
Dalam perjalaan pulang, Alesha terus memikirkan tentang hari ini, ada hal yang harus Alesha pelajari dari kesalahan Ferdinan dan Anggel, yaitu kejujuran. Setidaknya, Anggel sudah mau jujur dan membongkar semuanya, meski Anggel tahu, dia harus menerima konesekuensi akan dibeni oleh Valen, orang yang justru sangat perduli dengan Anggel.
'Apa aku juga sebaikna jujur, soal aku yang sebenarnya sudah memiliki anak? Aku taut, Tuan Alden akan salah paham jika suatu saat dia tidak sengaaj melihat aku dengan Alvin. Tapi, apakah Tuan Alden juga tidak akan marah, jika aku jujur sekarang? Apakah dia tidak akan merasa dibohongi? Aku takut, Tuan Alden akan kecewa karena sudah merasa ditipu, dan bisa saja aku dintuntut,' batin Alesha was-was.
"Alesha, kamu kenapa?" tanya Alden, yang tahu kalau ada yang tengah dipikirkan oleh Alesha.
"Oh, saya cuman sedang memikirkan Anggel, Tuan," jawab Alesha berbohong.
'Aku mauk terus berbohong, kalau aku tidak jujur sekarang, maka akan banyak kebohongan aku yang lain,' batin Alesha lagi.
"Jangan terlalu dipkirkan, dan menurutku, keputusan Anggel memang yang terbaik. Karena kalau dia terus di sini, maka dia tidak akan pernah bisa lepas dari bayangan masa lalunya," kata Alden yang setuju dengan keputusan Anggel.
"Pasti, perasaan bu Valen sangat sedih sekarang, setelah dia mendengar semua pengakuan suaminya dan juga Anggel," ujar Alsha.
"Tentu saja, dibohongi itu rasanya sangat sakit, Alesha. Aku saja, paling dibenci jika ada orang yang berbohong," terang Alden, membuat Alesha seolah tersindir. Perasaan tidak enak dan rasa bersalah terus menghantui Alesha, hingga tana terasa akhirnya mereka sudah sampai dipelataran gedung apartement.
"Terimakasih banyak ya, Tuan, atas tumpangannya," kata Alesha, melihat sikap Alden yang begitu baik padanya, membuat Alesha merasa bersalah.
"Tidak perlu terlalu berlebihan, kita kan habis membantu Anggel. Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah," kata Alden dengan penuh perhatian.
-//-
Keesokan harinya, Anggel sudah berada di kediaman Valen, dia merasa harus bertemu dan berbicara secara langsung dengan istri mantan atasannya itu.
"Ada apa lagi kamu datang ke sini?" tanya Valen dengan nada ketus.
"Saya tahu, Ibu pasti merasa marah, kecewa dan benci kepada saya. Tidak masalah, saya terima itu karena saya memang pantas mendapatkannya," kata Anggel dengan berat hati.Valen membuang mukanya ke arah lain, Anggel tahu, kalau Valen pasti sangat kecewa dengan dirinya. Anggel juga merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia mengkhianati Valen, dengan menjadi selingkuhan suami Valen.
"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Atas apa yang sudah terjadi, saya akui saya adalah orang yang laing tidak tahu malu, tapi izinkan saya mengatakan ini," kata Anggel.
"Anda adalah orang yang sangat baik, saya mengucapkan terimakasih karena anda pernah percaya pada saya, meski akhirnya dengan kebodohan saya, saya menyia-nyiakan kepercayaan anda," isak Anggel penuh penyesalan.
"Tapi, satu hal yang harus anda tahu, anda harus bahagia karena akhirnya anda bisa terlepas dari lelaki yang hanya akan memanfaatkan anda," ucap Anggel. Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan menatap Valen yang masih belum mau menatapnya.
"Saya minta maaf, Bu. Saya harap anda akan bahagia bersama cinta tulus," harap Anggel, dia pun melangkah keluar dari kediaman Valen.