian, akan segera terwujud.
'Aku sudah berhasil menyingkirkan Alesha, aku nggak mau pernikahan aku gagal, dan perjuangan ku berakhir sia-sia,' batin Elsa