
Ooiikkk.... Oooiikkk... Oooiiikkk...
Babi didalam gendongan Alexia mulai berontak, gadis itupun melepaskannya ketanah. Sementara Felix masih memperhatikan keadaan tubuh Alexia yang tampak lusuh.
Dia berlumur lumpur dan ditangannya ada sebuah goresan memanjang.
"Apa kau terluka karena babi itu? " selidik Felix, kalau iya, maka tamatlah riwayat hewan yang mungkin belum lama ini hidup didunia.
Alexia bingung ingin menjawab apa, secara teknis memang benar dia terluka karena ingin menyelamatkan anak babi itu. Namun dilain sisi dirinya sendiri yang telah menyebabkan babi kecil itu terperangkap didalam lubang itu.
"Jawab Alexia, kenapa kau sampai berada disana dan terluka? " tanya Felix dengan tidak sabaran melihat keterdiaman Alexia.
"Ini semua karena salahku sendiri. Aku bosan menunggu dirimu saat meminta izin, dan anak babi itu lewat begitu saja didepanku. Karena gemas aku mengejarnya dan ia berlari sampai kedalam hutan lalu jatuh ke lubang dan terjebak disana. Kalau aku kembali tanpanya Kakek mu pasti marah. Jadi aku menolongnya dan mendapat luka ini saat hendak keluar dari sana. " jelas Alexia panjang lebar tanpa kebohongan sedikitpun.
"Lain kali jangan berbuat seperti itu lagi, dan kau tidak perlu memikirkan tentang hewan ternak. Seharusnya kau pulang saja dan membiarkan orang lain untuk mengambilnya."
Alexia hanya mengangguk tampak patuh, walaupun sebenarnya tidak begitu.
>Flasback off<
Felix tersenyum geli saat teringat masa remaja mereka dulu. Alexia memang selalu membuat ulah setiap kali ia datang untuk liburan kesini, tapi entah kenapa dulu Felix selalu menunggu kedatangannya.
Dan juga karena Alexia. Felix memutuskan untuk meninggalkan Kanada dan bersekolah di Universitas yang sama dengan wanita itu. Walau Felix harus bertengkar dengan Mike dan Miranda yang belum terbiasa berjauhan dengan cucu semata wayang mereka.
"Felix kau tidak kedinginan disana! " seru Morena dari dalam rumah.
"Cepat masuk sebelum sendi-sendimu membeku, anak nakal. " sambung Mike yang langsung mendapat cubitan dari Morena.
"Panggil dia dengan sebutan yang bagus, karena apa yang kita ucapkan adalah doa. Kalau dia benar-benar menjadi anak yang nakal kau yang urus. " omel Morena.
Felix kembali masuk dan bergabung bersama dua orang tua itu, ini adalah musim dingin pertamanya dirumah tua itu setelah sekian tahun Felix pindah ke New York.
"Lihat kaki panjangnya, dirinya benar-benar menjadi pria dewasa Mike. Aku tidak menyangka waktu akan berlalu secepat ini. " Morena berucap sambil menatap haru sosok Felix.
"Dia sudah berusia dua puluh lima tahun Babe,,, waktu memang akan terasa begitu cepat berlalu jika kau menjalaninya dengan orang yang kau cintai. "
Morena tersenyum menanggapi ucapan manis Mike barusan, benar yang dikatakan oleh suaminya. Mereka berdua sudah melewati waktu lebih dari setengah abad hidup bersama, namun waktu yang tidak sebentar itu terasa sangat singkat.
Felix tersenyum melihat betapa romantisnya pasangan yang sudah lanjut usia itu, dalam hatinya berdoa semoga saja kelak ia dapat menjalani kehidupan rumah tangga seharmonis hubungan Mike dan Morena, yang tidak pernah bosan untuk saling mencintai seumur hidup mereka.
"Kalian menyebalkan sekali, kenapa harus memanggilku kemari kalau hanya untuk menonton kebucinan kalian berdua. " goda Felix yang langsung menghentikan gerakan Mike yang akan mengecup punggung tangan Morena.
"Kau hanya iri karena belum mendapat pasangan hidup. " ejek Mike yang langsung membuat Felix kesal.
Dan terjadi lagi, perdebatan antara dua pria berbeda generasi itu. Morena bukannya tidak mau menengahi tapi dirinya merasa itu percuma saja. Karena mereka hanya akan berhenti sebentar lalu kembali berdebat setelahnya.
...****************...
Mike menyelimuti tubuh istrinya yang tengah terlelap, lalu melangkah keluar kamar mereka. Didepan perapian Mike mendapati Felix yang masih terjaga, tampaknya pemuda itu belum mengantuk.
"Felix bisa kita bicara! " seru Mike yang sejak kemarin ingin mengatakan sesuatu pada cucunya itu.
"Bicara saja, kenapa mesti bertanya. " sahut Felix.
"Tidak disini. Ayo kita keluar, agar nenekmu tidak terganggu. "
Udara dingin langsung menusuk kulit mereka saat keduanya berada diluar rumah. Mike curang, dia sudah bersedia dengan memakai mantel tebal sementara Felix hanya menggunakan kaos panjang biasa. Pria itupun menggigil kedinginan.
Mike terdiam sejenak lalu berbalik menatap Felix dengan ekspresi datar, sirat matanya memancarkan kemarahan yang teramat dalam. Felix bahkan terkejut mendapati kakeknya bisa menatapnya sedingin itu.
"Apa kau bertemu seseorang sebelum kembali kemari? " tanya Mike dingin.
Felix terdiam, sekarang dia tahu maksud dari tatapan dingin itu. Mike tidak menunjukan kebenciannya pada Felix tapi pada sosok yang menurunkan rupa itu padanya.
"Iya... "
Buugghhh...
Hanya satu jawaban, dan Felix terjatuh karena mendapat bogeman dari Mike tepat di wajahnya, pukulannya bahkan masih cukup keras meskipun sudah berusia lanjut.
"Eden sialan! " maki Mike dengan penuh amarah.
Pria tua itu lalu duduk disalah satu kursi kayu dan menyuruh Felix untuk kembali bangun, dan Felix menurutinya tanpa protes.
"Sudah berapa lama? " tanya Mike lagi.
"Dua tahun yang lalu. " Mike sempat terperanjat kaget saat mendengar jawaban dari Felix barusan.
"Sudah selama itu rupanya, aku kecolongan. Jadi Eden menemuimu saat kau masih berada di New York? "
Felix mengangguk, lalu Mike mendesah lelah. Tampak begitu marah tapi ia tidak mungkin kembali memukul Felix sekarang.
"Kau tidak bertanya atau marah pada ku yang sudah membohongimu selama ini? " tanya Mike memastikan.
"Awalnya aku ingin melakukan hal itu, tapi tidak jadi karena aku tahu Grandpa melakukannya karena hanya ingin melindungi diriku. " jawab Felix.
"Eden menceritakan semuanya padamu? " Mike kembali menatap wajah Felix penuh selidik.
"Ya, semua tentang dirinya dan juga tentang Bisnis gilamu. Aku tidak menyangka dunia akan membodohi ku sebanyak itu. " Felix terkekeh pelan.
"Rupanya dia menceritakan terlalu banyak padamu, lalu sekarang kau mau bagaimana? "
"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu. Aku ingin tahu dulu bagaimana bisa Grandpa tahu aku pernah bertemu dengan Eden, apa Grandpa menyuruh seseorang untuk memata-matai kehidupanku. "
"Ikuti aku kau mulai kedinginan, walaupun tengah kesal padamu aku tidak mau membuat kau jatuh sakit. Nanti Morena akan menghabiskan waktunya hanya untuk merawat dirimu saja. " Mike berlalu berjalan kearah gudang penyimpanan makanan.
Mike menyuruh Felix mengeser semua peti makanan yang tertumpuk ditengah gudang agar diletakan ke pinggir.
"Grandpa apa kau sedang mengerjai ku lagi! " seru Felix dengan wajah penuh peluh saat dia berhasil melaksanakan perintah Mike barusan.
"Bisa dibilang begitu, tapi lihat dirimu sekarang kau tidak kedinginan lagi bukan! " seru Mike tanpa merasa bersalah.
Pria tua itu lalu menekan sesuatu di dinding tempatnya bersandar dan tiba-tiba lantai kayu gudang itu bergeser menampakkan sebuah anak tangga yang menuju kedasar.
Sungguh Felix tidak mengetahui keberadaan ruangan itu selama ia hidup disini. Mike mengajak Felix untuk ikut turun bersamanya.
"Grandpa... Kau tidak akan berbuat aneh-aneh bukan? " tanya Felix hati-hati.
"Memangnya hal aneh apa yang bisa pria tua seperti ku lakukan. Mengurungmu didalam sini!? "
...----------------...